Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Uji Aktivitas Campuran Minyak Kemiri dan Minyak Zaitun terhadap Panjang Rambut Mercya, Yovita; Ramadani, Deshinta
Lontara Journal of Health Science and Technology Vol. 5 No. 1 (2024): Ilmu dan Teknologi Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/lontarariset.v5i1.433

Abstract

Candlenut oil and olive oil have been discovered to promote hair growth. This experimental study aimed to assess the effectiveness of a combination of candlenut oil and olive oil on the length of hair in male rabbits. The experiment involved two male rabbits, with four areas on their backs shaved to apply the test solution, each area measuring approximately 3 cm x 3 cm and spaced 2 cm apart. Hair samples were collected by shaving six strands of hair from each area on the 3rd, 6th, 9th, 12th, 15th, and 18th days. The treatment groups were divided into a negative control group that received no intervention and test groups that were treated with either candlenut oil alone, olive oil alone, or a combination of candlenut and olive oil. The results of the non-parametric Kruskal-Wallis test revealed a p-value of 0.000 (p ? 0.05), indicating a significant difference among the groups. A post hoc test was conducted to determine the group with the best hair length statistically, and it was found that the group receiving candlenut oil had the highest mean rank value, followed by the olive oil group, and then the combination of candlenut and olive oil group.
Uji Perbandingan Aktivitas Ekstrak Kering Buah Asam Jawa (Tamarindus Indica L) dengan dan tanpa Kombinasi dengan Ekstrak Cair Daun Stevia  (Stevia Rebaudiana B) terhadap Kadar Glukosa Darah Mencit Jantan (Mus Musculus) yang Diinduksi Aloksan Mercya, Yovita; Mulyana, Deni
Jurnal Ekologi, Masyarakat dan Sains Vol 6 No 1 (2025): Jan-Jun 2025
Publisher : ECOTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55448/1953kj79

Abstract

Diabetes mellitus is a disorder that causes hyperglycemia due to insulin deficiency. Tamarind fruit is known to treat diabetes but the sour of tamarind fruit is often covered with sweeteners to improve the taste. This experimental study was conducted to compare the activity of  tamarind fruit with and without combination with stevia leaf liquid extract on blood glucose levels in male mice that had been induced by alloxan. After confirming that the mice's glucose levels were >200 mg/dl, 3 groups were tested, namely the test group 1 was given a solution of dry tamarind fruit extract, the test group 2 was given a combination of tamarind fruit extract solution and stevia leaf liquid extract, and the control group was given aqua distillate. The results of the paired t test against the test group 1 resulted in a decrease in blood glucose of 66.37% with p=0.00013 while the test group 2 was 35.35% with p=0.00035,  which means there is difference before and after treatment. Meanwhile, to see the difference in the decrease in blood glucose levels between groups, an independent t test was performed and obtained p=0.000002 which means that there is a significant difference in each test group.
Combined Effect Of Diazepam And Nutmeg Essential Oil (Myristica Fragrans) On Cognitive Decline In Male Mice (Mus Musculus) Mercya, Yovita; Angela, Tiara
Journal of Medicine and Health Vol 7 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v7i2.9588

Abstract

Penurunan kognitif dipengaruhi oleh tingkat asetilkolin di otak. Rendahnya tingkat asetilkolin dalam sistem saraf pusat mengurangi motivasi belajar dan memori. Tujuan penelitian ini untuk menyelidiki efek kombinasi diazepam dan minyak esensial biji pala terhadap peningkatan penurunan kognitif pada mencit jantan menggunakan metode Morris Water Maze. Penelitian ini melibatkan 15 mencit (Mus musculus) jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok kontrol negatif, kelompok uji diazepam tunggal, dan kelompok uji kombinasi diazepam-minyak esensial biji pala. Data dikumpulkan mengenai waktu yang dibutuhkan mencit untuk menyelesaikan masalah setelah menerima informasi selama 5 hari tanpa intervensi (pre-test) dan 10 hari dengan intervensi (post-test) serta dianalisis secara statistik. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai p=0,018 (p ≤0,05), yang mengindikasikan adanya perbedaan signifikan dalam waktu antar kelompok. Hasil uji post hoc menunjukkan tidak terdapat perbedaan waktu yang signifikan antara kelompok kontrol negatif dan kelompok kombinasi diazepam-minyak esensial biji pala. Artinya fungsi kognitif pada kelompok kombinasi diazepam-minyak esensial biji pala tidak berbeda dengan kelompok yang tidak menerima intervensi apa pun. Kesimpulan, pemberian diazepam tunggal memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan fungsi kognitif mencit dan penambahan minyak esensial biji pala (Myristica fragrans) mengurangi dampak negatif terhadap penurunan fungsi kognitif akibat diazepam secara signifikan pada mencit.
Sosialisasi Peracikan Sediaan Obat Cair dengan Tablet Pada Tenaga Kefarmasian di Rumah Sakit Cahya Kawaluyan Purwaningsih, Hesti; Mercya, Yovita; Ajie, Whisnu Tri Seno
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v5i2.4349

