Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pernikahan Wanita Janda Perspektif Syafiq Riza Basalamah Salma; Nurul Fahmi, Muhammad
Jurnal Al-Qadau: Peradilan dan Hukum Keluarga Islam Vol 10 No 2 (2023): Desember
Publisher : Jurusan Hukum Acara Peradilan dan Kekeluargaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-qadau.v10i2.42617

Abstract

The status of a widowed woman is a difficult and emotional challenge because they must take care of their needs and their children alone, and they also have to feel the psychological burden of the surrounding community, because society in general still views widow status negatively. Widowed women, if they decide to remarry after a divorce, are underestimated by most people and even labeled with negative things. This research was conducted with the author raising the perspective of an Ahlusunnah da'i, namely Syafiq Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basalamah. He is an Ahlusunnah da'i who often discusses Islamic law and marriage based on the foundation of the Qur'an and Hadith. Hence, the purpose of this study is to provide insight and information about the law of remarriage for widowed women and the wisdom of marrying widowed women from an Islamic perspective and the perspective of Syafiq Riza Basalamah. This research was conducted using a qualitative approach method that uses content analysis where data sources are obtained from YouTube videos, books, and several scientific papers. Thus, the results of this study have found that the law of remarriage for widowed women from an Islamic perspective and the perspective of Syafiq Riza Basalamah is that it is permissible not to do so and is obligatory under certain conditions, and helping widows is not only marrying but also meeting their needs.
MANAJEMEN KEUANGAN KELUARGA DALAM MEMBENTENGI KELUARGA MUSLIM DARI KASUS PERCERAIAN PERSPEKTIF SYAFIQ RIZA BASALAMAH Prima Rama Fitrilia; Muhammad Nurul Fahmi
YUSTISI Vol 11 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v11i2.16694

Abstract

Membicarakan masalah keuangan akan selalu menjadi topik yang krusial dan sensitif, apalagi jika berkaitan dengan keluarga atau rumah tangga. Cara mengatur prioritas keuangan rumah tangga adalah hal yang sangat perlu diperhatikan demi kesejahteraan hidup sebuah keluarga. Faktor ekonomi seringkali menjadi sebab dari banyaknya kasus perceraian yang terjadi di Indonesia. Pada zaman modern ini, prinsip sebagian generasi millenial dan juga generasi Z adalah mementingkan gaya hidup hingga rela berutang sana sini. Pengelolaan keuangan yang buruk akan sangat berdampak pada kondisi keuangan keluarga, pemenuhan kebutuhan pokok anggota keluarga, hingga prioritas penggunaan harta di masa depan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan arahan dan informasi kepada seluruh masyarakat khususnya masyarakat muslim baik yang akan maupun yang telah berumah tangga untuk mengetahui bagaimana manajemen keuangan keluarga yang tepat demi terwujudnya rumah tangga yang sakinah sekaligus membentengi keluarga muslim dari kasus perceraian perspektif Syafiq Riza Basalamah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik studi kepustakaan dalam pengumpulan data, dan menganalisisnya dengan metode deskriptif. hasil penelitian ini adalah dalam mewujudkan manajemen keuangan keluarga muslim yang sehat sehingga jauh dari kasus perceraian menurut Syafiq Riza Basalamah adalah dengan menanamkan keimanan dikuti rasa cukup dalam diri, bersikap pertengahan serta tidak berlebihan, dan memperhatikan skala prioritas. Kata Kunci: Manajemen Keuangan, Keluarga, Perceraian
JATAH WARISAN CUCU PEREMPUAN (Analisis Putusan Pengadilan Agama Jakarta Timur Nomor 703/Pdt.p/2021/PA.JT) Nadia Paspashafira Rafsanjani; Muhammad Nurul Fahmi
YUSTISI Vol 11 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v11i2.16695

