Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Analisis Dampak Konformitas bagi Perilaku Konsumtif Remaja Masa Kini Halim Maulana Adhiatma; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 12 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i122023p512-517

Abstract

Analysis of the impact of conformity on the consumer behavior of today's teenagers is a complex and important topic in the field of psychology. In this context, qualitative research can provide in-depth insight into individuals' experiences and perceptions related to their social conformity and consumer behavior. Qualitative research methods that can be used include in-depth interviews, participant observation, focus groups, and qualitative content analysis. In this impact analysis, there are arguments showing that social conformity has a significant effect on adolescent consumer behavior. Factors such as the influence of family, peers, and mass media can influence teenagers' conformity in adopting consumer behavior. The psychological impacts of conformity can include uncontrolled spending, emotional influence, and disregard for personal values. It is important to reduce the negative impacts of conformity with strategies that include raising awareness, education about responsible consumption, strengthening personal values, and building social and emotional skills. It is also important to consider cross-cultural approaches, considering variations in cultural norms and values and the influence of globalization on adolescent consumer behavior. However, this research has limitations in terms of sample, cultural context, subjectivity, internal and external validity, as well as limitations of qualitative research methods. Therefore, the results of this study need to be interpreted carefully and paying attention to the limitations of existing research. AbstrakAnalisis dampak konformitas bagi perilaku konsumtif remaja masa kini merupakan topik yang kompleks dan penting dalam bidang psikologi. Dalam konteks ini, penelitian kualitatif dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang pengalaman dan persepsi individu terkait dengan konformitas sosial dan perilaku konsumtif mereka. Metode penelitian kualitatif yang dapat digunakan meliputi wawancara mendalam, pengamatan partisipatif, fokus kelompok, dan analisis konten kualitatif. Dalam analisis dampak ini, terdapat argumen yang menunjukkan bahwa konformitas sosial berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja. Faktor-faktor seperti pengaruh keluarga, teman sebaya, dan media massa dapat mempengaruhi konformitas remaja dalam mengadopsi perilaku konsumtif. Dampak psikologis konformitas dapat mencakup pengeluaran yang tidak terkendali, pengaruh emosional, dan pengabaian nilai pribadi. Penting untuk mengurangi dampak negatif konformitas dengan strategi yang meliputi peningkatan kesadaran, pendidikan tentang konsumsi yang bertanggung jawab, penguatan nilai pribadi, dan pembangunan keterampilan sosial dan emosional. Penting juga untuk mempertimbangkan pendekatan lintas budaya, mengingat variasi norma dan nilai budaya serta pengaruh globalisasi terhadap perilaku konsumtif remaja. Namun, penelitian ini memiliki batasan dalam hal sampel, konteks budaya, subjektivitas, validitas internal dan eksternal, serta keterbatasan metode penelitian kualitatif. Oleh karena itu, hasil penelitian ini perlu diinterpretasikan dengan hati-hati dan memperhatikan batasan penelitian yang ada.
Benarkah Faktor Budaya sebagai Biang Normalisasi Fenomena Pernikahan Dini? Queen Kusuma Berliana; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i12024p11-20

