Mudak, Sherly
Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Pemulihan Citra Diri Remaja Madya: Integrasi Psikologi dan Teologi Mudak, Sherly; S. Manafe, Ferdinan
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 5 No 1 (2023): JIREH: Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v5i1.143

Abstract

This article aims to explain how the integration of psychology and theology can be used as a method of self-image restoration for middle-aged adolescents. This qualitative descriptive research aims to describe in words the purpose of integrating psychology and theology to help middle adolescents improve their self-image. This research was conducted by collecting data from scientific journals and other references in accordance with the topic of writing. The results show that the integration between psychology and theology can help middle adolescents to improve their self-image. This integration combines psychological theories and theological views that can help middle adolescents understand themselves and acquire strong moral and spiritual values to improve their self-image. Some techniques and strategies applied in the integration of psychology and theology can help middle adolescents overcome self-image problems and improve their quality of life. This research can be an important reference for professionals in the fields of psychology and theology, as well as parents and counselors who want to help middle adolescents improve their self-image. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana integrasi antara psikologi dan teologi dapat digunakan sebagai metode pemulihan citra diri remaja madya. Tujuan riset dengan metode penelitian kualitatif deskriptif ini untuk mengintegrasikan psikologi dan teologi guna menolong remaja madya memperbaiki citra diri. Penelitian ini dikakukan dengan mengumpulkan data dari jurnal ilmiah dan referensi lain sesuai dengan topik penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi antara psikologi dan teologi dapat membantu remaja madya untuk memperbaiki citra diri mereka. Integrasi ini menggabungkan teori-teori psikologi dan pandangan-pandangan teologi yang dapat membantu remaja madya memahami diri mereka sendiri dan memperoleh nilai-nilai moral dan spiritual yang kuat untuk memperbaiki citra diri mereka. Beberapa teknik dan strategi yang diterapkan dalam integrasi psikologi dan teologi dapat membantu remaja madya mengatasi masalah citra diri dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Penelitian ini dapat menjadi referensi penting bagi profesional di bidang psikologi dan teologi, serta orang tua dan konselor yang ingin membantu remaja madya dalam memperbaiki citra diri mereka.
Arrabon: Roh Kudus Jaminan Keselamatan Berdasarkan Efesus 1: 14 dan Implikasinya bagi Orang Percaya Manafe, Ferdinan Samuel; Tindage, Temmy Myson; Mudak, Sherly
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 4, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53674/teleios.v4i1.125

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to explain the meaning of the word "arrabon" in Ephesians 1:14, and the implications of the meaning of the word "arrabon" in Ephesians 1:14 for believers, with descriptive qualitative research methods. The results found show that a correct understanding of assurance will help one to live in sanctification day by day. The Holy Spirit guarantees believers to actively live to glorify Christ together in fellowship in unity as the body of Christ. Because they have been born-again, they experience a change of mind that is shown through their actions every day. Understanding the meaning of the word “arrabon” in Ephesians 1:14 correctly will encourage a person to believe in the certainty of his eternal salvation and also live in the salvation that God gives day by day.Abstraksi: Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan makna kata “arrabon” dalam Efesus 1:14 dan implikasinya bagi orang percaya, dengan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menyatakan subjek yang menjamin itu ialah Roh Kudus sendiri, objek yang dijamin ialah orang percaya, yakni mereka yang telah satu kali percaya secara aktif dimeteraikan dan dijamin oleh Roh Kudus, sifat dari jaminan ialah kekal hingga orang percaya memperoleh keselamatan kekal, Allah adalah Penjamin bagi orang percaya, maka tujuan dari jaminan itu ialah pujian bagi kemuliaan Allah. Pemahaman yang benar akan jaminan akan menolong seseorang untuk hidup dalam pengudusan hari demi hari. Roh Kudus menjamin orang percaya agar secara aktif hidup memuliakan Kristus bersama dalam persekutuan di dalam kesatuan sebagai tubuh Kristus. Karena telah dilahirbarukan sehingga mengalami perubahan pikiran yang ditunjukkan melalui tindakan hidupnya setiap hari. Pemahaman akan makna kata arrabon dalam Efesus 1:14 secara benar akan mendorong seseorang untuk meyakini kepastian keselamatan kekalnya dan juga hidup dalam keselamatan yang Tuhan berikan.
Peran Hamba Tuhan: Memaknai kata Menasihati dalam 1 Tesalonika 5:14 Prisilia Marode Tolip; Sherly Mudak; Ferdinan S. Manafe; Anre Rasi
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 3 No. 1 (2023): June
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v3i1.216

