Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Environmental Sustainable Utilization of Agricultural Waste–Based Sterilization for White Oyster Mushroom Cultivation: An FTIR Study of Optical Vibrational Properties Irzaman; Apriliana, Erni; Siskandar, Ridwan; Syafutra, Heriyanto; Jenie, Renan Prasta; Indriasari, Marina; Ramli, Muhammad Mahyiddin; Har, Nazopatul Patonah; Isa, Muammar Mohamad
International Journal of Hydrological and Environmental for Sustainability Vol. 5 No. 1 (2026): International Journal of Hydrological and Environmental for Sustainability
Publisher : CV FOUNDAE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58524/ijhes.v5i1.1005

Abstract

This study investigates the environmentally sustainable use of agricultural waste–based sterilization in white oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) cultivation and its influence on mycelial optical vibrational properties. A small-scale industrial rice husk furnace was employed as an eco-friendly and low-cost sterilization system, providing an alternative to conventional fossil fuel–based energy sources. Potato Dextrose Agar (PDA) was used as the growth medium, while different sterilization levels were applied to obtain uncontaminated media and high-quality mycelial growth. Three sterilization levels were systematically analyzed using Fourier Transform Infrared (FTIR) spectroscopy to evaluate optical behavior at various cultivation stages. The optical properties of the mycelium were assessed through Longitudinal Optical (LO) and Transverse Optical (TO) vibrational modes derived from FTIR spectra. The results indicate that increasing the sterilization level leads to a consistent shift of both LO and TO modes toward higher wavenumbers, reflecting changes in molecular bonding and structural characteristics of the mycelium. Furthermore, longer boiling durations at 102 °C using the rice husk furnace resulted in higher transmittance values, attributed to the partial evaporation or reduction of certain organic compounds within the mycelium. Comparative analysis among cultivation stages shows that the planting spawn (F2) exhibits lower transmittance than the spreading spawn (F1), while the pure culture (F0) demonstrates the highest transmittance. These differences are closely related to variations in mycelial density, with F2 having the greatest mass per unit volume. Overall, the findings confirm that agricultural waste–based sterilization supports environmentally sustainable mushroom cultivation while significantly affecting the optical and structural properties of mycelium.
Hubungan Antara Konsumsi Pangan dan Tingkat Asupan Gizi dengan Status Gizi Anak Cerebral Palsy Marina Indriasari; Hardinsyah; Lilik Kustiyah; Ferial Hadipoetro
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 6 (2018): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.68.6-2018-60

Abstract

Pendahuluan: Permasalahan gizi pada anak Cerebral Palsy (CP) dapat terjadi karena asupan makanan yang tidak adekuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konsumsi pangan dan kecukupan asupan gizi kaitannya dengan status gizi anak CP di Jakarta, Depok, dan Bogor. Metode: Desain potong lintang pada penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC). Subjek sebanyak 45 dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner, konsumsi pangan dengan metode food record 1 x 24 jam. Status gizi dinilai dari indeks massa tubuh (IMT) berdasarkan umur. Hasil: Frekuensi makan utama sebanyak tiga kali sehari dengan frekuensi makan selingan satu kali mempunyai korelasi positif kuat dengan status gizi anak CP sebesar 0,636. Tingkat asupan zat gizi makro yang terpenuhi hanya protein dengan korelasi positif kuat sebesar 0.729 terhadap status gizi anak CP. Korelasi positif paling kuat sebesar 0,885 pada jenis buah yang dikonsumsi dengan status gizi. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat asupan seng (p=0,037) dan vitamin C (p=0.008) dengan status gizi. Kesimpulan: Semakin tinggi tingkat kecukupan seng dan vitamin C, semakin baik status gizi anak CP. Semakin banyak frekuensi makanan selingan dan jenis makanan mengandung protein serta buah, semakin baik status gizi anak CP.