Articles
PRESERVASI KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN MUSEUM PERJUANGAN MANDALA BHAKTI SEMARANG
Setyaningsih, Dewi Novi;
Ganggi, Roro Isyawati Permata
Jurnal Ilmu Perpustakaan Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (250.002 KB)
Judul penelitian ini adalah Preservasi Koleksi di Perpustakaan Museum Perjuangan MandalaBhakti Semarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana preservasi koleksidi Perpustakaan Museum Perjuangan Mandala Bhakti Semarang. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dengan metode pengumpulan datadengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menyatakanbahwa preservasi di Perpustakaan Museum Perjuangan Mandala Bhakti Semarang dibagimenjadi dua jenis, yaitu preservasi preventif dan preservasi kuratif. Preservasi preventif yangdilaksanakan di Perpustakaan Museum Perjuangan Mandala Bhakti Semarang di antaranyagood housekeeping, beberapa kegiatan caretaking, pengawasan secara berkala pada tingkatpencahayaan ruang, pencegahan kerusakan oleh faktor biologi, fisika, dan faktor manusia.Preservasi kuratif yang dilaksanakan di Perpustakaan Museum Perjuangan Mandala BhaktiSemarang di antaranya fumigasi dan pekerjaan perbaikan lainnya berupa penjilidan. Adapunkendala pelaksanaan preservasi di Perpustakaan Museum Perjuangan Mandala BhaktiSemarang yaitu belum adanya kebijakan secara tertulis mengenai pelaksanaan preservasi,dana yang terbatas, serta keterbatasan pemahaman pustakawan mengenai bagaimanamelakukan preservasi koleksi dengan baik dan benar.
Layanan Administrasi Kependudukan Pasca Penerapan “Arsip Masuk Desa†di Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
A’yun, An-Nisaa Kiftina Qurrota;
Ganggi, Roro Isyawati Permata
Jurnal Ilmu Perpustakaan Vol 8, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (165.748 KB)
Layanan yang berada pada sebuah organisasi pemerintahan diharapkan dapat memberikan informasilayanan administrasi secara efektif bagi kebutuhan masyarakat terutama dalam proses dibidang datakependudukan. Hal ini dapat dilakukan dengan kegiatan layanan administrasi kependudukan. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui layanan administrasi kependudukan pasca penerapan “Arsip Masuk Desa†diDesa Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Jenis penelitian yang digunakan dalampenelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan enam orang informandengan teknik purposive sampling. Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini yaituobservasi dan wawancara. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis tematik(thematic analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kantor Balai Desa Lerep telah melakukanbeberapa tahapan program “Arsip Masuk Desa†yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan danPerpustakaan Kabupaten Semarang. Hasil implementasi program “Arsip Masuk Desa†di Kantor BalaiDesa Lerep yaitu perangkat desa mampu mengelola arsip tekstual sesuai dengan pedoman pengelolaan arsipdan perangkat desa mampu menggunakan aplikasi E-arsip sebagai bentuk otomasi sistem kearsipan untukmenyimpan dan mengelola surat masuk atau keluar. Setelah diterapkan “Arsip Masuk Desa†pelayananadministrasi kependudukan di Kantor Balai Desa Lerep terdapat perubahan yang cukup mendasar terutamadari segi prosedur pelayanan menjadi lebih mudah, waktu pelayanan semakin cepat, penyediaan fasilitasfisik yang memadai, terjaminnya biaya pelayanan dan perangkat desa mampu memberikan kepastian dalamlayanan administrasi kependudukan di Kantor Balai Desa Lerep.
