Potensi wakaf tunai Indonesia diperkirakan mencapai 180 triliun rupiah per tahun, namun tingkat realisasi pengumpulannya masih di bawah 1,3 persen. Penelitian ini mengkaji sejauh mana perbankan syariah digital mampu menjembatani kesenjangan tersebut dengan memperkuat partisipasi wakaf tunai mahasiswa Muslim di Indonesia, serta menelaah peran mediasi literasi digital dalam hubungan tersebut. Kuesioner terstruktur dan diaadministrasikan kepada 400 mahasiswa Muslim yang berasal dari universitas-universitas di lima wilayah Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional. Kuisioner terstruktur dan diaadministrasikan kepada 400 mahasiswa yang berasal dari universitas pada lima wilayah di Indonesia. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS 4.0. Tiga temuan utama dihasilkan. Pertama, perbankan syariah digital memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap partisipasi wakaf tunai (β = 0,532, p < 0,001). Kedua, perbankan syariah digital meningkatkan literasi digital pelajar (β = 0,487, p < 0,001). Ketiga, literasi digital yang lebih tinggi berhubungan dengan partisipasi wakaf tunai yang lebih besar (β = 0,383, p < 0,001). Literasi digital berfungsi sebagai mediator parsial yang mencapai 26 persen dari total efek, beroperasi melalui kemudahan transaksi langsung dan peningkatan kapabilitas digital. Model struktural menjelaskan 63,4 persen varians partisipasi wakaf. Ditemukan kesenjangan kritis antara niat berdonasi (rerata 3,67) dan perilaku donasi aktual (rerata 2,34). Temuan ini memperkaya teori dengan menunjukkan bahwa penerapan teknologi dalam keuangan Islam melibatkan dimensi utilitas instrumental sekaligus pembangunan kapasitas. Implikasi praktis mencakup integrasi fitur wakaf ke dalam aplikasi perbankan dan penyelenggaraan program literasi digital berbasis kampus guna memaksimalkan potensi mobilisasi wakaf Indonesia.