Claim Missing Document
Check
Articles

Perilaku Manajemen Informasi Personal Dokumen Digital Perkuliahan pada Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro Yeri Rutania; Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5, No 2 (2021): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.281 KB) | DOI: 10.14710/anuva.5.2.199-212

Abstract

Penelitian ini tentang studi eksploratif manajemen dokumen digital pribadi perkuliahan pada Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola informan dalam manajemen dokumen digital perkuliahan dari cara serta tantangan yang dihadapi dalam merawat dokumennya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengambilan data menggunakan teknik triangulasi yaitu menggabungkan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Thematic Analysis. Hasil penelitian ditemukan tiga tema meliputi pilihan penyimpanan dokumen digital perkuliahan mahasiswa, manajemen dokumen digital perkuliahan mahasiswa, dan pola manajemen dokumen digital perkuliahan mahasiswa. Pilihan penyimpanan dokumen digital perkuliahan secara offline paling banyak disimpan dalam harddisk laptop karena nyaman, aman, dan memiliki ruang penyimpanan yang besar. Tempat penyimpanan secara online dipilih oleh informan karena memberikan kenyamanan seperti dapat diakses kapanpun dan dimanapun, serta memberikan space untuk dokumen baru di tempat penyimpanan secara offline. Informan melakukan manajemen dokumen perkuliahan dari organisasi, retrieval (pengambilan), dan pemeliharaan yang juga dihadapi dengan tantangan. Pola manajemen dokumen digital perkuliahan mahasiswa terdiri dari tiga yaitu pola tidak terstruktur, agak terstruktur, dan sangat terstruktur. Diantara ketiga tersebut, pola agak terstruktur merupakan pola yang paling banyak digunakan karena informan cenderung menyimpan dokumen perkuliahan tidak terlalu banyak sehingga mereka mengelompokkan kedalam beberapa folder saja dan tidak begitu spesifik.
Cybrarian: Transformasi Peran Pustakawan dalam Cyberculture Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 2 (2019): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.101 KB) | DOI: 10.14710/anuva.3.2.127-133

Abstract

Cyberculture merupakan budaya baru yang dipengaruhi dengan adanya penemuan komputer dan internet. Budaya baru ini memiliki perubahan yang luas dalam segala aspek tak terkecuali dalam bidang perpustakaan. Cyberculture sendiri meliputi berbagai bidang keilmuan, diantaranya: ilmu komputer, sosiologi, sastra dan bahasa, multimedia, filosofi, ekonomi, feminisme, politik, cyberpsychology, dan ilmu budaya. Secara konvensional peran pustakawan masih berkutat dalam bidang pengelolaan dan pelayanan pemustaka. Peran lain yang dimainkan oleh seorang pustakawan adalah membantu pemustaka, menjaga perpustakaan nampak atraktif dan rapi; mempromosikan perpustakaan dalam komunitas; terlibat dalam kegiatan komunitas untuk menyediakan informasi dan kegiatan: mempertahankan standar pengembangan koleksi berdasarkan permintaan dan kebutuhan pemustaka. Pada era cyberculture maka peran pustakawan mengalami transformasi yaitu: peran dalam membantu pemustaka mengalami perluasan menjadi manajer informasi dan user asisten; peran dalam menjaga perpustakaan nampak atraktif dan rapi mengalami pergeseran tidak hanya menjaga perpustakaan dalam bentuk fisik tetapi juga dalam bentuk digital yaitu menjadi web desainer dan web programmer; pustakawan dapat juga menjadi sales marketing dan public relation (PR) dalam menjalankan peran mempromosikan perpustakaan dalam komunitas; terlibat dalam kegiatan komunitas untuk menyediakan informasi dan kegiatan, menjadikan seorang pustakawan berperan sebagai seorang content creator  dan influencer. 
Mempersiapkan Pustakawan Multitasking untuk Melayani Pemustaka Generasi Z Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 2, No 3 (2018): September
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.607 KB) | DOI: 10.14710/anuva.2.3.299-305