Persepsi Kolektif Sineroom Terhadap Perpustakaan Melalui Film Pendek The Library Book
Ariotejo, Indrarto Bimo;
Ganggi, Roro Isyawati Permata
Jurnal Ilmu Perpustakaan Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (223.341 KB)
Skripsi ini membahas tentang persepsi Kolektif Sineroom terhadap perpustakaan melalui film pendek The LibraryBook. Penelitian ini bertujan untuk mengetahui persepsi Kolektif Sineroom terhadap perpustakaan melalui filmpendek The Library Book. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif denganpendekatan deskriptif. Teknik pengambilan data yang dilakukan adalah dengan wawancara semi terstruktur.Penentuan informan menggunakan sampling jenuh dan didapatkan lima informan yang berpartisipasi dalam penelitianini. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan reduksi data. Hasil analisis data menunjukkan terjadi perubahanpersepsi Kolektif Sineroom setelah menonton film pendek The Library Book. Persepsi Kolektif Sineroom terhadapperpustakaan mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi yaitu bahwa Kolektif Sineroom menjadi semakinmenyadari pentingnya perpustakaan, menjadi lebih peduli dan mau memberikan perhatian lebih untuk perpustakaanagar tetap hidup di tengah perubahan zaman modern ini.
Pendidikan Pemakai di Perpustakaan Sebagai Upaya Pembentukan Pemustaka yang Literasi Informasi
Roro Isyawati Permata Ganggi
Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 5 No 1 (2017): June
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/kah.v5i1a11
Pesatnya perkembangan teknologi informasi berbanding lurus dengan perkembangan informasi. Perkembangan informasi yang semakin tak terkendali pada akhirnya justru menimbulkan masalah. Banyak informasi sampah dan berita bohong yang beredar di masyarakat. Informasi yang seperti ini harus dihindari supaya masyarakat tidak terkecoh. Literasi informasi merupakan salah satu cara untuk membantu seseorang dalam memilih informasi yang dibutuhkan. Literasi informasi mengajarkan seseorang untuk memilih informasi dengan memperhatikan otoritas dan isi suatu informasi. Kemampuan literasi informasi wajib dimiliki oleh pustakawan sebagai bekal dalam memilih informasi yang akan diadakan di perpustakaan. Kemampuan ini akan lebih baik lagi dapat ditularkan kepada masyarakat supaya dapat menciptakan masyarakat yang literate. Literasi informasi dapat diajarkan kepada masyarakat melalui pendidikan pemakai yang dilakukan oleh perpustakaan.ABSTRACTRapid development of information technologies is directly proportional to the development of information. The development of an increasingly uncontrolled information ultimately cause problems. A lot of spam information and hoax news circulating in the community. Information like this should be avoided so that the public do not be fooled. Information literacy is one way to help a person in choosing the needed information. Information literacy teaches a person to choose an information that needed having regard to the authority of information and content of the information. Mandatory information literacy ability possessed by the librarian as a provision in selecting the information to be held in the library. This ability would be better yet if it can be transmitted to the community in order to create a literate society. Information literacy can be taught to the community through user education carried out by the library.
Peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan dalam preservasi dan komunikasi kebudayaan lokal Provinsi Jawa Tengah
Roro Isyawati Permata Ganggi;
Athanasia Octaviani Puspita Dewi
Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 17 No 1 (2021): June
Publisher : Perpustakaan Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/bip.v17i1.876
Introduction. The purpose of this paper is to explore the role of The Office of Archive and Library in preservation and communication of local culture. Data Collection Method. Using a case study, this paper involved the data collection by interviews, observations and literature review. Data Analysis. The data were descriptively analysed by using thematic analysis. Results and Discussion. The Office of Archive and Library has three roles in preservation and communication of local culture. They are: (1) as an information provider; (2) as a local cultural preservation agency; and (3) as a communicator of local cultural information. The role in preservation and communication of local culture arises because of the duties of the Office of Archive and Library Office in managing knowledge and efforts to fulfill the intellectual needs of the community. Conclusion. Preservation and communication of local culture conducted by the Office of Archive and Library Office is a manifestation of the function of library. The role in the preservation and communication of local culture will continue to develop in accordance with the user needs.
