Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI DANA ZAKAT DI DOMPET DHUAFA LAMPUNG PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Febby Febiyola; Khoiruddin Khoiruddin; Miswanto Miswanto
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 5 No. 1 (2026): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, September 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v5i1.1558

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas dan kesesuaian hukum ekonomi syariah pada program pemberdayaan masyarakat melalui dana zakat di Dompet Dhuafa Lampung. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan dimana data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi serta wawancara mendalam dengan pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dompet Dhuafa Lampung telah mengimplementasikan pengelolaan dana zakat secara produktif melalui lima pilar program utama yaitu Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Sosial Kemanusiaan serta Dakwah dan Budaya. Temuan lapangan mengidentifikasi keberhasilan transformasi ekonomi mustahik melalui program inovatif seperti Maggotin atau budidaya maggot dan Kantin Kontainer yang mampu menciptakan kemandirian ekonomi berkelanjutan. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa inovasi pengelolaan zakat yang transparan dan berbasis pendampingan intensif merupakan instrumen krusial dalam pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan di Provinsi Lampung.
TINJAUAN HUKUM KELUARGA ISLAM TERHADAP FENOMENA FRIEND WITH BENEFIT DI KALANGAN REMAJA DI KOTA BANDAR LAMPUNG Shara Sandra Sari; Eko Hidayat; Miswanto
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 3 No. 2 (2025): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Maret 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v3i2.828

Abstract

Fenomena Friend with benefit (FWB) di kalangan remaja di Kota Bandar Lampung merupakan bentuk pergeseran nilai dalam memahami hubungan antara laki-laki dan perempuan. Friend with benefit adalah hubungan pertemanan yang disertai aktivitas seksual tanpa komitmen emosional atau ikatan pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena tersebut dari perspektif hukum keluarga Islam serta menggambarkan praktik dan alasan remaja terlibat dalam hubungan friend with benefit. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara terhadap delapan informan berusia 18–24 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa faktor, seperti tekanan lingkungan, kebutuhan biologis, dan penolakan komitmen, mendorong remaja terlibat dalam hubungan friend with benefit (FWB). Menurut perspektif hukum keluarga Islam, praktik FWB ini dianggap menyimpang dan diharamkan karena bertentangan dengan prinsip pernikahan yang sah. Pernikahan adalah satu-satunya cara yang dibenarkan dalam Islam untuk memenuhi kebutuhan biologis dan emosional. Oleh karena itu, edukasi moral dan agama dari orang tua, sekolah, dan tokoh agama sangat penting untuk mencegah meluasnya fenomena ini.
PERKAWINAN NGAKUK KHAGAH ADAT LAMPUNG SAIBATIN DALAM PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA Hibatin Wafiroh; Zuhraini Zuhraini; Miswanto Miswanto
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 4 (2026): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Juni 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i4.1336

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik perkawinan ngakuk khagah pada masyarakat adat Lampung Saibatin di Desa Way Rilau serta implikasinya terhadap keharmonisan keluarga dalam perspektif hukum keluarga Islam, ngakuk khagah merupakan bentuk perkawinan adat di mana pihak perempuan mengambil laki-laki untuk masuk ke dalam lingkungan keluarga perempuan dan menetap di pihak istri. Sistem ini menimbulkan dinamika tersendiri, terutama terkait posisi sosial suami, konsep kepemimpinan dalam rumah tangga (qiwāmah), serta relasi dengan keluarga besar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan (field research). Data diperoleh melalui wawancara dengan pasangan yang menjalani perkawinan ngakuk khagah, tokoh adat, dan tokoh masyarakat, serta didukung oleh observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menggunakan perspektif hukum keluarga Islam, teori ‘urf, dan pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ngakuk khagah tetap sah menurut hukum Islam selama memenuhi rukun dan syarat nikah. Pergeseran posisi sosial suami dalam struktur adat tidak menghilangkan kedudukannya sebagai kepala keluarga, melainkan mengarah pada bentuk kepemimpinan yang bersifat fungsional dan adaptif. Berdasarkan hasil wawancara, suami tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemimpin keluarga, meskipun secara adat berada dalam lingkungan keluarga istri. Implikasi terhadap keharmonisan keluarga bersifat kondisional, yang ditentukan oleh beberapa faktor utama, yaitu adanya kesepakatan pranikah, komunikasi yang terbuka, pembagian peran yang seimbang, serta adanya batas yang jelas terhadap intervensi keluarga besar. Dengan demikian, praktik ngakuk khagah dapat berjalan selaras dengan prinsip hukum keluarga Islam selama tetap menjunjung nilai keadilan, tanggung jawab, dan tujuan pembentukan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Implikasi Pemberian Gift Live Pada Aplikasi Tiktok Perspektif Hukum Ekonomi Syariah Nabila Sanpuri Afifah; Nurnazli; Miswanto
Kartika: Jurnal Studi Keislaman Vol. 6 No. 2 (2026): Kartika: Jurnal Studi Keislaman (May)
Publisher : Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) PCNU Kabupaten Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59240/kjsk.v6i2.848

Abstract

The development of the live streaming feature on TikTok with its gift system has created new patterns in digital economic transactions that raise issues under Islamic economic law, such as unclear contracts, potential gharar (unclear risk), and consumptive behavior. This study aims to examine the implications of gift-giving from the perspective of Islamic economic law and assess its compliance with Islamic muamalah principles. The method used was qualitative, with a field research approach and descriptive analysis through interviews, observations, and documentation of creators and viewers. The results show that gifts are understood as voluntary giving, resembling digital grants. However, there is still a tendency for excessive consumption and unclear motives among some users. From a sharia perspective, this practice is permissible as long as it fulfills the elements of willingness, clarity of purpose, and does not violate sharia provisions. Therefore, increasing sharia economic literacy is necessary to make digital practices more transparent and in accordance with Islamic principles.