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis isi kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menelaah buku-buku dan artikel jurnal yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Teknik analisis data dilakukan dengan analisis isi kualitatif sebagai metode utama dengan pendekatan interpretatif eksegetis terhadap 1 Tesalonika 5:14, yang menekankan pentingnya menasihati orang yang kurang beruntung, menguatkan yang lemah hati, dan bersabar terhadap semua orang. Penulis menyimpulkan bahwa ajaran "menasihati" dalam surat tersebut tidak hanya berkaitan dengan memberikan nasehat, tetapi juga mengandung makna yang lebih luas, yaitu saling membantu dan menguatkan satu sama lain dalam kehidupan iman dan keseharian. Kontribusi yang dapat diberikan kepada pembaca untuk memperoleh pemahaman tentang prinsip pengajaran yang berlandaskan pada iman Kristen, khususnya dalam konteks hubungan antara hamba Tuhan dan jemaatnya serta memberikan inspirasi dan panduan dalam mengembangkan kepekaan dan empati terhadap sesama serta menerapkan prinsip-prinsip ajaran yang terkandung dalam surat 1 Tesalonika 5:14.
TANGGUNG JAWAB ORANG TUA BERDASARKAN AMSAL 4:10-15 BAGI PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA 7-12 TAHUN Inri Serliani Fallo; Terah Yohanes Manu; Sherly Mudak; Yerni Talan; Katania
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 3 No. 1 (2023): June
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v3i1.267

Abstract

Kualitas pendidikan seseorang memiliki pengaruh yang kuat terhadap mutu hidupnya. Pendidikan secara intelektual tentunya tidak cukup, melainkan harus diperlengkapi dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang baik dapat menolong seseorang untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan hasil pendidikan secara intelektual. Karakter yang bermutu harus dibentuk atau dilatih sejak dini. Dalam pendidikan karakter tersebut orang tua memiliki tanggung jawab yang sangat besar dan mendasar. Orang tua bertanggung jawab untuk mendidik dan membentuk karakter anak sehingga anak hidup sebagaimana yang dikehendaki Allah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, dimana setiap data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan beberapa data literatur. Berdasarkan penelitian tersebut, ditemumkan bahwa terdapat orang tua yang belum efektif dalam mendidik atau membentuk karakter seorang anak. Misalnya memberikan kebebasan yang berlebihan kepada anak, selalu mengikuti keinginan anak, mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh di depan atau kepada anak, minimnya waktu bersama anak, bahkan bersikap tidak peduli ketika mengetahui anak melakukan kesalahan. Orang tua bertanggung jawab sebagai pendidik atau guru yang mengajar dan juga sebagai pemimpin yang memimpin dan mengarahkan seorang anak kepada jalan kebenaran, sehingga hidup berkarakter Kristus.
Pelayanan Pendampingan Remaja di Gereja Bethel Sepat Kalimantan Barat Sherly Mudak; Engse Mbura
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 4 No. 1 (2024): June
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v4i1.310

Abstract

Pendampingan remaja merupakan suatu usaha dalam membentuk remaja menjadi warga gereja yang baik dan menghadapi permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Dampak yang diharapkan dari pendampingan remaja adalah remaja dapat bertumbuh dan mengembangkan nilai-nilai Kristiani sehingga menghasilkan buah yang diinginkan Kristus. Tujuan penelitian untuk mengetahui pelayanan pendampingan kepada remaja usia 18-21 di Gereja Bethel Indonesia Sepat Kalimantan Barat dan mendeskripsikan signifikansi pelayanan pendampingannya supaya dapat memberikan kontribusi kepada gereja tersebut. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan pendampingan dapat dilakukan melalui pengajaran Firman Tuhan dan motivasi yang mengarahkan pada perubahan karaktek, pemulihan relasi antara remaja dengan Tuhan, sesame dan diri sendiri.
Integritas Kepemimpinan Berdasarkan Titus 1:6-7 Bagi Pelayan Tuhan Di Gereja Lokal Sherly Mudak; Ferdinan Samuel Manafe
JURNAL SABDA HOLISTIK Vol. 1 No. 1 (2025): Maret
Publisher : STAK Sabda Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63218/5pem8942

