Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Uji Aktivitas Antidiabetes Akar Kayu Kuning (Arcangelisia flava) Fatmawati; Susilawati; Liniyanti D Oswari; Dzakiyah; Fahira Anindita
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 7 No. 3 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v7i3.151

Abstract

Penelitian ini menggunakan ekstrak akar kayu kuning (Arcangelisia flava) untuk melihat aktifitas sebagai antidiabetes yang dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur wistar yang diinduksi aloksan. Rancangan penelitian ialah studi eksperimental secara in vivo dengan pendekatan post test with control group design. Penelitian ini menggunakan 70 ekor tikus dan dibagi secara acak menjadi 14 kelompok dengan jumlah tikus lima ekor perkelompok yaitu kontrol negatif (NaCMC 0,5%), kontrol positif (acarbose 4,5 mg/kgBB), ekstrak heksana akar kayu kuning(dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB), ekstrak etil asetat akar kayu kuning (dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB), ekstrak etanol akar kayu kuning (dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB), dan ekstrak aquades akar kayu kuning (dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB). Seluruh kelompok diinduksi dengan aloksan 160 mg/kgBB sehingga mempunyai glukosa darah sewaktu ≥200 mg/dL (pretest). Setelah 15 hari diberi perlakuan, dilakukan pengukuran glukosa darahnya (posttest). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol dosis 750 mg/kgBB, ekstrak etil asetat (dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB) dan ekstrak aquadest (dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB) memiliki kemampuan menurunkan kadar glukosa darah dan hanya etil asetat dosis 750 mg/kgBB, aquadest dosis 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB yang mampu menurunkan kadar glukosa darah hampir menyerupai kontrol positif (acarbose). Dari hasil uji fitokimia didapatkan adanya alkaloid dan flavonoid di dalam ekstrak etanol, etil asetat dan aquades, dan tannin hanya terdapat dalam ekstrak etanol dan etil asetat.
Uji Aktivitas Penghambatan Enzim -glucosidase Ekstrak Air dan Ekstrak Etanol Kayu Kuning (Arcangelisia flava) Fatmawati; Susilawati; Liniyanti D. Oswari; Fadiya; Nadya
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v8i1.163

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktifitas penghambatan kerja enzim α-glucosidase oleh ekstrak air dan ekstrak etanol dari daun, batang dan akar dari kayu kuning (Arcangelisia flava) secara in vitro. Aktifitas enzim - glukosidase diukur pada panjang gelombang 400 nm berdasarkan jumlah p-nitrofenol yang dihasilkan. Daya hambat kerja enzim -glukosidase ini dilihat dari nilai IC50. Dari nilai IC50 untuk ekstrak air daun, batang dan akar sebesar 195,161; 138,9881 dan 48,68632 g/mL dan ekstrak etanol daun, batang dan akar sebesar 365,8793; 123,0814 dan 66,9616 g/mL, bagian akar mempunyai potensi yang lebih baik untuk menghambat aktifitas enzim -glukosidase daripada bagian daun dan batang kayu kuning, dimana ekstrak air akar kayu kuning mempunyai potensi paling baik untuk menghambat kerja enzim -glukosidase daripada ekstrak lainnya walaupun potensinya lebih rendah dari acarbose. Dari uji fitokimia didapatkan pada ekstrak air dan ekstrak etanol daun mengandung alkaloid, flavonoid, triterpenoid, saponin dan tanin, dan pada ekstrak air maupun ekstrak etanol batang kayu kuning mengandung alkaloid, flavonoid, triterpenoid, dan saponin, sedangkan pada ekstrak air akar terdapat alkaloid, flavonoid, triterpenoid dan tanin, dan pada ekstrak etanol akar mengandung alkaloid, flavonoid, triterpenoid, saponin dan tanin. Ekstrak air dan ekstrak etanol dari akar kayu kuning (Arcangelisia flava) berpotensi menghambat kerja enzim α-glucosidase.
HUBUNGAN KEBIASAAN OLAHRAGA DENGAN KADAR ANTIBODI IMMUNOGLOBULIN G SETELAH VAKSINASI COVID 19 Veny Larasati; Rohan Sabloak; Riana Sari Puspita Rasyid; Eka Febri Zulissetiana; Susilawati; Soilia Fertilita
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v10i1.329

