Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERAPAN METODE SBAR (SITUATION, BACKGROUND, ASSESSMENT, RECOMMENDATION) DI RUANG RAWAT INAP Agustiningsih, Ida; Yulianto, Yulianto
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 6 (2025): Volume 4, Nomor 6, Desember 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i6.622

Abstract

Penerapan metode SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) sebagai standar komunikasi klinis terbukti meningkatkan keselamatan pasien, namun implementasinya di lapangan seringkali belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan metode SBAR oleh perawat di ruang rawat inap, dengan fokus pada peran gaya kepemimpinan kepala ruangan, dukungan manajemen rumah sakit, pemahaman dan persepsi positif perawat, kompetensi komunikasi individu, dan pengalaman kerja. Penelitian ini menggunakan desain analitik cross-sectional yang dilaksanakan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang. Sampel sebanyak 56 perawat diambil dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara statistik dengan Uji Korelasi Rank Spearman Rho dan Analisis Regresi Linier Berganda untuk mengidentifikasi pengaruh bersama dan dominasi variabel independen terhadap penerapan SBAR. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa kelima variabel secara bersama-sama berpengaruh signifikan dan membentuk model prediksi yang kuat (R Square = 0,766; p = 0,000). Pemahaman dan persepsi positif terhadap SBAR menjadi faktor prediktor paling dominan (β = 0,508; p = 0,000), diikuti oleh gaya kepemimpinan kepala ruangan (β = 0,352; p = 0,000). Temuan ini mengonfirmasi bahwa keberhasilan implementasi SBAR memerlukan pendekatan multifaktor yang dimulai dari pembangunan landasan kognitif-afektif individu, dikatalisasi oleh kepemimpinan klinis yang efektif, dan didukung oleh sistem organisasi yang memadai. Penelitian ini merekomendasikan institusi pelayanan kesehatan untuk merancang program intervensi berjenjang yang memprioritaskan edukasi kontekstual, pengembangan kapasitas kepemimpinan, dan integrasi kebijakan pendukung guna menciptakan budaya komunikasi yang aman dan berkelanjutan
Organizational Resilience and Its Influence on Nurse Turnover Intention, Workplace Accidents, and Psychological Safety in Healthcare Systems Agustiningsih, Ida; Agustin, Ratna; Mundakir, Mundakir
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 10 No 4 (2025): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v10i4.31517

Abstract

Background: Organizational resilience is increasingly recognized as a key capability for healthcare systems to manage workforce challenges and safety risks. However, its simultaneous influence on turnover intention, workplace accidents, and psychological safety remains underexplored. Objective: This study aimed to examine the influence of organizational resilience on turnover intention, workplace accidents, and psychological safety among healthcare workers in hospital settings. Methods: A cross-sectional analytical study was conducted among 258 healthcare workers, including nurses, doctors, medical support staff, and administrative personnel, using cluster sampling. Organizational resilience was measured using a modified Organizational Resilience Questionnaire focusing on planning and adaptive capacity domains. Turnover intention, workplace accidents, and psychological safety were assessed using validated instruments. Data were analyzed using descriptive statistics and Pearson correlation analysis. Results: The mean score of organizational resilience was 3.78 ± 0.54. Organizational resilience showed a significant negative correlation with turnover intention (r = -0.512, p < 0.001) and workplace accidents (r = -0.389, p < 0.001), indicating that higher resilience was associated with lower intention to leave and fewer occupational incidents. In contrast, organizational resilience demonstrated a positive correlation with psychological safety (r = 0.559, p < 0.001), reflecting a stronger perception of a safe work environment. Among the outcomes, psychological safety showed the strongest association, followed by turnover intention and workplace accidents. Conclusion: Organizational resilience plays a critical role in reducing turnover intention and workplace accidents while enhancing psychological safety, highlighting its importance in strengthening workforce sustainability and healthcare quality.
PENGARUH KOMPETENSI PERAWAT DAN INSENTIF PELAYANAN TERHADAP KINERJA PERAWAT DENGAN KEPUASAN KERJA SEBAGAI MODERATING Ida Agustiningsih; Yulianto Yulianto
Enfermeria Ciencia Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Enfermeria Ciencia, Volume 4, Nomor 1, Mei 2026
Publisher : Yayasan Abdi Amanah Masyarakat Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/ec.v4i2.111

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi perawat dan insentif pelayanan terhadap kinerja perawat dengan kepuasan kerja sebagai variabel moderasi di tiga rumah sakit swasta Kabupaten Mojokerto. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research. Sampel penelitian terdiri dari 201 perawat pelaksana di ruang rawat inap yang diambil dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, sedangkan analisis data menggunakan Structural Equation Modeling dengan pendekatan Partial Least Square melalui SmartPLS 3.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi perawat dan insentif pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja serta kinerja perawat. Kepuasan kerja terbukti berperan sebagai variabel moderasi yang memperkuat pengaruh kompetensi dan insentif pelayanan terhadap kinerja perawat. Model penelitian mampu menjelaskan variasi kepuasan kerja sebesar 65,8 persen dan kinerja perawat sebesar 67,2 persen. Pembahasan mengungkapkan bahwa perawat dengan kompetensi yang baik, insentif yang adil, dan kepuasan kerja yang tinggi akan menunjukkan kinerja yang unggul dalam memberikan asuhan keperawatan yang holistik dan berpusat pada pasien. Kepuasan kerja berperan sebagai katalisator yang memperkuat dampak positif kompetensi dan insentif terhadap kinerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kinerja perawat yang optimal memerlukan sinergi antara kompetensi, insentif, dan kepuasan kerja yang saling memperkuat, sehingga pengelola rumah sakit perlu memberikan perhatian holistik terhadap kesejahteraan perawat sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan yang manusiawi dan bermartabat