Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Respon Pertumbuhan Sorgum BMR Patir 3.7 (Sorghum bicolor (L) Moench) terhadap Beberapa Jenis Pupuk pada Lahan Pasca Tambang Pasir Apdila Safitri; Iin Infitria; Panca Dewi
Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jpltrop.v3i1.5415

Abstract

Persaingan penggunaan lahan mengharuskan penanaman hijauan makananternak untuk memanfaatkan lahan marginal yang rendah tingkat kesuburannya. Lahanpasca tambang pasir salah satu yang berpotensi untuk dimanfaatkan dengankandungan bahan organik tanah dan daya ikat air rendah. Penambahan pupuk untukmeningkatkan unsur hara dan penggunaan jenis hijauan unggul diperlukan untukmemproduksi hijauan yang berkualitas. Sorgum sebagai hijauan makanan ternak yangsangat adaptif terhadap unsur hara rendah dan kekeringan dengan produksinya yangtinggi. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk melihat respon pertumbuhan sorgum BMRPatir 3.7 pada media tanam tanah pasca tambang pasir dengan penambahan beberapajenis pupuk. Rancangan acak lengkap digunakan pada penelitian ini dengan perlakuanpenambahan enam jenis pupuk dan tujuh ulangan. Perlakuan pupuk yaitu pupukkandang, Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA), NPK, asam humat, dan mikroorganismeefektif. Respon pertumbuhan sorgum yang diberikan pupuk memperlihatkan adanyapeningkatan diameter batang 19.62 mm dengan rataan pertambahan diameter batang2.2 mm pada perlakuan pupuk organik. Penambahan pupuk terbukti dapat memperbaikiunsur hara dan meningkatkan respon pertumbuhan sorgum.
Potensi Rumput Lapangdilahan Reklamasi Pasca TambangSebagai SumberHijauanPakanTernak Dwi Sinyin Andini; Taufan Purwokusumaning Daru; Apdila Safitri; Fikri Ardhani
Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jpltrop.v2i2.3686

Abstract

Untuk mengetahui produksi hijauan, kapasitas tampung dan kandungan logam berat Pb, Cd, Cu, Zn di lahan reklamasi pasca tambang PT. Equalindo Makmur Alam Sejahtera. Pengumpulan data rumput lapang dilakukan dengan kuadran secara acak teratur sebanyak 16 cuplikan dengan luas lahan 50m x 50m. Rumput lapang yang di peroleh di hitung berat segar dan keringnya. Analisis logam berat dianalisis dengan menggunakan Anatomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil Penelitian menunjukan bahwa produksi rumput lapang sebanyak  73445,29 kg ha-1 sehingga dapat menampung sebanyak 0,52 ST ha-1 tahun-1. Kandungan Logam berat pada tanah dan tanaman pakan relatif aman karena berada di bawah ambang batas toleransi yang di perbolehkan untuk dikonsumsi. Produksi rumput lapangan relatif rendah yang berpengaruh terhadap kapasitas tampung sebanyak 0,52 ST ha-1 tahun-1. Kandungan logam berat yang berada di tanah dan tanaman di PT. Equalindo Makmur Alam Sejahtera aman karena kandunganya di bawah toleransi maksimal. Kata kunci : Lahan pasca tambang, Logam berat, Rumput lapang
Respon Pertumbuhan Sorgum BMR Patir 3.7 (Sorghum bicolor (L) Moench) terhadap Beberapa Jenis Pupuk pada Lahan Pasca Tambang Pasir Apdila Safitri; Iin Infitria; Panca Dewi
Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 1 (2020): Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jpltrop.v3i1.5415