Abstract

Peracikan obat merupakan praktik umum dilakukan oleh tenaga kefarmasian di Indonesia, terutama di rumah sakit, untuk menyediakan obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan individu pasien. Salah satu contoh racikan yang sering dilakukan adalah pembuatan sediaan sediaan obat cairdengan penambahantablet. Menurut teori, pembuatan sediaan obat cair dengan zat aktif yang tidak larut dalam air memerlukan penambahan suspending agent agar menghasilkan suatu suspense yang stabil. Namun, penelitian sebelumnya menyatakan bahwa tanpa penambahan suspending agent Na-CMC, sediaan obat cair yang diracik dengan tablet masih memenuhi persyaratan viskositas, sedimentasi, dan redispersibilitas pada hari ke-14. Program ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tenaga kefarmasian melalui sosialisasi hasil penelitian mengenai peracikan sediaan obat cairdengan penambahan tablet sehingga akan mengurangi waktu yang diperlukan dalam proses peracikan dengan tetap memberikan pelayanan yang berkualitas. Program ini dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan diikuti 30 tenaga kefarmasian di Rumah Sakit Cahya Kawaluyaan pada 6 Februari 2024. Pada pelaksanaannya, dilakukan pre-test, pemberian materi dan post test. Hasil rata-rata nilai pengetahuan tenaga kefarmasian sebelum dilakukan intervensi sebesar 47,77 dan setelah intervensi menjadi 89,03. Meskipun telah dilakukan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan, namun tidak secara langsung mempengaruhi kualitas peracikan obat yang dilakukan oleh tenaga kefarmasian. Disarankan untuk melakukan evaluasi terhadap keterampilan praktis dan penerapan pengetahuan dalam program pemberdayaan berikutnya
Sosialisasi pengadaan obat berdasarkan lead time distributor obat di Rumah Sakit Cahya Kawaluyan. Maria, Roma Ave; Mercya, Yovita; Ajie, Whisnu
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.22653

Abstract

AbstrakPengadaan obat yang efisien di rumah sakit memiliki peran penting untuk menjaga  ketersediaan obat yang memadai dan mencegah kekosongan stok. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tenaga kefarmasian terkait proses pengadaan obat, dengan  memperhatikan lead time distributor obat, sehingga akan memberikan manfaat peningkatan  layanan kesehatan, berupa pengurangan biaya gudang untuk penyimpanan obat namun tetap mempertahankan tingkat layanan yang tinggi pada pasien. Metode pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui diskusi kelompok dan analisis data pengadaan obat kepada 5 orang Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) yang bekerja di Gudang Farmasi Rumah Sakit Cahya Kawaluyan pada tanggal 6 Februari 2024. Sebelum penyampaian materi dan diskusi, dilakukan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal TTK, dengan hasil rata-rata pengetahuan sebesar 42,80. Setelah pelatihan, dilakukan post test yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dengan hasil rata-rata 90.40. Hasil dari pengabdian ini menunjukkan bahwa TTK telah memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang lead time distributor obat, yang diharapkan dapat membantu dalam mengoptimalkan proses pengadaan obat, mengurangi risiko kekurangan stok, dan meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan gudang farmasi. Saran yang diberikan adalah untuk memperhatikan penerapan praktis dari  pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan dalam praktik sehari-hari di gudang farmasi. Evaluasi berkelanjutan  perlu dilakukan untuk menilai dampak langsung dari peningkatan pengetahuan TTK terhadap ketersediaan obat di rumah sakit. Pengadaan obat yang efisien dan optimal merupakan hasil dari upaya yang berkelanjutan dalam pemahaman dan keterampilan TTK di rumah sakit. Kata kunci: distributor obat; lead time;  pengadaan; tenaga kefarmasian Abstract Efficient drug procurement in hospitals plays a crucial role in maintaining adequate drug availability and preventing stockouts. This community service aims to enhance the understanding of pharmacy personnel regarding the drug procurement process, taking into account the lead time of drug distributors, thus providing benefits such as improved healthcare services, cost reduction in warehouse storage for drugs while maintaining a high level of service to patients. The community service method was conducted through lectures, group discussions, and analysis of drug procurement data for five Pharmaceutical Staff working at the Cahya Kawaluyan Hospital Pharmacy Warehouse on February 6, 2024. Before the lecture, a pre-test was conducted to measure the initial knowledge of Pharmaceutical Staff, with an average knowledge score of 42.80. After the training, a post-test was conducted, showing a significant increase in knowledge with an average score of 90.40. The results of this community service indicate that Pharmaceutical Staff have gained a better understanding of drug distributor lead time, which is expected to assist in optimizing the drug procurement process, reducing the risk of stock shortages, and improving efficiency in pharmacy warehouse management. Suggestions provided include paying attention to the practical application of the knowledge gained from training in daily pharmacy warehouse practices. Ongoing evaluation is needed to assess the direct impact of Pharmaceutical Staff knowledge improvement on drug availability in hospitals. Efficient and optimal drug procurement is the result of sustained efforts in enhancing the understanding and skills of Pharmaceutical Staff in hospitals. Keywords:  drug distributor; lead time; pharmaceutical staff; procurement
Inventarisasi penyakit pada warga di sekitar SMA Santa Maria 2 Bandung berbasis praktik kolaborasi interprofesional Niman, Susanti; Mercya, Yovita; Parulian, Tina Shinta; Sampurno, Lanang Eko; Maharina, Florentina Dian; Katarina, Yovita Tri; Sinaga, Friska; Witsqa Firmansyah, Yura; Gunawan, Decky; Ivone, July; Wati, Wenny
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.22026

