Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Ilmiah Ecosystem

Penerapan Teknologi Vermicomposting Dalam Pengelolaan Limbah Pertanian Di Desa Massila Kabupaten Bone Abri, Abri; Alamsyah, Aylee Christine; Sanusi, Sanusi
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 21 No. 3 (2021): ECOSYSTEM Vol. 21 No 3, September - Desember Tahun 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v21i3.1249

Abstract

Desa Massila, Kecamatan Patimpeng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, memiliki potensi limbah pertanian yang sangat besar. Limbah jerami sering menjadi masalah karena hanya dibakar atau ditimbun sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan, begitu pula limbah peternakan. Pengelolaan limbah pertanian dengan teknologi vermicomposting dapat menghasilkan dua kegiatan sekaligus yaitu usaha budidaya cacing dan usaha pembuatan pupuk kascing. Kegiatan ini diharapkan terwujudnya kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan potensi dengan pemanfaatkan limbah pertanian dan kotoran sapi sehingga menjadi kelompok wirausaha baru yang produktif. Program Kemitraan Masyarakat ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penyuluhan, workshop, pelatihan, pembimbingan, pendampingan, dan penerapan aplikasi teknologi tepat guna di lapangan dalam bentuk demplot. Hasil yang telah dicapai dalam pemberdayaan kelompok tani dalam usaha budidaya cacing dan kascing ini ialah (1). Anggota kelompok tani Mamminasae telah mampu melaksanakan dan memiliki keterampilan budidaya cacing tanah dengan tahapan kegiatan: pembuatan rak cacing bersusun, pembibitan, penggantian media, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, pemanenan cacing dan kascing (2). Terbentuknya unit usaha kelompok tani mandiri yang dapat memperoleh tambahan pendapatan, meningkatkan kualitas hidupnya, agar mereka dapat hidup lebih baik, lebih efisien cara hidupnya, lebih sehat fisik dan lingkungannya. (3). Budidaya cacing tanah setiap bulan dapat menghasilkan 10 karung kascing (karung 12 kg) yang dijual dengan harga Rp 20.000/karung X 10 karung = Rp 200.000 untuk luas kandang 8 X 5 m dengan menggunakan rak bersusun.  Sedangkan produksi cacing sendiri setiap bulan dapat menghasilkan cacing sebanyak 10 kg cacing/bulan dengan harga Rp 100.00 X 10 kg = Rp 1.000.000 / bulan + kascing Rp 200.000, sehingga total pendapatan tambahan yang diterima oleh kelompok tani Mamminasae sebesar Rp 1.200.000 Massila village, located at Pattimpeng, Bone Regency of South Sulawesi, produces agricultural wastes that have a lot of potentials. The straw waste used to be a problem because it was only burnt or buried, causing the damages on the environment. That also applies for the waste from farming activities. The implementation of the technology of Vermicomposting could generate two activities at the same time that consists of: 1) the cultivation of worm, and 2) the production of worm-based fertilizer that use the agricultural waste as the media. By these activities, it is expected that the economic empowerment of local citizens can be established through the development of the potentials of agricultural wastes and cows dungs, creating groups of productive local entrepreneurs. This partnership program with citizens is organized by using the methods of socialization, workshops, trainings, supervisory, and the implementation of the appropriate technology in the field that takes form of demonstration plot. The results gained from the empowerment of the groups of farmers in the cultivation of worms and fertilizers can be described in three achievements: 1) the members of the farming groups have gained the ability and skills in conducting the cultivation of earthworms that consists of several steps: the production of the multilevel medium for the worms, seeding, medium replacement, maintenances, the controlling of pest and plant disease, and the harvest of the worms, 2) the establishment of the independent groups of farmers that can produce additional incomes from the activities in order to increase their life’s quality, so that they can live a better life, and in the healthier physical conditions and environments, 3) the cultivation of the earthworms can generate, per month, ten bags of worm fertilizer that have a weight of 12 kg per each, and has a price of Rp.20.000,- per unit. It is sold for ten bags, so it can generate Rp.200.000 in total for the area of 8X5 m of the multilevel cages. In other hand, the production of the earthworms per month itself could generate the worm approximately 10 Kg per month with the price of Rp.100.000 per Kg. If it was sold for 10 Kg (per unit bag), it generates Rp1.000.000 per month. In total, the amount of total revenues gained by the groups of farmers in Mamminasae could reach up to Rp.1.200.000.
Analisis Struktur Pasar Sayuran di Desa Kanreapia Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan Sheyoputri, Aylee Christine Alamsyah; Abri, Abri
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 21 No. 3 (2021): ECOSYSTEM Vol. 21 No 3, September - Desember Tahun 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v21i3.1251