Abstract

Persaingan penggunaan lahan mengharuskan penanaman hijauan makananternak untuk memanfaatkan lahan marginal yang rendah tingkat kesuburannya. Lahanpasca tambang pasir salah satu yang berpotensi untuk dimanfaatkan dengankandungan bahan organik tanah dan daya ikat air rendah. Penambahan pupuk untukmeningkatkan unsur hara dan penggunaan jenis hijauan unggul diperlukan untukmemproduksi hijauan yang berkualitas. Sorgum sebagai hijauan makanan ternak yangsangat adaptif terhadap unsur hara rendah dan kekeringan dengan produksinya yangtinggi. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk melihat respon pertumbuhan sorgum BMRPatir 3.7 pada media tanam tanah pasca tambang pasir dengan penambahan beberapajenis pupuk. Rancangan acak lengkap digunakan pada penelitian ini dengan perlakuanpenambahan enam jenis pupuk dan tujuh ulangan. Perlakuan pupuk yaitu pupukkandang, Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA), NPK, asam humat, dan mikroorganismeefektif. Respon pertumbuhan sorgum yang diberikan pupuk memperlihatkan adanyapeningkatan diameter batang 19.62 mm dengan rataan pertambahan diameter batang2.2 mm pada perlakuan pupuk organik. Penambahan pupuk terbukti dapat memperbaikiunsur hara dan meningkatkan respon pertumbuhan sorgum.
Potensi Pengembangan Ternak Sapi Potong Berdasarkan Ketersediaan Hijauan Pakan di Kabupaten Berau Nurhidayati Nurhidayati; Taufan Purwokusumaning Daru; Ibrahim Ibrahim; Apdila Safitri
Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 6 No. 1 (2023): Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jpltrop.v6i1.10013

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi pengembangan sapi potong, berdasarkan sumber hijauan pakan ternak yang berasal dari limbah pertanian, lahan tanaman pangan, dan perkebunan di Kabupaten Berau. Data yang digunakan dalam analisis adalah data sekunder dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Berau dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Berau tahun 2021. Analisis daya dukung hijauan makan ternak dengan menggunakan metode kapasitas peningkatan populasi ternak ruminansia (KPPTR) dan analisis Locotion Quotient (LQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hijauan pakan ternak yang bersumber dari limbah hasil pertanian berasal dari galengan sawah, galengan ladang, sawah bera, ladang bera, jerami jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, dan kakao berdasarkan bahan keringnya adalah 298.075,45 Mg BK ha¯¹th¯¹. Kabupaten Berau berpotensi untuk meningkatkan kapasitas tampungnya sebanyak 113.593,30 ST. Berdasarkan hasil perhitungan KPPTR memiliki potensi untuk dikembangkan yaitu sapi potong. Prioritas pengembangan diutamakan di Kecamatan Talisayan, Segah, Biatan, Sambaliung, Batu Putih, dan Tabalar. Analisis LQ menunjukkan bahwa wilayah yang menjadi basis dalam pengembangan sapi potong adalah Kecamatan Talisayan, Biatan, Batu Putih, Tabalar, Segah, dan Sambaliung.
Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia di Kabupaten Penajam Paser Utara Berdasarkan Potensi Hijauan Pakan Taufan Purwokusumaning Daru; Hamdi Mayulu; Suhardi Suhardi; Apdila Safitri; Ardiansyah Ardiansyah
Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jpltrop.v7i1.15045

Abstract

Sebagian wilayah Kabupaten PPU telah ditetapkan menjadi ibukota Republik Indonesia yang baru. Konsekuensi dari terbentuknya ibukota ini akan mengalami peningkatan penduduk yang sangat cepat, sehingga kebutuhan pangan di wilayah ini menjadi prioritas, termasuk bahan pangan asal ternak. Bahan pangan asal ternak yang kritis ketersediaannya di wilayah ini adalah yang berasal dari ternak ruminansia, oleh sebab itu perencanaan pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten PPU menjadi penting. Untuk menentukan wilayah pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten PPU perlu ditinjau keberadaan hijauan pakan di masing-masing kecamatan, diantaranya adalah sumber hijauan pakan beserta produksinya, kapasitas tampung hijauan pakan di setiap kecamatan, KPPTR, IDD hijauan pakan, IKT, dan LQ jenis ternak ruminansia yang dapat dikembangkan di amsing-masing kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kecamatan di Kabupaten PPU memiliki potensi untuk mengembangkan ternak ruminansia. Hal ini ditinjau dari kapasitas tampung hijauan pakan, IDD hijauan pakan, dan KPPTR. Namun demikian, wilayah yang menjadi prioritas pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten PPU adalah Kecamatan Penajam dan Kecamatan Sepaku, karena IKT kedua kecamatan ini > 1. 
Transforming Organic Waste into Economically Valuable Products through Community Empowerment Based on Maggot Cultivation Apdila Safitri; Karenina Dwi Yulianti; Ziya Ibrizah; Ahmad Hidayah; Muhammad Rifani Akbar; Nadia Raihana
Plakat : Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2026): Plakat: Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/plakat.v8i2.29909

