Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Integration of Science and Religious Values in Learning Islamic Religious Education Habibatul Imamah, Yuli
Journal Corner of Education, Linguistics, and Literature Vol. 5 No. 1 (2025): August
Publisher : CV. Tripe Konsultan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54012/jcell.v5i1.510

Abstract

The separation between religious knowledge and science in the modern education system has created a dichotomy that weakens the essence of holistic Islamic education. This phenomenon has resulted in the birth of a generation that experiences epistemological confusion, loss of spiritual direction, and is less able to see the relationship between faith and science. Although many integration discourses have been developed, previous studies are still limited to the curriculum level or are merely conceptual, without reaching the implementation aspect in the classroom. This study aims to explore and formulate a model for integrating science and religious values in Islamic Religious Education learning, with an approach based on tauhidic epistemology. The study was conducted using a qualitative research method through a library research approach to several relevant primary literatures, including scientific journals, academic books, dissertations, and Islamic education curriculum documents. The results of the study show that an integrative approach allows Islamic Religious Education learning to be more contextual, scientific, and spiritual at the same time. Teachers who apply this integration not only convey religious doctrine, but also foster students' scientific awareness by linking Islamic teachings and natural phenomena reflectively and argumentatively. The concept of tauhid is the main framework in bridging faith and reason, and building harmony between revelation and empiricism. This study concludes that the model of integration of science and religious values in Islamic Religious Education not only enriches the learning approach, but also strengthens the character of students as faithful and knowledgeable people. Practical implications include the development of cross-subject curriculum, integrative teacher training, and project-based learning with spiritual values. The main contribution of this study is the preparation of an integrative approach that is applicative, not just normative. These findings are relevant to Islamic education journals and can be a reference for the development of modern, contextual, and transformative Islamic pedagogy.
Integration of Religious Moderation in Developing an Islamic Religious Education Curriculum Imamah, Yuli Habibatul
Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme Vol. 5 No. 3 (2023): Pendidikan Islam dan Multikulturalisme
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/scaffolding.v5i3.3841

Abstract

This research aims to explain the integration of various modes in developing an Islamic religious education curriculum. This type of research is qualitative with a research library approach. Research data consists of data on religious moderation, curriculum development, and PAI material from primary sources in the form of relevant books and journals. Data collection techniques are carried out using documentation. The researchers' data sources were obtained from books and journals about religious moderation, curriculum development, and PAI materials. Data analysis uses Content Analysis. Based on the research results obtained, the integration of religious moderation in the Islamic religious education curriculum has the potential to produce education that is more inclusive, tolerant, and respectful of diversity of beliefs. A curriculum development process that considers principles of religious moderation tends to create a learning environment that is more open to interreligious dialogue and better understanding between religious groups. The importance of training for teachers and education stakeholders in implementing the integration of religious moderation in Islamic religious education practices. Periodic evaluation of the curriculum that has been integrated with various moderations needs to be carried out to ensure that integration goals are achieved and are in line with societal developments. This research results provide recommendations for stakeholders in Islamic religious education to adopt and develop a diverse moderation approach in curriculum as a step towards a more harmonious and inclusive society. Thus, this conclusion shows that the integration of religious moderation in developing an Islamic religious education curriculum can make a positive contribution to creating more inclusive and tolerant education, as well as encouraging better understanding between religious groups. In addition, this research also highlights the importance of training and sustainability evaluation in carrying out this integration effectively.
Internalisasi Nilai-Nilai Karakter dalam Pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah Hidayatul Mubtadiin Sidoharjo Saputra, Eko; Habibatul Imamah, Yuli; Mustafida
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3955

Abstract

Penelitian ini mengkaji internalisasi nilai-nilai karakter melalui pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah Hidayatul Mubtadiin, Lampung Selatan. Latar belakang penelitian ini adalah adanya kesenjangan antara pengetahuan keagamaan peserta didik dan perilaku moral yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari, yang menunjukkan bahwa pendidikan karakter belum terinternalisasi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai-nilai karakter, strategi yang diterapkan dalam pembelajaran Akidah Akhlak, serta faktor pendukung dan penghambat pembentukan karakter peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai karakter berlangsung secara integratif dan berkelanjutan melalui keteladanan guru, pembiasaan perilaku religius, kontekstualisasi materi pembelajaran, serta penguatan budaya madrasah yang religius. Faktor pendukung meliputi lingkungan madrasah yang kondusif, komitmen guru, dan kebijakan institusional, sedangkan faktor penghambat berasal dari latar belakang keluarga dan pengaruh lingkungan eksternal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran Akidah Akhlak berfungsi sebagai ruang praksis transformasi karakter dengan mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, dan perilaku secara simultan.
Self-Adjustment Santri Putri Baru dalam Kehidupan Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lestari, Heni; Habibatul Imamah, Yuli; Mustafida
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3957

