Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Profil Level Kognitif Mahasiswa Dalam Menyelesaikan Soal Seleksi Calon Peserta ONMIPA-PT Reni Astuti; Buchari
Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 14 No. 1 (2023): January 2023
Publisher : Jurusan Pendidikan Matematika FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpm.v14i1.44

Abstract

ONMIPA-PT (Olimpiade Nasional MIPA Perguruan Tinggi) adalah kompetisi tingkat mahasiswa bidang matematika, fisika, kimia, dan biologi, yang diadakan oleh Belmawa Ristekdikti setiap tahun. Keberhasilan para peserta ONMIPA PT tidak lepas dari arahan para Dosen Pembimbing yang mendampingi dan memberi instruksi dalam proses mempelajari hingga menguasai Materi ONMIPA PT. Level – level kognitif adalah salah satu deskripsi yang penting untuk diketahui dalam mewujudkan hal tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan level - level kognitif mahasiswa pendidikan matematika IKIP PGRI Pontianak dalam menyelesaikan Soal Seleksi Calon Peserta ONMIPA PT pada materi analisis real dan kombinatorik. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes diagnostik dan melakukan wawancara. Tes diagnostik berisikan soal seputar materi analisis real dan kombinatorika. Berdasarkan data yang dihasilkan dari penerapan tes diagnostik dan wawancara akan diperoleh informasi tentang level – level kognitif yang ada dan letak kekuatan dan kelemahan subjek penelitian pada materi analisis real dan kombinatorika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berjenis penelitian eksploratif. Penelitian eksploratif karena peneliti ingin menggali secara mendalam tentang hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu. Pada penelitian ini pemilihan subyek menggunakan sampel bertujuan. Adapun hasil penelitiannya diperoleh bahwa mahasiswa IKIP PGRI Pontianak pada materi analisis real telah mencapai level-level kognitif mengingat, memahami dan menerapkan dalam menyelesaikan Soal Seleksi Calon Peserta ONMIPA PT. Sama halnya pada materi kombinatorika juga telah mencapai level – level kognitif mengingat, memahami dan menerapkan dalam menyelesaikan soal seleksi calon peserta ONMIPA PT.
ANALISIS LEARNING OBSTACLES REPRESENTATIF DAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA DALAM MATERI FUNGSI DI SMP ABDI AGAPE PONTIANAK Sopiya Anggela; Syarifah Fadillah; Buchari
AL JABAR: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika Vol. 5 No. 3 (2026): Juli
Publisher : LPPM Institut Ahmad Dahlan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/favwa529

Abstract

Rendahnya capaian siswa pada materi fungsi di sekolah menengah pertama menjadi salah satu permasalahan yang mendesak untuk ditangani, mengingat materi ini merupakan fondasi bagi konsep matematika lanjutan yang membutuhkan kemampuan representasi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis learning obstacles representatif dan pemahaman konseptual siswa kelas VIII SMP Abdi Agape Pontianak pada materi fungsi. Hambatan belajar representatif merupakan kesulitan siswa dalam memahami, menginterpretasikan, dan menghubungkan berbagai bentuk representasi matematika, seperti diagram panah, tabel, grafik, dan persamaan aljabar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui tes pemahaman konseptual berbentuk esai yang diberikan kepada 26 siswa, kemudian dilanjutkan dengan wawancara mendalam terhadap enam siswa yang mewakili kategori kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, serta wawancara dengan guru mata pelajaran matematika. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperiksa menggunakan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konseptual siswa secara keseluruhan berada pada kategori sedang dengan rata-rata skor 16,65 dari skor maksimum 24. Learning obstacles representatif yang paling dominan ditemukan pada kemampuan siswa dalam mentranslasikan representasi tabel ke persamaan aljabar serta menginterpretasikan hubungan antara grafik dan persamaan fungsi. Berdasarkan kategorisasi Brousseau, hambatan epistemologis merupakan hambatan yang paling dominan, diikuti oleh hambatan ontogenik dan didaktik. Faktor-faktor penyebab munculnya hambatan tersebut meliputi lemahnya pemahaman konsep prasyarat, keterbatasan pengalaman belajar lintas representasi, kecenderungan menghafal prosedur, faktor eksternal siswa, serta rendahnya motivasi belajar. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang pembelajaran fungsi yang lebih menekankan eksplorasi makna konseptual dan translasi antar representasi.
THE EFFECT OF CLAUDE AI-ASSISTED ASSESSMENT WITH ADAPTIVE PROMPTS ON REDUCING MATHEMATICS ANXIETY AMONG UNIVERSITY STUDENTS IN ABSTRACT ALGEBRA muchtadi muchtadi; buchari buchari
JETL (Journal of Education, Teaching and Learning) Vol 10, No 2 (2025): Volume 10 Number 2, 2025
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jetl.v10i2.8986

