Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Angka kejadian nyeri kepala pasca anestesia spinal pada pasien paskaoperasi seksio sesarea Parami, Pontisomaya; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Ryalino, Christopher; Pradhana, Adinda Putra; Narakusuma, I Putu Fajar
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i12.P02

Abstract

Nyeri kepala pasca anestesia spinal merupakan salah satu resiko dari anestesi neuraksial yang terjadi setelah prosedur anestesi spinal akibat tusukan dural atau robekan selama dilakukannya anestesi yang dapat disertai dengan gejala mual, muntah, serta gangguan pendengaran dan penglihatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat angka kejadian nyeri kepala pasca spinal anestesia pada pasien pasca operasi seksio sesarea di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif potong lintang yang dilakukan terhadap semua pasien yang menjalani operasi dengan teknik anestesia spinal di RSUP Sanglah Denpasar selama periode tiga bulan di tahun 2021. Sebanyak tiga sampel dieksklusi karena sebelumnya telah memiliki riwayat nyeri kepala, sehingga diperoleh total 109 sampel. Kuisioner diisi sesuai jawaban responden pada hari ke-2 dan ke-5 paskaoperasi. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian nyeri kepala pasca anestesia spinal pada hari kedua dan hari kelima paskaoperasi adalah sama yaitu sebesar 2%, seluruhnya merupakan nyeri kepala dengan derajat ringan.
PREVALENSI PASIEN SYOK SEPSIS DI RUANG TERAPI INTENSIF RSUP SANGLAH TAHUN 2016-2020 Farha, Nabilla; Pradhana, Adinda Putra; Ryalino, Christopher; Suranadi, I Wayan
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i01.P17

Abstract

Sepsis ialah keadaan disfungsi organ yang dapat menimbulkan kematian akibat tidak teraturnya respon tubuh terhadap infeksi yang dapat memburuk menjadi syok sepsis. Syok sepsis merupakan keadaan sepsis disertai hipotensi yang menetap, sehingga memerlukan vasopresor untuk mempertahankan tekanan arteri rerata ?65 mm Hg. Salah satu penyebab utama kematian di ruang terapi intensif adalah syok sepsis. Maka dari itu, dilakukan penelitian mengenai prevalensi pasien syok sepsis di ruang terapi intensif (RTI) RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2016-2020 agar dapat mengetahui gambaran permasalahan syok sepsis sehingga dapat membantu dalam perencanaan sistem kesehatan mengenai penatalaksanaan syok sepsis. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien yang dirawat di RTI RSUP Sanglah Denpasar periode 2016-2020 yang didapat dari instalasi rekam medik RSUP Sanglah Denpasar. Pada penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalaj purposive sampling yang disesuaikan dengan kriteria penelitian. Berdasarkan penelitian ini didapatkan prevalensi pasien syok sepsis sebesar 3% dengan karakteristik 50% pasien berjenis kelamin laki-laki dan 50% berjenis kelamin perempuan, mayoritas berada pada rentang usia 18-65 tahun (64%), dan mengalami kematian (52%). Melalui hasil tersebut, dapat disimpulkan angka kematian pasien syok sepsis masih tinggi. Kata kunci: kematian, prevalensi, ruang terapi intensif, sepsis, syok sepsis
Supraclavicular Brachial Plexus Block Guided by Ultrasonography in Pediatric Patient: A Case Report Pramana, I Made Dwi; Adinda Putra Pradhana
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 7 No. 12 (2023): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v7i12.898

Abstract

Background: Supraclavicular brachial plexus block has proven to be very useful in upper limb surgeries in pediatric patients. Supraclavicular brachial plexus block is preferred over general anesthesia for pediatric patients undergoing upper limb surgeries. This study aimed to report a procedure of supraclavicular brachial plexus block guided by ultrasonography in a pediatric patient undergoing orthopedic surgery on the upper extremity, which yielded good results, a high success rate, reduced opioid usage, and aided in faster recovery while minimizing complications. Case presentation: The patient was a 14-year-old child with a diagnosis of malunion in the left distal radius after open reduction internal fixation (ORIF) planned for osteoclasis surgery and ORIF with regional anesthesia through supraclavicular brachial plexus block. The patient was monitored during the surgery, and after the surgery, the patient returned to the ward; the patient was given oral analgesics without opioids for pain management. Conclusion: The efficient regional anesthesia procedure option for upper limb surgeries in pediatric patients is the supraclavicular brachial plexus block. Due to lower risks and fewer side effects, the supraclavicular brachial plexus block procedure is preferred over general anesthesia in pediatric patients.
Hemodynamic Response and Patient Comfort in Conscious Intubation with Recurrent Laryngeal Nerve Block Rapa, Fransiscus Braveno; Adinda Putra Pradhana
Journal of Anesthesiology and Clinical Research Vol. 4 No. 2 (2023): Journal of Anesthesiology and Clinical Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/jacr.v4i2.326