Abstract

AbstrakPemeriksaan kesehatan dalam upaya preventif merupakan hal utama untuk dilakukan pada masyarakat. Permasalahan yang terjadi pada mitra (SMA Santa Maria 2 dan Kecamatan Kiaracondong) adalah belum adanya praktik kolaborasi interprofesional dalam menginventerisasi penyakit pada warga. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan menginventarisasi penyakit pada warga di sekitar SMA Santa Maria 2 Bandung berbasis praktik kolaborasi interprofesional. Metode pemberdayaan dilakukan menggunakan demonstrasi. Pelayanan kesehatan diikuti 86 warga masyarakat di wilayah sekitar SMA Santa Maria 2 Bandung pada Sabtu, 2 September 2023. Praktik kolaborasi interprofesional dilakukan oleh profesi dengan latar belakang keilmuan keperawatan, farmasi, rekam medis dan kedokteran. Hasil kegiatan pelayanan kesehatan pada masyarakat didapatkan data demografik (rata-rata usia 49 tahun dan masyarakat berjenis kelamin perempuan 57%), tanda vital dan riwayat kesehatan, diagnosa medis dan obat (pre-hipertensi 38.4%; gula darah tidak normal 4,5%; asam urat 10%; dan kolestrol 45%). Praktik kolaborasi interprofesional berjalan dengan baik dapat terlihat dari perilaku kolaboratif berdasarkan hasil self reported tim. Penyakit terbanyak berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan adalah hipertensi. Praktik kolaborasi interprofesional dapat dilakukan melalui kegiatan pengabdian masyarakat seperti pelayanan kesehatan masyarakat. Kata kunci: asam urat; hipertensi; kolestrol; praktik kolaborasi interprofesional AbstractThe practice of interprofessional collaboration through the cooperation of health professionals can have a positive impact on health services. Effective interprofessional collaboration practices will provide safe and high-quality health care to patients. This community service activity aims to provide health services to the community through free health checks and medication based on interprofessional collaboration practices. The empowerment method was carried out using demonstrations. Health services were attended by 86 community members in the area around Santa Maria 2 Bandung High School on Saturday, September 2, 2023. Interprofessional collaboration practices are carried out by professionals with scientific backgrounds in nursing, pharmacy, medical records, and medicine. The results of health service activities in the community obtained demographic data (average age of 49 years and 57% female), vital signs and medical history, medical diagnoses, and drugs (pre-hypertension 38.4%; abnormal blood sugar 4.5%; uric acid 10%; and cholesterol 45%). The practice of interprofessional collaboration goes well can be seen from collaborative behavior based on the results of the self-reported team. The most common disease based on the results of the health examination is hypertension. Interprofessional collaboration practices can be carried out through community service activities such as community health services. Keywords: cholesterol; hypertension; the practice of interprofessional; urin acid