Abstract

This study investigates the effect of Claude AI-assisted assessment with a purpose-built adaptive prompt system on reducing mathematics anxiety among university students in Abstract Algebra. Mathematics anxiety—a multidimensional affective construct distinct from general anxiety and from the cognitive barriers addressed in prior research on mathematical representation—constitutes a significant impediment to learning advanced mathematics. The study employed a mixed-methods design with an embedded experimental model involving 26 fourth-semester students of the Mathematics Education Study Program at Universitas PGRI Pontianak during the 2024/2025 academic year. The primary instrument was the Mathematics Anxiety Rating Scale–Revised (MARS-R) adapted into Indonesian and psychometrically validated (Cronbach's α = .91, CFI = .96). The Claude AI system was engineered with six adaptive prompt types—Calming Prompt, Stepwise Scaffolding, Positive Affirmation, Misconception Diagnosis, Metacognitive Reflection, and Progressive Feedback—automatically selected based on detected anxiety profiles. Results showed a highly significant reduction in mathematics anxiety (Z = −4.41, p < .001, r = .86). Mean scores declined from 46.7 (high) to 30.3 (low), a 35.1% reduction. The previously strong negative anxiety–achievement correlation (r = −.67, p < .001) became non-significant post-intervention (r = −.38, p = .054), indicating successful anxiety decoupling. These findings contribute to understanding affective dimensions in advanced mathematics learning and establish an empirical basis for adaptive AI in academic anxiety management.
Pengembangan Motor Agility Training Models pada Permainan Hadang Berbasis Continous Optimization Algorithms Nevi Hardika; Buchari Buchari; Anang Qosim
Jurnal Pendidikan Olah Raga Vol. 15 No. 1 (2026): June: Jurnal Pendidikan Olah Raga
Publisher : Universitas PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/jpo.v15i1.10901

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Agility Training Models (model latihan kelincahan) pada permainan tradisional Hadang yang terintegrasi dengan Continous Optimization Algorithms untuk menentukan lintasan gerak paling efisien, sekaligus menguji tingkat kevalidan dan keefektifannya dalam meningkatkan performa motorik atlet. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/RnD) dengan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Proses validasi dilakukan oleh tim ahli di bidang olahraga dan matematika terapan, sedangkan uji coba lapangan menerapkan desain eksperimen menggunakan paired sample t-test dengan melibatkan 40 subjek kelompok kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Hasil validasi ahli (expert validation) mencapai rata-rata skor kelayakan sebesar 92%, sehingga model latihan dikategorikan "Sangat Valid" (Excellent); (2) Uji coba lapangan secara signifikan berhasil meningkatkan kecepatan reaksi (dari 1,62 detik menjadi 1,32 detik) dan efisiensi langkah kaki atau footwork (dari skor 65,40 menjadi 77,50) sebesar 18,5% dibandingkan metode tradisional; (3) Analisis data mengonfirmasi bahwa continuous trajectory approach di dalam algoritma terbukti efektif mengurangi disipasi atau pemborosan energi atlet pada area sudut dan batas tajam lapangan Hadang. Simpulan dari penelitian ini adalah model latihan kelincahan berbasis algoritma optimasi kontinu valid dan efektif dalam memodernisasi metode latihan pada permainan Hadang secara ilmiah, terukur, dan berbasis data.
Development of a Character Education-Based Mathematics E-Comic to Improve Elementary School Students’ Numeracy Literacy Skills Buchari Buchari; Wiendi Wiranty; Dwi Oktaviana; Utin Desy Susiaty
JPMI (Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia) Vol 11, No 1 (2026): Volume 11 Number 1, March 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jpmi.v11i1.7904

