Penelitian ini berfokus pada dinamika ketegangan identitas etnik masyarakat Simalungun di Kota Pematang Siantar, sebuah kawasan yang dulunya merupakan wilayah adat mereka, namun kini lebih banyak dihuni oleh kelompok etnis lain seperti Jawa dan Batak Toba. Tujuan utama kajian ini adalah menggali pandangan komunitas Simalungun mengenai pengalaman marginalisasi budaya yang mereka alami, serta menelusuri faktor-faktor yang memicu konflik antar-etnik dan kemungkinan solusi yang dapat diterapkan. Pendekatan penelitian dilakukan melalui wawancara secara mendalam dengan sejumlah informan utama dan pendukung yang berasal dari latar belakang etnis dan profesi yang beragam. Temuan menunjukkan bahwa ketidakseimbangan dalam representasi budaya di ruang publik, kurangnya partisipasi masyarakat Simalungun dalam struktur pemerintahan lokal, serta adanya stigma negatif terhadap kelompok ini menjadi penyebab utama timbulnya gesekan. Meskipun secara lahiriah hubungan antar-etnik terlihat rukun, banyak warga Simalungunkhususnya generasi muda merasa tersisih dan mengalami krisis identitas. Kesimpulan dari studi ini menekankan perlunya peran aktif pendidikan, pemberitaan media yang adil, serta dukungan kebijakan dari pemerintah guna menciptakan ruang keberagaman budaya yang lebih adil dan inklusif di wilayah tersebut