Waton, Muhammad Nasrul
Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Penerapan Problem Solving Bermedia Math Wheel untuk Meningkatkan Kemampuan Berhitung Siswa Kelas 1 MI Al-Hidayah Banjarejo Muhammad Nasrul Waton; Vivi Afbrifani; Miftah Sya’bani Imama
Abnauna: Jurnal Ilmu Pendidikan Anak Vol. 5 No. 02 (2026): Juli
Publisher : Prodi PGMI Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/jurnalilmupendidikananak.v5i02.4652

Abstract

Model pembelajaran dan media pembelajaran adalah salah satu komponen penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran problem solving dengan media math wheel adalah salah satu model dan media pembelajaran yang dapat membantu memberi pemahaman konsep pengurangan matematika dalam menyelesaikan perhitungan dalam soal cerita. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berhitung siswa kelas 1 dengan penerapan model pembelajaran problem solving dengan media math wheel. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model Kurt Lewin dengan pendekatan kualitatif. Penerapan model pembelajaran problem solving dengan media math wheel ini dilakukan dengan 2 siklus setiap siklusnya terdiri dari empat tahapan yakni perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Hasil dari penerapan model pembelajaran problem solving dengan media math wheel ini terbukti berhasil dan dapat meningkatkan kemampuan berhitung siswa hal ini dibuktikan dengan hasil pada siklus I  rata-rata kemampuan berhitung siswa 73,8 dengan presentase ketuntasan kemampuan berhitung sebesar 55 %. Hasil ini meningkat pada siklus II menjadi 82, 8 dengan presentase ketuntasan kemampuan berhitung siswa menjadi 100%. Kelebihan dari penerapan model pembelajaran problem solving dengan media math wheel adalah siswa menjadi lebih aktif, berinisiatif, dan bertanggung jawab. Kekurangannya adalah memerlukan alokasi waktu yang lama dan tingkat kesulitan dalam menentukan suatu masalah yang sesuai dengan tingkat berfikir kelas fase rendah.
Ilmu dan Agama dalam Perspektif Filsafat Ilmu Muhammad Afton Rosyidi; M. Yunus Abu Bakar; Muhammad Nasrul Waton
Kartika: Jurnal Studi Keislaman Vol. 6 No. 2 (2026): Kartika: Jurnal Studi Keislaman (May)
Publisher : Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) PCNU Kabupaten Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59240/kjsk.v6i2.708

Abstract

Science and religion, within the perspective of philosophy of science, are closely interconnected, where science not only deals with empirical facts but also touches upon dimensions of value, ethics, and the meaning of life domains that belong to religion. Conversely, religion continues to interact with technological developments in understanding reality. This study examines the relationship between the two through a philosophical approach by exploring their ontological, epistemological, and axiological aspects, employing a descriptive-analytical method to analyze the views of Karl Popper, Thomas Kuhn, Stephen Jay Gould, and Alvin Plantinga. The findings indicate that science and religion are not mutually negating domains; rather, they can be positioned in a dialogical and integrative relationship. Ontologically, both are grounded in the same reality but from different perspectives; epistemologically, they possess distinct yet complementary validation methods; and axiologically, science provides a rational-empirical framework while religion offers value orientation, meaning, and ultimate purpose. This integration implies the importance of curricula and research that are not value-free but value-bound, ensuring that technological progress remains within ethical-spiritual corridors. The novelty of this research lies in synthesizing the thoughts of modern Western philosophers of science with the axiological dimension of religion, creating an integrative model relevant for civilization development in the era of technological disruption, transcending the mere theoretical debate between science and faith