Abstract

Numeracy literacy in Indonesia requires attention, as it remains low, as revealed in the Program for International Student Assessment (PISA) report. A mathematics learning process that can support mathematical abilities, particularly mathematical literacy, must be supported by the characteristics of media skills or tolls that can be adapted to the learning environment. This study aims to develop a mathematics e-comic based on character education to improve elementary school students’ numeracy literacy skills. The research employed a Research and Development (R&D) approach using a simplified Borg & Gall model consisting of seven stages: (1) identifying potential and problems, (2) data collection, (3) product design, (4) design validation, (5) design revision, (6) product trial, and (7) final product revision. The participants were 27 fifth-grade students of SD Negeri 55 Pontianak Barat. Research instruments included expert validation sheets, numeracy literacy tests, and student response questionnaires. The validation results indicated that the e-comic was highly feasible, with scores of 90.67% (content expert) and 93.33% (media expert). The trial results revealed significant improvement in students’ numeracy literacy. The average score for identifying relevant information increased from 64.20 to 92.59, applying whole number operations in real-life problems improved from 62.96 to 93.83, and presenting problem-solving processes with logical reasoning rose from 46.30 to 74.07. The overall average increased from 57.82 to 86.83, reflecting a 50.19% improvement. These findings proves that character education-based e-comic are effective in improving students’ numeracy literacy skills.Rancang Bangun E-Comic Matematika Berbasis Pendidikan Karakter Dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Numerasi Siswa di Sekolah DasarABSTRAKLiterasi numerasi di Indonesia perlu diperhatikan, karena masih rendah seperti yang diungkapkan dalam laporan Program for International Student Assessment (PISA). Proses pembelajaran matematika yang dapat menunjang kemampuan matematika terutama kemampuan literasi matematika tentunya harus didukung dengan karakteristik keterampilan media atau sarana yang dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-comic matematika berbasis pendidikan karakter dalam meningkatkan kemampuan literasi numerasi siswa sekolah dasar. Model pengembangan yang digunakan adalah Borg & Gall yang disederhanakan menjadi tujuh tahap: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, dan (7) revisi produk. Subjek penelitian adalah 27 siswa kelas V SD Negeri 55 Pontianak Barat. Instrumen penelitian terdiri atas lembar validasi ahli, tes literasi numerasi, dan angket respon siswa. Hasil validasi menunjukkan bahwa produk e-comic layak digunakan dengan skor rata-rata 90,67% (ahli materi) dan 93,33% (ahli media). Hasil uji coba terbatas menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan literasi numerasi siswa, ditunjukkan dengan skor rata-rata: indikator mengidentifikasi informasi relevan meningkat dari 64,20 menjadi 92,59, indikator menggunakan operasi hitung bilangan cacah meningkat dari 62,96 menjadi 93,83, dan indikator menyajikan proses penyelesaian dengan alasan logis meningkat dari 46,30 menjadi 74,07. Rata-rata keseluruhan meningkat dari 57,82 menjadi 86,83 (peningkatan 50,19%). Temuan ini membuktikan bahwa e-comic berbasis pendidikan karakter efektif meningkatkan kemampuan literasi numerasi siswa.Kata Kunci :e-comic; literasi numerasi; pendidikan karakter; sekolah dasar 
The Mathematical Thinking Profiles Of Junior High School Students At SMP Negeri 1 Sukadana In Solving Higher Order Thinking Skills (HOTS) Problems On Statistics sulastriani; Syarifah Fadillah Al - Hadad; Buchari Buchari
Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran (JIPP) Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran (JIPP) Juli 2026
Publisher : LPD Universitas PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/jipp.v5i2.11116