Abstract

Warisan seringkali menjadi salah satu pemicu konflik yang sering menimbulkan perpecahan dalam keluarga. Penetapan ahli waris dan penghitungannya menjadi hal yang penting yang harus diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penetapan dari cucu perempuan dari anak perempuan yang menjadi ahli waris dalam putusan Pengadilan Agama Jakarta Timur. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode library research dan analysist document. Peneliti meneliti putusan dari Pengadilan Agama Jakarta Timur lalu mencari dasar yang diambil oleh pengadilan serta membandingkannya dengan hukum Islam. Cucu perempuan dari anak perempuan mendapatkan warisan ketika menjadi dzawil arham. Keputusan cucu perempuan dari anak perempuan menjadi ahli waris dengan dasar sebagai ahli waris pengganti adalah hal yang tidak benar dengan lemahnya dasar dari Pengadilan Agama. Kata kunci : Waris; Ahli Waris Pengganti; Cucu Perempuan
PEMBIAYAAN PERNIKAHAN BAGI LAJANG PERSPEKTIF MUHAMMAD ABDUH TUASIKAL Al 'Amali, Mayla Khayra; Fahmi, Muhammad Nurul
SANGAJI: Jurnal Pemikiran Syariah dan Hukum Vol 8 No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Syariah IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/sangaji.v8i1.2184

Abstract

Pernikahan adalah suatu ikatan yang diatur oleh agama dengan tujuan untuk menyatukan sepasang laki-laki dan perempuan dalam membentuk rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis masalah pembiayaan pernikahan bagi para lajang dan menemukan solusi pembiayaan pernikahan bagi para lajang dari perspektif Muhammad Abduh Tuasikal sehingga para lajang dapat menemukan pasangannya dan tidak bingung dengan biaya pernikahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi analisis konten. Teknik pengambilan data utama dari video kajian dan buku milik Muhammad Abduh Tuasikal dengan menambahkan referensi dari artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah pembiayaan pernikahan yang sering ditemukan oleh para lajang menurut perspektif Muhammad Abduh Tuasikal adalah masalah mahar dan walimah dengan persiapan keuangan yang tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh adat istiadat dari masing-masing daerah dan permintaan dari keluarga besar. Sedangkan solusi untuk masalah pembiayaan pernikahan bagi para lajang menurut perspektif Muhammad Abduh Tuasikal adalah sering mencari informasi kepada keluarga atau teman tentang biaya apa saja yang harus dipersiapkan, melaksanakan walimah sesuai kemampuan, dan berusaha keras dalam melaksanakan pernikahan yang mudah. Kata Kunci: Lajang, Biaya, Abduh Tuasikal.
Menikahi Janda Perspektif Muhammad Abduh Tuasikal Sumargono, Nuha Fauziyah; Fahmi, Muhammad Nurul
SANGAJI: Jurnal Pemikiran Syariah dan Hukum Vol 8 No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Syariah IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/sangaji.v8i1.2378

Abstract

Pernikahan adalah salah satu ajaran Nabi Muhammad ﷺ yang sangat ditekankan dalam Islam. Nabi menganjurkan umatnya menikahi wanita yang masih gadis. Namun Nabi sendiri menikahi beberapa wanita yang sebagian besar adalah janda, menunjukkan bahwa menikahi janda memiliki keutamaan tersendiri. Terdapat stigma di masyarakat yang memandang sebelah mata terhadap sebutan janda. Janda dianggap sebagai wanita lemah, dan tidak punya pelindung. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk mengulas permasalahan tersebut, agar dapat membantu dalam pertimbangan memilih calon istri yang berstatus janda, serta dapat mengangkat stigma negatif tentang janda. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keutamaan menikahi janda dan aturan menikahi janda menurut perspektif Muhammad Abduh Tuasikal. Pelitian ini memakai metode kualitatif dengan studi analisis konten. Teknik pengambilan data yaitu menemukan poin-poin penting dari berbagai media informasi yang selaras dengan penelitian. Adapun hasil pembahasan mengenai keutamaan menikahi janda perspektif Muhammad Abduh Tuasikal yaitu mendapat keutamaan bagaikan mujahid, serta mendapat kedudukan yang berdekatan dengan Nabi di surga. Adapun mengenai aturan menikahi janda perspektif Muhammad Abduh Tuasikal ialah janda berhak menentukan pilihan atas dirinya untuk menikah, dan menikahi janda harus dengan wali serta jatah malam pertama bagi seseorang yang berpoligami dengan janda adalah tiga hari.
CERAI TALAK KARENA ISTRI MENOLAK TINGGAL DI RUMAH SUAMI (ANALISIS PUTUSAN NO 5311/Pdt.G/2024/PA.Jr PRESPEKTIF MAQASID SYARI’AH) Munadi, Khairul; Fahmi, Muhammad Nurul
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6959