Abstract

Potensi tanaman hortikultura khususnya sayuran yang ada di Kecamatan Tinggimoncong cukup besar bahkan beberapa jenis sayuran seperti kubis, petsai, wortel, bawang daun dan kentang, selain dipasarkan dalam wilayah kabupaten juga dipasarkan sampai ibukota propinsi bahkan di antar pulaukan ke Kalimantan namun demikian sistem pemasarannya masih bersifat tradisional yang berimplikasi pada pendapatan petani sebagai produsen tidak optimal. Penelitian ini bertujuan mengkaji stuktur pasar, saluran distribusi dan margin pemasaran produk usahatani sayur-sayuran yang berada di Desa Karenapia, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dilaksanakan pada bulan April hingga Juni 2019, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Struktur pasar sayuran yang terbentuk di desa Kanreapia mengarah pada pasar oligopsoni. Struktur pasar di tingkat kabupaten/kota, lebih memgarah pada pasar persaingan sempurna dan diferensiasi. petani sebagai produsen tidak memiliki sarana dan perlakuan pascapanen (standarisasi melalui grading), lemahnya informasi tentang pasar sehingga peranan petani dalam memanfaatkan peluang pasar sangat kecil, skala usaha yang relatif kecil dan usaha tani yang tidak didasarkan atas permintaan pasar, menyebabkan posisi tawar petani sangat lemah, hal ini memungkinkan kehadiran pedagang perantara yang kemudian lebih dominan dalam penentuan harga jual di tingkat petani. Bagian yang diterima petani dari harga yang dibayarkan konsumen untuk beberapa jenis sayuran, rata-rata lebih kecil dibandingkan yang diterima oleh pedagang perantara sehingga sistem pemasaran yang terjadi dinilai kurang efisien bagi petani. The potential of horticultural crops, especially vegetables in the District of  Tinggimoncong is quite considerable. Some types of vegetables such as cabbage, Chinese cabbage, carrots, leeks and potatoes, besides being marketed in the Regency Area, are also marketed to the provincial capital even inter-island to Kalimantan. The marketing system, however, is still traditional, and that makes the income of the farmers as the producers is not optimal. This study aimed to examine the market structures, distribution channels and marketing margins of the vegetable farming products located in Kanreapia village Tinggimoncong District Gowa Regency South Sulawesi. Using a quantitative descriptive approach, it was carried out from April to June 2019. The results showed that the structure of the vegetable market formed in Kanreapia village led to an oligopsony market. The market structure at the Regency/Municipal level was more likely to lead to a perfect competition and differentiation market. Because the farmers as the producers did not have post-harvest treatment and facilities (standardization through grading), and were weak in terms of market information, the role of the farmers in taking the advantages of market opportunities was very small. The relatively small business scales and non-market-demand farming have caused the farmers’ bargaining position very weak, allowing the presence of intermediary traders who in turn are more dominant in determining the selling prices at the farmer level. For several types of vegetables, the share received by the farmers from the price paid by the consumers is, on average, smaller than that received by the intermediary traders. Hence, the marketing system that occurs is considered less efficient for farmers.
Strategi Pengembangan Agribisnis Sereh Wangi Di Desa Pasir Putih Kecamatan Sumarorong Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat Oktavia, Wildia; Salam, Suryawati; Sheyoputri, Aylee Christine Alamsyah; Abri, Abri
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 22 No. 3 (2022): ECOSYSTEM Vol. 22 No 3, September-Desember Tahun 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v22i3.1982