Abstract

Abstract: Mathematical thinking is a critical cognitive skill that enables students to interpret, analyze, evaluate, and draw conclusions when solving mathematical problems, particularly those demanding higher-order reasoning. In statistics learning at the junior high school level, students commonly show considerable variation in their mathematical thinking processes, especially when interpreting statistical data and determining appropriate solving strategies for Higher Order Thinking Skills (HOTS) problems. This study aimed to analyze the mathematical thinking profile of eighth-grade students at SMP Negeri 1 Sukadana in solving HOTS problems on statistics, focusing on their ability to identify given and asked information, select relevant concepts or formulas, arrange systematic solution steps, and verify and conclude their answers. A qualitative descriptive method with a case study design was used. Data were collected through diagnostic tests and in-depth interviews with six students purposively selected from class VIII G, representing high, moderate, and low mathematical-ability categories (two students per category); the test instrument was validated by two mathematics education lecturers and one subject teacher, and data credibility was ensured through triangulation. The results showed distinct differences in mathematical thinking profiles across ability levels. High-ability students accurately identified problem information, selected correct concepts, constructed systematic and logical solution steps, and consistently verified their answers. Moderate-ability students understood most of the given information but had difficulty fully interpreting the problem and made minor procedural errors. Low-ability students frequently failed to identify complete information, applied incorrect concepts, made computational errors, and rarely re-checked their final answers. Overall, the findings indicate that the higher a student's mathematical ability, the more systematic and complete their thinking process in understanding, planning, executing, and evaluating solutions to statistics-based HOTS problems. These findings suggest that teachers should strengthen contextual, story-based problem practice, habituate systematic solution-writing, and emphasize answer-checking strategies to improve students' higher-order mathematical thinking in statistics..
PENGUATAN KOMPETENSI ABSTRAKSI PADA PROSES LITERASI GURU SMK KOPERASI PONTIANAK BERBANTUAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE Buchari Buchari; Yadi Ardiawan; Rahman Haryadi; Hodiyanto Hodiyanto
JA (Jurnal Abdiku) : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Abdiku
Publisher : Penerbit LPPM- STKIP PGRI Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan pesat artificial intelligence (AI) menuntut guru untuk meningkatkan kemampuan literasi digital, terutama pada tahap abstraksi saat menelaah sumber pustaka sebagai dasar penyusunan perangkat kurikulum dan pembelajaran. Permasalahan yang dihadapi mitra (guru SMK Koperasi Pontianak) adalah belum optimalnya pemanfaatan AI sebagai alat bantu penguatan kompetensi abstraksi dalam proses literasi untuk menyusun perangkat kurikulum utama SMK, perangkat perencanaan pembelajaran, dan perangkat pendukung khusus SMK. Kegiatan pengabdian ini menerapkan metode pelatihan dan pendampingan dengan tahapan: pengenalan, penyampaian materi dan tanya jawab, serta praktik terarah dan pendampingan kelompok dalam penggunaan AI untuk menyusun bahan ajar abstrak, dan membuat soal. Kegiatan dilaksanakan pada 15 Desember 2025 dengan peserta 20 guru; hasil evaluasi angket menunjukkan respon sangat positif, dengan simpulan kepuasan peserta sebesar 99,24% dan mayoritas peserta menyatakan materi sesuai kebutuhan serta mudah dipahami. Dengan demikian, pelatihan berbantuan AI efektif memperkuat kompetensi abstraksi pada proses literasi guru dan berpotensi mendukung peningkatan kualitas penyusunan perangkat pembelajaran secara lebih efisien; tindak lanjut pendampingan disarankan agar implementasi berkelanjutan.
Powtoon-Based Animated Video for Spatial Visualisation in Plane Geometry: A Preliminary Study Dewi Risalah; Norelia Novi; Buchari
MEDIA DAN STRATEGI PEMBELAJARAN Vol 3 No 3 (2026): International Journal of Teaching
Publisher : YAYASAN CENDEKIA CITRA GEMILANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/ijt.v3i3.1239

Abstract

This article reports a preliminary study conducted to inform the development of a Powtoon-based animated video oriented towards spatial visualisation in Grade X plane geometry. The study represents the Define stage of a 4D research-and-development design and used descriptive qualitative analysis. Evidence was drawn from a semi-structured interview with one mathematics teacher, an interview with one Grade X student, and two open-ended diagnostic tasks concerning angle relationships in a trapezoid and translation on the Cartesian plane at SMA Negeri 3 Ngabang. The documented student work showed correct numerical results and an emerging ability to state geometric relationships; however, explanations remained concise, the dynamic meaning of transformations was not fully articulated, and responses to prompts about animated motion were incomplete. Interview data converged with these findings: instruction relied mainly on the board, textbooks or worksheets, and occasional static presentation slides, while both participants considered dynamic animation useful for displaying changes in shape, position, and direction. The preliminary analysis therefore generated five design requirements: animated geometric transitions, explicit connections among verbal, visual, and symbolic representations, paced narration and labels, worked examples with explanatory prompts, and pause/replay access across common devices. These findings justify proceeding to the Design and Develop stages, but they do not constitute evidence of product validity, practicality, or effectiveness