Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Evaluasi Gradien Tekanan Sumur RDM Lapangan Geothermal Martasari, Rial Dwi; Firdaus, Faizal
Jurnal Migasian Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM Akademi Minyak dan Gas Balongan Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36601/jurnal-migasian.v3i1.64

Abstract

Scaling adalah terbentuknya endapan padat. Masalah yang umum terjadi pada sumur panas bumi khususnya sumur dominasi air atau water dominated sebagaimana terjadi pada sumur panas bumi di Dieng yang dikaji dalam penelitian ini. Scale yang terbentuk pada instalasi produksi sumur panas bumi dapat menyebabkan penurunan produksi sumur, bahkan dapat menyebabkan berhentinya produksi. Oleh karena itu, pencegahan dan penanganan masalah scaling menjadi hal penting yang diperhatikan. Endapan dapat terbentuk karena adanya reaksi kimia oleh pencampuran satu fluida panas bumi dengan fluida panas bumi lain yang berbeda komposisinya atau juga dapat disebabkan oleh perubahan sifat fisik fluida dikarenakan perubahan tekanan dan temperatur yang menyebabkan perubahan kejenuhan zat-zat penyusun fluida panas bumi. Titik kondisi tekanan dan temperatur tertentu dimana fluida panas bumi mulai terjadi penguapan atau mulai terjadi perubahan fasa dari satu fasa menjadi dua fasa, biasa disebut sebagai flash point. Pada inilah zat -zat yang melebihi titik jenuhnya akan mengalami pengendapan. Dengan mengetahui letak kedalaman titik uap atau flash point fluida panas bumi maka dapat diestimasi dimana letak scaling pertama kali terjadi. Letak kedalaman flash point dapat diketahui dengan melakukan penghitungan penurunan tekanan dari well head ke dasar sumur hingga diperoleh kondisi temperatur saturasi fluida, yaitu temperatur dimana mulai terjadi aliran dua fasa. Diantaranya adalah metode Beggs and Brill, metode Horrison-Freeston dan metode Lockhart-Martinelli. Pada studi kali ini korelasi yang digunakan adalah dengan korelasi penurunan tekanan Beggs and Brill yang pada studi-studi sebelumnya dianggap paling valid. Besarnya Gradien tekanan yang terjadi pada sepanjang pipa bawah permukaan sekitar 32.2578 Bar/m.s2, dengan asumsi kondisi sumur vertikal. Sehingga semakin besar tekanan wellhead menunjukkan semakin besar letak flash point. Hal ini disebabkan semakin besar tekanan maka semakin panjang penurunan tekanan hingga sampai pada tekanan saturasinya.
PERHITUNGAN LAJU ALIRAN CAIRAN PADA SUMUR PANAS BUMI DENGAN METODE ORIFICE PLATE PADA SUMUR “HCE-XY” LAPANGAN “Z” Andika, Rahmat Tri; Martasari, Rial Dwi; Arifiyanto, Dwi
Jurnal Migasian Akamigas Balongan Indramayu Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM AKAMIGAS BALONGAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perhitungan laju aliran cairan sumur panas bumi merupakan perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui banyaknya uap yang dapat diproduksikan dalam satu hari dan berapa besar potensi energi listrik yang dihasilkan. Perhitungan laju aliran dapat dihitung menggunakan metode yang sama dengan uji produksi dengan metode orifice plate menggunakan orifice meter yang melakukan perhitungan laju alir massa uap dan laju alir massa air dari produksi uap panas bumi. Pengukuran laju alir massa uap dan laju alir massa air dilakukan pada orifice meter dimana uap akan masuk melalui lubang kecil di dalam pipa produksi dan penempatannya sebelum uap panas bumi masuk menuju separator. Berdasarkan metode orifice plate, perhitungan laju alir massa uap dan air menggunakan orifice meter pada Sumur “HCE-XY” Lapangan “Z” dari tanggal 6 Januari 2017 sampai dengan 19 Januari 2017 didapat nilai rata rata laju alir massa uap (MVapour) sebesar 9,316 ton/jam, laju alir massa air (MBrine) sebesar 15,447 ton/jam, laju alir massa total (MTotal) sebesar 24,763 ton/jam, fraksi vapour sebesar 37,6%, fraksi brine sebesar 62,4%, flowing enthalpy sebesar 1548 kj/kg, Potensi Sumur total/gross (QTotal) didapat sebesar 10,648 MW, Potensi vapour/neto pada sumur (QVapour) sebesar 4,0057 MW dan harga power generated sebesar 1,203 MWe.
Evaluasi Gradien Tekanan Sumur RDM Lapangan Geothermal Rial Dwi Martasari; Faizal Firdaus
Jurnal Migasian Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM Akademi Minyak dan Gas Balongan Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36601/jurnal-migasian.v3i1.64