Abstract

Divorce is one of the last resort solutions permitted by Islamic law when a marriage can no longer be maintained. In practice, the granting of divorce (?alaq) by the court requires considerations that are not only formal and juridical but must also be substantive in accordance with the principles of maqa?id al-shari‘ah. This study focuses on the Decision of the Religious Court Number 5311/Pdt.G/2024/PA.Jr, which granted the husband's petition for divorce on the grounds that the wife refused to live with her husband without a clear and legitimate reason. The objective of this study is to analyze whether the wife’s behavior, as stated in the court decision, qualifies as nushuz (marital disobedience) and to examine the extent to which the judge’s considerations align with the principles of maqa?id al-?aruriyyat al-khamsah. The research uses a qualitative method with a normative-juridical approach, and data collection is conducted through literature studies encompassing classical Islamic jurisprudence (fiqh) books, works on maqa?id al-shari‘ah, and court decisions. The analysis employs a qualitative-descriptive technique to assess the compatibility of the judge’s reasoning with maqa?id al-?aruriyyat al-khamsah, focusing on four main aspects: ?if? al-din (protection of religion), ?if? al-nafs (protection of life), ?if? al-‘aql (protection of intellect), and ?if? al-nasl (protection of lineage). The findings indicate that the wife’s conduct as stated in the decision essentially constitutes nushuz. However, since no underlying reasons for such behavior are provided, it cannot be conclusively justified as nushuz in the sense of being a disobedient wife. Furthermore, the judge’s considerations are generally in line with the maqa?id al-?aruriyyat al-khamsah, as the marriage had been disharmonious for an extended period. Nevertheless, the absence of the wife’s stated reasons for refusal diminishes the legal legitimacy of the decision, as it risks fostering a one-sided stigma against the wife. ABSTRAKPerceraian merupakan salah satu solusi terakhir yang dibenarkan syariat ketika rumah tangga tidak lagi dapat dipertahankan. Dalam praktiknya, penjatuhan talak oleh pengadilan memerlukan pertimbangan yang tidak hanya formal yuridis, tetapi juga harus substantif sesuai prinsip maqa?id syari‘ah. Penelitian ini memfokuskan kajian pada Putusan Pengadilan Agama Nomor 5311/Pdt.G/2024/PA.Jr, yang mengabulkan permohonan cerai talak dengan alasan istri menolak tinggal bersama suami tanpa alasan jelas dan sah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualifikasi perilaku istri sebagaimana termuat dalam putusan sebagai bentuk tindakan nusyuz serta menelaah kesesuaian pertimbangan hakim dengan prinsip maqa?id al-?horuriyat al-khamsah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, jenis penelitian normatif-yuridis dan pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka yang mencakup kitab-kitab fikih, kitab-kitab maqa?id syari‘ah, dan putusan pengadilan dengan menggunakan teknik analisis kualitatif-deskriptif menilai kesesuaian argumentasi hakim berdasarkan maqa?id ad-dhoruriyat al-khamsah yang menitikberatkan pada empat aspek utama (?if? ad-din, hifz an-nafs, hifz al-‘aql, dan hifz an-nasl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku istri yang termuat dalam putusan pada dasarnya adalah tindakan nusyuz akan tetapi dengan  tidak dicantumkan alasan yang melatarbekangi perilaku tersebut maka tidak bisa dijustifikasikan sebagai istri nasyizah (istri pembangkang) dan bahwa pertimbangan hakim sudah sejalan dengan maqasid ad-dhoruriyat al-khamsah dengan alasan bahwa rumah tangga sudah tidak harmonis dalam kurun waktu yang lama, hanya saja dengan tidak mencantumkan alasan penolakan istri menjadikan putusan hakim mengurangi legitimasi hukum karena berpotensi menimbulkan stigma sepihak terhadap istri.
PERAN SUAMI PERFEKSIONISME DALAM MENINGKATKAN RESILIENSI KELUARGA: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR Safana 'Aidah; Muhammad Nurul Fahmi
USRAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 5 No. 1 (2024): April
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/usrah.v5i1.1299

