Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Regional Food Security Policy Directions to Ensure Adequate Food Availability and Access Lies Ariany; Mulyani Zulaeha; Soffyan Angga Fahlani; Cindyva Thalia Mustika; Saskia Dinda Lestari; Eprilia Maulida; Nabil Noor Andray
International Journal of Law, Environment, and Natural Resources Vol. 5 No. 2 (2025): October Issue
Publisher : Scholar Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51749/injurlens.v5i2.140

Abstract

Food security reflects the extent to which a country or region is capable of providing sufficient, safe, and nutritious food for its entire population. Efforts to strengthen food security are of vital importance in realizing a safe, healthy, and prosperous society. In the context of national development, food security has become one of the main priorities, which undoubtedly requires active support from local governments. This is closely related to the fulfilment of the right to food, which is a fundamental right of every citizen. The issue addressed in this study concerns the forms of food governance implemented by local governments to support food security at the local level. To address this issue, a normative legal research method is employed to examine the policy directions of local governments in ensuring the availability of food that is both adequate and accessible to the community. In ensuring the sustainable fulfilment of food needs, local governments play a strategic role in managing the food system within their regions. This role is realized through policy formulation, regulatory development, and the implementation of programs based on local potential. Thus, local governments can serve as key actors in promoting equitable and sustainable national food security.
Regional Food Security Policy Directions to Ensure Adequate Food Availability and Access Lies Ariany; Mulyani Zulaeha; Soffyan Angga Fahlani; Cindyva Thalia Mustika; Saskia Dinda Lestari; Eprilia Maulida; Nabil Noor Andray
International Journal of Law, Environment, and Natural Resources Vol. 5 No. 2 (2025): October Issue
Publisher : Scholar Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51749/injurlens.v5i2.140

Abstract

Food security reflects the extent to which a country or region is capable of providing sufficient, safe, and nutritious food for its entire population. Efforts to strengthen food security are of vital importance in realizing a safe, healthy, and prosperous society. In the context of national development, food security has become one of the main priorities, which undoubtedly requires active support from local governments. This is closely related to the fulfilment of the right to food, which is a fundamental right of every citizen. The issue addressed in this study concerns the forms of food governance implemented by local governments to support food security at the local level. To address this issue, a normative legal research method is employed to examine the policy directions of local governments in ensuring the availability of food that is both adequate and accessible to the community. In ensuring the sustainable fulfilment of food needs, local governments play a strategic role in managing the food system within their regions. This role is realized through policy formulation, regulatory development, and the implementation of programs based on local potential. Thus, local governments can serve as key actors in promoting equitable and sustainable national food security.
TINJAUAN HUKUM ACARA PIDANA TERHADAP PENGGUNAAN TEKNOLOGI ARTIFICIAL INTELLIGENCE BERBASIS PENGENALAN WAJAH DALAM PROSES PENYIDIKAN DI INDONESIA samsuriana; Mulyani Zulaeha
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i1.1828

Abstract

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang penegakan hukum. Salah satu bentuk penerapan AI yang semakin banyak digunakan adalah teknologi pengenalan wajah (facial recognition) yang mampu mengidentifikasi seseorang melalui karakteristik biometrik wajah. Dalam praktik penegakan hukum, teknologi ini berpotensi membantu aparat penyidik dalam mengidentifikasi pelaku tindak pidana, mempercepat proses pencarian tersangka, serta meningkatkan efektivitas penyidikan. Namun demikian, penggunaan teknologi pengenalan wajah dalam proses penyidikan menimbulkan berbagai persoalan hukum, khususnya terkait legalitas alat bukti, perlindungan hak privasi, serta jaminan hak asasi manusia dalam sistem peradilan pidana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian penggunaan teknologi Artificial Intelligence berbasis pengenalan wajah dalam proses penyidikan dengan prinsip-prinsip hukum acara pidana Indonesia serta merumuskan pengaturan hukum yang ideal guna menjamin kepastian hukum dan perlindungan hak asasi manusia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan komparatif. Bahan hukum dianalisis secara kualitatif melalui studi kepustakaan terhadap berbagai peraturan perundang-undangan, doktrin, dan literatur hukum yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi pengenalan wajah dalam proses penyidikan belum memiliki dasar hukum yang secara khusus mengatur prosedur, batasan, dan mekanisme penggunaannya dalam hukum acara pidana Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum serta risiko pelanggaran terhadap hak privasi dan prinsip due process of law.
Penguatan Pemahaman Restorative Justice Bagi Aparatur Desa dalam Penyelesaian Konflik Sosial dan Lingkungan Mulyani Zulaeha; Muhammad Yasir; Muhammad Azianoor Ilmy; Achmad Faishal; Suprapto Suprapto; Anang Sophan Tornado; Soffyan Angga Fahlani; Cindyva Thalia Mustika
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v6i2.11798

Abstract

This community service program aimed to strengthen village officials’ understanding of restorative justice for resolving social and environmental conflicts in Gudang Hirang Village, Banjar Regency. The results indicated a significant improvement in the officials’ ability to identify minor conflicts, conduct neutral restorative justice-based mediation, and draft written agreements that prioritize victim recovery without recourse to formal judicial proceedings. Enhanced understanding of restorative justice directly contributed to community harmony in Gudang Hirang Village. A local wisdom-based dispute resolution mechanism involving village officials, community leaders, Babinsa, and Bhabinkamtibmas effectively prevented the escalation of social and environmental conflicts and resolved them through familial approaches. This model reduces court caseloads for minor cases while promoting active community participation in maintaining order and social justice. Program sustainability can be ensured through the establishment of a Restorative Justice House, the development of village mediation SOPs, and periodic mentoring by the service team, thereby institutionalizing restorative justice principles as the primary instrument for maintaining peace at the village level. The program employed lectures with PowerPoint presentations, case discussions, interactive question-and-answer sessions, and pre-tests and post-tests. Equipment used included laptops, microphones, a sound system, mobile phones, and an LCD projector.
Konsep Itikad Baik dan Kehati-hatian Direksi dalam Kasus Kepailitan Perseroan Terbatas Lukman Rianto; Mulyani Zulaeha
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10749