Abstract

Scaling adalah terbentuknya endapan padat. Masalah yang umum terjadi pada sumur panas bumi khususnya sumur dominasi air atau water dominated sebagaimana terjadi pada sumur panas bumi di Dieng yang dikaji dalam penelitian ini. Scale yang terbentuk pada instalasi produksi sumur panas bumi dapat menyebabkan penurunan produksi sumur, bahkan dapat menyebabkan berhentinya produksi. Oleh karena itu, pencegahan dan penanganan masalah scaling menjadi hal penting yang diperhatikan. Endapan dapat terbentuk karena adanya reaksi kimia oleh pencampuran satu fluida panas bumi dengan fluida panas bumi lain yang berbeda komposisinya atau juga dapat disebabkan oleh perubahan sifat fisik fluida dikarenakan perubahan tekanan dan temperatur yang menyebabkan perubahan kejenuhan zat-zat penyusun fluida panas bumi. Titik kondisi tekanan dan temperatur tertentu dimana fluida panas bumi mulai terjadi penguapan atau mulai terjadi perubahan fasa dari satu fasa menjadi dua fasa, biasa disebut sebagai flash point. Pada inilah zat -zat yang melebihi titik jenuhnya akan mengalami pengendapan. Dengan mengetahui letak kedalaman titik uap atau flash point fluida panas bumi maka dapat diestimasi dimana letak scaling pertama kali terjadi. Letak kedalaman flash point dapat diketahui dengan melakukan penghitungan penurunan tekanan dari well head ke dasar sumur hingga diperoleh kondisi temperatur saturasi fluida, yaitu temperatur dimana mulai terjadi aliran dua fasa. Diantaranya adalah metode Beggs and Brill, metode Horrison-Freeston dan metode Lockhart-Martinelli. Pada studi kali ini korelasi yang digunakan adalah dengan korelasi penurunan tekanan Beggs and Brill yang pada studi-studi sebelumnya dianggap paling valid. Besarnya Gradien tekanan yang terjadi pada sepanjang pipa bawah permukaan sekitar 32.2578 Bar/m.s2, dengan asumsi kondisi sumur vertikal. Sehingga semakin besar tekanan wellhead menunjukkan semakin besar letak flash point. Hal ini disebabkan semakin besar tekanan maka semakin panjang penurunan tekanan hingga sampai pada tekanan saturasinya.
PERHITUNGAN LAJU ALIRAN CAIRAN PADA SUMUR PANAS BUMI DENGAN METODE ORIFICE PLATE PADA SUMUR “HCE-XY” LAPANGAN “Z” Rahmat Tri Andika; Rial Dwi Martasari; Dwi Arifiyanto
Jurnal Migasian Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM Akademi Minyak dan Gas Balongan Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perhitungan laju aliran cairan sumur panas bumi merupakan perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui banyaknya uap yang dapat diproduksikan dalam satu hari dan berapa besar potensi energi listrik yang dihasilkan. Perhitungan laju aliran dapat dihitung menggunakan metode yang sama dengan uji produksi dengan metode orifice plate menggunakan orifice meter yang melakukan perhitungan laju alir massa uap dan laju alir massa air dari produksi uap panas bumi. Pengukuran laju alir massa uap dan laju alir massa air dilakukan pada orifice meter dimana uap akan masuk melalui lubang kecil di dalam pipa produksi dan penempatannya sebelum uap panas bumi masuk menuju separator. Berdasarkan metode orifice plate, perhitungan laju alir massa uap dan air menggunakan orifice meter pada Sumur “HCE-XY” Lapangan “Z” dari tanggal 6 Januari 2017 sampai dengan 19 Januari 2017 didapat nilai rata rata laju alir massa uap (MVapour) sebesar 9,316 ton/jam, laju alir massa air (MBrine) sebesar 15,447 ton/jam, laju alir massa total (MTotal) sebesar 24,763 ton/jam, fraksi vapour sebesar 37,6%, fraksi brine sebesar 62,4%, flowing enthalpy sebesar 1548 kj/kg, Potensi Sumur total/gross (QTotal) didapat sebesar 10,648 MW, Potensi vapour/neto pada sumur (QVapour) sebesar 4,0057 MW dan harga power generated sebesar 1,203 MWe.
Penentuan Injeksi Udara Optimum Dalam Operasi Aerated Drilling Pada Sumur Panas Bumi PT Air Drilling Associates Rial Dwi Martasari; Dany Wiratama; Dwi Arifiyanto
Jurnal Migasian Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM Akademi Minyak dan Gas Balongan Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36601/jurnal-migasian.v5i2.166