Abstract

Sereh Wangi merupakan tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri yang dikenal dengan nama citronella oil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor internal dan faktor eksternal serta merumuskan alternatif strategi pengembangan agribisnis sereh wangi. Penelitian ini dilaksanakan bulan April-Mei 2022, di Desa Pasir Putih. Metode analisis yang digunakan adalah SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan yaitu faktor internal meliputi kekuatan (antusias masyarakat membudidayakan sereh wangi; luas lahan tersedia; kondisi iklim mendukung; peluang pasar) dan kelemahan (lahan sebagaian berpasir; alat penyulingan manual; tenaga kerja kurang terampil). Faktor eksternal meliputi peluang (pertama kali dikembangkan di Kabupaten Mamasa; tanaman sereh wangi tahan terhadap hama dan penyakit; dukungan pemerintah; permintaan pasar tinggi) dan ancaman (harga berfluktuasi; kondisi pandemic membatasi sosialisasi; lahan sebagian berpasir). Analisis faktor strategi internal IFAS, diperoleh total skor sebesar 2,85. Sementara  analisis faktor strategi eksternal EFAS diperoleh total skor sebesar 2,48. Strategi pengembangan sereh wangi yang paling tepat untuk diterapkan di Desa Pasir Putih, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa adalah strategi SO. Lemongrass is a plant that can produce essential oils known as citronella oil. This study aims to determine internal and external factors and to formulate alternative strategies for developing lemongrass agribusiness. This research was conducted in April-May 2022, in the village of Pasir Putih. The analytical method used is SWOT. The results of this study indicate that internal factors include strengths (Community enthusiasm for cultivating lemongrass; available land area; favorable climatic conditions; market opportunities) and weaknesses (partially sandy land; manual distillation equipment; unskilled labor). External factors include opportunities (first developed in Mamasa District; lemongrass plants are resistant to pests and diseases; government support; high market demand) and threats (fluctuating prices; pandemic conditions limit socialization; land is partially sandy). IFAS internal strategy factor analysis, obtained a total score of 2.85. Meanwhile, EFAS's external strategy factor analysis obtained a total score of 2.48. The most appropriate strategy for developing lemongrass is the SO strategy.
Analisis Keragaman Agronomi Tanaman Jagung Buah Maulana, Zulkifli; Andilolo, Jelsilah Putri; Nasution, Muhammad Arif; Abri, Abri; Amiruddin, Amiruddin
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 23 No. 2 (2023): Ecosystem Vol. 23 No 2, Mei - Agustus Tahun 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v23i2.3460

Abstract

Tanaman jagung Zea mays L. merupakan salah satu komoditas penting dalam sektor pertanian yang memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan dan bahan baku industri di Indonesia. Peningkatan keragaman agronomi pada tanaman jagung menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan adaptasi tanaman terhadap berbagai kondisi lingkungan.Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman agronomi pada tanaman Jagung Buah, dengan fokus pada karakteristik pertumbuhan seperti tinggi tanaman, diameter batang, jumlah helai daun, panjang daun, panjang buah, diameter buah, dan berat buah. Penelitian ini dilakukan di Desa Bontoramba, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dari Mei hingga Juli 2023. Data dikumpulkan dalam lima periode pengamatan selama masa pertumbuhan tanaman, dengan analisis statistik menggunakan perangkat lunak SPSS. Data pengamatan dianalisis menggunakan analisis ragam cluster dengan metode K-means. Hasil analisis dikelompokkan dalam tiga kelompok cluster, yaitu kelompok pertumbuhan tinggi, sedang, dan rendah, dengan karakteristik agronomi yang berbeda. Kelompok pertumbuhan tinggi memiliki tinggi tanaman tertinggi, jumlah daun yang banyak, dan berat buah paling tinggi. Kelompok pertumbuhan sedang berada di antara kedua kelompok lainnya dalam hal karakteristik agronomi, sementara kelompok pertumbuhan rendah memiliki karakteristik pertumbuhan paling rendah.Selain itu, analisis klaster hierarkis juga dilakukan untuk menggambarkan hubungan antar kelompok tanaman jagung. Hasilnya menunjukkan sejumlah kelompok berdasarkan tingkat kesamaan karakteristik agronomi, yang memberikan gambaran yang lebih jelas tentang keragaman dalam pertumbuhan tanaman jagung buah.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang keragaman agronomi pada Jagung Buah dan berkontribusi dalam pengembangan varietas unggul serta praktik pertanian yang lebih efektif Corn (Zea mays L.) is one of the crucial commodities in the agricultural sector, playing a strategic role in meeting both food and industrial raw material needs in Indonesia. Increasing agronomic diversity in corn plants is key to enhancing productivity and their adaptation to various environmental conditions. Therefore, this study aims to analyze agronomic diversity in Sweet Corn plants, focusing on growth characteristics such as plant height, stem diameter, leaf count, leaf length, ear length, ear diameter, and ear weight. This research was conducted in Bontoramba Village, Gowa Regency, South Sulawesi, from May to July 2023. Data were collected during five observation periods throughout the plant's growth cycle, with statistical analysis using SPSS software. The observation data were analyzed using cluster analysis with the K-means method, resulting in three clusters: high, medium, and low growth. The high-growth cluster exhibited the tallest plants, the highest leaf count, and the heaviest ears. The medium-growth cluster fell in between the other two clusters regarding agronomic characteristics, while the low-growth cluster had the lowest growth characteristics. Additionally, hierarchical cluster analysis was conducted to depict the relationships among corn plant groups, revealing several groups based on agronomic characteristic similarity. This provides a clearer picture of agronomic diversity in Sweet Corn growth. This research is expected to provide deeper insights into agronomic diversity in Sweet Corn and contribute to the development of superior varieties and more effective agricultural practices