Materi Pokok dalam Literasi Media Sosial sebagai salah Satu Upaya Mewujudkan Masyarakat yang Kritis dalam Bermedia Sosial
Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 2, No 4 (2018): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (50.496 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.2.4.337-345
Media sosial merupakan salah satu layanan internet yang paling banyak digunakan oleh para pengguna internet pada saat ini. Kemudahan dalam berinteraksi dan menyebarkan informasi merupakan daya tarik utama dari layanan ini. Namun, kemudahan dalam berinteraksi dan menyebarkan informasi tersebut juga memiliki dampak negatif pada saat ini, yaitu banyak beredarnya berita hoax. Literasi media sosial perlu diberikan dalam rangka menciptakan masyarakat berbasis informasi dan pengetahuan. Pustakawan sebagai salah satu profesi yang memiliki latar belakang literasi yang kuat sudah sepatutnya mengupayakan pembentukan masyarakat yang kritis dalam bermedia sosial melalui literasi media sosial. Salah satu upaya membentuk masyarakat yang kritis dalam bermedia sosial adalah dengan menjalankan workshop yang telah memiliki materi pokok yang diseragamkan. Materi pokok yang sebaiknya dimasukkan dalam workshop literasi media sosial adalah: (1) Berfikir sebelum melakukan post; (2) Apa yang harus dipost dan kapan dapat dilakukan; (3) Bagaimana supaya post anda dapat ditemukan. Ketiga kemampuan ini harus masuk ke dalam materi pokok literasi media sosial karena materi pokok ini merupakan upaya untuk membangun masyarakat yang kritis dalam bermedia sosial.
Perilaku Manajemen Informasi Personal Dokumen Digital Perkuliahan pada Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro
Yeri Rutania;
Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5, No 2 (2021): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (555.281 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.5.2.199-212
Penelitian ini tentang studi eksploratif manajemen dokumen digital pribadi perkuliahan pada Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola informan dalam manajemen dokumen digital perkuliahan dari cara serta tantangan yang dihadapi dalam merawat dokumennya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengambilan data menggunakan teknik triangulasi yaitu menggabungkan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Thematic Analysis. Hasil penelitian ditemukan tiga tema meliputi pilihan penyimpanan dokumen digital perkuliahan mahasiswa, manajemen dokumen digital perkuliahan mahasiswa, dan pola manajemen dokumen digital perkuliahan mahasiswa. Pilihan penyimpanan dokumen digital perkuliahan secara offline paling banyak disimpan dalam harddisk laptop karena nyaman, aman, dan memiliki ruang penyimpanan yang besar. Tempat penyimpanan secara online dipilih oleh informan karena memberikan kenyamanan seperti dapat diakses kapanpun dan dimanapun, serta memberikan space untuk dokumen baru di tempat penyimpanan secara offline. Informan melakukan manajemen dokumen perkuliahan dari organisasi, retrieval (pengambilan), dan pemeliharaan yang juga dihadapi dengan tantangan. Pola manajemen dokumen digital perkuliahan mahasiswa terdiri dari tiga yaitu pola tidak terstruktur, agak terstruktur, dan sangat terstruktur. Diantara ketiga tersebut, pola agak terstruktur merupakan pola yang paling banyak digunakan karena informan cenderung menyimpan dokumen perkuliahan tidak terlalu banyak sehingga mereka mengelompokkan kedalam beberapa folder saja dan tidak begitu spesifik.
Cybrarian: Transformasi Peran Pustakawan dalam Cyberculture
Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 2 (2019): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (165.101 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.3.2.127-133
Cyberculture merupakan budaya baru yang dipengaruhi dengan adanya penemuan komputer dan internet. Budaya baru ini memiliki perubahan yang luas dalam segala aspek tak terkecuali dalam bidang perpustakaan. Cyberculture sendiri meliputi berbagai bidang keilmuan, diantaranya: ilmu komputer, sosiologi, sastra dan bahasa, multimedia, filosofi, ekonomi, feminisme, politik, cyberpsychology, dan ilmu budaya. Secara konvensional peran pustakawan masih berkutat dalam bidang pengelolaan dan pelayanan pemustaka. Peran lain yang dimainkan oleh seorang pustakawan adalah membantu pemustaka, menjaga perpustakaan nampak atraktif dan rapi; mempromosikan perpustakaan dalam komunitas; terlibat dalam kegiatan komunitas untuk menyediakan informasi dan kegiatan: mempertahankan standar pengembangan koleksi berdasarkan permintaan dan kebutuhan pemustaka. Pada era cyberculture maka peran pustakawan mengalami transformasi yaitu: peran dalam membantu pemustaka mengalami perluasan menjadi manajer informasi dan user asisten; peran dalam menjaga perpustakaan nampak atraktif dan rapi mengalami pergeseran tidak hanya menjaga perpustakaan dalam bentuk fisik tetapi juga dalam bentuk digital yaitu menjadi web desainer dan web programmer; pustakawan dapat juga menjadi sales marketing dan public relation (PR) dalam menjalankan peran mempromosikan perpustakaan dalam komunitas; terlibat dalam kegiatan komunitas untuk menyediakan informasi dan kegiatan, menjadikan seorang pustakawan berperan sebagai seorang content creator dan influencer.