Abstract

Marriage needs to be prepared carefully to create an ideal marriage, such as physical, psychological and financial readiness. Therefore, it is important not to enter into early marriage because it has a high risk for various aspects of well-being in life. Unfortunately, the phenomenon of early marriage is still considered normal and the number is recorded to continue to increase. This article was prepared with the aim of discussing and identifying factors that cause the persistence of early marriage based on previous research. This article was written using the literature review method. Articles were selected based on the criteria for the research method used, namely quantitative methods with questionnaires and qualitative methods in the form of interviews and observations. Based on the literature review analysis, it is known that socio-cultural factors play an important role in creating people's mindset towards early marriage. Marriage is considered a solution to problems such as financial problems, promiscuity, and conformity. However, this can be overcome by increasing educational factors, thereby increasing awareness of the risks of early marriage. However, collaboration is needed between these two factors so that there is no overlap in dominance which hinders the process of alleviating the problem of early marriage. AbstrakPernikahan perlu disiapkan secara matang untuk menciptakan pernikahan yang ideal, seperti kesiapan fisik, kesiapan psikologis, dan kesiapan finansial. Oleh karena itu, penting untuk tidak melakukan pernikahan dini karena memiliki risiko yang tinggi terhadap berbagai aspek kesejahteraan dalam kehidupan. Nahas, fenomena pernikahan dini masih dianggap normal dan jumlahnya tercatat terus meningkat. Artikel ini disusun dengan tujuan untuk membahas dan mengidentifikasi faktor penyebab langgengnya pernikahan dini berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya. Penulisan artikel ini menggunakan metode literature review. Artikel dipilih dengan kriteria metode penelitian yang digunakan ialah metode kuantitatif dengan kuesioner dan metode kualitatif berupa wawancara dan observasi. Berdasarkan analisis literature review diketahui bahwa faktor sosial budaya berperan penting menciptakan pola pikir masyarakat terhadap pernikahan dini. Pernikahan dianggap sebagai solusi keluar dari masalah, seperti masalah finansial, pergaulan bebas, dan konformitas. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan peningkatan faktor pendidikan, sehingga meningkatkan kesadaran tinggi terhadap risiko pernikahan dini. Akan tetapi, diperlukan kolaborasi antara kedua faktor tersebut agar tidak ada tumpang tindih dominasi yang menghambat proses pengentasan masalah pernikahan dini.
Literature Review: Eksplorasi Perbedaan Ideologi Peran Gender di Berbagai Lingkup Kehidupan dalam Perspektif Lintas Budaya Safira Calfina Izzumi; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i32024p93-102

Abstract

Gender adalah ekspektasi peran sosial terbentuk akibat pengalaman dan budaya yang berkembang. Ekspektasi peran gender sangat beragam sesuai dengan budaya yang berkembang di wilayah setempat. Perilaku gender ini tidak terlepas dari konteks sosiokultural, yakni menyesuaikan dengan tempat individu tinggal dan berkembang. Tujuan studi literatur ini untuk mengetahui adanya perbedaan ideologi peran gender dari perspektif lintas budaya. Temuan dari studi literatur ini dapat diimplikasikan dalam manfaat praktis, kebijakan, dan penelitian selanjutnya. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi literatur melalui database online journal yaitu Google Scholar. Perbedaan ideologi peran gender terlibat dalam berbagai aspek seperti niat kewirausahaan, ekonomi, pendidikan, aktivitas agrikultural, self-esteem, dan aktivitas yang dilakukan saat waktu luang. Peran gender dapat kaku dan fleksibel tergantung keadaan. Norma terhadap gender seringkali berbeda dalam lintas generasi, bidang ilmu dalam perkuliahan, kelompok etnik dan kultural, dan wilayah geografis. Di berbagai negara, perbedaan gender akan tetap melekat pada masyarakat akibat keyakinan mengenai peran gender yang sudah tertanam. Namun di sisi lain, perkembangan kesetaraan gender mulai terlihat dengan berkurangnya dominasi laki-laki serta perempuan yang semakin menunjukkan eksistensinya. AbstrakGender is a social role expectations are formed due to experience and developing culture. Gender role expectations vary greatly according to the culture that develops in the local area. Gender behavior cannot be separated from the sociocultural context, namely adapting to where the individual lives and develops. The method used in this article is a literature study through an online journal database, namely Google Scholar. This literature study aims to determine differences in gender role ideology from a cross-cultural perspective. The findings from this literature study can have implications for practical benefits, policies, and further research. Differences in gender role ideologies involve various aspects such as entrepreneurial intentions, economics, education, agricultural activities, self-esteem, and activities carried out in free time. Gender roles can be rigid and flexible depending on circumstances. Norms regarding gender often differ across generations, fields of study, ethnic and cultural groups, and geographic regions. In various countries, gender differences will remain embedded in society due to ingrained beliefs about gender roles. On the other hand, developments in gender equality are starting to be seen with the reduction of male dominance and women increasingly showing their existence.
Studi pendahuluan tentang persepsi keadilan terhadap prosedur dan tahapan hukum acara pada kasus kekerasan seksual Avezahra, Mutia Husna; Hasmy, Zulfauzy Abu; Pratami, Risky Nosa; Rizkina, Athia Tri; Sa'id, Mochammad; Noorizki, Rakhmaditya Dewi
Jurnal Sosial Humaniora Vol. 15 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jsh.v15i2.12817

