Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

HENOCH SCHONLEIN PURPURA PADA ANAK : LAPORAN KASUS Chen, Winnie Arnissa; Sulawati, Ity
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.38543

Abstract

Henoch schonlein purpura yang dikenal juga sebagai immunoglobulin A vasculitis (IgAV) merupakan inflamasi pada pembuluh darah kecil sistemik yang diperantarai imunoglobulin A (IgA), dengan pengendapan IgA di dinding pembuluh darah kecil di kulit, sendi, saluran pencernaan dan ginjal, dapat pula melibatkan sistem saraf pusat dan paru-paru tetapi jarang terjadi. Penyakit ini merupakan kelainan akut yang diperantarai IgA dan biasanya dapat sembuh dengan sendirinya apabila ditangani dengan perawatan suportif. Seorang anak perempuan berusia 11 tahun datang ke RSUD Ciawi dengan keluhan utama nyeri perut sejak satu minggu sebelum masuk RS. Keluhan disertai dengan timbulnya bercak kemerahan pada bagian tungkai atas dan lengan, terdapat mual, muntah, dan nyeri sendi. Pada pemeriksaan fisik ditemukan purpura, distribusi lokalisata, jumlah multipel diskret, berbentuk bulat, lesi kering dengan batas tegas, ukuran miliar, regio ekstremitas superior et inferior, dextra et sinistra. Diberikan terapi kortikosteroid Intravena selama tiga hari  dan dilanjutkan dengan kortikosteroid peroral hingga manifestasi klinis pasien mengalami perbaikan. HSP dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seperti faktor genetik, infeksi saluran napas atas, makanan, imunisasi (vaksin varisela, rubella, rubeola, hepatitis A dan B) dan obat – obatan (Ampisilin, Eritromisin dan Kina). Henoch schonlein purpura merupakan penyakit yang bersifat self-limiting disease dan hanya memerlukan terapi simptomatik. Telah dilaporkan satu kasus Henoch Schonlein Purpura dengan manifestasi klinis purpura dan nyeri ulu hati pada anak perempuan berusia 11 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.
DIAGNOSIS AND COMPREHENSIVE MANAGEMENT OF ACUTE POST-STREPTOCOCCAL GLOMERULONEPHRITIS IN A PEDIATRIC PATIENT : A CASE REPORT Winda, Winda; Sulawati, Ity
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.40613

Abstract

Glomerulonefritis pascastreptokokus akut (GNAPS) adalah kelainan ginjal yang dimediasi imun setelah infeksi streptokokus, yang terutama menyerang anak-anak. Laporan ini membahas diagnosis, penanganan, dan tindak lanjut GNAPS pada pasien anak. Seorang anak perempuan berusia enam tahun datang dengan edema, hipertensi, dan riwayat infeksi pernapasan. Evaluasi klinis, uji laboratorium (proteinuria, hematuria, peningkatan titer ASTO), dan pencitraan mengonfirmasi GNAPS. Penanganannya meliputi diuretik, ACE inhibitor, dan antibiotik, dengan pemantauan ketat untuk komplikasi sistemik. Pengobatan secara efektif mengurangi edema, menstabilkan tekanan darah, dan mengatasi infeksi streptokokus. Tindak lanjut menunjukkan penurunan proteinuria dan hematuria, tanpa reaksi merugikan terhadap pengobatan. Pasien dipulangkan dalam kondisi stabil dengan rencana tindak lanjut untuk memantau pemulihan ginjal. Intervensi dini pada GNAPS, termasuk manajemen cairan dan tekanan darah, sangat penting dalam mencegah hasil ginjal yang parah. Kasus ini menyoroti pentingnya rencana perawatan terstruktur dan tindak lanjut rutin untuk mengurangi kekambuhan dan masalah ginjal jangka panjang pada GNAPS pediatrik.
Difteri Tonsil Faring dengan Bullneck: Laporan Kasus kumoro, Belinda; Sulawati, Ity; Onesimus, Dennis
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i1.17410

Abstract

Difteri adalah infeksi toksik akut yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae atau strain toksigenik Corynebacterium ulcerans. Difteri tonsil-faring sering kali ditandai dengan anoreksia, demam ringan, nyeri menelan, dan terbentuknya pseudomembran putih-keabu-abuan yang dapat menyumbat saluran napas. Pada kasus berat, dapat terjadi bullneck akibat limfadenitis dan edema jaringan leher yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan diagnosis dan penatalaksanaan klinis kasus difteri tonsil-faring pada anak dengan riwayat imunisasi yang tidak lengkap. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang berupa swab tenggorokan. Hasil penelitian menunjukan seorang anak perempuan berusia 4 tahun menunjukkan gejala utama sulit menelan selama 3 hari, disertai sakit tenggorokan, demam, pilek, dan bercak putih di tenggorokan. Pemeriksaan fisik menunjukkan pseudomembran putih kekuningan, pembesaran kelenjar getah bening leher, serta bullneck. Pemeriksaan swab tenggorokan menunjukkan bakteri batang gram positif (+++), bakteri kokus gram positif (++++), epitel (+++), dan leukosit (++++). Pasien diterapi dengan anti difteri serum (ADS) 80.000 IU sebagai antitoksin dan antibiotik sesuai indikasi. Diagnosis difteri tonsil-faring ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan dengan pemberian antitoksin dan antibiotik menunjukkan efektivitas dalam mengeliminasi toksin dan infeksi. Kasus ini menyoroti pentingnya imunisasi lengkap untuk mencegah difteri dan komplikasinya.
ACUTE DECOMPENSATED HEART FAILURE PADA RHEUMATIC HEART DISEASE ANAK Audryan, Rizky; Sulawati, Ity
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.43134