Abstract

Hukum ke lima Ranganathan menyebutkan bahwa perpustakaan merupakan organisasi yang berkembang, tidak hanya berlaku bagi perpustakaan tetapi juga bagi pustakawan. Hal ini dikarenakan maju tidaknya suatu perpustakaan tergantung pada pustakawannya. Pustakawan dituntut dinamis dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka. Seiring perkembangan zaman pun pemustaka yang dilayani oleh pustakawan mengalami perubahan karakter. Pemustaka yang nantinya menjadi segmentasi pasar perpustakaan adalah pemustaka dari golongan Generasi Z. Pemustaka Generasi Z ini merupakan pemustaka yang menginginkan informasi real-time dan memiliki minat yang besar dalam penggunaan media sosial. Pustakawan dalam melayani generasi Z dituntut untuk dapat menjadi multitasker, karena perpustakaan saat ini tidak hanya berfokus pada layanan secara konvensional tetapi juga layanan berbasis digital yang mampu diakses nonstop. Pustakawan Multitasking perlu memahami literasi media, literasi digital, literasi informasi, literasi visual, literasi global, literasi budaya, dan biliteracy dalam upaya memberikan pelayanan yang maksimal kepada pemustaka Generasi Z.
Pengaruh Pemikiran Raymond C Davis tentang Bibliography Instruction terhadap Konsep Literasi Informasi Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 2, No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.719 KB) | DOI: 10.14710/anuva.2.1.69-75

Abstract

Bibliography instruction pertama kali digagas oleh Raymond C. Davis pada tahun 1881. Sejak dilaksanakan pada tahun 1881 bibliography instruction masih tetap dilakukan, meskipun kemudian diperbaharui dengan konsep yang sesuai dengan perkembangan zaman. Raymond C. Davis sendiri merupakan pustakawan di University of Michigan. Davis dianggap sebagai pionir dalam bibliography instruction  meskipun ia bukanlah orang pertama yang mencetuskan konsep bibliography instruction. Hal ini dikarenakan Davis adalah orang pertama yang melaksanakan bibliography instruction secara formal dan sistematis. Pada perkembangannya muncul banyak istilah terkait bibliography instruction, seperti library instruction, user education, pendidikan pemakai atau library literacy. Gagasan Davis dalam menjalankan bibliography instruction masih digunakan sampai sekarang, hampir semua perpustakaan memberikan pelatihan kepada penggunanya tentang bagaimana cara memanfaatkan sumber daya yang ada di perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi khususnya internet membawa pengaruh juga pada pengajaran bibliography instruction. Paul Zurkowski menjadikan konsep instruksi bibliografi sebagai dasar untuk konsep literasi informasi di tahun 1974. Bibliography instruction  oleh Zurkowski dianggap tidak terbatas hanya pengenalan sumber daya di perpustakaan saja, tetapi juga sumber daya informasi di luar perpustakaan. Konsep inilah yang pada akhirnya melahirkan literasi informasi.
Pustakawan sebagai Profesi yang Berkembang: Pemaknaan Kembali Peran Pustakawan terhadap Implementasi Teknologi Informasi di Perpustakaan Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 4 (2019): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.636 KB) | DOI: 10.14710/anuva.3.4.399-409

Abstract

Perpustakaan merupakan organisasi yang berkembang menurut Ranganathan. Hal ini dibuktikan dengan adanya sinergisitas antara perpustakaan dengan teknologi informasi yang merupakan bukti bahwa perpustakaan mengikuti perkembangan zaman. Jika perpustakaan sebagai organisasi telah mampu membuktikan diri mampu mengikuti perkembangan zaman, bagaimana dengan pustakawan sebagai sumber daya yang mengelola perpustakaan? Beberapa pihak menyuarakan ketakutan jika profesi pustakawan akan digantikan dengan profesi lain jika teknologi informasi diimplementasikan di perpustakaan. Nyatanya dengan adanya implementasi teknologi informasi di perpustakaan justru membuat profesi pustakawan semakin berkembang. Jika dahulu peran pustakawan terbatas hanya pada mengorganisasi informasi dan memberikan pelayanan di perpustakaan, maka dalam era teknologi informasi ini, peran yang dapat dilakukan oleh pustakawan, diantaranya adalah sebagai: perantara pencarian, fasilitator, pelatih atau edukator pemustaka, penerbit, pembangun website, peneliti, desainer antarmuka, manajer ilmu pengetahuan, sifter sumberdaya informasi, cybrarian.
Membangun Kepercayaan Diri Pustakawan sebagai Upaya Aktualisasi Diri dalam Masyarakat Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 2, No 2 (2018): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.464 KB) | DOI: 10.14710/anuva.2.2.145-152