Mempersiapkan Pustakawan Multitasking untuk Melayani Pemustaka Generasi Z
Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 2, No 3 (2018): September
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (44.607 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.2.3.299-305
Hukum ke lima Ranganathan menyebutkan bahwa perpustakaan merupakan organisasi yang berkembang, tidak hanya berlaku bagi perpustakaan tetapi juga bagi pustakawan. Hal ini dikarenakan maju tidaknya suatu perpustakaan tergantung pada pustakawannya. Pustakawan dituntut dinamis dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka. Seiring perkembangan zaman pun pemustaka yang dilayani oleh pustakawan mengalami perubahan karakter. Pemustaka yang nantinya menjadi segmentasi pasar perpustakaan adalah pemustaka dari golongan Generasi Z. Pemustaka Generasi Z ini merupakan pemustaka yang menginginkan informasi real-time dan memiliki minat yang besar dalam penggunaan media sosial. Pustakawan dalam melayani generasi Z dituntut untuk dapat menjadi multitasker, karena perpustakaan saat ini tidak hanya berfokus pada layanan secara konvensional tetapi juga layanan berbasis digital yang mampu diakses nonstop. Pustakawan Multitasking perlu memahami literasi media, literasi digital, literasi informasi, literasi visual, literasi global, literasi budaya, dan biliteracy dalam upaya memberikan pelayanan yang maksimal kepada pemustaka Generasi Z.
Pengaruh Pemikiran Raymond C Davis tentang Bibliography Instruction terhadap Konsep Literasi Informasi
Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 2, No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (48.719 KB)
|
DOI: 10.14710/anuva.2.1.69-75
Bibliography instruction pertama kali digagas oleh Raymond C. Davis pada tahun 1881. Sejak dilaksanakan pada tahun 1881 bibliography instruction masih tetap dilakukan, meskipun kemudian diperbaharui dengan konsep yang sesuai dengan perkembangan zaman. Raymond C. Davis sendiri merupakan pustakawan di University of Michigan. Davis dianggap sebagai pionir dalam bibliography instruction meskipun ia bukanlah orang pertama yang mencetuskan konsep bibliography instruction. Hal ini dikarenakan Davis adalah orang pertama yang melaksanakan bibliography instruction secara formal dan sistematis. Pada perkembangannya muncul banyak istilah terkait bibliography instruction, seperti library instruction, user education, pendidikan pemakai atau library literacy. Gagasan Davis dalam menjalankan bibliography instruction masih digunakan sampai sekarang, hampir semua perpustakaan memberikan pelatihan kepada penggunanya tentang bagaimana cara memanfaatkan sumber daya yang ada di perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi khususnya internet membawa pengaruh juga pada pengajaran bibliography instruction. Paul Zurkowski menjadikan konsep instruksi bibliografi sebagai dasar untuk konsep literasi informasi di tahun 1974. Bibliography instruction oleh Zurkowski dianggap tidak terbatas hanya pengenalan sumber daya di perpustakaan saja, tetapi juga sumber daya informasi di luar perpustakaan. Konsep inilah yang pada akhirnya melahirkan literasi informasi.