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi peran perfeksionisme suami terhadap resiliensi keluarga melalui tinjauan literatur yang komprehensif. Penelitian ini mengakui bahwa perfeksionisme yang salah dikelola dapat memiliki dampak negatif dan mengidentifikasi berbagai faktor internal dan eksternal yang memengaruhi resiliensi keluarga. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur dan menemukan bahwa perfeksionisme suami merupakan topik yang kompleks dengan implikasi yang signifikan terhadap resiliensi keluarga. Penelitian ini merekomendasikan beberapa strategi bagi suami yang perfeksionis untuk mendukung keluarga mereka dalam menghadapi stresor kehidupan, seperti pendidikan keluarga, komunikasi interpersonal yang efektif, kesetaraan gender yang seimbang, penyesuaian pernikahan yang fleksibel, dan program psikoedukasi keluarga yang harmonis. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara perfeksionisme suami dan resiliensi keluarga, dan diharapkan penelitian ini dapat menginspirasi penelitian lebih lanjut dan membantu keluarga dalam meningkatkan resiliensinya. Kata kunci: suami; perfeksionisme; resiliensi keluarga; tinjauan literatur.
Resiliensi Istri Korban KDRT demi Anak: Analisis Maqashid Syari'ah pada Hifz Al-Nafs dan Hifz Al-Nasl Nur Azizah; Muhammad Nurul Fahmi; Umniyah Al Birtha
Al-Usariyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 4 No 1 (2026): AL-USARIYAH: JURNAL HUKUM KELUARGA ISLAM
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/al-usariyah.v4i1.1291

Abstract

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang bertentangan dengan prinsip mawaddah wa rahmah dalam pernikahan. Fenomena istri korban KDRT yang memilih bertahan demi kepentingan anak menimbulkan konflik antara perlindungan diri korban dan keutuhan keluarga. Kondisi ini memerlukan analisis kesesuaiannya dengan maqashid syari'ah, khususnya dalam penimbangan maslahah dan mafsadah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengalaman resiliensi istri korban KDRT yang bertahan demi anak, serta mengevaluasi pertimbangan maslahah dan mafsadah yang melatarbelakangi keputusan tersebut berdasarkan perspektif maqashid syari'ah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi yang diintegrasikan dengan analisis normatif maqashid syari'ah, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan istri korban KDRT dan satu informan anak korban yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan resiliensi dibangun melalui strategi koping defensif yang dibentuk oleh realitas sosial dan religius. Keputusan bertahan menimbulkan konflik antara maslahah hajiyyah zhanniyyah dengan mafsadah dharuriyyah qath'iyyah berupa kerusakan fisik-psikologis ibu dan anak termasuk gangguan attachment dan siklus kekerasan lintas generasi. Berdasarkan kaidah dar'u al-mafasid muqaddam 'ala jalbi al-masalih, maqashid syariah memprioritaskan hifz al-nafs sehingga resiliensi dalam konteks KDRT tidak dianjurkan secara normatif.