Abstract

Gagal jantung akut dekompensata adalah komplikasi umum dari Rheumatic Heart Disease (RHD) pada anak-anak, terutama pada negara dengan penghasilan rendah-menengah. RHD adalah kondisi kronis akibat acute rheumatic fever (ARF) suatu respons autoimun terhadap infeksi Streptococcus Grup A (GAS) yang tidak diobati. Secara global, prevalensi RHD diperkirakan mempengaruhi > 40 juta orang, dengan sekitar 300 ribu kematian tiap tahunnya, utamanya pada anak. Beberapa faktor berkontribusi terhadap perkembangan gagal jantung pada RHD anak, termasuk keterlambatan diagnosis, profilaksis sekunder yang tidak memadai, episode ARF yang berulang, dan faktor sosial ekonomi. Pentingnya pencegahan dan penanganan sedini mungkin pada ARF dan RHD untuk mencegah terjadinya gagal jantung. Dilaporkan anak laki-laki usia 11 tahun mengeluhkan sesak napas disertai batuk berdahak warna putih dan nyeri tenggorokan sejak 1 bulan terakhir memberat 1 jam terakhir. Riwayat pingsan, sering mudah lelah dan sesak napas terutama ketika beraktivitas (seperti berolahraga) ataupun saat berbaring. Tanda vital didapatkan takikardi. Pada auskultasi paru didapatkan ronki dikedua lapang paru. Pada pemeriksaan jantung kesan terdapat pembesaran jantung, murmur (+). Hasil laboratorium dilaporkan ASTO negatif. EKG disimpulkan sinus takikardia disertai dengan LAD. Hasil rontgen thorax didapatkan kardiomegali disertai corakan bronkovaskular kasar. Ekokardiografi memberikan kesan EF 61%, terdapat regurgitasi mitral berat, stenosis mitral berat, regurgitasi trikuspid berat dan regurgitasi aorta ringan-sedang.
SOIL TRANSMITTED HELMINTH PADA ANAK USIA 6 BULAN Zhafira, Zhafira; Sulawati, Ity; Herwanto, Herwanto
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48363

Abstract

Sekitar 1,5 miliar (setara dengan 24%) orang diseluruh dunia mengalami helminthiasis. Sebesar 16.263 per 100.000 anak berusia 5-9 tahun mengalami STH yang merupakan beban usia terbesar dalam penyakit ini. WHO mengakui bahwa helminthiasis adalah penyakit infeksi tropis yang terabaikan di seluruh dunia. Infeksi ini sangat umum di daerah subtropis dan tropis dengan sanitasi yang buruk, praktik kebersihan yang tidak memadai, dan faktor sosial ekonomi berkontribusi terhadap tingkat penularan yang tinggi. Pentingnya pemahanan, penatalaksanaan secara komprehensif serta pencegahan terkait infeksi cacing terutama pada anak. Telah dilaporkan bayi laki-laki berusia 6 bulan 3 hari yang dibawa oleh kedua orangtuanya dengan keluhan BAB keluar cacing 1 minggu sebelumnya disertai dengan penurunan berat badan. Anak memiliki kebiasaan memasukkan tangan ke dalam mulut. Status gizi kurang dengan perawakan normal. Tanda vital dalam batas normal dan tidak ditemukan konjungtiva anemis. Diagnosa helminthiasis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik, hasil allo-anamnesa dari orangtua pasien, dan dokumentasi visual cacing yang terdapat dalam popok pasien 1 minggu sebelumnya. Dilakukan pemeriksaan feses lengkap namun hanya ditemukan serat tumbuhan. Pasien diberikan pengobatan dengan pirantel pamoat serta dilakukan evaluasi. Satu minggu setelah pengobatan, ibu pasien mendokumentasikan masih terdapat cacing pada popok pasien namun dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Pasien diberikan albendazole dan setelah dievaluasi 1 minggu berikutnya, terjadi perbaikan dan tidak ditemukan efek samping dari pengobatan.
Pola Terapi Diare Akut pada Balita Di Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi Sulawati, Ity; Cornelia, Celine; Feliks, Mikhael; N, Ivy Fu; Simatupang, Lestari; Angelina, Chesia; Christian, David; Rachmatullah, Fahmi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11047

