Reni Ria Armayani Hasibuan
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Cosmetic Purchasing Decisions with Brand Image as An Intervening Variable Salsabilla Siagian; Fauzi Arif Lubis; Reni Ria Armayani Hasibuan
Jurnal Ekonomi, Bisnis & Entrepreneurship Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Ekonomi, Bisnis & Entrepreneurship (e-Journal)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (P3M) STIE Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55208/s77rjp56

Abstract

Cosmetic advertisements on social media easily influence many college students, so they buy cosmetics without paying attention to the product's safety. This study aims to analyze the influence of beauty influencer variables, product quality and halal labelling on cosmetic purchasing decisions that are intervened through brand image variables. The type of research used is quantitative research with a causality research design. The population in this study is 310 respondents. Using the random sampling technique, 76 people were sampled. The data analysis technique used is path analysis. The results showed that the beauty influencer variables and halal labelling partially did not affect cosmetic purchasing decisions. However, product quality and brand image significantly affected cosmetic purchasing decisions. The variables of beauty influencers and product quality affect the brand image of cosmetics, while halal labelling does not affect the brand image of cosmetics. When intervened with the brand image variable, the two variables, beauty influencers and product quality, affect cosmetic purchasing decisions. Meanwhile, halal labelling does not affect cosmetic purchasing decisions. The implications of these results are crucial for marketers and brand managers in the cosmetic industry. Emphasizing product quality and cultivating a strong brand image can enhance purchasing decisions among consumers, particularly in a market influenced by social media. Additionally, while beauty influencers may not directly drive purchases, their impact on brand image cannot be overlooked. Companies should focus on forging relationships with reputable influencers who can authentically enhance brand perception. Future research could also explore the potential long-term effects of these variables on consumer behavior and preferences in the ever-evolving landscape of cosmetic marketing.
Analysis of MSME Development in the Digital Era Using the Business Model Canvas from an Islamic Economic Perspective Tria Manda Sari; Reni Ria Armayani Hasibuan; Nurbaiti Nurbaiti
Dalwa Islamic Economic Studies: Jurnal Ekonomi Syariah Vol. 5 No. 1 (2026): June
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/dies.v5i1.5053

Abstract

Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) have significant potential to leverage technology to expand their markets and become more competitive in the digital era. This study uses the Business Model Canvas (BMC) approach to examine MSME development strategies in the digital era within the Medan Orang Bazar Community. A descriptive qualitative research methodology was employed, and information was collected through observation, interviews, and documentation. The Miles and Huberman model was used to analyze the data. The results indicate that the MSME development plan within the Medan Orang Bazar Community centers on maximizing the nine components of the Business Model Canvas. Young individuals and young families active on social media constitute this customer segment, offering distinctive local goods at affordable prices and attractive packaging. The plan was developed in collaboration with local communities and influencers, and using digital platforms such as Shopee, Instagram, and TikTok. Active engagement on social media and loyalty programs maintain customer relationships. This approach demonstrates how MSMEs can utilize the Business Model Canvas as a roadmap to develop their companies creatively, effectively, and sustainably in the digital era. The findings also revealed that some MSMEs in this community inherently apply Islamic business principles, particularly in terms of offering halal products, honest promotional practices, and community-based economic empowerment (taʿawun), indicating that the BMC framework can be complemented with a sharia-based business development perspective.
Pengaruh Promo Gratis Ongkir dan Cashback Terhadap Perilaku Konsumen Berbasis Etika Syariah Dinda Puspita Sari; Fasya Al Faiga; Reni Ria Armayani Hasibuan
Mekar: Jurnal Dinamika Manajemen dan Akuntansi Modern Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Mekar: Jurnal Dinamika Manajemen dan Akuntansi Modern
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/mekar.v1i2.231

