Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENGUATAN KOMPETENSI TERMINOLOGI KLINIS MELALUI SNOMED-CT MASTERY BAGI MAHASISWA DAN TENAGA KESEHATAN: STRENGTHENING CLINICAL TERMINOLOGY COMPETENCY THROUGH SNOMED-CT MASTERY FOR STUDENTS AND HEALTH WORKERS Deasy Rosmala Dewi; Nanda Aula Rumana; Laela Indawati; Nur Ratri Annisa Putri; Chinta Fourdy Wantika; Emilia Karin Dwi Liani; Mutia Mariyam; Eza Nurkholifa; Anisa Anisa
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v6i1.2935

Abstract

Transformasi sistem kesehatan nasional menuntut tersedianya data klinis yang terstandar, akurat, dan dapat dipertukarkan antar fasilitas pelayanan kesehatan melalui rekam medis elektronik. Salah satu tantangan utama dalam proses ini adalah rendahnya kompetensi mahasiswa dan tenaga kesehatan dalam penggunaan terminologi klinis standar, khususnya Systematized Nomenclature of Medicine Clinical Terms (SNOMED-CT), akibat keterbatasan pelatihan praktis dan media pembelajaran kontekstual. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi terminologi klinis melalui pelaksanaan SNOMED-CT Mastery Program bagi mahasiswa Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan serta tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pelatihan terstruktur yang mengombinasikan sosialisasi, pembelajaran teori, praktik langsung pengodean dan pemetaan kasus klinis, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi terhadap 101 peserta menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan yang signifikan setelah pelatihan, yang mengindikasikan peningkatan pemahaman dan kesiapan peserta dalam menerapkan terminologi klinis standar pada sistem rekam medis elektronik. Pembahasan menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan studi kasus klinis riil efektif dalam menjembatani kesenjangan antara pemahaman teoritis dan kebutuhan implementasi di lapangan. Kesimpulannya, program ini berhasil meningkatkan kompetensi peserta dan berpotensi mendukung peningkatan kualitas serta interoperabilitas data kesehatan nasional melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Evaluation of the management of iron tablet supplementation program for adolescent girls in Indonesia: a scoping review Noerfitri Noerfitri; Rohayati Rohayati; Nanda Aula Rumana; Erni Astutik; Ahmad Muhaimin
Berita Kedokteran Masyarakat Vol 42 No 08 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v42i08.28751

Abstract

Purpose: This study aimed to analyze the evaluation of the management of iron and folic acid supplementation programs for adolescent girls in Indonesia using the input–process–output–outcome (IPOO) framework. Methods: This scoping review followed PRISMA-ScR guidance. Six information sources, including Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, Semantic Scholar, Taylor & Francis Online, and Wiley Online Library, were searched for studies published up to 2025 using terms related to program management, iron supplementation, adolescent girls, and Indonesia. Eligibility criteria were structured using the JBI Population–Concept –Context (PCC) framework, with adolescent girls aged 10–19 years as the population, iron supplementation program management as the concept, and Indonesia as the context. Studies published in English or Indonesian were eligible, while reviews, editorials, and commentaries were excluded. Results: Of 2,692 records identified, 28 reports were sought for retrieval, 24 underwent full-text assessment, and seven studies met the eligibility criteria, comprising six qualitative studies and one mixed-methods study. The IPOO synthesis identified limited human resources and program resources as key input constraints, while weak monitoring, irregular supervision, and untimely distribution represented major process barriers. These implementation challenges contributed to inadequate program coverage, poor adherence to iron supplementation, and limited knowledge among adolescent girls. Conclusion: Iron supplementation programs showed inconsistent effectiveness due to persistent implementation barriers. Strengthening program management, resource capacity, super- vision, health education, monitoring and reporting systems, and cross- sectoral collaboration between health services and schools is essential to improve adherence and ensure that program outputs translate into sustain- ed behavioral and health outcomes.