Abstract

Penelitian ini menganalisis konsep itikad baik direksi Perseroan Terbatas dalam perspektif fiduciary duty dan perlindungan kreditor pada kondisi kepailitan perusahaan. Fokus penelitian ini adalah untuk mengkaji batasan tanggung jawab direksi serta implikasi hukum atas tindakan pengurusan sebelum dan setelah kepailitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip itikad baik dan duty of care masih belum memiliki parameter normatif yang tegas sehingga menimbulkan kekaburan norma dalam praktik peradilan kepailitan. Ketidakjelasan tersebut berdampak pada kesulitan pembuktian tanggung jawab direksi dan melemahkan posisi kreditor dalam memperoleh perlindungan hukum yang efektif. Dalam perspektif fiduciary duty direksi wajib menjalankan kewajiban loyalitas kehati-hatian transparansi serta menghindari benturan kepentingan dalam setiap pengambilan keputusan bisnis. Penerapan Good Corporate Governance menjadi instrumen penting dalam menilai itikad baik direksi dan menentukan pertanggungjawaban hukum dalam kepailitan perseroan. Penelitian ini menegaskan pentingnya parameter objektif untuk memberikan kepastian hukum antara perlindungan direksi dan kreditor. Dengan demikian diperlukan penguatan norma hukum melalui interpretasi yang lebih ketat terhadap itikad baik dan kehati-hatian direksi agar tidak terjadi ketidakpastian dalam penegakan hukum kepailitan serta untuk melindungi kepentingan kreditor secara proporsional tanpa mengabaikan prinsip business judgment rule. Hal ini penting untuk mewujudkan keseimbangan antara kepastian hukum keadilan dan kemanfaatan dalam hukum perseroan dan kepailitan di Indonesia. Kajian ini diharapkan dapat menjadi rujukan akademik bagi pengembangan hukum perusahaan di Indonesia khususnya dalam memperjelas standar penilaian itikad baik direksi serta memperkuat mekanisme perlindungan kreditor dalam praktik kepailitan yang semakin kompleks dan dinamis sehingga tercapai kepastian hukum yang berkeadilan bagi seluruh pihak dalam sistem hukum kepailitan Indonesia secara konsisten dan berkelanjutan di Indonesia.
KRITERIA KETERANGAN AHLI DALAM PROSES PERADILAN PADA PERSPEKTIF KEPASTIAN HUKUM Mahmudah Hasanah; Mulyani Zulaeha
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 2 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i2.1895

Abstract

Keterangan ahli memiliki peranan penting dalam sistem pembuktian hukum acara pidana di Indonesia, khususnya dalam perkara yang memerlukan pengetahuan khusus di luar hukum. Namun, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) belum memberikan batasan yang jelas mengenai kriteria seseorang dapat dikategorikan sebagai ahli, sehingga dalam praktiknya penentuan ahli sering menimbulkan perbedaan penafsiran di antara aparat penegak hukum. Permasalahan ini berdampak pada aspek kepastian hukum dalam proses peradilan, terutama terkait objektivitas dan konsistensi penggunaan keterangan ahli sebagai alat bukti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kriteria keterangan ahli dalam proses peradilan serta mengkaji kedudukannya dalam perspektif kepastian hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria keterangan ahli dalam hukum acara pidana Indonesia masih bersifat fleksibel dan belum memiliki standar normatif yang tegas. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ketidakseragaman dalam praktik peradilan serta memengaruhi kepastian hukum. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pengaturan mengenai standar kompetensi ahli yang meliputi aspek pendidikan, keahlian, sertifikasi, dan pengakuan institusional agar keterangan ahli dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal dalam mewujudkan kepastian hukum dalam proses peradilan.
Multi Intepretasi Ketertiban Umum Dalam Eksekusi Putusan Arbitrase Asing Di Indonesia Muhammad Rezamil Aditya Rahman; Mulyani Zulaeha
RIO LAW JURNAL Vol 6, No 2 (2025): Rio Law Jurnal
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/rlj.v6i2.1799

Abstract

This study discusses the multiple interpretations of public order in the execution of foreign arbitral awards in Indonesia. Article 66(c) of Law No. 30 of 1999 on Arbitration and Alternative Dispute Resolution does not provide clear explanations and is considered to have overly broad and general interpretations. The lack of a definitive definition allows public order to be exploited as a loophole for grounds to annul the execution of foreign arbitral awards in Indonesia, which in turn creates legal uncertainty in implementing these awards. This research aims to analyze the concept of public order that can serve as a guideline for the execution of foreign arbitral awards in Indonesia. The research method used is normative, addressing the ambiguity of norms regarding public order in Article 66(c) of the Arbitration Law. Based on the analysis using various approaches, the concept of public order is formulated as the fundamental principles and values prevailing in Indonesian society, referring to the values of Pancasila as the ideological and philosophical foundation of the Indonesian nation and the 1945 Constitution as the highest legal basis in the legal system. Furthermore, the multiple interpretations of public order lead to legal uncertainty, causing the international community to view Indonesia as an arbitration-unfriendly state. This study emphasizes the need for revising or enacting new legislation on arbitration to address the ambiguity or legal gaps in the implementation of arbitration and to adapt to contemporary developments. Keywords: Arbitration, Execution of Awards, Legal Certainty, Public Order.