Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

RESPON PERTUMBUHAN TEBU (SACCHARUM OFFICINARUM L.) PADA KEDALAMAN JURINGAN DAN DOSIS PUPUK P YANG BERBEDA Ivanovich Rahman; Rina Ekawati; Anna Kusumawati
AGROISTA : Jurnal Agroteknologi Vol. 6 No. 1 (2022): MEI
Publisher : Program Studi Agroteknologi INSTIPER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.564 KB) | DOI: 10.55180/agi.v6i1.230

Abstract

Sugarcane (Saccharum officinarum) can grow well in soil and environmental conditions that are under growing requirements and accompanied by good management also. The land is a natural resource with a permanent nature, while the human need for land continues to increase and the high need for nutrients in sugarcane causes a rapid decline in nutrients in the soil, especially monoculture sugarcane. This study aims to determine the effect of the response of sugarcane growth on the depth of juringan and the dosage of P fertilizer. The experiment was carried out at Wedomartani Experimental Garden, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta from January to March (3 months). The experiment used a factorial randomized block design. The first factor is the depth of the rod with three treatments, namely: the depth of the rod 15 cm (K0), the depth of the rod 30 cm (K1), and the depth of the rod 45 cm (K2). The second factor was the dosage of P fertilizer with three treatments, namely: without P fertilizer (P0), P fertilizer 13 g / seed (P1), and P fertilizer 22 g / seed (P2). Six treatment combinations were repeated three times so that there were 27 experimental units. Each experimental unit consisted of two plants, so there were a total of 54 plants. The results showed that there was no interaction between the different depths of the net and the dosing of P fertilizer on all observed variables. Application of different P fertilizers had a single effect on plant height, number of tillers, and leaves. Application of P fertilizer (22 g / seed) resulted in higher plant height and number of tillers compared to without P fertilizer. Keywords: monoculture, phosphorus, sugarcane, production.
Pemanfaatan Abu Sekam Padi dan Arang Kayu Sebagai Salah Satu Alternatif Penggunaan Top Soil untuk Media Tanam Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery Arif Triansyah Putra; Rina Ekawati
Agroteknika Vol 6 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v6i2.204

Abstract

Penggunaan media tanam merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam pembibitan kelapa sawit. Media tanam berperan sebagai media tumbuh dan penyedia unsur hara dan air. Penggunaan top soil sebagai media tanam telah banyak dilakukan dan kemungkinan keberadaannya akan berkurang. Penggunaan abu sekam padi dan arang kayu dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sebagai media tanam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji respons pertumbuhan dan biomassa bibit kelapa sawit terhadap pemberian abu sekam padi dan arang kayu sebagai media tanam di pre-nursery. Penelitian ini dari April sampai Juli 2022 di kebun percobaan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Percobaan mengimplementasikanmenggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Faktor pertama dan kedua berturut-turut adalah komposisi abu sekam padi dan arang kayu dengan masing-masing faktor terdiri dari empat taraf perlakuan, yaitu: 0, 10, 20, dan 30%. Terdapat 16 kombinasi perlakuan dengan pengulangan tiga kali. Pengaruh interaksi yang signifikan terhadap pemberian kombinasi perlakuan abu sekam padi dan arang kayu terlihat pada peubah tinggi bibit pada umur 10 dan 12 minggu setelah tanam (MST), bobot segar dan kering pucuk, dan bobot segar akar bibit kelapa sawit. Tinggi bibit, bobot segar dan kering tajuk, serta bobot segar akar bibit kelapa sawit tertinggi diperoleh pada saat aplikasi abu sekam padi (20%) tanpa penambahan arang kayu (0%). Bobot kering dan panjang akar bibit kelapa sawit tidak dipengaruhi oleh komposisi abu sekam padi dan arang kayu.