Abstract

Introduction: Anesthetic management of conscious intubation in difficult airway cases can be done with topical anesthetics, airway nerve blocks, or a combination of both. Inadequate quality of anesthesia can cause hemodynamic turmoil, pain, gag reflex, and patient discomfort. This study presents a case report on the use of recurrent laryngeal nerve blocks in patients who were consciously intubated. Case presentation: This man was premedicated in the reception room using 10 mg IV dexamethasone, 10 mg IV diphenhydramine, 2 drops of 0.05% oxymetazoline right nose, 4 ml of 4% lidocaine nebulization, 10% lidocaine spray on the uvula and 2 puffs of pharyngopalatine fauces. Once in the operating room, this man was given midazolam 1.5 mg IV, fentanyl 25 mcg IV, followed by ultrasound-guided recurrent laryngeal nerve block. The local anesthetic used was 2 ml of 2% lidocaine. After that, right intranasal conscious intubation was performed. During intubation, this man began to show discomfort in the form of frowning when the flexible scope (FIS) was in the larynx and briefly passed the vocal cords. In addition, a gag reflex and cough are seen when the FIS and airways pass over the larynx and vocal cords. Intubation is done in about 4 minutes with 1 attempt. Conclusion: Awake intubation can be performed with topical anesthesia, airway block, or a combination of the two. Awake intubation with a combination of laryngeal recurrent nerve blocks and topical anesthesia, in this case, was inadequate because there was coughing, gag reflex, and increased heart rate during intubation.
DEXAMETHASONE SEBAGAI ADJUVANT PADA BLOK SUPRACLAVICULA PLEKSUS BRACHIALIS PADA PASIEN GERIATRI Nantha Kusuma, Putu Eka; Pradhana, Adinda Putra
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.33743

Abstract

Blok saraf perifer digunakan untuk anestesia maupun analgesia. Keterbatasan penggunaannya untuk analgesia pasca operasi adalah bahwa efek analgesik hanya berlangsung beberapa jam, setelah itu nyeri sedang hingga berat di tempat bedah dapat menyebabkan perlunya terapi analgesik alternatif.  Blok Pleksus Brakhialis adalah metode Blok perifer yang sangat baik untuk mencapai kondisi operasi yang optimal dengan menghasilkan relaksasi otot yang lengkap, mempertahankan hemodinamik intraoperative yang stabil dan blok simpatis yang terkait. Blok ini merupakan metode yang sangat baik untuk mencapai kondisi operasi yang optimal untuk operasi ekstremitas atas dengan menghasilkan relaksasi otot yang lengkap, mempertahankan stabilitas hemodinamik dan blok simpatik yang terkait. Beberapa adjuvant telah digunakan untuk memperpanjang durasi analgesik blok saraf perifer, termasuk deksametasone perineural atau intravena. Deksametasone adalah steroid yang dapat mengurangi rasa sakit dan respon inflamasi terhadap kerusakan jaringan setelah operasi (panas, nyeri, kemerahan dan bengkak). Pada orang yang dilakukan pembiusan dengan menggunakan blok saraf perifer dengan adjuvant deksametasone, dikatakan dapat memperpanjang efek kerja dari pereda nyeri pada blok saraf perifer.
AIRWAY AND ANESTHETIC MANAGEMENT IN ROBINOW SYNDROME PATIENT WITH SEVERE AORTIC STENOSIS FOR DENTAL SURGERY : A CASE REPORT Cahyono, Ardy Wibowo; Pradhana, Adinda Putra; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.31221

