Rendahnya keterampilan membaca permulaan masih menjadi persoalan mendasar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar karena berdampak pada kemampuan siswa memahami informasi tertulis pada mata pelajaran lain. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses dan hasil peningkatan keterampilan membaca permulaan siswa kelas III SDN 04/II Jaya Setia melalui metode Scramble. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Arikunto dalam dua siklus yang mencakup perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 18 siswa kelas III, terdiri atas 9 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. Data dikumpulkan melalui observasi proses mengajar guru, observasi proses belajar siswa, tes membaca lisan, dan dokumentasi; data dianalisis secara kuantitatif deskriptif dan kualitatif reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keterampilan membaca meningkat dari 54,84 pada pratindakan menjadi 71 pada siklus I dan 79 pada siklus II. Jumlah siswa berkategori terampil meningkat dari 5 siswa atau 27,7% pada pratindakan menjadi 11 siswa atau 61% pada siklus I dan 14 siswa atau 77% pada siklus II. Proses mengajar guru meningkat dari 70% menjadi 81%, sedangkan proses belajar siswa meningkat dari 63% menjadi 80%. Peningkatan tersebut terjadi karena Scramble memfasilitasi latihan decoding kolaboratif melalui penyusunan kartu kata/kalimat, pembacaan lisan berulang, koreksi teman sebaya, dan pendampingan guru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode Scramble berpotensi meningkatkan keterampilan membaca permulaan dalam konteks kelas yang diteliti, khususnya ketika guru memberikan instruksi yang jelas, membentuk kelompok heterogen, menyediakan kartu sesuai kemampuan siswa, dan memberi pendampingan bagi siswa yang belum lancar membaca. Kontribusi penelitian ini adalah menawarkan model latihan membaca permulaan berbasis permainan bahasa yang sederhana, aktif, kolaboratif, dan relevan untuk penguatan literasi dasar di sekolah dasar.