Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

APLIKASI TEKNOLOGI BIO-DRYING UNTUK PROSES PENGERINGAN SAMPAH ORGANIK MENJADI BAHAN BAKAR Eko Naryono; Cucuk Evi Lusiani; Ariani Ariani; Khalimatus Sa'diyah; Asrori Asrori
RESWARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v5i1.3740

Abstract

Desa Wringinsongo merupakan desa binaan dari Politeknik Negeri Malang (Polinema) sejak tahun 2020 dan menjadi mitra kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM). Berdasarkan hasil diskusi antara Jurusan Teknik Kimia, Polinema dan warga Desa Wringinsongo, salah satu masalah di desa tersebut yang dapat diselesaikan sesuai dengan bidang ilmu di Jurusan Teknik Kimia adalah pengolahan sampah menjadi bahan bakar. Permasalahan sampah yang mencemari lingkungan di Desa Wringinsongo disebabkan banyaknya sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung terutama di daerah wisata pemandian alam. Teknologi bio-drying melalui proses pengeringan sampah menjadi bahan bakar dapat digunakan sebagai alternatif solusi yang ramah lingkungan yang dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan PkM. Hal ini sejalan dengan Rencana Strategis Polinema (Renstra Polinema 2021-2025) di bidang pemeliharaan lingkungan hidup dan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) untuk Desa Binaan Polinema, Wringinsongo, Kec. Tumpang, Kab. Malang. Kegiatan PkM yang dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2022 berjalan lancar dan para peserta sangat antusias untuk mempraktikkan secara langsung pengeringan sampah organik dengan metode teknologi bio-drying untuk dijadikan sebagai bahan bakar alternatif
PENGARUH TEKANAN OPERASI SEA WATER REVERSE OSMOSIS TERHADAP KUALITAS PRODUK MELALUI SIMULASI VEOLIA DAN DATA OPERASIONAL DI PLTU PACITAN Rama Devana Putra Putra; Ariani Ariani; Jati Kamajaya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 2 (2026): June 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i2.8020

Abstract

Analisis efisiensi membran Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) pada Water Treatment Plant di PLTU Pacitan penting dilakukan untuk memastikan kinerja optimal sistem desalinasi dalam menyediakan air umpan berkualitas tinggi bagi proses pembangkitan listrik serta menekan biaya operasional dan meningkatan keandalan sistem. Penelitian ini menganalisis pengaruh tekanan operasi pada sistem SWRO terhadap konduktivitas produk yang dihasilkan. Analisis dilakukan dengan membandingkan data operasional aktual dengan hasil simulasi menggunakan perangkat lunak bawaan dari pemasok membran, yaitu software Veolia. Data primer berupa konduktivitas diambil pada rentang tekanan 25–47 bar melalui pengukuran permeat kumulatif selama periode September hingga November 2024. Hasil menunjukkan adanya korelasi negatif antara tekanan dan konduktivitas: peningkatan tekanan cenderung menurunkan konduktivitas produk (contoh: pada 47 bar → 754–914 μS/cm; pada 25 bar → 4794–9567 μS/cm). Namun demikian, ditemukan penyimpangan rata-rata sebesar 66% antara data aktual dan simulasi, yang mengindikasikan adanya penurunan kinerja membran akibat proses penuaan (aging), faktor pengotor (fouling), serta karena sudah mendekati masa akhir penggunaan (lifetime). Temuan ini menekankan pentingnya pemeliharaan membran secara berkala dan membuka peluang peningkatan efisiensi sistem SWRO secara rutin dan berkelanjutan.
SIMULASI PENGARUH SUHU LEAN GLYCOL PADA PROSES GAS DEHYDRATION UNIT DI INDUSTRI GAS ALAM Mohammad Dwiky Darmawan; Ariani Ariani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.86

Abstract

Gas dehydration merupakan proses penyerapan uap air pada campuran gas dengan absorben triethylenglycol (TEG). Salah satu alat yang berperan penting di Gas Dehydration Unit adalah Contactor. Proses yang terjadi pada contactor ini adalah proses absorpsi, dimana gas alam mengalir dari bawah kolom melewati bubble cap tray, membentuk gelembung-gelembung kecil gas di fase cair. Absorben mengalir dengan arah yang berlawanan dengan campuran gas sehingga gas yang keluar contactor kandungan airnya berkurang. Di Industri sering terjadi masih tingginya kandungan air di fase gas yang keluar. Ini perlu diturunkan dengan melakukan uji coba menggunakan metode simulasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh suhu absorben TEG (lean glycol) terhadap kandungan air dan methane di fase gas keluar (dry gas). Metode yang digunakan adalah simulasi sensitivity study berbasis perangkat lunak. Data masukan didapat dari data harian gas flow computer (GFC) di Industri. Berdasarkan hasil simulasi kondisi terbaik didapatkan pada suhu 45℃ dengan kandungan air di dry gas sebesar 1,0328 kg/jam dan fraksi mol methane sebesar 0,8967.
PENGARUH DOSIS BIOCIDE TERHADAP JUMLAH KOLONI PADA PENGENDALIAN BIOFOULING DI FEED WATER SWRO PLTU Indah Sukmawati; Fariha Afidati; Ariani Ariani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.211

