Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Dampak

Studi Kemampuan Perlit sebagai Adsorben untuk Menyisihkan Besi Primasari, Budhi; Gustilisa, Rosa
Jurnal Dampak Vol 13, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.13.1.44-50.2016

Abstract

West Sumetera pearlite can be utilized as an alternative adsorbent to remove metal from groundwater. Aim of this research is to investigate the capability of pearlite to remove ferrous (Fe) and manganese (Mn). Experiment was conducted using artificial solution. A column od 2.54 cm was filled with expamded pearlite. Diameter of pearlite is (0,180-0,150) mm and flow rate1 gpm/ft2. Depth of pearlite in the column was 85 cm, and weight was 160 gr. Sample was taken at 8 sampling points of ground water to determine range of Fe and Mn concentration in artificial solution. Range of Fe concentration is 1-10 mg/l, and range of Mn concentration is 0,1-2 mg/l. Experiment shows that adsorption capacity of pearlite is (4,01 x 10-6 1,84 x 10-5) mg Fe/mg perlit in Fe only solution. While adsorption capacity of pearlite is (4,01 x 10-6 1,84 x 10-5) mg Fe/mg perlit in Fe only solution. While in the Fe-Mn mixture artificial solution, adsorption capacity of pearlite is 1,36 x 10-5 to 1,44 x 10-5 mg Fe/mg perlit.Keywords: perlite, adsorbent, Fe, Mn, adsorption capacityABSTRAKPerlit yang ada di daerah Sumatera Barat dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif adsorben untuk menyisihkan logam-logam yang terkandung dalam air tanah. Pada penelitian ini ingin diketahui kemampuan perlit sebagai adsorben dalam menyisihkan logam besi dan mangan. Percobaan dilakukan dengan menggunakan larutan artifisial. Pada percobaan ini digunakan perlit dengan diameter (0,180-0,150) mm, kecepatan alir 1 gpm/ft2. Perlite dimasukkan ke dalam kolom berdiameter 2.54 cm, dengan kedalaman perlit 85 cm dan jumlah perlit yang dibutuhkan untuk mengisi kolom adalah 160 gram. Sampling air sumur pada 8 titik sampling dilakukan untuk menentukan rentang konsentrasi Fe, dan Mn. . Rentang yang ditetapkan untuk konsentrasi Fe adalah (1-10) mg/l, rentang konsentrasi Mn adalah ( 0,1-2) mg/l dan rentang konsentrasi kesadahan adalah (200-400) mg/l. Pada percobaan dengan larutan artifisial yang mengandung konsentrasi Fe saja didapatkan kapasitas adsorpsi berkisar (4,01 x 10-6 1,84 x 10-5) mg Fe/mg perlit. Pada percobaan larutan artifisial yang mengandung Fe dan Mn didapatkan kapasitas adsorpsi berkisar (1,36 x 10-5 - 1,44 x 10-5) mg Fe/mg perlit. Kata kunci: perlit, adsorben, Fe, Mn, kesadahan, kapasitas adsorpsi
Pengaruh Laju Pembebanan Organik terhadap Reduksi Padatan pada Proses Anaerobic Co-Digestion Sampah Sayuran dengan Lumpur SBR Budhi Primasari; Ansiha Nur
Jurnal Dampak Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.15.2.88-92.2018

Abstract

Anaerobic digestion is to treat organic waste such as vegetable solid waste (VSW). Anaerobic co-digestion is the mixture of two or more different waste types with the aim to enhance the efficiency of the anaerobic digestion process. In this study, anaerobic digestion of vegetable solid waste (VSW) is compared to the anaerobic co-digestion of VSW and sequencing batch reactor (SBR) sludge. This investigation is focussed  on the varying the organic loading rate (OLR) which is the mixing ratio of VSW to SBR sludge; and pH (6, 7 and 8) of the mixture. The mixtures were kept in serum bottles and placed in a shaker for 7 days at 150 rpm. Experiments with OLR 2:1, VSW composition of 1:2:1:1 and pH 6 produced the highest total biogas in anaerobic co-digestion. Thus, for anaerobic co-digestion, the optimum composition of VSW, OLR and pH are 1:2:1:1, 2:1 and 6 respectively. The range of % reduction in total solids (TS), total suspended solids (TSS) and total dissolve solids (TDS) in anaerobic co-digestion is 4-46, 0-43 and 0-64 respectively. In a comparison with single digestion, only 1 in 5 samples of co-digestion exceed that amount of biogas produced by single digestion and this shows that single anaerobic digestion resulted in higher biogas yield. The range of % reduction in TS, TSS and TDS in anaerobic digestion is 13-54, 15-66 and 9-58 respectively. Comparatively, single digestion performs better in solids removal than anaerobic co-digestion and thus, co-digestion method may not be suitable for all types of organic waste.
PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI SUBSTRAT TAMBAHAN TERHADAP PROSES PENGOLAHAN AIR BUANGAN SECARA ANAEROBIK Budhi Primasari; Ansiha Nur
Jurnal Dampak Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.14.2.104-112.2017