Abstract

Pustakawan merupakan salah satu profesi yang sangat dekat dengan ilmu pengetahuan, sayangnya profesi ini masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Pustakawan hanya dianggap sebagai profesi penjaga gudang buku bukan sebagai penjaga ilmu pengetahuan. Citra yang kurang baik ini tentu berdampak pada kepercayaan diri pustakawan terhadap profesinya. Kurangnya kepercayaan pustakawan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: konsep diri; jenis kelamin; budaya; tingkat pendidikan; status sosial ekonomi; dan pengalaman. Penguatan kepercayaan diri pustakawan dapat dilakukan dengan beberapa usaha, yaitu: mengidentifikasi penyebab rendahnya rasa percaya diri dan domain-domain kompetensi diri yang penting; dukungan emosional dan penerimaan sosial; prestasi; mengatasi masalah (coping). Kepercayaan diri merupakan salah satu upaya untuk melengkapi kebutuhan akan penghargaan terhadap profesi pustakawan. Kebutuhan akan penghargaan terhadap profesi pustakawan yang terpenuhi akan mampu membawa profesi pustakawan untuk memenuhi tahapan selanjutnya, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri. Aktualisasi diri terhadap profesi pustakawan akan mampu memberikan dampak positif terhadap profesi pustakawan. Dampak positif yang terciptadari penemuhan aktualisasi diri menjadi penguatan bagi hirarki kebutuhan profesi pustakawan dan juga merubah citra pustakawan yang lebih baik di masyarakat.
Strategi Menciptakan Perpustakaan Kekinian Sebagai Upaya Menjaga Eksistensi di Era Revolusi Industri 4. Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 4, No 2 (2020): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.609 KB) | DOI: 10.14710/anuva.4.2.197-204

Abstract

Perpustakaan merupakan tempat terpercaya untuk mencari informasi yang kredibel, namun di sisi lain beberapa pihak merasa bahwa perpustakaan merupakan tempat yang kuno dan kurang menarik. Sehingga perlu disusun suatu strategi untuk menciptakan perpustakaan kekinian sebagai upaya menjaga eksistensi di era revolusi industri 4.0.  Metode yang  digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode literature review. Literature review dipilih karena artikel ini merupakan artikel konseptual. Hasil yang didapatkan dalam artikel ini adalah perpustakaan dapat melakukan dua strategi dalam menciptakan perpustakaan kekinian, yaitu: dari aspek perpustakaan sebagai organisasi dan dari pustakawan sebagai pengelola perpustakaan. Dari sisi perpustakaan dapat dilakukan dengan: (1) menyediakan working space; (2) desain yang Instagramable; (3) dukungan hot spot cepat; (4) pemanfaatan AI, VR dan AR; (5) pemanfaatan sosial media. Sedangkan dari aspek pustakawan, maka pustakawan dapat bertransformasi sehingga dapat memainkan beberapa peran, yaitu: (1) cybrarian; (2) content creator; (3) social media specialist; (4) information consultant; (5) infographics maker; (6) subject specialist.
Profesi Penyalin Naskah di Perpustakaan pada Masa Keemasan Islam Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.634 KB) | DOI: 10.14710/anuva.3.1.19-26