Abstract

Kesuksesan pengeboran adalah faktor penting dalam mengembangkan bidang panas bumi, pengeboran dilakukan setelah survei geologi, geofisika, hidrologi dan geokimia serta perencanaan sumur telah selesai. Dalam proyek pengeboran, sistem sirkulasi membutuhkan biaya yang cukup besar mengingat tantangan mengebor di panas bumi yang akan menghadapi temperature yang sangat tinggi dengan tekanan yang rendah karena terdapat banyak rekahan pada formasi batuan. Penting untuk memilih fluida pemboran yang akan memberikan pertimbangan terbaik dalam hal biaya, keselamatan, mencapai kedalaman yang diinginkan dan output dari sumur. Pengeboran dengan aerated fluid adalah teknik pengeboran balance mendekati underbalance dan aerated drilling telah terkenal baik dipakai untuk menembus zona potensi sumur panas bumi. Teknik pengeboran aerated dilakukan dengan menambahkan kompresi udara ke fluida pemboran (lumpur atau air). Fluida pemboran aerated memiliki densitas lebih rendah dari fluida pemboran konvensional, sehingga tekanan hidrostatik dalam sumur dapat lebih rendah daripada tekanan formasi. Fluida pemboran aerasi ini memiliki densitas efektif antara 5-7 ppg. Penentuan rentang volume injeksi udara ke dalam sirkulasi lumpur dibuat untuk mengetahui Equivalent Circulating Density yang efektif untuk operasi aerated drilling pada pemboran panas bumi. Pengujian dilakukan dalam simulasi pemboran aerasi pada sumur geothermal dengan trayek 12 “ di kedalaman 2000 meter, trayek 9 ” di kedalaman 2400 meter dan trayek 7 “ di kedalaman 3000 meter diprediksi terdapat zona rekahan pada setiap kedalaman tersebut.
DESIGN PRESSURE OPERATING WINDOW PADA OPERASI AERATED DRILLING UNTUK SUMUR GEOTHERMAL PT AIR DRILLING ASSOCIATES Rial Dwi Martasari; Erlangga Erlangga; Winarto Winarto
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.021 KB)

Abstract

DETERMINATION OF RESERVOIR CHARACTERISTIC BASED ON THE WELL COMPLETION TEST IN THE RL WELL Rial Dwi Martasari; Fama Agri Lactuca
Journal of Green Science and Technology Vol 4, No 3 (2020): JOURNAL OF GREENSCIENCE AND TECHNOLOGY, VOL.4 NO.3 (2020)
Publisher : FAKULTAS TEKNNIK UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jgst.v4i3.4033

Abstract

Well Completion Test is a testing activity undertaken to determine the depth of production zone and feed center depth as well as to calculate the estimated production capacity of a well. Well completion tests are performed on wells that have just been drilled by exploring the depth of the well, measuring pressure and temperature, water loss test and gross permeability test. As a result of exploring the RL well, the tool was placed at a depth of 2000 meters. Injectivity is done at different pump rates, pressure and liquid faces. The gross permeability test results obtained an injection of 202.22 lpm/ksc, an average specific capacity of 5.028 lpm/meter, transmissivity of 0.1208955 darcymeter and skin factor 3.33381. Next calculate the production estimation using the injection that has been converted and plot to the graph then obtained the result of the estimated potential production of a well that is 6,3 MW. After a well has completed a well completion test, the next step is to test the production for more accurate results, because of the well completion test itself the accuracy is only about 50% only, therefore the production test needs to be done for the results which in getting more accurate.
The Analysis of Pressure Drop on RL 014 for Condensate Disposal on Geothermal Pipe Line Rial Dwi Martasari; Trias Puji Lestari
Journal of Earth Energy Science, Engineering, and Technology Vol. 3 No. 2 (2020): JEESET VOL. 3 NO. 2 2020
Publisher : Penerbitan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.358 KB) | DOI: 10.25105/jeeset.v3i2.7604