Abstract

Kebiasaan olahraga identik dengan konsep FITT (Frequency, Intensity, Type, Time) untuk menentukan efektifitas dari olahraga yang dilakukan. Sistem imun tubuh responsif terhadap kebiasaan berolahraga sehingga mampu meningkatkan respon imun terhadap antigen penyusun yang terdapat di dalam vaksin. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui hubungan antara kebiasaan olahraga dengan respon imun pasca vaksinasi COVID-19 di Kota Palembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional terhadap individu yang mendapatkan inactivated vaccine COVID-19 dosis kedua, dengan pengambilan sampel secara consecutive sampling dengan 78 sampel. Data pada penelitian diambil dengan wawancara mengenai kebiasaan olahraga 1 bulan sebelum vaksinasi, serta dilakukan pengambilan sampel darah vena sebanyak 5 cc pada ±28-30 hari setelah vaksinasi kedua. Darah diproses menjadi serum untuk pemeriksaan kadar IgG anti s1 RBD SARS-CoV-2 menggunakan kit produksi Abbott dengan metode CMIA. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji Pearson’s Chi-squared atau uji Fisher’s Exact dan/atau uji penggabungan sel sebagai alternatif. Pada penelitian ini distribusi frekuensi sampel dominan pada usia dewasa muda (56,4%), jenis kelamin perempuan (52,6%) dan kadar IgG rendah (52,6%). Interval kadar IgG pada sampel adalah 42,1 – 12971,3 AU/mL, dengan rata- rata kadar IgG 1494,95 AU/mL dan median 794,35 AU/mL. Sebaran data dominan pada kelompok dengan kebiasaan olahraga (64,1%), frekuensi olahraga kurang ideal (33,3%), jenis olahraga aerobik (59%), intensitas olahraga ringan (46,2%), dan durasi olahraga sangat lama (20,5%). Tidak diperoleh hubungan yang signifikan antara kebiasaan olahraga (frekuensi, jenis, intensitas dan durasi olahraga) dengan respon imun pasca vaksinasi.
PENYULUHAN DAN PELATIHAN PEMBUATAN SALEP MENGKUDU UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI JAMUR KULIT PADA MASYARAKAT DESA TEBEDAK 2 Susilawati; Dalilah; Gita Dwi Prasasty; Dwi Handayani; Fatmawati; Hafid Syahputra
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 2 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i2.3639

Abstract

Infeksi jamur kulit seperti panu dan kurap masih sering terjadi pada masyarakat Desa Tebedak 2 akibat iklim lembap, kebiasaan higienitas yang kurang optimal, serta minimnya pemanfaatan bahan alam sebagai alternatif penanganan awal. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit jamur kulit dan melatih keterampilan pembuatan salep anti jamur berbasis ekstrak mengkudu sebagai produk herbal sederhana yang aman dan ekonomis. Metode kegiatan meliputi penyuluhan interaktif mengenai etiologi, faktor risiko, penularan, dan pencegahan infeksi jamur, pelatihan pembuatan salep ekstrak mengkudu melalui demonstrasi dan praktik langsung, serta evaluasi pengetahuan dan keterampilan menggunakan pre-test, post-test, observasi praktik, dan kuesioner. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, di mana 98% peserta menjawab benar seluruh soal pada post-test, meningkat dari pengetahuan awal yang masih terbatas terutama pada aspek faktor risiko dan PHBS. Peserta juga mampu mengikuti seluruh tahapan pembuatan salep dan menghasilkan 50 pot salep. Respons masyarakat sangat baik, ditandai tingginya antusiasme dan keinginan melanjutkan praktik pembuatan produk herbal secara mandiri. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa penyuluhan dan pelatihan pembuatan salep ekstrak mengkudu efektif meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam pencegahan serta penanganan awal infeksi jamur kulit.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN PRODUKSI TEMPE SEHAT DI DESA TEBEDAK 2, KABUPATEN OGAN ILIR, SUMATERA SELATAN Tiara Ramadaini; Hermansyah; Susilawati; Laela Mukaromah; Addy Rachmat
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 2 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i2.3644

Abstract

Desa Tebedak 2 kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan Ilir  Sumatera Selatan memiliki potensi pengembangan pangan berbasis kedelai, namun pengetahuan masyarakat mengenai gizi serta keterampilan teknis produksi tempe masih terbatas, sehingga desa belum memiliki produsen tempe lokal. Kondisi ini berimplikasi pada rendahnya pemanfaatan tempe sebagai sumber protein nabati dan hilangnya peluang usaha berbasis pangan fermentasi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai nilai gizi tempe serta melatih keterampilan teknis pembuatan tempe sehat sebagai langkah menuju kemandirian pangan dan pengembangan UMKM desa. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan, demonstrasi proses produksi tempe menggunakan Rhizopus oligosporus, serta praktik mandiri yang diikuti evaluasi melalui pre–test, post–test, dan kuesioner kepuasan. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 33,68% dan penilaian sangat baik dari mayoritas responden (39 dari 43 responden menyatakan materi “baik sekali”). Produk tempe hasil praktik menunjukkan warna putih merata, tekstur padat, dan aroma khas fermentasi, menandakan keberhasilan transfer keterampilan. Peserta menilai kegiatan relevan, aplikatif, dan bermanfaat untuk membuka peluang usaha baru. Dukungan perangkat desa menguatkan rencana pembentukan kelompok usaha “Tempe Sehat Tebedak”. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan masyarakat serta memberikan dasar bagi pengembangan ekonomi berbasis pangan lokal.