Abstract

Pada masa kejayaan Islam banyak sekali cendekiawan-cendekiawan muslim yang pemikirannya mampu mempngaruhi dunia bahkan hingga saat ini. Padahal pada saat itu belum ada mesin pengganda kertas seperti mesin foto copy, printer, maupun scanner. Sedangkan seorang cendekiawan tidak memiliki banyak waktu untuk menyalin naskah yang sudah ia tulis untuk kemudian disebarluaskan. Padahal pada saat itu perpustakaan merupakan lambang politik dan kejayaan seseorang, sehingga mendorong munculnya suatu profesi penyalin naskah, atau biasa disebut warraq. Profesi warraq muncul pada sekitar abad 3 – 4 Hijriah.  Seorang warraq harus memiliki karakteristik seperti: (1) baik tulisannya; (2)  jelas tulisannya; (3) kebenarannya; (4) amanah; (5) memahami apa yang ditulis. Warraq terdapat beberapa jenis: (1) warraq yang menyalin buku untuk mendapatkan bayaran sesuai dengan yang disalin; (2)warraq yang bekerja pada orang kaya; (3) warraq yang berasal dari budak kerajaan. Gerakan warraq ini pada akhirnya mengalami kepunahan sejak ditemukannya mesin cetak pada abad kelima belas oleh Gutternberg.
Kriteria Pemilihan Buku Untuk Bibliokonseling Bagi Anak Jalanan di Yayasan Emas Indonesia Rina Mukti Rahayu; Roro Isyawati Permata Ganggi
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 3 (2019): September
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.859 KB) | DOI: 10.14710/anuva.3.3.303-311

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kriteria pemilihan buku untuk bibliokonseling bagi anak jalanan di Yayasan Emas Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan action research. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu focus group discussion, observasi, dan studi pustaka berupa teori. Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik sampling jenuh. Analisis data yang dilakukan pada penelitian berpedoman dengan siklus spiral Kurt Lewin yang kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa Kegiatan bibliokonseling sudah diterapkan oleh anak jalanan binaan Yayasan Emas Indonesia, namun Yayasan Emas Indonesia belum mempunyai pedoman pemilihan buku bibliokonseling sehingga konselor masih mengalami kesulitan dalam melakukan pemilihan buku menyesuaikan dengan permasalahan khusus anak jalanan. Kesulitan dialami oleh konselor maka perlu mengkonstruksi pedoman pemilihan buku bibliokonseling.  Konstruksi ini nantinya dapat membantu konselor dalam melakukan pemilihan buku untuk kegiatan bibliokonseling. Konstruksi  pedoman pemilihan buku bibliokonseling dibuat menyesuaikan dengan permasalahan yang dialami oleh anak jalanan, karakter anak jalanan, kemampuan membaca anak jalanan, dan karakter pada isi buku yang akan digunakan untuk kegiatan bibliokonseling.
Pengalaman pemanfaatan cloud storage mahasiswa Teknik Komputer Universitas Diponegoro (Undip) dalam pengelolaan arsip digital Sinta Wulandari; Roro Isyawati Permata Ganggi
Jurnal Informatio Vol 1, No 1 (2021): 2021
Publisher : Faculty of Communication, Padjadjaran University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/inf.v1i1.31111

Abstract

The use of cloud storage every student is certainly different, different behaviors also affect how individuals manage and use the digital archives they have stored in cloud storage. The purpose of this study is to find out how cloud storage behavior emerges when managing digital archives that students have in their educational activities. This study is done qualitatively with phenomenological methods through interviews to active computer engineering students Undip and observation as techniques in obtaining data. The data analysismethod used in this study is thematic analysis method, which is used to find patterns or themes by analyzing the data obtained then associated with the phenomenon found through the researchers' glasses. The results of this study obtained two themes, namely student knowledge regarding the management of digital archives owned using cloud storage and the behavior of using cloud storage that was raised by computer engineering students. While managing digital archives owned by students, it tends to be done simply in accordance with their knowledge and abilities. The management stage is carried out starting from the selection stage, the structuring and grouping stage, the evaluation stage and the meeting again. All stages of management that are carried out are of course related to one another. The utilization behavior shown by students has different goals in various ways to help with their lecture activities. The behavior of using cloud storage that is carried out is adjusted to the needs and interests of students to be able to meet information needs to support their academic activities.