Abstract

Tantangan modern seperti tekanan budaya, rayuan materialistis, dan eksploitasi media sosial telah mengancam standar moral dan spiritual hamba Allah. Krisis kepemimpinan sering dimulai dengan kegagalan untuk mempertahankan integritas pribadi, yang mengarah pada hilangnya kepercayaan pada gereja dan runtuhnya pelayanan. Integritas pelayan Tuhan adalah aspek penting dalam membangun kepemimpinan yang efektif dalam gereja. Dalam konteks pelayanan Kristen, integritas tidak hanya berhubungan dengan perilaku pribadi, tetapi juga mencerminkan kualitas kepemimpinan yang dapat menginspirasi dan membimbing jemaat menuju kehidupan yang lebih baik. Artikel ini mengeksplorasi dimensi integritas pelayan Tuhan berdasarkan Titus 1:6-7, dan menghubungkannya dengan Transformational Leadership Theory (TLT). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan analisis konten dari teks-teks Alkitab dan teori kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas pelayan Tuhan memiliki dampak yang signifikan dalam menciptakan pemimpin yang dapat menginspirasi perubahan positif dalam jemaat. Pelayan Tuhan yang berintegritas akan mampu menjadi teladan, memberikan motivasi yang jelas, serta mendukung pertumbuhan rohani jemaat dengan penuh kasih. Penelitian ini juga menekankan tantangan yang dihadapi dalam menjaga integritas dan memberikan model implementasi untuk mempertahankan integritas dalam pelayanan. Kesimpulannya, integritas merupakan landasan utama bagi pelayan Tuhan dalam menjalankan kepemimpinan yang transformatif, yang tidak hanya berdampak pada individu jemaat, tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian, integritas menjadi kunci keberhasilan kepemimpinan yang efektif dan berdampak dalam pelayanan gereja.
Member Care: Perspektif Teologi Integral Dan Spiritualitas Kontekstual Sherly Mudak; Ferdinan Samuel Manafe; Eko Pujo Santoso
JURNAL SABDA HOLISTIK Vol. 1 No. 2 (2025): September
Publisher : STAK Sabda Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63218/q9qvm842

Abstract

Pelayanan misi di Indonesia kerap dilakukan di wilayah-wilayah yang penuh tantangan budaya, sosial, dan spiritual. Banyak misionaris mengalami tekanan emosional, kelelahan rohani, dan keterasingan karena tidak tersedianya sistem pendampingan yang menyeluruh. Selama ini, dukungan terhadap misionaris cenderung terbatas pada aspek administratif atau logistik, sementara kebutuhan eksistensial mereka sering terabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem member care yang bersifat holistik, berakar pada teologi integral, dan berorientasi pada spiritualitas kontekstual. Teologi integral digunakan untuk menekankan keutuhan manusia sebagai makhluk roh, jiwa, dan tubuh, sedangkan spiritualitas kontekstual dipilih agar sistem ini responsif terhadap dinamika budaya lokal tempat misionaris melayani. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dan refleksi teologis-kontekstual. Data dianalisis secara tematik untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip teologis dan praktik member care yang relevan dengan konteks Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya sistem pendampingan yang mencakup tiga ranah utama: struktural, relasional, dan rohani yang semuanya harus ditopang oleh pendekatan kontekstual agar aplikatif dan membumi. Sistem ini bukan hanya berfungsi memulihkan, tetapi juga menopang keberlanjutan pelayanan misionaris. Kesimpulannya, sistem member care holistik yang dirancang dalam penelitian ini menjadi kerangka strategis dan spiritual bagi gereja dan lembaga misi untuk merawat utusan Tuhan secara menyeluruh, manusiawi, dan kontekstual.
Peran Spiritualitas Orang Tua dalam Membentuk Resiliensi Iman Remaja Kristen di Era Digital Sherly Mudak; Elvin Paende; Yenny Anita Pattinama
JURNAL SABDA HOLISTIK Vol. 2 No. 1 (2026): Maret
Publisher : STAK Sabda Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63218/9frb4e37

Abstract

Era digital menghadirkan tantangan serius bagi remaja Kristen dalam mempertahankan iman mereka. Paparan terhadap informasi instan, media sosial, dan gaya hidup permisif kerap menggeser nilai-nilai spiritual, menyebabkan penurunan komitmen religius dan krisis identitas iman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran spiritualitas orang tua dalam membentuk resiliensi iman remaja Kristen di tengah derasnya arus digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, mengkaji berbagai literatur ilmiah terkait spiritualitas keluarga, pengasuhan iman, dan tantangan digital. Kebaruan dari studi ini terletak pada fokusnya terhadap dinamika relasional antara orang tua dan anak dalam konteks era digital, yang selama ini belum banyak dikaji secara mendalam, terutama di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas orang tua yang diwujudkan melalui keteladanan, komunikasi terbuka, aktivitas keagamaan bersama, serta penggunaan media digital secara bijak dan berperan signifikan dalam menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung ketahanan spiritual remaja. Kesimpulannya, penguatan peran spiritual orang tua dalam keluarga menjadi strategi krusial dalam menghadapi tantangan iman generasi muda di era digital.
Dari Pulpit ke Platform: Kerangka Strategis Integrasi Teologi Digital dalam Ibadah Kristen Sherly Mudak; Ferdinan Samuel Manafe; Sumarno
Jurnal Salvation Vol. 7 No. 1 (2026): Juli
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v7i1.96