Abstract

Standar keadilan seringkali dijadikan tolak ukur keberhasilan penerapan hukum yang ada di Indonesia. Penelitian ini menggali perspektif-perspektif yang muncul mengenai tahapan hukum acara dalam kasus kekerasan seksual di Kota Malang yang dilakukan pihak-pihak terkait dengan tahapan hukum acara dalam proses hukum tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam. Subyek penelitian ini adalah dosen Fakultas Hukum, penyidik, pengacara, dan aktivis pendamping kekerasan terhadap perempuan yang berafiliasi dengan lembaga swadaya masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga permasalahan yang muncul mengenai tahapan hukum acara dalam kasus kekerasan seksual terhadap perempuan, yaitu: permasalahan mengenai kecukupan alat bukti, ketidakmampuan hukum untuk kepentingan korban, dan potensi inkonsistensi antara proses penyidikan dan proses hukum. hasil penyidikan terhadap pelaku pemerkosaan.
Catcalling victims’ long-term psychological impacts: A qualitative study Avezahra, Mutia Husna; Kamila, Aida Annisa Nur; Maulana, Nandyang Akhsanul; Kravvariti, Vasiliki; Sa’id, Mochammad; Noorrizki, Rakhmaditya Dewi
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Faculty of Psychology and Health - Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/pjpp.v8i2.18287

Abstract

Catcalling incidents are a form of street harassment that occurs in public spaces, conducted by strangers through verbal expressions and behavioral intentions with sexual nuances. This research investigates the psychological dynamics of catcalling events as women perceive them. A qualitative method involves a phenomenological approach and recruiting four participants using purposive sampling. Data were collected from semi-structured interviews, with thematic data analysis using the qualitative data management software NVivo 12. The trustworthiness strategy of the research includes reflexive journaling during the thematic analysis process and a participant-checking procedure. The findings show that catcalling incidents contribute to negative feelings and destructive self-perceptions. In the short term, the psychological impacts of catcalling include fear and worry, discomfort, anxiety, and increased alertness when facing unsafe situations, while the long-term impacts include feelings of guilt, criticism of one’s body shape and appearance, and feeling ashamed of one’s identity as a woman. The research argues that negative body images resulting from catcalling incidents contribute to the risk of low self-esteem.
Psychological Well Being pada Ibu Pekerja Pabrik Rokok di Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang Rahayuningtyas, Hesti; Langit, Salma Aulia Sekar; Zahra, Alifia; Avezahra, Mutia Husna
Flourishing Journal Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i12025p35-47

Abstract

A working mother has greater responsibilities because of her role as a mother for her children as well as the role of the wife and the responsibility as a worker. Therefore, we wanted to examine the level of Psychological Well-Being in cigarette factory workers. The characteristics used in this study are working mothers who are at least 25 years old, have children at most 10 years old and also work in factories. This research was conducted in Pakisaji District, Malang Regency. This research method is a qualitative method with a case study approach and involves 3 participants who were selected using the purposive sampling method. The data collection techniques carried out are interviews and observations with data processing techniques, namely thematic analysis. The results of the study showed that factory workers' mothers were able to balance their roles as mothers and workers despite facing several challenges such as work pressure and household responsibilities. AbstrakSeorang ibu yang bekerja memiliki tanggung jawab yang lebih besar karena perannya sebagai ibu untuk anak-anaknya serta peran istri dan juga tanggung jawab sebagai pekerja. Oleh karena itu, kami ingin meneliti tingkat Psychological Well Being pada ibu pekerja pabrik rokok. Karakteristik yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu pekerja yang berusia minimal 25 tahun, memiliki anak maksimal berumur 10 tahun dan juga bekerja di pabrik. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan melibatkan 3 partisipan yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara dan juga observasi dengan teknik pengolahan data yaitu analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu pekerja pabrik dapat menyeimbangkan peran mereka sebagai ibu dan pekerja meskipun menghadapi beberapa tantangan seperti tekanan kerja dan tanggung jawab rumah tangga. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwasannya psychological well-being pada ibu pekerja pabrik rokok sudah terpenuhi dengan beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu dukungan sosial yang kuat dari keluarga dan teman, kemampuan mengelola waktu dengan baik, dan memiliki tujuan hidup yang jelas.
Studi Fenomenologi: Gambaran Kemandirian pada Orang Lanjut Usia dalam Melakukan Activity Daily Living (ADL) di Kota Malang Astini, Ni Komang Widi; Erdenwarmansyah, Renandry Putri Pamungkas; Ardhita, Salsalbila Rizkita Putri; Avezahra, Mutia Husna
Flourishing Journal Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i12025p1-20

