Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Penerapan Terapi Akupresur Untuk Meningkatkan Kekuatan Otot Dan Rentang Gerak Sendi Pada Pasien Stroke Nurahmasari, Nurahmasari; Septiany, Maulidya
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v5i1.2845

Abstract

Stroke merupakan penyakit yang menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Pada pasien stroke, 56% terjadi kondisi hemiparesis setelah 5 tahun mengalami stroke dengan 38% dapat mengalami peningkatan fungsi motorik/kelemahan otot yakni 12% pada anggota ekstremitas bila tidak mendapatkan pilihan terapi yang baik dalam intervensi keperawatan maupun rehabilitasi pasca stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi akupresur pada tingkat kekuatan otot dan rentang gerak sendi pada Tn.B dengan stroke non hemoragik sebagai terapi non-farmakologi untuk mengatasi keluhan kelemahan ekstremitas bawah.Penelitian ini merupakan studi kasus pada pasien Tn.B dengan metode pengumpulan data menggunakan goniometer sebagai alat ukur derajat rentang gerak sendi dan Medical Research Council Scale sebagai alat ukur skala kekuatan otot. Pengkajian dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan pemeriksaan fisik. Selanjutnya dilakukan analisis data, penegakan diagnosis, penyusunan intervensi, melakukan implementasi, dan evaluasi. Hasil yang didapatkan setelah dilakukan tindakan intervensi terapi akupresur selama 7 kali pertemuan dalam 2 minggu, terdapat perkembangan pada derajat rentang gerak sendi dorso fleksi dari 40° menjadi 40,5°. Namun tidak terdapat perkembangan terhadap skala kekuatan otot pasien yaitu tetap bernilai 2. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu terapi akupresur efektif untuk meningkatkan derajat rentang gerak sendi.
Efektivitas Senam Jantung Sehat Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Ny. J Di Desa Awang Bangkal Barat Renjani, Alda; Septiany, Maulidya
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v5i1.2847

Abstract

Hipertensi sering dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh diam-diam karena dapat menyerang siapa saja secara tiba-tiba serta merupakan salah satu penyakit yang dapat mengakibatkan kematian. Hipertensi menjadi penyakit terbanyak dari 70 kunjungan pasien yang datang ke UPT Puskesmas Karang Intan 2. Kebiasaan yang mendukung terjadinya hipertensi pada warga adalah kebiasaan untuk mengkonsumsi makanan atau minuman yang berlemak, rendaman ikan asin, tidak mengkonsumsi obat rutin serta pola kesehatan yang jarang dikontrol oleh masyarakatnya. Salah satu pengobatan non farmakologi yang dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi yaitu dengan melakukan tindakan senam jantung sehat. Tujuannya untuk memberikan asuhan keperawatan melalui intervensi senam jantung sehat pada klien dengan hipertensi. Metode menggunakan studi kasus pada Ny. J dengan  pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan formulir penilaian pola Gordon, yang mencakup observasi, wawancara, dan pemeriksaan fisik. Setelah itu, data dianalisis, diagnosis keperawatan ditetapkan, dilaksanakan implementasi, dan dilakukan evaluasi. Hasil asuhan  keperawatan  setelah dilakukan 6 hari selama 2 minggu dengan intervensi utama senam jatung sehat sekali sehari, masalah dapat teratasi dengan menurunya tekanan darah sebelum dilakukan tindakan senam jantung sehat di dapatkan tekanan darah 172/107 mmHg dan sesudah implementasi yaitu 171/100 mmhg. Selanjutnya diukur kembali pada hari terakhir implementasi dan didapatkan hasil sebelum dilakukan tindakan senam jantung sehata didapatkan hasil tekanan darah 154/83 mmHg dan sesudah tindakan didapatkan hasi 152/80 mmHg. Adanya penurunan tekanan darah setelah diberikan intervensi senam jantung  sehat  3 kali/minggu dengan rentang waktu selama 2 minggu intervensi.
Pengaruh Intervensi Massage Teknik Effleurage dengan Minyak Zaitun terhadap Penurunan Nyeri Gout Arthritis Ny. Z di Desa Sungai Rangas Hambuku Khairina, Ridha; Septiany, Maulidya
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v5i2.3303

