Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : ARISTO

INTERAKSI SIMBOLIK DALAM KOMUNIKASI BUDAYA (Studi Analisis Fasilitas Publik Di Kabupaten Ponorogo) Nugroho, Oki Cahyo
ARISTO Vol 3 No 1 (2015): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ars.v3i1.7

Abstract

Ponorogo adalah salah satu kota di ujung barat Propinsi Jawa Timur yang mempunyai kesenian khas yaitu Reyog Ponorogo. Kesenian ini merupakan salah satu kekayaan kesenian nasional yang menjadi aset bangsa dalam kekayaan budaya dunia. Reyog sendiri ibaratnya sudah mendarah daging dan menyatu dalam kehidupan sosial di masyarakat Ponorogo. Hal ini tercermin dari banyaknya jumlah even yang diselenggarakan baik dalam tingkat desa, kecamatan maupun tingkat nasional. Kebanggan akan kesenian ini diwujudakan dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah bangunan yang bersifat publik atau lebih tepatnya landmark yang menjadi ciri khas dan identitas kota ini. Jika kita perhatikan lebih jauh, bangunan publik berupa gerbang masuk kabupaten Ponorogo dari empat penjuru mempunyai perbedaan jika dibandingkan dengan beberapa bangunan yang mempunyai cirikhas atau yang berkaitan langsung dengan reyog itu sendiri. Begitu pula dengan beberapa gapura masuk perkampungan penduduk yang berbeda dari pusat kota. Penelitian ini berusaha mengungkap makna yang terkandung dalam setiap bangunan yang bercirikan reyog dan berusaha menemukan proses interaksi simbolik yang terjadi antar bangunan tersebut dilihat dari sudut pandang ilmu komunikasi. ”Mind, Self and Society dari Mead dalam interaksi simbolik ini merupakan teori dasar yang menjadi pegangan dalam menganalisa fenomena yang ada di Ponorogo ini. Pentingnya makna bagi perilaku manusia, pentingnya konsep mengenai diri, hubungan antara individu dengan masyarakat merupakan konsep dasar bangunan-bangunan yang mencirikan sebuah kondisi sosial masyarakat yang hadir pada jaman tersebut.Metode penelitian ini menggunakan metode kualitiatif dimana data yang diambil dengan tekhnik snowball sampling.Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa Kabupaten Ponorogo dibangun atas empat era yang berbeda dalam sudut pandang memaknai kesenian reyog ini sebagai identitas dan kebanggan Ponorogo sebagai kota reyog. Politik, ekonomi, pendidikan berpengaruh terhadap daya cipta, rasa, dan karsa dalam pembentukan fasilitas publik berupa tugu atau gerbang (landmark). Kondisi sosial yang dipengaruhi oleh kelompok masyarakat yang dominan turut menyumbang keragaman dalam pembentukan identitas di kota ini.
REYOG PONOROGO DALAM PERSPEKTIF HIGH/LOW CONTEXT CULTURE: STUDI KASUS REYOG OBYOGAN DAN REYOG FESTIVAL Nugroho, Oki Cahyo
ARISTO Vol 1 No 2 (2013): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ars.v1i2.25

Abstract

Perbedaan-perbedaan dalam format pertunjukkan, perangkat yang dipakai, motivasi dalam pertunjukkan, interkasi dengan penonton, interkasi dengan pemain lain dan improvisasi dalam pementasan secara tidak langsung menimbulkan sebuah gaya dan karakteristik dalam komunikasi yang pada akhirnya membentuk karakter masing-masing pertunjukkan.Kekuatan dalam memegang idelogi atau kepercayaan terhadap seni Reyog yang berbeda inilah  yang selanjutnya menjadi sebuah karakteristik dalam proses komunikasi yang bisa kita jumpai dalam setiap pementasan baik dalam format Reyog obyog maupun Reyog dalam versi festival atau panggung. Hal inilah yang menyebabkan dalam setiap pertunjukan reyog baik dalam format obyog atau dalam versi festival selalu mempunyai ciri khas dan keunikan sendiri-sendiri dalam setiap pementasan. Dalam setiap pementasan yang berlangsung, secara langsung akan memproduksi simbol-simbol tertentu yang membuat atau mengajak penonton untuk saling berkomunikasi. Lebih detil dan terlihat perbedaan dapat dilihat dari perbandingan foto-foto pementasan Reyog obyogan dan Reyog dalam format festival. dalam menjelaskan fenomena ini, penelitian ini menggunakan perspektif dari Edward Hall yang mengkategorisasikan budaya berdasarkan high / low culture context.
INTERAKSI SIMBOLIK DALAM KOMUNIKASI BUDAYA (STUDI ANALISIS FASILITAS PUBLIK DI KABUPATEN PONOROGO) Nugroho, Oki Cahyo; Purwati, Eli
ARISTO Vol 4 No 1 (2016): ARISTO Vol. 6 Tahun 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ars.v4i1.180