Abstract

Robinow Syndrome (RS) adalah kelainan genetik langka yang ditandai dengan fitur kraniofasial dan abnormalitas skeletal yang khas, sering disertai dengan kelainan jantung, yang mempersulit manajemen anestesi. Pasien dengan RS sering mengalami tantangan signifikan dalam manajemen jalan napas karena karakteristik wajah dan skeletal, yang membuat manajemen jalan napas menjadi kompleks. Anomali vertebral juga mempersulit pemberian anestesi neuraksial, dan pemilihan agen induksi harus mempertimbangkan risiko jantung. Laporan ini membahas manajemen jalan napas dan anestesi yang berhasil pada seorang pasien RS berusia 13 tahun yang menjalani ekstraksi gigi akibat kerusakan gigi parah dan stenosis aorta. Pemeriksaan fisik pasien menunjukkan Mallampati IV dan Cormack-Lehane IV pada jalan napas, sehingga diperlukan teknik intubasi khusus seperti penggunaan gum elastic bougie untuk akses jalan napas yang berhasil. Fitur kraniofasial dan skeletal yang terkait dengan RS menimbulkan tantangan dalam manajemen perioperatif, sering kali membutuhkan pembedahan. Intubasi yang efektif pada pasien RS membutuhkan evaluasi praoperatif yang cermat, terutama pada kasus dengan micrognathia dan asimetri wajah. Evaluasi praoperatif yang komprehensif, termasuk penilaian fungsi jantung, ginjal, dan pernapasan, sangat penting untuk mengurangi komplikasi dan meningkatkan hasil. Manajemen anestesi harus memperhitungkan kesulitan jalan napas dan masalah jantung yang unik pada RS, dengan kesiapan menghadapi potensi tantangan intraoperatif. Kasus ini menyoroti pentingnya perencanaan yang teliti dan teknik khusus dalam mengelola anestesi pada pasien RS, khususnya mereka dengan kondisi jantung yang mempersulit
Lidocaine 2% and Xylocaine Spray as A Combination in Successful Awake Intubation in Difficult Airway: How to Do it? Murti, Dede Taruna Kreisnna; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Pradhana, Adinda Putra; Labobar, Otniel Adrians
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i1.56380

Abstract

Awake intubation is a technique used to insert an endotracheal tube while maintaining the patient's consciousness. It is particularly beneficial for patients with difficult airway anatomy, as it allows better visualization using a fiber optic bronchoscope, reduces discomfort with local anesthesia, and ensures the preservation of spontaneous breathing. This approach is critical in high-risk procedures such as total thyroidectomy. This case report aims to describe the application of awake intubation in a high-risk patient undergoing total thyroidectomy due to a thyroid mass causing tracheal narrowing. A 47-year-old female with airway management difficulties (LEMON 3/10, MOANS 0/5) was scheduled for a 3–4-hour total thyroidectomy. Preoperative preparation included fasting, informed consent, and ensuring complete anesthesia equipment. Airway preparation involved Xylocaine spray and Lidocaine nebulization, followed by premedication with Dexamethasone, Diphenhydramine, and Midazolam. Induction was achieved using Propofol, and intubation was performed with an endotracheal tube guided by a fiber optic bronchoscope. Maintenance of anesthesia utilized Oxygen, Sevoflurane, and Atracurium. The results show the patient tolerated the awake intubation procedure well, with no episodes of desaturation or significant bleeding during surgery. Postoperative management included analgesia with Fentanyl and Ketamine, as well as respiratory therapy intervention (RTI) during recovery. Awake intubation, combined with effective airway preparation and anesthesia protocols, provides a safe and reliable approach for managing patients with difficult airways, particularly in high-risk procedures like total thyroidectomy. The technique ensured patient comfort, maintained oxygenation, and minimized perioperative complications.
UTILIZATION OF ROCURONIUM AT A DOSE OF 0.8 MG/KG BODY WEIGHT IN CESAREAN SECTION WITH SPHENOID WING MENINGIOMA: A CASE REPORT Salmon, Deni; Senapathi, Tjokorda Gede Agung; Pradhana, Adinda Putra; Hartawan, IGAG Utara
HEARTY Vol 13 No 3 (2025): JUNI
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v13i3.20047