Abstract

Geothermal energy from the Earth's magma is manufactured in the form of hot steam. On the process of transmission of steam in the Pipe Line, there are various problems such as condensation in the steam. Condensation can cause problems such as pressure drop. The formation of condensate gives a negative impact on production activities both in the pipeline or power plant, thus condensate formed in pipelines should be disposed of via the blow down or steam trap. Due to a large number of steam pipelines in the DW area then to do an analysis of pipelines in order to prioritize the disposal of condensate in the pipe more prone formed condensate. DW Area special analysis was not done against condensation and the number of condensates that are formed so as to indicate the occurrence of condensation done with regular analysis pressure drop in the pipeline. The results of the analysis of the pipeline must first and more frequently carried out disposal of condensate on the RL 014 based on pressure drop highest is line DW 14 a and DW 67, next line DW 18 and 17, and the last is the line 11 and 14 b DW. The condition of the steam trap is also noteworthy if the steam trap leak then it can lower the temperature in the pipe. The drop in temperature in the pipeline will accelerate the condensation, the results of the analysis there is a steam trap leaked is 401.00.17.ST19 and 401.00.05.ST14 . Steam trap leaked that needs to be done to combat the most. The production of steam RL 014 per day was able to donate a 52.52% or about 73.5 MW of the total needs of PLTP (geothermal power plant) 140 MW per day.
ANALISIS PRESSURE WINDOW UNTUK PENGOPERASIAN AERATED DILLING TERHADAP GHEOTERMAL Martasari, Rial Dwi; Pradana, Ghifari Yoga; Pratama, Raka Aditya
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aerated Drilling yang telah dimanfaatkan untuk menembus zona potensial sumur geothermal penting untuk dinilai agar bisa berjalan optimal. Analisis kinerja pengeboran aerasi dengan menggunakan pressure window telah disiapkan untuk dijadikan referensi dalam praktek di lapangan sumur panas bumi dalam mengatasi permasalahan selama pengeboran guna meningkatkan produktivitas reservoir panas bumi. Sumur panas bumi yang didominasi fraktur di dalamnya cenderung mempengaruhi kemampuan lumpur dalam proses pengeboran. Tekanan kolom tembaga berkurang karena penambahan fasa gas menyebabkan lumpur yang digunakan secara teknis relevan diimbangi oleh kebersihan sumur bor. Penentuan jendela tekanan dibuat dengan memberikan volume yang tepat berkisar antara fase gas dan liquid dalam sistem sirkulasi lumpur, dibatasi oleh kemampuan membersihkan peralatan sumur bor dan peralatan pendukung permukaan. Pengamatan dilakukan pada aerasi simulasi aerasi di sumur geotermal seluas 2.500 meter. Zona retak diperkirakan berada pada kedalaman 1500 meter dengan lintasan sedikit 12-1 / 4 dan 9-7 / 8. Campuran lumpur 800-900 gpm dan 1500 scfm udara digunakan untuk perhitungan dasar. Kepadatan dan viskositas bahan bakar aerasi sama dengan tekanan dan sebaliknya membuat lumpur pengeboran memiliki lebih banyak daya untuk mengangkat pemotongan. Nilai kecepatan annular yang melebihi batas minimum (36 mpm), Ca di bawah 1% dan kecepatan transportasi menunjukkan 90-95% pemindahan pemotongan kemampuan optimal. Hasil ini akan digunakan untuk analisis jendela tekan. Dengan demikian pengeboran aerasi dinilai memiliki kinerja yang baik dalam pengeboran reservoir rekah panas bumi yang merupakan zona potensial. Makalah ini diakhiri dengan kinerja aerasi pada setiap kedalaman dan diverifikasi bahwa metode pengeboran aerob lebih mudah, lebih cepat dan lebih murah.
ANALISIS PERUBAHAN LAJU ALIR DAN POTENSI SUMUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE MASS BALANCE DAN WEIR BOX UNTUK MENENTUKAN BESARNYA DAYA LISTRIK YANG DIHASILKAN Martasari, Rial Dwi; Tornando, Trendy; Indarti, Adrian
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.634 KB)

Abstract

This research is done in PT Geo Dipa Energi Dieng, Banjarnegara Regency, Central Java Province. The consideration is PT Geo Dipa Energi Dieng is one geothermal power plant in Indonesia which has the characteristics of reservoir double phase with water dominated, so interesting to be the place of the research because the equipment production is complex. The method of calculation in this research by using Mass Balance and Weir Box method which is used to calculate the flow rate of geothermal fluid production, the potential of wells and the amount of power electricity generated. Geothermal flow fluid flow rate calculation is very important and must be done at any time, since the production of geothermal wells must be tailored to the needs, the production equipment and the power plant equipment which can be arranged by using the wellhead. Based on Mass Balance and Weir Box Method, the calculation of vapor and brine mass flow rate from January 1, 2017 to February 22, 2017 obtained the average value of vapor mass flow rate (MVapour) is 29.4785 tons / hour, water flow rate of mass (MBrine) is 44.31 tons / hour, total fluid mass flow rate (MTotal) is 73.782 tons / hour, vapor fraction is 39.94688%, brass fraction is 60.05312%, flowing enthalpy is 1620 kJ / kg, potential The total well (gross) is 33.205 MW. The net potential is 13.2653 MW, resulting in 3.93 MWe of electricity. Keywords: Flow Rate, Electricity, Mass Balance, Potential Well And Weir Box