Abstract

Digital transformation has shifted Christian worship practices from physical spaces to digital platforms, presenting both opportunities and challenges for the church in carrying out its mission and maintaining theological integrity. This study aims to analyze the missiological and ethical implications of digital theology in Christian worship and to formulate strategies for integrating technology that remain grounded in the principles of Christian theology. The study employs a qualitative method using a literature review approach through a critical analysis of books, scholarly articles, and academic documents discussing digital theology, missiology, Christian ethics, and digital transformation in church ministry. The research findings indicate that digital theology not only expands the church’s mission field through the digital mission field but also presents challenges such as the commercialization of ministry, the protection of congregational data, community fragmentation, and a shift in the orientation of worship due to the dominance of digital platform logic. The research findings emphasize that technology must be understood as a supportive tool for ministry, one that complements, rather than replaces, the essence of the church as a community of faith centered on the Word, the work of the Holy Spirit, and the fellowship of believers. This study proposes four strategies for integrating digital theology: strengthening digital literacy among church leaders; developing hybrid worship models; crafting digital liturgies with theological integrity; and developing a digital ethics framework that encompasses data governance, ministry evaluation, and oversight of commercialization. These strategies are expected to serve as a conceptual framework for the church in developing digital ministries that are contextual, responsible, and faithful to Christ’s mission. Abstrak: Transformasi digital telah mengubah praktik ibadah Kristen dari ruang fisik menuju platform digital, sehingga menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi gereja dalam melaksanakan misi dan mempertahankan integritas teologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis implikasi misiologis dan etis teologi digital dalam ibadah Kristen serta merumuskan strategi integrasi teknologi yang tetap berlandaskan prinsip-prinsip teologi Kristen. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur melalui analisis kritis terhadap buku, artikel ilmiah, dan dokumen akademik yang membahas teologi digital, misiologi, etika Kristen, serta transformasi digital dalam pelayanan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi digital tidak hanya memperluas ruang misi gereja melalui digital mission field, tetapi juga memunculkan tantangan berupa komersialisasi pelayanan, perlindungan data jemaat, fragmentasi komunitas, serta pergeseran orientasi ibadah akibat dominasi logika platform digital. Temuan penelitian menegaskan bahwa teknologi harus dipahami sebagai instrumen pelayanan yang mendukung, bukan menggantikan, hakikat gereja sebagai komunitas iman yang berpusat pada Firman, karya Roh Kudus, dan persekutuan umat. Penelitian ini menawarkan empat strategi integrasi teologi digital, yaitu penguatan literasi digital bagi pemimpin gereja, pengembangan model ibadah hybrid, penyusunan liturgi digital yang berintegritas teologis, serta pengembangan kerangka etika digital yang mencakup tata kelola data, evaluasi pelayanan, dan pengawasan terhadap komersialisasi. Strategi tersebut diharapkan menjadi kerangka konseptual bagi gereja dalam mengembangkan pelayanan digital yang kontekstual, bertanggung jawab, dan tetap setia pada misi Kristus.
Doa Syafaat Yesus dalam Yohanes 17: Fondasi Teologi Persatuan Gereja Elvin Paende; Sherly Mudak
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v6i1.153

Abstract

Church unity is a central theme in New Testament theology, but it is often narrowed down to issues of organization or denominational uniformity. John 17 offers a different perspective through Jesus' intercessory prayer, which places unity at the heart of God's mission for the world. This study aims to explore the theological meaning of Jesus’ intercessory prayer, focusing on church unity as a declaration of mission rooted in the Trinitarian relationship of love. A research gap is identified in the tendency of previous literature to separate discussions of unity from the ontological and missiological dimensions of this prayer. The novelty of this article lies in interpreting unity not merely as Jesus’ petition but as a declaration of the church’s mission rooted in perichoresis; the participation of the faithful in the unity of the Father and the Son’s love. Using qualitative methods and a literature review approach, this study examines the structure of the prayer (John 17:1–26), the meaning of “being one” in the Trinitarian relationship, and the theological and practical implications for the church today. The results of the study show that: (1) unity is the climax of Jesus' intercessory prayer, (2) unity reflects the love and glory of the Trinity, (3) unity functions as a mission statement to convince the world of Christ's commission, and (4) True unity requires a shift from structural unity to relational unity that is alive with God's love. This article asserts that church unity is not merely social ethics, but a divine reality that serves as a means of God's revelation to the world.