Abstract

Pada water treatment plant sea water reverse osmosis (SWRO) sering terjadi pembentukan akumulasi padatan (fouling) yang tidak diinginkan dan tertahan di permukaan membran. Fouling yang disebabkan oleh pertumbuhan mikro/makro organisme disebut sebagai biofouling. Pertumbuhan biofouling yang tidak terkendali dapat menyumbat dan menginaktivasi permukaan membran, hal ini menyebabkan naiknya tekanan osmotik atau differential pressure (DP) antara inlet dan outlet pada reverse osmosis (RO). Tingginya DP pada RO ditandai dengan banyaknya koloni bakteri pada aliran keluar yang tidak digunakan (reject). Kondisi ini mengakibatkan dilakukannya proses pembersihan membran RO (cleaning) sebagai upaya untuk meningkatkan kembali performa membran. Salah satu bahan kimia yang dapat mengendalikan pertumbuhan koloni pada RO disebut biocide, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh dosis biocide terhadap jumlah koloni. Pengendalian biofouling menggunakan metode pemberian dosis secara berkelanjutan (continuous) dengan variabel dosis 7%, 10%, dan 15%. Pertumbuhan biofouling dan DP pada reject RO diamati setiap waktu serta dihitung menggunakan metode petrifilm. Metode continuous dosage dengan dosis tersebut dapat mencegah tingginya pertumbuhan biofouling pada membran RO dalam durasi 7 hari. Metode ini dapat menonaktifkan pertumbuhan biofouling namun tidak dapat mengembalikan jumlah koloni pada kondisi awal yang disebabkan oleh adanya biofilm pada membran.
PENGOLAHAN TEMPURUNG KELAPA MENJADI ARANG DAN ASAP CAIR DENGAN METODE SEMI-BATCH PYROLYSIS Dewi Ratna Sari; Ariani Ariani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.236

Abstract

Biomassa sangat melimpah di Indonesia, salah satu yang sangat melimpah yaitu pohon kelapa. Di Indonesia pemanfaatan buah kelapa baru sebatas daging buahnya untuk dijadikan santan, kopra dan minyak. Untuk tempurung kelapa hanya sebatas dibakar untuk menghasilkan arang sehingga perlu dilakukan pemanfaatan agar tidak mencemari lingkungan serta diharapkan dapat menjadi sumber energi alternatif bagi masyarakat maupun industri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu reaktor, dan waktu proses terhadap yield arang dan asap cair yang dihasilkan. Serta menganalisis arang dan asap cari yang dihasilkan dari proses pirolisis. Dengan metode semi-batch pyrolysis yang dilakukan pada tempurung kelapa sebanyak 1000 g digunakan peubah suhu 350, 400, 450℃ dan waktu proses 60, 80, 100 menit. Yield arang yang dihasilkan berkisar 33,25% dan yield asap cair berkisar 43,52%. Hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh suhu yaitu semakin tinggi suhu maka yield arang yang dihasilkan semakin rendah sedangkan yield asap cair semakin tinggi. Pengaruh dari waktu proses yaitu semakin lama waktu proses, yield arang yang dihasilkan semakin rendah dan yield asap cair semakin tinggi.
PEMBUATAN BIOBRIKET DARI LIMBAH KOPI DAN SEKAM PADI SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Safira Fausta Ramadhani; Muhammad Jundi Utama; Ariani Ariani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.224

