Seno Gumira Ajidarma, Seno Gumira
Unknown Affiliation

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Jurnal IMAJI

Zhang Yimou dan Eksotisisme Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zhang Yimou hidup di negeri komunis yang begitu tertutup semenjak Revolusi Kebudayaan 1966. Meski semenjak meninggalnya Mao Zedong pada 1976 yang disusul tersingkirnya Kelompok Empat, dengan Jiang Jing, istri Mao, sebagai tokoh sentral, negeri itu menjadi lebih terbuka, tetap saja dunia luar tak tahu banyak tentang apa yang berada di dalamnya - kecuali bahwa Deng Xiaoping pernah berkata "Mau kucing putih atau kucing belang, pokoknya bisa menang kap tikus. "
Sinema dan Kajian Budaya (1): Teknologi, Antara Teknik dan Ideologi Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia?
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi sinematografi tidaklah netral. Pertama, karena ia dilahirkan oleh suatu kepentingan, dan suatu kepentingan disepakati akan selalu ideologis; kedua, karena produk teknologi itu melahirkan teknik dalam sinematografi, yang akan dibaca sebagai teknik pendekatan untuk menangkap dan menerjemahkan realitas. Jika disebutkan bahwa teknologi sinematografi berada di antara teknik dan ideologi, dimaksudkan bahwa teknologi sinematografi itu di satu pihak memproduksi bahasa sinematografi, dan teknik di sini bisa dibaca sebagai cara berbahasa sekaligus bahwa kebutuhan berbahasa akan mengembangkan teknologi sinematografi itu; di lain pihak kebutuhan berbahasa itu merepresentasikan kepentingan dalam ideologi tertentu. Dengan hubungan yang timbal balik antara teknologi, teknik, dan ideologi diberlangsungkan proses budaya sinema, yang sekaligus juga akan menentukan keberadaannya secara sosial dan historis.
Sinema dan Kajian Budaya (2): Spektakel & Bintang Film: Politik Selebritas Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI No. 3 (2007): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melihat film sebagai potensi bisnis, tidak bisa dilepaskan akan peran teknologi yang berkembang dan mengiringinya. Melalui campur tangan teknologi ini film diyakini akan terlihat lebih sensasional dan nampak begitu fantastis -spektakuler. Namun pemeran film juga menuntut statusnya dipertimbangkan sebagai faktor penentu juga bagi penciptaan spektakel tadi. Jadilah film sebagai ajang pertarungan ideologi dalam hegemoni wacana spektakel/, tempat memperebutkan identitas aktor-aktris film.
Sinema dalam Kajian Budaya (3): Bahasa Film dalam Pergulatan Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI No. 4 (2008): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai sebuah medium, film tergolong kompleks, sebab ia memiliki banyak elemen penentu di dalamnya. Elemen-elemen di dalam film tersebut sebenarnya dapat diperlakukan menggunakan variabel-variabel yang sangat fleksibel (nyaris tak berhingga). Sebelum mencapai kedudukannya sebagai pengantar pesan ataupun pembentuk makna, film tentulah melalui suatu proses yang meskipun kompleks namun bukan berarti tak terjabarkan. Dengan jalan menguraikan proses pembentukan makna tersebut artikel ini mengajak para pembaca untuk ikut mengamati tentang bagaimana beberapa varian dalam penyusunan variabel penentu makna seperti: types of shot, tata cahaya, angle, warna dsb . ternyata juga tak terlepas dari aspek-aspek ideologis, dimana segenap gagasan (baca: ideologi) dapat kita cermati telah dihadirkan melalui layar.
Membaca Komik, Menonton Film Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adaptasi komik menjadi film semakin menggejala, dan melahirkan film-film box-office. Benarkah terhadap gambar-gambar komik lebih mudah dilakukan adaptasi daripada sumber-sumber gagasan dari medium lain? Instrumen bahasa komik dan film sebetulnya sangat berbeda, meski saling pengaruh ternyata memang ada. Peran pembaca penonton juga sangat menentukan-ketika para tokoh superhero komik telah menjadi bagian dari mitologi masa kini.
Exoticism in Photography: Jean Mohr, Bandung-Jakarta, December 1973 Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i2.199

Abstract

Historically, the age of colonisation constructs the cultural map of the world, which, after decolonisation, gives way to exotic views, which, through postcolonial criticism, arrive in Segalen’s thought, called symbolist exoticism. This concept is useful for discussing Jean Mohr’s photographs taken from inside a Pullman carriage on his journey from Bandung to Jakarta in December 1973. This article is a preliminary attempt to uncover the cultural construct behind the exotic moments of specific-movements captured by Jean Mohr’s camera.
Pasangan-Waktu dalam Fotografi Efek-Radial : Wacana di Balik Unbreakable People Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v16i3.393

Abstract

Dari lima pasang foto, yang merupakan pasangan-waktu dalam pameran foto Beawiharta Unbreakable People (2025), ditarik kemungkinan penerapan konsep fotografi efek-radial John Berger yang dipraktekkan Jean Mohr (1975), untuk memeriksa hasilnya sebagai proses kerja pembermaknaan. Dari pemeriksaan atas keberpasangan foto-foto Beawiharta, terlacak keberadaan dimensi waktu yang memperdalam makna foto, sementara terdapatnya dimensi geografis tetap menempatkannya dalam ranah sistem radial. Refotografi, konsep berdimensi waktu lain yang sudah terdapat sebelumnya, tertampung dan terleburkan ke dalam sistem radial yang berdimensi geografis.