Abstract

Tourism activities in Desa Budaya Pampang, Samarinda, have increased the volume of organic waste to 1.5–2 tons per month, with more than 60% of it left unmanaged and largely burned or landfilled. This community service program aimed to transform organic waste into economically valuable products by strengthening three interrelated partner capacities, namely production, business management, and marketing, integrated within a single Black Soldier Fly (BSF) maggot bioconversion process. The approach applied was educative, participatory, and applicative, involving 16 members of the Tourism Awareness Group (Pokdarwis) of Desa Budaya Pampang through nine field visits organized into four phases over eight months. Data were collected through pre-tests and post-tests, practice observation, documentation, and focus group discussions, then analyzed descriptively using quantitative and qualitative approaches. The results showed a substantial increase in participants’ understanding across all three aspects: the proportion of participants who understood to strongly understood production practices rose from 0.6% to 100%, marketing from 0% to 99.4%, and business management from 0% to 90.6%. In practice, partners successfully implemented the organic waste processing workflow into maggot feed, cultivated BSF larvae, and produced dried maggot and compost that began to be packaged with a distinct brand identity and marketed. This program confirms that transforming waste into economic value requires not only bioconversion technology but also the integration of stronger business institutions and market access, while supporting the sustainability of Desa Budaya Pampang as an eco-cultural tourism destination. Aktivitas ekowisata di Desa Budaya Pampang, Samarinda, meningkatkan volume sampah organik hingga 1,5–2 ton per bulan, sementara lebih dari 60% di antaranya belum dikelola secara produktif dan sebagian besar masih dibakar atau ditimbun. Program pengabdian ini bertujuan mentransformasikan sampah organik tersebut menjadi produk bernilai ekonomi melalui penguatan tiga kapasitas mitra secara terintegrasi, yaitu produksi, manajemen usaha, dan pemasaran, yang dirangkai dalam satu proses biokonversi berbasis budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Pendekatan yang digunakan bersifat edukatif, partisipatif, dan aplikatif, melibatkan 16 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Budaya Pampang melalui sembilan kali kunjungan lapangan yang tersusun dalam empat fase kegiatan selama delapan bulan. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test, observasi praktik, dokumentasi, serta diskusi kelompok terarah, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman peserta yang besar pada ketiga aspek: proporsi peserta yang memahami hingga sangat memahami aspek produksi naik dari 0,6% menjadi 100%, aspek pemasaran dari 0% menjadi 99,4%, dan aspek manajemen usaha dari 0% menjadi 90,6%. Secara praktik, mitra berhasil menerapkan alur pengolahan sampah organik menjadi media pakan, membudidayakan maggot BSF, serta menghasilkan produk maggot kering dan pupuk kompos yang mulai dikemas dengan identitas visual dan dipasarkan. Program ini menegaskan bahwa transformasi sampah menjadi nilai ekonomi tidak cukup ditopang oleh teknologi biokonversi semata, melainkan membutuhkan integrasi dengan penguatan kelembagaan usaha dan akses pasar, sekaligus turut mendukung keberlanjutan Desa Budaya Pampang sebagai destinasi eco-cultural tourism.