Abstract

Salah satu masalah yang sering terjadi pada orang dewasa yaitu gangguan sistem muskuloskeletal yang menyebabkan nyeri sendi. Salah satu penyakit yang menyebabkan nyeri sendi adalah gout arthritis. Upaya penatalaksanaan keluhan nyeri sendi gout arthritis terhadap Ny. Z dapat menggunakan terapi nonfarmakologis yaitu massage teknik effleurage dengan minyak zaitun yang mudah dan dapat dilakukan secara mandiri. Mengetahui gambaran perubahan nyeri kronis dengan diagnosis medis gout arthritis melalui pemberian massage teknik effleurage dengan minyak zaitun terhadap Ny. Z. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus pada Ny. Z yang menderita nyeri kronis akibat gout arthritis di Desa Sungai Rangas Hambuku. Ny. Z diberikan intervensi massage teknik effleurage dengan minyak zaitun selama 10 menit sebanyak 1x sehari selama 7 hari, dan dilakukan pengukuran skala nyeri menggunakan NRS sebelum dan sesudah intervensi dilakukan. Terdapat perubahan intensitas nyeri yang menunjukkan nyeri berkurang dari skala nyeri sedang skala 6 (skala 0-10) sebelum dilakukan pada hari pertama dan setelah intervensi pada hari ketujuh menurun menjadi nyeri ringan skala 2 (skala 0-10). Terdapat pengaruh massage teknik effleurage dengan minyak zaitun terhadap penurunan intensitas nyeri pada Ny. Z dengan gout arthritis dari skala nyeri sedang skala 6 sebelum dilakukan intervensi menjadi nyeri ringan dengan skala 2 setelah intervensi selama 7 hari. Massage teknik effleurage dengan minyak zaitun bermanfaat untuk memberikan rasa relaksasi, melembabkan dan meredakan nyeri sendi dan otot secara keseluruhan.
Pengaruh Hydrotherapy Kaki dengan Campuran Garam dan Rebusan Jahe Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Ny. K di Desa Sungai Rangas Hambuku Faachruddin Al-Farizi, Dwi; Septiany, Maulidya
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v5i2.3305

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang dapat diartikan sebagai peningkatan tekanan darah dari kisaran normal secara sementara atau menetap pada seseorang. Salah satu cara menurunkan hipertensi dengan non farmakologi adalah dengan hidroterapi kaki dengan campuran garam dan rebusan jahe. Pemilihan sample responden dengan kriteria yaitu memiliki riwayat penyakit hipertensi, rajin mengkonsumsi obat hipertensi, tidak memiliki luka pada kaki dan pasien belum pernah melakukan terapi non farmakologi terkait hipertensi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh intervensi terapi non farmakologi pada Ny. K dengan diagnosis hipertensi melalui hidroterapi kaki dengan campuran garam dan rebusan jahe. Penelitian ini menggunakan metode case study dengan pengumpulan data menggunakan lembar pengkajian keperawatan medikal bedah serta melalui melakukan wawancara, observasi, serta pemeriksaan fisik. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan analisis data, penegakan diagnosis, perencanaan keperawatan, implementasi dan evaluasi. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 kali dalam 6 hari berturut-turut dengan memberikan terapi non farmakologi yaitu hidroterapi kaki dengan campuran garam dan rebusan jahe selama 15 menit. Hasil penelitian ini di dapatkan masalah dapat teratasi dengan mengontrol tekanan darah dari 189/125 mmHg menjadi 147/86 mmHg. Terdapat penurunan tekanan darah setelah melakukan hidroterapi kaki dengan campuran garam dan rebusan jahe selama 6 hari. Rata-rata penurunan tekanan darah setelah dilakukan hidroterapi kaki selama 6 hari yaitu tekanan darah sistole 21 mmHg dan tekanan darah diastole 13,5 mmHg. Hidroterapi kaki dengan campuran garam dan rebusan jahe, memberi efek vasodilatasi pembuluh darah dan merelaksasikan otot. Senyawa Gingerol pada jahe juga terbukti memiliki efek hipotensif.
Adaptation and Quality of Life among Hypertensive Patients in Wetlands: A Roy Model Study Aridamayanti, Bernadetta Germia; Septiany, Maulidya; Agianto, Agianto; Chrisnawati, Chrisnawati; Wulandari, Shenda Maulina
Jurnal Ilmiah Ners Indonesia Vol 6 No 2 (2025): November 2025
Publisher : Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jini.v6i2.45584

Abstract

Hypertension remains a major concern in low- and middle-income countries, including Indonesia’s wetland regions such as Sungai Rangas Village, where environmental and cultural factors heighten disease burden and influence quality of life. Traditional and complementary therapies are commonly practiced, highlighting the need for culturally appropriate care models. This study examined adaptive responses and quality of life among hypertensive patients using Roy’s Adaptation Model, operationalized through an assessment instrument covering four modes: physiological, self-concept, role function, and interdependence. A quantitative descriptive design involved 120 respondents aged ≥40 years selected through purposive sampling. Data were obtained using structured interviews and the WHOQOL-BREF. Most respondents were female (56.7%), older adults (40% ≥60 years), and had low levels of education. Findings showed the highest adaptive responses in interdependence (61.7%) and self-concept (59.2%), while role function had the lowest (55%). Quality of life was highest in social relationships (mean 62.4) and lowest in psychological health (56.1). Respondents with adaptive responses in all modes were more likely to report a higher quality of life (65%). Overall, adaptation patterns in wetland environments strongly shape the quality of life. Roy’s Adaptation Model provides a culturally sensitive framework, supporting recommendations such as strengthening peer support, environment-based health education, and improved mobile health access during flood seasons.