Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

ANALISIS WACANA KRITIS MODEL TEUN A. VAN DIJK TERHADAP LAGU KERONCONG SAMUDRA BIRU DAN LANGGAM PELABUHAN SAMUDRA BIRU KARYA SYAKH A.S PANJI GUMILANG Irsyaduzzaki; Muhammad N. Abdurrazaq; Sobirin
Jurnal komunikan Vol. 5 No. 1 (2026): Komunikan: Jurnal Komunikasi dan Dakwah
Publisher : Departemen Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30993/jurnalkomunikan.v5i1.644

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh lahirnya dua karya seni musik beraliran keroncong yang diciptakan oleh A.S. Panji Gumilang berjudul Keroncong Samudra Biru dan Langgam Pelabuhan Samudra Biru beriringan dengan program Blue Economy yang beliau canangkan. Lagu dengan nuansa tradisional di era globalisasi mulai tersisih, padahal kerap mengandung makna yang mendalam. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi struktur kedua lagu karya Syaykh A.S. Panji Gumilang tersebut, serta memahami keterkaitan antara kognisi sosial dan konteks sosial dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis model Teun A. van Dijk. Data penelitian baik primer maupun sekunder dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan kedua lagu bertemakan kemaritiman dan seruan perjuangan pembangunan lokal dan nasional. Skemanya terdiri atas pembuka: narasi geografis, pengembangan tema: pesan nasionalisme, spiritualitas dan solidaritas, dan penutup: seruan untuk membangun dan memajukan negri tercinta. Kebahasaan yang digunakan dalam teks wacana bersifat arif dan lugas. Wacana terbukti dapat memengaruhi persepsi, cara pandang (perspektif), interpretasi, berperan pada pembentukan visi, misi, serta orientasi hidup suatu individu atau kelompok. Kedua lagu menyiratkan kandungan nilai-nilai yang terkait dengan kognisi sosial dan konteks, diantaranya nilai ideologis dan nasionalisme, nilai spiritualitas dan keimanan yang menekankan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan, serta nilai solidaritas, menjunjung persatuan dan kesatuan untuk kemajuan bangsa.
MAKNA DAN PEMAHAMAN PESAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN MUHADHARAH PADA SANTRI ANGKATAN XXVI MADRASAH TSANAWIYAH MA’HAD AL-ZAYTUN Fairuz Zein Al-Mas’Udi; Elang Burkhanudin H; Sobirin
Jurnal komunikan Vol. 5 No. 1 (2026): Komunikan: Jurnal Komunikasi dan Dakwah
Publisher : Departemen Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30993/jurnalkomunikan.v5i1.653

Abstract

Penelitian ini menelaah secara komprehensif bagaimana pentingnya kajian komunikasi dalam melihat proses penyampaian dan penerimaan pesan berlangsung dalam konteks pembelajaran kegiatan Muhadharah sangat dipengaruhi oleh pesan yang disampaikan sehingga mampu dipahami dan dimaknai oleh para santri, baik sebagai penyampai maupun sebagai pendengar. Tujuan skripsi ini untuk menjelaskan pemahaman Para Santri tentang makna komunikasi. Penelitian ini juga untuk menjelaskan pemahaman pesan komunikasi dalam pembelajaran Muhadharah pada Santri Angkatan XXVI Madrasah Tsanawiyah Ma’had Al- Zaytun. Penelitian ini menggunakan metode utama yaitu, metode kualitatif. data yang diperoleh untuk penelitian ini melalui wawancara lapangan mendalam kepada Santri Angkatan XXVI. Madrasah Tsanawiyah Mahad Al-Zaytun yang bejumlah 4 informan dan 1 guru pembimbingi dari bagian kurikulum. Pengambilan data akurat dengan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan Bahwa pemahaman Santri angkatan XXVI Madrasah Tsanawiyah Ma’had Al-Zaytun Tentang Makna Komunikasi sudah cukup baik, meskipun masih sederhana dan beragam sesuai dengan pemahaman masing-masing. Para santri memaknai komunikasi sebagai sarana berbicara, bertukar pikiran, menyampaikan perasaan, hingga berbagi ilmu kepada orang lain. Mereka juga mulai memahami bahwa komunikasi tidak hanya sebatas ucapan, tetapi meliputi kemampuan mendengarkan, sikap, ekspresi, bahasa tubuh, serta menjaga etika berbicara. Bahwa pemahaman Santri angkatan XXVI Madrasah Tsanawiyah Ma’had Al-Zaytun menjadikan kegiatan Muhadharah bukan hanya sebagai latihan berbicara, tetapi sebagai sarana pembelajaran komunikasi yang menyeluruh. membentuk santri yang tidak hanya cakap berbicara di depan umum, tetapi juga berakhlak mulia, percaya diri, dan siap berperan sebagai komunikator yang efektif di masyarakat