Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Oral Candidiasis in Patients with Level CD4+ Below 50 Lukisari, Cane; Rahman, Kurnia Hayati; Nafi’ah, Nafi’ah; Setianingtyas, Dwi; Femilian, Afryla
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 13, No 1 (2024): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v13i1.20003

Abstract

Approximately 90% of individuals diagnosed with HIV/AIDS have encountered Oral Candidiasis during the progression of their disease, especially in patients with a reduced CD4+ 200 mm3. Oral Candidiasis is a prevalent opportunistic infection of the oral cavity. Reported a case of a patient with oral candidiasis in an HIV/AIDS with CD4+ below 50 and discussed the mechanism of molecular relationship decreasing count CD4+ with virulence of Candida Albicans. In this report, we present a case of a 35-year-old female who presented with oral candidiasis. The patient's CD4+ count test revealed a level below 50 and HIV test I-II-III reactive. Human immunodeficiency Virus causes a decrease in CD4+ count and leads to opportunistic oral candidiasis infection.
Necrotizing periodontal disease sebagai manifestasi dari post-COVID syndrome Setianingtyas, Dwi; Lukisari, Cane; Fauziah, Yessy Andriani
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.77736

Abstract

Penyintas COVID-19 rentan mengalami post-COVID syndrome meskipun telah dinyatakan sembuh atau negatif dari COVID-19. Organ yang terserang post-COVID syndrome antaralain paru, telinga, hidung dan tenggorokan serta rongga mulut. Studi kasus ini melaporkan tatalaksana terintegrasi kasus necrotizing periodontal disease yang merupakan manifestasi post-COVID syndrome. Kasus terjadi pada wanita usia 25 tahun dengan keluhan gusi regio 23 mengalami kerusakan yang menyebabkan tulang penyangga gigi terekspose yang makin lama makin meluas disertai gigi goyah. Pasien dinyatakan terpapar COVID-19 pada 11 bulan sebelumnya. Kulit wajah serta seluruh tangan dan kaki tampak bercak merah. Keadaan umum pasien baik, namun terlihat kurus. Radiografi panoramik digunakan untuk memeriksa kondisi jaringan penyangga gigi. Gigi 23 direncanakan untuk diekstraksi sehingga pasien menjalani pemeriksaan darah lengkap dan tes autoimun. Pasien dicurigai mengalami gangguan sistemik, sehingga selanjutnya dilakukan tes human immunodeficiency virus (HIV), pemeriksaan CD4, serta screening hepatitis dan PCR, karena pasien diduga terpapar COVID-19 yang berulang. Tatalaksana selanjutnya pasien di-swab di sekitar regio 23 untuk memastikan peran mikroorganisme dengan dugaan acute necrotizing ulcerative periodontitis (ANUP). Seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi dalam batas normal, dengan hasil swab menunjukkan temuan Klebsiella oxytoca. Tindakan bedah pada kasus post-COVID syndrome memerlukan beberapa pemeriksaan penunjang secara cermat dan perlu kolaborasi yang melibatkan berbagai multidisiplin ilmu. Diagnosis akhir pada kasus ini adalah necrotizing periodontal disease sebagai manifestasi post-COVID syndrome yang dipicu oleh badai sitokin dalam rongga mulut. Diagnosis iniditegakkan berdasarkan elaborasi penelusuran kemungkinan beberapa diagnosis. Pemeriksaan komprehensif yang teliti sangat diperlukan pada penanganan kasus yang langka dan sulit untuk mencegah terjadi komplikasi.
TRAINING OF TRAINER (TOT) DALAM UPAYA PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI UNTUK ORANG TUA DAN SISWA DI SD RADEN PAKU SURABAYA Rahmitasari, Fitria; Rosita Irmawati, Ari; Revianti, Syamsulina; Nilawati, Nina; Widyastuti; Kurniawan, Hansen; Bayu Prabowo, Puguh; Pangabdian, Fani; Nur Ashrin, Meinar; Widaningsih; Handayani, Budi; Khoironi, Emy; Lukisari, Cane; Samadi, Karlina; Harnowo, Setyo
Jurnal Pengabdian Masyarakat Pesisir VOLUME 3 NOMOR 2
Publisher : Universitas Hang Tuah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/jpmp.v3i2.120

