Anas Ahmadi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Framing the Faithful: Islam, Gender, and National Identity on the Indonesian Screen Anas Ahmadi; Mohd Adi Amzar Muhammad Nawawi; Kamal Yusuf; Saiful Hadi; Moh. Hafid Effendy; Mohammad Turhan Yani
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 33 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v33i2.21473

Abstract

The study of masculinities in the context of film is currently attracting global attention from researchers. However, there are still a few researchers who study Muslim men as heroes in the context of Indonesian films. In this regard, this research aims to explore Muslim male heroes in Indonesian horror and silat films through the perspective of masculinity. This research employs qualitative methods, with data collection techniques conducted through a literature review. The data used were Indonesian horror and silat films from 1970 to 2020. The results of this study reveal the following key findings. The results of this study show the following findings. First, in Indonesian horror films, there is a type of male Muslim hero who performs exorcism of demons that possess human bodies; performs exorcism of demons that disturb and cause terror to families/citizens; and fights against black magic shamans. Second, in Indonesian silat films, the type of Muslim male hero is often depicted as a tough, strong, and mighty figure, fighting against the Dutch colonizers. Third, Muslim male heroes who appear in Indonesian films, both horror and silat, are not fully the main hero character. Globally, this research is expected to contribute to Islamic studies on male heroes in films from the perspective of masculinity, a topic that has been rarely explored in Islamic studies.
Pendidikan Karakter Tokoh Bethara Guru dalam Lakon Bethara Guru Krama Wayang Topeng Tengger Resdianto Permata Raharjo; Anas Ahmadi; Wahid Khoirul Ikhwan
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.v5i1.8592

Abstract

Pembentukan karakter masyarakat tidak terlepas dengan kondisi lingkungan, adat, budaya yang berlaku. Seperti tokoh-tokoh dan teladan dalam cerita rakyat, salah satunya adalah tokoh Bethara Guru dalam Lakon Bethara Guru Krama di Pewayangan Tengger. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan hasil analisis dari pendidikan karakter yang terdapat pada peneladanan tokoh Bethara Guru dalam Lakon Bethara Guru Krama Wayang Topeng Tengger. Keteladanan karakter tokoh-tokoh dan cerita pada Lakon Bethara Guru Krama dapat dijadikan sebagai bentuk materi dan dasar ajuan untuk membangun dan mendidik karakter individual seseorang, baik formal maupun non-formal. Sosok inti di tiap generasi dalam lakon Bethara Guru Krama memiliki beberapa sikap yang patut ditelaah dan diteladani. Penelitian ini disusun menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan sumber data dan data penelitian bentuk sastra lisan berupa cerita lakon Bethara Guru Krama yang disampaikan oleh dalang Ki Lebari pada pegelaran wayang topeng di desa Wonosari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik rekam catat. Model penelitian dalam penelitian ini menggunakan analisis konten. Uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan kecukupan bahan referensial. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi (1) transkripsi data rekaman, (2) transliterasi data rekaman, (3) klasifikasi data, (4) analisis struktur dan interpretasi, dan (5) pengujian data. Hasil penelitian berupa pendidikan karakter yang dapat diperoleh melalui teladan tokoh Bethara Guru dalam lakon Bethara Guru Krama Wayang Topeng Tengger yang merupakan modifikasi representatif masyarakat dengan tujuan membentuk karakter yang baik. Tokoh Bethara Guru dalam lakon Bethara Guru Krama juga merupakan sosok yang berperan penting dalam meneladani pembentukan karakter manusia di tengah masyarakat. Karena lakon Bethara Guru Krama kerap dibawakan pada pertunjukan Wayang Topeng Tengger dalam upacara adat ruwatan, baik ruwatan adat maupun ruwatan anak.
Framing the Faithful: Islam, Gender, and National Identity on the Indonesian Screen Anas Ahmadi; Mohd Adi Amzar Muhammad Nawawi; Kamal Yusuf; Saiful Hadi; Moh. Hafid Effendy; Mohammad Turhan Yani
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 33 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v33i2.21473

Abstract

The study of masculinities in the context of film is currently attracting global attention from researchers. However, there are still a few researchers who study Muslim men as heroes in the context of Indonesian films. In this regard, this research aims to explore Muslim male heroes in Indonesian horror and silat films through the perspective of masculinity. This research employs qualitative methods, with data collection techniques conducted through a literature review. The data used were Indonesian horror and silat films from 1970 to 2020. The results of this study reveal the following key findings. The results of this study show the following findings. First, in Indonesian horror films, there is a type of male Muslim hero who performs exorcism of demons that possess human bodies; performs exorcism of demons that disturb and cause terror to families/citizens; and fights against black magic shamans. Second, in Indonesian silat films, the type of Muslim male hero is often depicted as a tough, strong, and mighty figure, fighting against the Dutch colonizers. Third, Muslim male heroes who appear in Indonesian films, both horror and silat, are not fully the main hero character. Globally, this research is expected to contribute to Islamic studies on male heroes in films from the perspective of masculinity, a topic that has been rarely explored in Islamic studies.
PENINGKATAN MUTU AKADEMIK MELALUI KOMPETENSI SUPERVISI DAN PENJAMINAN MUTU: PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT DI KEDIRI RAYA Bambang Yulianto; Anas Ahmadi; Harmanto Harmanto; Binar Kurnia Prahani; Hasan Subekti; Sueb Sueb; Fajar Arianto; Wasilatul Murtafiah; Layli Hidayah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 2 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i2.29144

Abstract

Abstrak: Di era globalisasi, peningkatan kompetensi dosen merupakan kunci untuk menghasilkan lulusan unggul. Artikel ini menguraikan program pengabdian masyarakat yang bertujuan meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi swasta di Kediri Raya dengan meningkatkan soft skill dan hard skill dosen pembimbing PKM. Program ini dilaksanakan melalui kombinasi ceramah, praktik langsung, dan diskusi kelompok terfokus (FGD) dalam lokakarya, pendampingan, serta simulasi pelaksanaan PKM. Kegiatan ini melibatkan 16 dosen dari PTS wilayah Kediri Raya. Data dikumpulkan melalui pre-test, post-test, survei angket, dan observasi kualitatif. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kompetensi sebesar 58,6%, mencerminkan peningkatan pemahaman penjaminan mutu dan kemampuan supervisi. Tantangan yang dihadapi meliputi penerapan teknis QA dan kebutuhan tindak lanjut. Studi ini menyajikan model replikasi untuk pengembangan dosen serta rekomendasi praktis guna memperluas inisiatif serupa. Model ini diharapkan dapat diadaptasi oleh institusi lain guna mendukung perbaikan kualitas pendidikan tinggi.Abstract: In today’s globalized era, enhancing faculty competencies is essential for producing highly competitive graduates. This study presents a community service program aimed at improving the academic quality of private higher education institutions in Kediri Raya by developing both the soft and hard skills of faculty advisors involved in the PKM (Student Creativity Program). The program was implemented through a combination of lectures, hands-on practice, and focus group discussions (FGD) integrated within workshops, mentoring sessions, and simulated PKM activities. A total of 16 faculty members from private universities in the Kediri Raya region participated in the initiative. Data were collected using pre- and post-tests, structured questionnaires, and qualitative observations. Evaluation results revealed a 58.6% improvement in participants’ competencies, reflecting enhanced understanding of quality assurance and supervisory practices. Challenges included technical issues related to QA implementation and the need for ongoing follow-up. This study proposes a replicable model for faculty development and offers practical recommendations for extending similar initiatives to other institutions to foster sustainable improvements in higher education quality.