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menyelidiki pengaruh penambahan glukosa, fruktosa dan sukrosa terhadap pengolahan air buanganrumah tangga dengan proses mikroba anaerobik menggunakan reaktor batch. Parameter yang diamati adalahCOD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), VSS (Volatile Suspended Solid) dand volumebiogas. Proses pengolahan dievaluasi dari jumlah polutan yang berkurang dan jumlah biogas yang terbentuk.Tiga jenis gula dengan kisaran konsentrasi yang bervariasi ditambahkan ke lumpur sebelum proses pengolahanair buangan. Proses pengolahan itama adalah proses fermentasi gelap anaerobik, dengan reaktor aerobikdiguncang di atas shaker pada kecepatan 200 rpm.Ph diatur menjadi 5 dan suhu 30oC. Hail menunjukkan bahwaglukosa dengan jumlah biakan bakteri 20%, dan konsentrasi guil 2% adalah substrat tambahan yang pling efisien,mengurangi kadar COD hampir 100%. Volume biogas yang dihasilkan 9,5 mL dan TSS serta TSS adalah 37 mg/Ldan 460 mg/L.Kata kunci: glukosa, sukrosa, fruktosa, substrat, pengolahan air buanganABSTRACTThis research investigate effects of addition of glucose, sucrose dan fructose to the sewage wastewater treatmentprocess by anaerobic microbial process using batch reactor. The observed parameters are COD (ChemicalOxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), VSS (Volatile Suspended Solid) and volume of biogas. Thetreatment process was evaluated by reduction of pollutant and biogas production. Three types of sugar at a rangeof concentration was added to the sludge prior to wastewater treatment . The main treatment was anaerobic darkfermentation process, shaken at 200 rpm. pH was set to be 5 and temperature was 30oC. The results shows thatglucose at 20% inoculum size and 2% sugar concentnration in the most efficient substrate, reduced COD to almost1005. The volume of biogas produced is 9.5 mL, and TSS and VSS were 37 mg/L and 460 mg/L respectively.Keywords: glucose, sucrose, fructose, substrate, wastewater treatment
Pemanfaatan Proses Anaerobik untuk Pengolahan Air Limbah Indusri Gula: Studi Variasi Inokulum dan pH Jamil Osman, Zadariana; Primasari, Budhi; Ahmad, Zulkifli
Dampak Vol. 22 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.22.1.68-78.2025

Abstract

Air limbah proses pengolahan gula yang dikumpulkan berasal dari pabrik gula X dari di Selangor. Inokulum mikroba diperoleh dari mikroflora yang terdapat dalam lumpur sedimentasi pada instalasi pengolahan air limbah. Proses pengolahan dilakukan dalam kondisi gelap, dengan parameter operasi utama meliputi pH, ukuran inokulum, dan suhu temperatur. Parameter yang diamati mencakup kebutuhan oksigen kimiawi (COD), total padatan tersuspensi (TSS), pH, dan produksi biogas. Inokulum diinkubasi selama dua hari menggunakan substrat berupa air limbah pengolahan gula, dengan pH disesuaikan menjadi 5,0 untuk menghambat aktivitas bakteri metanogenik. Pengolahan dilakukan dalam vial tertutup dengan volume kerja sebesar 10 mL. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa waktu optimum pengolahan adalah 60 jam, berdasarkan efisiensi penurunan COD dan volume biogas yang dihasilkan. Dalam eksperimen utama, parameter operasi divariasikan, yaitu ukuran inokulum (10%, 20%, 30%) dan temperatur (30°C, 35°C, 40°C). Proses ini mampu menurunkan COD hingga 82%, serta mikroflora yang digunakan menunjukkan kemampuan menghasilkan biogas hingga 1,6 mL per 10 mL limbah. Penurunan pH selama proses pengolahan diamati sebagai akibat aktivitas bakteri penghasil asam (asidogenik). Selain itu, terjadi peningkatan signifikan pada TSS, dengan kenaikan maksimum mencapai 460%, yang mengindikasikan pertumbuhan mikroba dan akumulasi biomassa. Kata Kunci: air limbah pabrik gula, microflora, pengolahan anaerobik, penyisihan COD, ukuran inoculum,