Latifah Latifah
Program Studi Agroekoteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh, Muara Batu, Aceh Utara, 24355

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Efektivitas Waktu Penyiangan dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Gulma dan Produksi Tanaman Terung Ungu Varietas Antaboga (Solanum melongena L.) Halimatussakdiah Halimatussakdiah; Baidhawi Baidhawi; Muhammad Muaz Munauwar; Hendrival Hendrival; Latifah Latifah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi Vol. 4 No. 4 (2025): Vol 4, No 4 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi (JIMATEK) Desember
Publisher : Department of Agroecotechnology Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya hasil tanaman terung (Solanum melongena L.) salah satunya disebabkan oleh gulma. Salah satu cara mengatasi populasi gulma yaitu dengan cara waktu penyiangan dan penggunaan jarak tanam yang tepat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh waktu penyiangan dan pengaturan jarak tanam terhadap pertumbuhan gulma dan produksi tanaman terung. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Alue Bili, Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara, dari Desember hingga Maret 2025. Eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor pertama, yaitu waktu penyiangan, terdiri dari (H0) bersih total, (H1) 14, 28, dan 42 HST, dan (H2) 28 dan 42 HST. Faktor kedua yaitu jarak tanam (J1) 30 x 30 cm dan (J2) 40 x 30 cm. Parameter yang diamati berupa persentase penutupan gulma, berat kering gulma, tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, jumlah buah dan berat buah. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan waktu penyiangan secara tunggal berpengaruh sangat nyata terhadap berat kering gulma umur 28 HST, persentase penutupan gulma pada semua umur pengamatan dan jumlah daun pada umur 35 HST, dan berpengaruh nyata pada peubah berat kering tanaman umur 42 HST dan tinggi tanaman pada umur 28 dan 35 HST. Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan penyiangan 14, 28, dan 42 HST. Perlakuan jarak tanam tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada semua peubah yang diamati. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan waktu penyiangan dan jarak tanam pada semua peubah yang diamati.
Kajian Kerentanan Relatif Beras Lokal Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Terhadap Hama Pascapanen Sitophilus oryzae L. Latifa Salwa; Hendrival Hendrival; Novita Pramahsari Putri; Latifah Latifah; Baidhawi Baidhawi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi Vol. 4 No. 4 (2025): Vol 4, No 4 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi (JIMATEK) Desember
Publisher : Department of Agroecotechnology Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sitophilus oryzae merupakan hama pascapanen utama yang merusak komoditas gabah yang disimpan, termasuk beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kerentanan dan tingkat kerusakan beberapa beras lokal Sumbagut terhadap serangan Sitophilus oryzae. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh, mulai bulan Oktober 2024 sampai dengan Januari 2025. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) nonfaktorial dengan 15 beras lokal dan 3 kali ulangan, sehingga diperoleh 45 satuan percobaan. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan Uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padi lokal Sumbagut memiliki tingkat kerentanan yang berbeda. Beras Siganteng termasuk kategori moderat-rentan, sedangkan beras Anak Daro, Siarang, Kuriak Kusuik, Pulungan, Siregar, Batubara, Santani, Minang Sari, Sokan, Banang Pulau, Sijunjuang, Sigudang, Pulau Batu, dan Trisakti termasuk kategori moderat. Tingkat kerentanan pada beras dapat dipengaruhi oleh banyaknya F1 dan median waktu perkembangan yang singkat. Kerusakan beras dan kehilangan susut berat yang tinggi dapat memengaruhi kerentanan. Beras yang kerusakannya tinggi tergolong rentan terhadap S. oryzae.
Identifikasi Cendawan Patogen Di Pertanaman Cabai (Capsicum Annuum L.) Di Desa Ulee Geudong, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara Laina Fadhillah; Latifah Latifah; Novita Pramahsari Putri; Hendrival Hendrival; Baidhawi Baidhawi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi Vol. 5 No. 1 (2026): Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi (JIMATEK) Maret 2
Publisher : Department of Agroecotechnology Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman cabai (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang rentan terhadap serangan penyakit, khususnya yang disebabkan oleh cendawan patogen. Sistem budidaya monokultur yang umum diterapkan petani turut meningkatkan risiko infeksi penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis penyakit dan patogen penyebabnya serta menganalisis insidensi dan keparahan penyakit pada dua jenis tanah berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan September–November 2024 di Desa Ulee Geudong dan Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Malikussaleh. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, pengamatan gejala penyakit, pengambilan sampel, serta identifikasi patogen secara mikroskopis. Parameter yang diamati meliputi insidensi penyakit, keparahan penyakit, tinggi tanaman, dan jumlah cabang. Hasil penelitian menunjukkan dua penyakit utama yaitu antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. dan bercak daun. Insidensi antraknosa tertinggi mencapai 45% pada tanah organosol dan 38,33% pada tanah litosol, sedangkan bercak daun masing-masing 11,66% dan 8,33%. Keparahan penyakit relatif rendah yaitu 12,08% dan 2,91%. Hasil ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan, jenis tanah, serta teknik budidaya berperan dalam menekan perkembangan penyakit pada tanaman cabai.