Peningkatan mobilitas global mendorong bertambahnya komunitas migran, termasuk anak-anak Indonesia yang tumbuh di lingkungan sosial dan budaya berbeda dari negara asalnya. Kondisi ini menimbulkan tantangan dalam pembinaan karakter, penguatan identitas budaya, dan kemampuan beradaptasi di masyarakat multikultural. Sanggar Bimbingan di Malaysia berperan sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi anak-anak pekerja migran Indonesia, namun pembinaan karakter di lembaga tersebut masih memerlukan pendekatan yang lebih kontekstual melalui pemanfaatan nilai budaya lokal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mentransfer nilai-nilai kearifan lokal Mandailing sebagai strategi interkultural dalam pembinaan karakter anak Sanggar Bimbingan di Malaysia. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap inti menggunakan pendekatan partisipatif melalui pengenalan budaya Mandailing, storytelling, permainan edukatif, diskusi reflektif, dan praktik sikap. Nilai utama yang ditanamkan meliputi holong (kasih sayang), hasangapon (kehormatan), dan hapantunon (kesantunan). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan partisipasi peserta, keberanian berpendapat, kemampuan berinteraksi sosial, serta sikap saling menghargai. Peserta juga mulai memahami pentingnya kasih sayang, sopan santun, dan penghormatan terhadap sesama. Selain itu, kegiatan ini berkontribusi dalam memperkuat identitas budaya anak migran. Dengan demikian, transfer nilai kearifan lokal Mandailing dapat menjadi model pendidikan karakter yang kontekstual, inklusif, dan relevan bagi komunitas migran Indonesia di luar negeri.