Abstract

Limbah kopi dan sekam padi sebagai biomass memiliki nilai kalor unsur karbon mencapai 40-43% dan kandungan sulfur yang rendah, sehingga industri memiliki inisiatif untuk menjadikan limbah kopi dan sekam padi sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara. Namun, bahan tersebut masih memiliki kadar air yang tinggi dan nilai kalor yang kurang memenuhi. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan nilai kalor dan mengurangi kadar air serta gas emisi dengan cara mengolah bahan tersebut menjadi briket. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan rasio terbaik antara kopi dan sekam. Pembuatan briket ini dilakukan pada variabel suhu non karbonisasi, karbonisasi 200oC, karbonisasi 500oC, karbonisasi S200oC (karbonisasi sekam pada 200oC) dan karbonisasi K500oC (karbonisasi kopi pada 500oC), dengan rasio komposisi yaitu K2P8 (kopi 20% dan sekam 80%), K3P7, K4P6, dan K5P5. Pembuatan briket ini dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu persiapan bahan baku, pemanasan awal, perlakuan karbonisasi, size reduction dan screening, pembriketan, pemanasan akhir, dan pengujian kualitas briket berupa proximate, nilai kalor, dan gas emisi. Mutu produk yang diperoleh dibandingkan dengan standar baku mutu Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Peraturan Mentri Energi dan Sumber Daya Mineral. Dari hasil penelitian didapatkan sampel biobriket terbaik pada sampel blanko kopi dengan karbonisasi 500oC dan pada rasio komposisi sampel K5P5 pada semua variabel suhu karbonisasi.
PENGARUH JENIS CAMPURAN BATUBARA TERHADAP KEBUTUHAN ALKALI AIR LAUT DALAM MENYERAP GAS SO2 HASIL PEMBAKARAN BATUBARA DI PT PAITON OPERATION AND MAINTENANCE INDONESIA Gerda Safira Romadhona; Rizqina Kautsarrany; Ariani Ariani; Erwan Yulianto
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i3.473

Abstract

Menipisnya jumlah batubara dari sumber yang lama, yaitu Adaro dan Kideco, membuat PT POMI saat ini melakukan pencampuran dengan sumber yang baru, diantaranya Baramulti, Jembayan, danTitan. Namun, dari jenis batubara baru memiliki kandungan sulfur yang lebih tinggi sehingga meningkatkan potensi pencemaran  udara apabila gasSO2 hasil pembakaran tidak terserap sepenuhnya oleh air laut. Perlu dilakukan penelitian terhadap pengaruh total sulfur dalam campuran batubara terhadap air laut dalam menyerap gas hasil pembakaran dan perkiraan kebutuhan alkali air laut dalam menyerap gas SO2 berdasarkan kadar SO42-. Penelitian  melibatkan proses pembakaran 50 gram batubara dan penyerapan gas hasil pembakaran oleh 500 mL air laut  menggunakan sistem batch. Rasio campuran batubara sejumlah 4:2 dengan variasi campuran, yaitu  Adaro:Baramulti, Adaro:Jembayan, Adaro:Titan, Kideco:Baramulti, Kideco: Jembayan, dan Kideco:Titan. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa Kideco:Titan (4:2) dengan total sulfur sebesar 0,163% memberi pengaruh  terbesar terhadap keterserapan gas SO2 oleh air laut dengan penurunanpH dan alkalinitas paling banyak, serta  kadar SO42- paling tinggi. Kebutuhan alkali air laut dalam menyerap gas SO2 yang paling tinggi untuk pembakaran  batubara Adaro:Baramulti (4:2) sebesar 0,125 gram.
STUDI KARAKTERISTIK BRIKET CAMPURAN USED CARBON DAN SLUDGE INDUSTRI BIOTEKNOLOGI DENGAN ANALISA PROKSIMAT DAN NILAI KALOR Farida Kusuma Wardani; Ariani Ariani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4174

Abstract

Used carbon merupakan limbah dari proses produksi pada industri bioteknologi yang tergolong ke dalam limbah B3, sedangkan sludge IPAL yang dihasilkan oleh industri bioteknologi tidak termasuk dalam limbah B3. Kedua limbah tersebut wajib dikelola oleh pihak industri yang bersangkutan karena dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, yaitu apabila terbawa aliran air hujan dan masuk ke dalam badan air, maka dapat menurunkan kualitas air dan merusak ekosistem air. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh limbah tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan limbah sebagai bahan baku sumber energi alternatif berupa briket dengan memanfaatkan nilai kalor yang terkandung pada limbah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas terbaik dari briket campuran used carbon dan sludge untuk dijadikan sumber energi alternatif. Metode penelitian diawali dengan karakterisasi bahan baku dan dilanjutkan pembuatan produk briket. Briket berbahan baku used carbon kemudian ditambahkan bahan baku tambahan berupa sludge yang dicampur dengan perbandingan 4:1, 2:1, dan 1:1 pada masing-masing ukuran 60 mesh, 40 mesh dan 20 mesh. Briket yang dihasilkan kemudian dilakukan analisa proksimat dan dilakukan perbandingan dengan SNI 4931 Tahun 2010. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh briket dengan kualitas terbaik pada ukuran 60 mesh dengan perbandingan 4:1, kadar air 7,52%%, kadar abu 12,21%, volatile matter 35,59%, fixed carbon 44,68% dan nilai kalor 5.070,52 kal/g yang telah memenuhi standar SNI 4931 Tahun 2010.
ANALISIS PENGARUH TEKANAN VAKUM PADA ROTARY VACUUM FILTER (RVF) TERHADAP %POL BLOTONG Alfira Insani Fadhilah; Ariani Ariani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4202