Abstract

AbstrakPonorogo adalah salah satu kota diujung barat Propinsi Jawa Timur yang mempunyai kesenian khas yaitu Reyog Ponorogo. Kesenian ini merupakan salah satu kekayaan kesenian nasional yang menjadi aset bangsa dalam kekayaan budaya dunia. Reyog sendiri ibaratnya sudah mendarah daging dan menyatu dalam kehidupan sosial dimasyarakat Ponorogo. Hal ini tercermin dari banyaknya jumlah even yang diselenggarakan baik dalam tingkat desa, kecamatan maupun tingkat nasional. Kebanggan akan kesenian ini diwujudakan dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah bangunan yang bersifat public atau lebih tepatnya landmark yang menjadi cirri khas dan identitas kota ini. Jika kita perhatikan lebih jauh, bangunan public berupa gerbang masuk kabupaten Ponorogo dari empat penjuru mempunyai perbedaan jika dibandingkan dengan beberapa bangunan yang mempunyai cirri khas atau yang berkaitan langsung dengan reyog itu sendiri. Begitu pula dengan beberapa gapura masuk perkampungan penduduk yang berbeda dari pusat kota. Penelitian ini berusaha mengungkap makna yang terkandung dalam setiap bangunan yang bercirikan reyog dan berusaha menemukan proses interaksi simbolik yang terjadi antar bangunan tersebut dilihat dari sudut pandang ilmu komunikasi.”Mind, Self and Society dari Mead dalam interaksi simbolik ini merupakan teori dasar yang menjadi pegangan dalam menganalisa fenomena yang ada di Ponorogo ini. Pentingnya makna bagi perilaku manusia, pentingnya konsep mengenai diri, hubungan antara individu dengan masyarakat merupakan konsep dasar bangunan-bangunan yang mencirikan sebuah kondisi sosial masyarakat yang hadir pada jaman tersebut. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitiatif dimana data yang diambil dengan tekhnik snowball sampling. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa Kabupaten Ponorogo dibangun atas empat era yang berbeda dalam sudut pandang memaknai kesenian reyog ini sebagai identitas dan kebanggan Ponorogo sebagai kota reyog. Politik, ekonomi, pendidikan berpengaruh terhadap daya cipta, rasa, dan karsa dalam pembentukan fasilitas publik berupa tugu atau gerbang (landmark). Kondisi sosial yang dipengaruhi oleh kelompok masyarakat yang dominan turut menyumbang keragaman dalam pembentukan identitas di kota ini.Keywords: Reyog Ponorogo, interaksi simbolik, komunikasi, fasilitas publik.
Budaya Populer Dalam Pertunjukkan Reyog Obyogan Nugroho, Oki Cahyo; Purwanir, Hadi
ARISTO Vol 5 No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ars.v5i1.400

Abstract

Pop culture is often associated with a community environment with certain characteristics such as beliefs, rituals, performances, form shows, lifestyle patterns, symbols, language, dress, music, dance, and various models form of human expression, intellectual, and how to communicate in a order a certain time.In Reyog Obyogan performances, pop culture can we find is the traditional musical accompaniment or wasps that incorporate elements of today's popular such as dangdut songs. Not only that, the dancers jathil freely change and adjust according to the demand of the audience or trends that are favored in society. Seeing this paradigm and development, the focus in this research is to look further and in-depth how a popular culture trending affect community shape in a staging performances Reyog Ponorogo in Obyogan form.It also affects the patterns of communication, the message and meaning contained within the show itself. Result of this study showed several behaviors in Reyog Obyogan performances influences to a popular culture that were hits in the present like a concept similar to the dance Edreg Jaipong. Saweran also started a lot in the form of performances Reyog. Song or “Gending” in reyog also changing from songs like 'walang kekek” being “oplosan”' or 'kanggo riko' which is present in vogue in society. The costumes also changed with the entry of sensual especially against Jathil dancers are semi-transparent clothing similar to the Kebaya and colorful. The conclusion of this study prove that folk art as a tradisional performance  be affected things that are popular in the community at large at the time.
landscape Photography in Mapping Potential Natural Disasters in Ponorogo Regency Nugroho, Oki Cahyo; Tricana, Deny Wahyu; Pinaryo, Pinaryo
ARISTO Vol 10 No 1 (2022): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ars.v10i1.4471

Abstract

Ponorogo has a natural beauty comparable to that of one of the arts, Reyog Ponorogo. This study is based on the idea of visual communication through landscape photography, which captures the inherent beauty of the area. However, hidden beneath the unique natural beauty comes the risk of catastrophic calamities that endanger life and property. This research creates the natural beauty of Ponorogo, which has the potential for natural catastrophes, by combining geotagging photography techniques and disaster maps from the National Disaster Management Agency (BPBD). Landslides and flash floods are the most major dangers. The government and the people are expected to investigate the combination of nature photography and natural catastrophe maps in order to preserve nature.