Abstract

Sphenoid Wing Meningioma (SWMNG) is a prevalent intracranial tumor with significant implications for obstetric patients, particularly due to heightened risks of cerebral edema and increased intracranial pressure (ICP). This case highlights the anesthetic management of a pregnant patient with SWMNG and symptomatic epilepsy, focusing on the use of rocuronium bromide for rapid sequence intubation (RSI). Rocuronium, a non-depolarizing neuromuscular blocker, offers rapid onset and intermediate duration, making it a preferred choice for high-risk cases. A 34 year old woman at 38 weeks and 5 days of gestation with a confirmed diagnosis of SWMNG and symptomatic epilepsy underwent a cesarean section and surgical sterilization. The patient’s clinical history included frequent transient loss of awareness episodes, exacerbated during pregnancy. Imaging confirmed SWMNG, necessitating general anesthesia (GA) with rocuronium at a dose of 0.8 mg/kg to ensure effective RSI while minimizing risks of prolonged neuromuscular blockade, compromised hemodynamic stability, and increased ICP. The procedure was successfully completed with stable maternal and fetal outcomes. Rocuronium facilitated optimal intubation conditions and muscle relaxation, with minimal placental transfer and preserved uterine contractility. This case underscores the efficacy of precise rocuronium dosing in balancing rapid recovery, safety, and the unique challenges of airway management in obstetric patients with intracranial tumors. Vigilant monitoring and tailored anesthetic strategies are essential to mitigate complications, ensuring favorable outcomes for both mother and fetus.
PREOPERATIVE STABILIZATION OF INFANTS BORN WITH CONGENITAL DIAPHRAGMATIC HERNIA : A CASE REPORT Putra, Putu Enggi Pradana; Pradhana, Adinda Putra; Putra, Kadek Agus Heryana
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.49457

Abstract

Hernia diafragma kongenital adalah kelainan bawaan langka, di mana organ perut masuk ke rongga toraks akibat defek pada diafragma. Pada praktik kedokteran saat ini, penundaan operasi hingga stabilisasi kardiorespiratori tercapai terlebih dahulu mulai dipopulerkan. Pasien merupakan neonatus aterm (37–38 minggu) dengan distress napas 10 menit setelah lahir. Skor Apgar 7 dan 6 pada menit ke-1 dan ke-5, tangisan tidak teratur, tubuh kemerahan, dan ekstremitas sianosis. Bunyi peristaltik terdengar di hemitoraks kiri, dan foto toraks menunjukkan hernia diafragma kongenital kiri dengan pergeseran mediastinum. Pasien mendapat ventilasi dengan mode volume control/assist control (VC/AC): fraksi oksigen (FiO₂) 35%, laju napas 40, positive end-expiratory pressure (PEEP) 6, mempertahankan saturasi oksigen perifer (SpO₂) 91–99%. Setelah pasien stabil, dilakukan laparotomi dengan anestesi umum. Premedikasi berupa atropin dan fentanil, induksi dan pemeliharaan menggunakan oksigen, sevofluran, dan udara terkompresi. Analgesia pascaoperasi diberikan fentanil dan parasetamol. Evaluasi pascaoperasi menunjukkan suara napas kiri membaik dan bunyi peristaltik menghilang. Pasien dirawat di NICU selama tiga hari, kemudian lima hari di ruang rawat biasa sebelum pulang. Penundaan operasi memberikan waktu adaptasi terhadap hipoplasia paru dan kontrol hipertensi pulmonal. Mekanisme proteksi paru yang meliputi volume tidal rendah dan hiperkapnia yang ditoleransi penting untuk mengurangi komplikasi. Kasus ini menegaskan pentingnya penundaan operasi hingga setelah stabilisasi pada hernia diafragma kongenital.  
Managemen Anestesi pada Congenital Diapragmatic Hernia dengan Ventrikel Septal Defek dan Atrium Septal Defek pada Pasien Pediatrik : Laporan Kasus Mauritius Septa; Adinda Putra Pradhana; I Putu Kurniyanta; Ketut Wibawa Nada; Novandi Kurniawan; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p06

Abstract

Congenital diaphragmatic hernia (CDH) merupakan kelainan kongenital pada diafragma yang terjadi pada pediatri. Insiden terjadinya hernia tipe Borchdalek lebih sering terjadi pada sisi kiri dari pada sisi kanan. Penyulit lain pada CDH adalah hipoplasia paru, hipertensi paru dan kelainan pada jantung. Pada kasus ini kami mendiskusikan bayi 12 hari dengan kelainan CDH sisi kanan dengan kelainan jantung berupa ventrikel septal defek (VSD) dan atrium septal defek (ASD) yang dilakukan operasi laparotomi hernia. Manajemen anestesi pada pasien ini menggunakan  inhalasi sevoflurane, fentanil, volume tidal rendah, obat inotropik dengan kondisi hemodinamik yang stabil selama pembedahan. Kami melaporkan management anestesi dengan  sevoflurane yang dikombinasi dengan volume tidal rendah dan inotropik dobutamine pada operasi congenital diaphragmatic herdia dengan VSD dan ASD membantu dalam keberhasilan intraoperatif. Setelah operasi, pasien dilakukan perawatan di NICU untuk  perawatan secara ketat.