Abstract

Pada proses pemisahan/ filtrasi di beberapa industri gula menggunakan alat Rotary Vacuum Filter (RVF). Salah satu faktor pengaruh kapasitas produk gula yang dihasilkan adalah proses pemisahan nira dan kotorannya pada alat Rotary Vacuum Filter (RVF) dalam produksi gula di stasiun pemurnian. RVF yang terpasang di beberapa industri gula umumnya dapat memisahkan nira dan kotorannya menghasilkan nira tapis dan blotong dengan tekanan high vakum optimum sebesar -40 cmHg hingga -45 cmHg dan %pol blotong sebesar 0,25 – 3%. Akan tetapi, terjadi perubahan tekanan vakum menjadi -20 cmHg hingga -30 cmHg yang mengakibatkan nilai %pol blotong meningkat menjadi lebih besar dari 3% sehingga berdampak pada jumlah produk gula yang dihasilkan menurun. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis pengaruh tekanan vakum yang diberikan pada RVF terhadap %pol blotong. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dampak dari perubahan tekanan high vakum pada RVF terhadap nilai %pol blotong guna mencegah terbuangnya nira dalam blotong. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengamatan pada alat RVF di lapangan kemudian dilakukan perhitungan kehilangan gula dalam blotong seiring meningkatnya nilai %pol pada blotong menggunakan Microsoft excel. Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan pada tekanan high vakum sebesar -20 cmHg (%pol = 3,97), -30 cmHg (%pol = 3,14), dan -40 cmHg (%pol = 1,78) menunjukkan bahwa semakin besar tekanan high vakum RVF maka semakin tinggi juga nilai %pol blotong yang dihasilkan sehingga berakibat pada kapasitas produk gula yang semakin menurun dari kapasitas produk yang ditargetkan tiap tahunnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan high vakum RVF yang efektif dalam menghasilkan nilai pol blotong rendah yaitu -40 cmHg.
PENGARUH PENURUNAN SUHU GAS ALAM DI DALAM COOLER TERHADAP KEMAMPUAN PENYERAPAN GAS H2S PADA UNIT ACID GAS REMOVAL Imroatul Afifah; Ariani Ariani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i3.5057

Abstract

Gas alam adalah salah satu sumber daya alam Indonesia yang ketersediaannya melimpah sehingga dilakukan proses pengolahan menjadi gas siap pakai. Salah satu parameter yang menentuka kualitas produk gas yaitu terbebas dari gas asam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penurunan suhu terhadap kemampuan penyerapan gas asam berupa H2S. Proses penyerapan gas asam pada industri ini terjadi di absorber dengan absorbent berupa a-MDEA. Absorber merupakan alat yang digunakan untuk proses penyerapan fluida gas oleh absorbent. Proses absorpsi gas asam oleh a-MDEA di absorber ini memerlukan suhu yang rendah agar lebih maksimal. Oleh karena itu  sebelum masuk ke dalam absorber, gas akan didinginkan terlebih dahulu pada unit pendingin. Pengambilan data dilakukan pada saat pergantian shift selama 4 hari. Data menunjukkan  bahwa nilai penurunan suhu gas di alat pendingin tidak di pengaruhi oleh jumlah gas alam yang masuk untuk  diolah namun dipengaruhi oleh suhu lingkungan sekitar. Nilai penurunan suhu gas terendah per hari umumnya  terjadi pada pengambilan data pukul 07.00 WIB yaitu mencapai 16,33 °F dan penurunan suhu gas tertinggi  umumnya terjadi pada pengambilan data pukul 23.00 WIB yaitu mencapai 20,06 °F. Sedangkan keberadaan gas  H2S terbesar 0,63 ppm dan terkecil 0,02 ppm Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai penurunan suhu gas di alat pendingin, maka kualitas gas yang di hasilkan akan semakin rendah kadar impuritis.