Abstract

Perkembangan e-commerce yang sangat pesat memicu persaingan ketat antar-platform digital melalui berbagai strategi pemasaran agresif, seperti promo gratis ongkos kirim (ongkir) dan cashback. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis pengaruh promo gratis ongkir dan cashback terhadap perilaku konsumen digital serta menguji kesesuaian dampaknya dari perspektif etika konsumsi Syariah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif melalui tinjauan pustaka (literature review) dan analisis konten yang bersumber dari berbagai data sekunder ilmiah bereputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik promo gratis ongkir maupun cashback memiliki pengaruh positif dan signifikan dalam mendorong keputusan pembelian, terutama memicu perilaku pembelian impulsif (impulsive buying) di kalangan generasi muda muslim dan mahasiswa. Dalam tinjauan etika Syariah, instrumen promosi ini pada dasarnya diperbolehkan (mubah) sebagai akad ju’alah selama memenuhi asas transparansi dan keadilan tanpa unsur rekayasa harga. Namun, secara subtansial, strategi promosi yang agresif ini terbukti mengeksploitasi kerentanan psikologis konsumen seperti FOMO (fear of missing out), yang menggeser orientasi belanja dari pemenuhan kebutuhan pokok (rasional) menjadi pemuasan keinginan semata (irasional). Pola konsumsi yang tidak terkendali ini mengikis prinsip wasathiyah (kesederhanaan) serta mendekati perilaku israf (berlebih-lebihan) dan tabdzir (pemborosan) yang dilarang dalam ekonomi Islam. Penelitian ini menyimpulkan perlunya peningkatan literasi keuangan Syariah dan penguatan regulasi etika pemasaran digital untuk membentuk perilaku konsumsi yang bijak, moderat, dan sesuai dengan prinsip maqashid al-syariah.
Pengaruh Perkembangan Marketplace terhadap Daya Saing UMKM Lokal di Indonesia Ani Sya Syabillah; Mirna Miranda; Reni Ria Armayani Hasibuan
Mekar: Jurnal Dinamika Manajemen dan Akuntansi Modern Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Mekar: Jurnal Dinamika Manajemen dan Akuntansi Modern
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/mekar.v1i2.268

Abstract

Pesatnya perkembangan platform marketplace di Indonesia memicu transformasi digital yang masif, menciptakan celah kompetisi baru bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang menghadapi keterbatasan literasi digital di tengah ketatnya persaingan global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perkembangan marketplace terhadap daya saing serta pertumbuhan UMKM lokal di Indonesia. Menggunakan metode studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumentasi terhadap pelaku UMKM yang terintegrasi dengan marketplace. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan model Spradley. Hasil penelitian menunjukkan kebaruan berupa urgensi integrasi solusi finansial teknologi (FinTech) dan pemanfaatan fitur manajemen inventaris online yang secara signifikan memperluas penetrasi pasar, meningkatkan volume penjualan, dan memangkas biaya operasional konvensional. Namun, UMKM masih dihadapkan pada hambatan serius berupa rendahnya kecakapan digital dan tingginya saturasi pasar digital. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa pemanfaatan marketplace berpengaruh positif dan signifikan dalam mendongkrak daya saing pelaku usaha lokal. Diperlukan sinergi berkelanjutan dari pemerintah dan penyedia platform berupa program pelatihan teknologi inklusif serta kemudahan akses modal inovatif guna menjaga resiliensi jangka panjang UMKM di era ekonomi digital.
Apakah Bank Syariah Benar-Benar Bebas Riba? Analisis Terhadap Praktik Perbankan Syariah Modern Nuraini Kaloko; Siti Aisyah Hutabarat; Reni Ria Armayani Hasibuan
Mekar: Jurnal Dinamika Manajemen dan Akuntansi Modern Vol. 1 No. 3 (2026): September: Mekar: Jurnal Dinamika Manajemen dan Akuntansi Modern
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/mekar.v1i3.285

Abstract

Perkembangan pesat perbankan syariah sebagai alternatif sistem perbankan konvensional berbasis bunga didorong oleh klaim normatif bahwa seluruh kegiatannya bebas dari riba, gharar, dan maisir. Namun, pada tataran praktik, para pengkritik sering mempertanyakan substansi operasionalnya yang didominasi oleh pembiayaan murabahah dengan margin tetap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana praktik perbankan syariah modern konsisten dengan klaim bebas riba melalui evaluasi struktur produk, mekanisme penetapan harga, dan relasi kontraktualnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain tinjauan pustaka (literature review) sistematis. Data dikumpulkan dari jurnal ilmiah bereputasi, buku akademik, dan dokumen regulasi, dengan fokus pada publikasi 10–15 tahun terakhir, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik-kritis. Temuan menunjukkan bahwa meskipun secara normatif dan regulatif bank syariah dirancang bebas riba melalui akad formal dan pengawasan syariah, praktik empiris masih menunjukkan adanya celah potensi unsur riba terselubung. Dominasi penggunaan margin tetap yang merujuk pada tolok ukur suku bunga konvensional menciptakan substansi ekonomi yang menyerupai kredit konvensional. Dapat disimpulkan bahwa "bebas riba" dalam perbankan syariah kontemporer masih menjadi idealitas normatif daripada realitas empiris yang sepenuhnya terwujud. Kesenjangan ini menegaskan pentingnya penguatan kepatuhan syariah, optimalisasi pengawasan kelembagaan, serta inovasi produk keuangan yang memprioritaskan skema bagi hasil dibandingkan replikasi komersial.