Abstract

ABSTRACT Acute diarrhea is one of the most common diseases found in Indonesia. The prevalence of acute diarrhea in Indonesia in 2018 reached 37.88%, in most cases, viral in origin. The mortality rate for acute diarrhea was high among children aged <5 years. This study was conducted to examine the therapy pattern of acute diarrhea in toddlers. This study aims to find out whether the pattern of therapy for acute diarrhea in toddlers at the Ciawi Regional General Hospital is in accordance with WHO therapy standards and how the pattern of therapy for acute diarrhea in toddlers at the Ciawi Regional General Hospital. This research is a descriptive and was conducted in the SMF Department of Pediatrics, Ciawi Hospital. Data collection is carried out retrospectively using medical records starting from April 01, 2022 to June 30, 2022. Out of 78 samples, children afflicted with acute diarrhea is predominantly male (65.5%), aged 1-1.5 years (28%), with mild-moderate dehydration (57.7%) requiring hospitalization (61.5%). The most frequently administered pharmacological therapy was zinc (94.9%) followed by probiotics (92.3%), while ORS (15.4%) and antibiotics (12.8%) were given only in selective cases. This study found that the treatment pattern for acute diarrhea in children at RSUD Ciawi was generally in line with guidelines for the management of acute diarrhea according to WHO standards, where only 4 (5.1%) patients were outpatients who missed out zinc prescription. Keywords: Acute Diarrhea, Antibiotics, Probiotics, Toddler, Zinc  ABSTRAK Diare akut adalah salah satu penyakit yang banyak ditemukan di Indonesia. Prevalensi diare akut di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 37,88%, sebagian besar disebabkan rotavirus. Angka mortalitas terbesar diare akut ditemukan pada anak usia <5 tahun. Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menelaah kesesuaian pola terapi diare akut pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pola terapi diare akut pada balita di Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi sudah sesuai dengan standar terapi WHO dan bagaimana pola terapi diare akut pada balita di Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi. Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan dibagian SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ciawi. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif menggunakan rekam medis mulai dari 01 April 2022 hingga 30 Juni 2022. Dari 78 sampel, ditemukan penderita diare akut paling banyak berjenis kelamin laki-laki (65,5%), berusia 1-1.5 tahun (28%), dengan derajat dehidrasi ringan-sedang (57,7%) hingga memerlukan rawat inap (61,5%). Terapi farmakologik yang paling banyak diberikan adalah zink (94,9%) lalu diikuti probiotik (92,3%), sedangkan oralit (15,4%) dan antibiotik (12,8%) hanya diberikan pada kasus selektif. Penelitian ini menemukan pola terapi diare akut pada anak di RSUD Ciawi secara umum sesuai dengan pedoman tatalaksana diare akut menurut standar WHO, dimana hanya 4 (5,1%) pasien rawat jalan yang tidak mendapat zink. Kata Kunci: Antibiotik, Balita, Diare akut, Probiotik, Zink
Laporan Kasus Purpura Idiopatik Trombositopenia Et Causa Dengue Hemorrhagic Fever pada Anak Perempuan Usia 13 Tahun Marshanda, Santy; Sulawati, Ity
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i2.56915

Abstract

Trombositopenia Imun (ITP) adalah kelainan hematologi yang terjadi akibat produksi autoantibodi terhadap trombosit. ITP sekunder dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk infeksi virus dengue, meskipun kasus ini jarang dilaporkan pada populasi pediatrik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kasus ITP sekunder pada pasien dengan infeksi dengue serta mengevaluasi pendekatan diagnosis dan pengobatannya. Metode yang digunakan adalah studi kasus pada seorang perempuan berusia 13 tahun yang datang dengan demam selama 10 hari, ruam petekie, perdarahan mukosa, dan ketidaknyamanan gastrointestinal. Pemeriksaan fisik menunjukkan anemia, nyeri epigastrium, dan petekie pada leher serta ekstremitas bawah. Hasil laboratorium mengungkapkan trombositopenia berat (trombosit: 2.000/µL) dan IgG dengue positif, yang mengarah pada diagnosis Demam Berdarah Dengue dengan tanda peringatan, ITP, dan anemia. Penatalaksanaan awal mencakup pemberian cairan intravena, kortikosteroid (metilprednisolon), dan transfusi trombosit. Pasien mengalami perbaikan signifikan dan dipulangkan setelah enam hari dengan terapi kortikosteroid oral lanjutan. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan bahwa ITP merupakan manifestasi hematologi langka namun serius dari infeksi dengue. Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk menyingkirkan penyebab trombositopenia lainnya dan memastikan intervensi yang tepat waktu. Terapi standar, termasuk kortikosteroid dan perawatan suportif, terbukti efektif dalam kasus ini. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami patogenesis ITP sekunder akibat infeksi dengue serta mengoptimalkan strategi pengobatannya.