Abstract

This research is motivated by the increasing elderly population in Indonesia, reaching 11.75% in 2023. Many elderly face limitations in performing daily activities (Activity Daily Living/ADL). This study aims to describe the independence of the elderly in carrying out ADLs in Malang City, particularly those still working. This study employs a qualitative method with a phenomenological approach. The sampling was conducted using a purposive sampling technique based on the following criteria: (1) participants are elderly individuals aged 60 years or older; (2) they are still employed, regardless of job type; and (3) they are capable of communication for interview purposes. The total sample consists of three respondents. Data were collected through in-depth interviews and supplemented with secondary data. The analysis followed the Miles and Huberman model, which includes data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing with verification. The findings revealed that all participants independently performed their daily activities, showed good emotional independence, and held principles influenced by upbringing and past experiences. Participants also displayed independence in decision-making, involving family discussions. This research highlights the importance of family support in fostering elderly independence. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh peningkatan jumlah lansia di Indonesia yang mencapai 11,75% pada tahun 2023. Banyak lansia menghadapi keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (Activity Daily Living). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kemandirian lansia dalam menjalankan ADL di Kota Malang, terutama pada lansia yang masih bekerja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan kriteria: 1) Lansia berusia di atas 60 tahun; 2) masih bekerja (tidak ada ketentuan pekerjaan); 3) lansia masih mampu diajak berkomunikasi untuk diwawancarai, dengan jumlah sampel sejumlah tiga responden. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan menggunakan data sekunder. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh partisipan mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri, memiliki kemandirian emosional yang baik, serta prinsip hidup yang dipengaruhi oleh pola asuh dan pengalaman masa lalu. Kemandirian partisipan juga terlihat dalam pengambilan keputusan yang melibatkan diskusi keluarga. Penelitian ini menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam mendukung kemandirian lansia.
Catcalling victims’ long-term psychological impacts: A qualitative study Avezahra, Mutia Husna; Kamila, Aida Annisa Nur; Maulana, Nandyang Akhsanul; Kravvariti, Vasiliki; Sa’id, Mochammad; Noorrizki, Rakhmaditya Dewi
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Faculty of Psychology and Health - Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/pjpp.v8i2.18287

Abstract

Catcalling incidents are a form of street harassment that occurs in public spaces, conducted by strangers through verbal expressions and behavioral intentions with sexual nuances. This research investigates the psychological dynamics of catcalling events as women perceive them. A qualitative method involves a phenomenological approach and recruiting four participants using purposive sampling. Data were collected from semi-structured interviews, with thematic data analysis using the qualitative data management software NVivo 12. The trustworthiness strategy of the research includes reflexive journaling during the thematic analysis process and a participant-checking procedure. The findings show that catcalling incidents contribute to negative feelings and destructive self-perceptions. In the short term, the psychological impacts of catcalling include fear and worry, discomfort, anxiety, and increased alertness when facing unsafe situations, while the long-term impacts include feelings of guilt, criticism of one’s body shape and appearance, and feeling ashamed of one’s identity as a woman. The research argues that negative body images resulting from catcalling incidents contribute to the risk of low self-esteem.