Abstract

Angka kejadian permasalahan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia mencapai 57,6%, dimana tergolong sangat tinggi, dengan 93% di antaranya dialami oleh anak-anak usia sekolah. Pengetahuan, sikap, dan perilaku individu memiliki peran yang penting dalam menjaga kesehatan gigi mulut. Lingkungan sekitar anak, terutama keluarga dan guru, memiliki peran yang krusial dalam membentuk sikap dan perilaku mereka. School Health Program (SHP) yang melibatkan pelatihan Training of Trainer (ToT) mengenai kesehatan gigi mulut bagi guru dan orang tua mencakup kegiatan menyikat gigi dua kali sehari selama 21 hari. Program ini bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada anak dan orang tua beserta guru tentang perlunya menjaga oral hygiene yang baik serta mengajarkan teknik menggosok gigi dengan pasta gigi berfluoride. Inisiatif ini juga mendukung pencapaian target "Indonesia Bebas Karies 2030" dan dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom. Pemahaman peserta terkait kesehatan gigi dievaluasi melalui kuesioner sebelum dan sesudah diberikan pelatihan. Analisis statistik menggunakan uji t-sampel berpasangan untuk mengetahui dan membandingkan nilai rerata sebelum dan sesudah diberikan pelatihan menunjukkan nilai p<0,05, yang mengindikasikan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan mengenai pemeliharaan kesehatan gigi mulut pada guru serta orang tua siswa di SD Raden Paku melalui program ToT. Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku mengenai kesehatan gigi dan mulut setelah materi diberikan. 
Oral Health Care Management in Atypical Oral and Cutaneous Bullous Pemphigoid Widowati, Kharinna; Dewanthy P, Sri; Lukisari, Cane; Nafi’ah; Setianingtyas, Dwi; Rahman, Kurnia Hayati; Libriansyah; Riyanto, Eko; Damaiyanti, Dian W; Ayuningtyas, Nurina F.
Denta Journal Kedokteran Gigi Vol 20 No 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/denta.v20i1.4

Abstract

Background: Bullous Pemphigoid (BP) is the most common subepidermal bullous autoimmune disease, typically presenting as tense bullae. Atypical presentations of bullous pemphigoid often mimic TEN or impetigo, creating diagnostic ambiguity. Effective management of these cases requires integrated strategies to address systemic health factors and extensive oral mucosal involvement. Objective: This report highlights the Oral Health Care Management of atypical oral and cutaneous manifestations of Bullous Pemphigoid. Case: A 58-year-old woman with a history of Diabetes Mellitus and heart disease was referred with extensive bullae, erosions, and "honey-like" crusts involving over 30% of her body surface area. Her condition worsened despite two weeks of treatment with acyclovir, which was administered for suspected herpes. The presentation was highly suggestive of TEN and impetigo. Case Management: Management of the oral and perioral lesions focused on infection prevention and pain relief. Debridement was performed using sterile gauze soaked in normal saline and 0.2% chlorhexidine. This was followed by the application of Aloevera extract gel/spray. Comprehensive systemic therapy, including corticosteroids and immunosuppressants, was coordinated by a multidisciplinary team to control the autoimmune disease and its comorbidities. Conclusion: The presence of comorbidities, such as diabetes, further complicates systemic management and heightens the risk of secondary infections, requiring meticulous wound care. A multidisciplinary diagnostic algorithm, supported by supplementary examinations, is crucial for differentiating atypical BP from TEN and impetigo infection. Adequate management of associated oral and perioral manifestations is an integral component of comprehensive patient care.