Abstract

Penelitian ini mengkaji proses penyesuaian diri (self adjustment) santri putri baru dalam beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan pondok pesantren. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada berbagai tantangan yang dihadapi santri baru dalam menyesuaikan diri dengan peraturan yang ketat, rutinitas kegiatan yang padat, serta interaksi sosial dalam kehidupan pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk penyesuaian diri serta faktor pendukung dan penghambat yang dialami santri putri baru pada masa awal tinggal di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Jati Agung Lampung Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan santri putri baru, ustadzah, serta pengurus pesantren. Analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian diri santri putri baru berlangsung secara bertahap dan dinamis, meliputi penyesuaian terhadap peraturan pesantren, aktivitas harian, dan interaksi sosial. Faktor pendukung penyesuaian diri meliputi motivasi intrinsik dan dukungan lingkungan pesantren, sedangkan faktor penghambat meliputi rasa rindu rumah dan kesiapan mental yang terbatas.
Implementasi Inquiry Based Learning dalam Mengembangkan Berpikir Kritis Peserta Didik MTs Hidayatul Mubtadiin Jati Agung Asnani, Ria; Habibatul Imamah, Yuli; Mustafida
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3958

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi metode Inquiry Based Learning dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada rendahnya keterampilan berpikir kritis peserta didik akibat dominasi metode pembelajaran konvensional yang lebih menekankan hafalan dibandingkan kemampuan analisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Penelitian dilaksanakan di Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Mubtadiin pada kelas VIII A. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Inquiry Based Learning dilaksanakan melalui tahapan perumusan masalah, pencarian informasi, analisis data, dan penyajian hasil temuan. Metode ini mendorong peserta didik untuk aktif bertanya, menganalisis permasalahan, serta menarik kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh. Implementasi metode ini berdampak pada meningkatnya keterampilan berpikir kritis peserta didik, seperti kemampuan menganalisis argumen, menyampaikan pendapat secara logis, dan memecahkan masalah secara mandiri. Faktor pendukung meliputi kesiapan guru dan motivasi peserta didik, sedangkan faktor penghambat berupa keterbatasan waktu pembelajaran dan belum terbiasanya peserta didik dengan pembelajaran berbasis inkuiri. Kesimpulannya, metode Inquiry Based Learning efektif dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran Akidah Akhlak dan layak diterapkan sebagai alternatif pembelajaran di madrasah.
Kematangan Emosional sebagai Landasan Psikologis dalam Membentuk Ketertiban Santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Ferdiansyah, Firman; Habibatul Imamah, Yuli; Mustafida
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3959

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kematangan emosional sebagai landasan psikologis dalam membentuk ketertiban santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan santri, ustadz, dan pengurus pesantren sebagai subjek penelitian. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematangan emosional santri berperan penting dalam membentuk perilaku tertib di lingkungan pesantren. Santri yang memiliki kemampuan pengendalian emosi, stabilitas perasaan, empati, dan tanggung jawab cenderung lebih patuh terhadap tata tertib pesantren. Pembinaan spiritual, keteladanan ustadz, dan lingkungan pesantren yang religius menjadi faktor pendukung utama dalam pembentukan kematangan emosional santri, sementara latar belakang keluarga, pengaruh teman sebaya, dan perbedaan kemampuan adaptasi menjadi faktor penghambat. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan kematangan emosional perlu diintegrasikan dalam sistem pembinaan pesantren untuk mewujudkan ketertiban santri yang berkelanjutan.
Penguatan Pendidikan Karakter Dan Kedisiplinan Siswa Melalui Internalisasi Nilai Apel Pagi Istiqomah, Dedeh; Habibatul Imamah, Yuli; Mustafida
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3960

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penguatan pendidikan karakter dan kedisiplinan siswa melalui internalisasi nilai apel pagi di Madrasah Aliyah Hidayatul Mubtadiin Jati Agung, Lampung Selatan. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada masih adanya kesenjangan antara nilai-nilai karakter yang diajarkan secara normatif dan perilaku nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya terkait kedisiplinan dan tanggung jawab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apel pagi berfungsi sebagai media pedagogis yang efektif dalam menginternalisasikan nilai disiplin, tanggung jawab, religiusitas, dan kepemimpinan melalui pembiasaan, keteladanan guru, serta penguatan budaya madrasah yang religius dan konsisten. Faktor pendukung utama meliputi komitmen pimpinan dan guru serta kebijakan institusional, sedangkan faktor penghambat berasal dari latar belakang keluarga dan lingkungan eksternal siswa. Novelty penelitian ini terletak pada pemaknaan apel pagi sebagai instrumen pedagogis berbasis nilai Islam yang berfungsi sebagai ruang praksis internalisasi karakter, bukan sekadar rutinitas administratif.