Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa
Institut Seni Indonesia Bali

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PERLAWANAN TERHADAP MASKULINITAS TRADISIONAL DALAM BAHASA PENAMPILAN VIDEO MUSIK VIDI “W U AT?” Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa; Gede Basuyoga Prabhawita; I Kadek Puriartha; I Gusti Ngurah Wirawan
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Calaccitra November 2023
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/cc.v3i2.2921

Abstract

Video musik adalah sebuah upaya untuk menginterpretasikan sebuah karya seni musik ke dalam bentuk media visual sebagai media untuk mempromosikan grup musik, selingan hiburan dan bisa dijadikan sebagai alat perlawanan pada suatu hal. Maskulin merupakan sebuah bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki, dimana maskulinitas tidak dilahirkan begitu saja sebagai sifat alami, melainkan dibentuk oleh kebudayaan. Maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai-nilai kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan laki-laki dan kerja. Sementara hubungan interpersonal, kemampuan verbal, kehidupan domestik, kelembutan, komunikasi, perempuan dan anak-anak dipandang rendah. Video musik w u at? yang dirilis YouTube oleh musisis Vidi memberi warna tersendiri dalam dunia musik di Indonesia. Video musik w u at? terasa sangat kental dengan nuansa KPop (Korean Pop) baik dari aransemen lagu maupun visualnya. Apabila video musik terdahulu identik dengan penampilan musisi yang lebih mirip live performance, video musik w u at Vidi menampilkan elemen variatif, mulai dari tarian, pengambilan gambar dan tata artisitik yang menekankan pada estetika, hingga pemilihan warna-warna vibrant dalam musik videonya. Video musik w u at? dari Vidi dapat dipandang sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap maskulinitas tradisional dengan membedahnya melaui bahasa penampilan dalam musik video, diantaranya seting lokasi, properti, kostum, bloking aktor dan komposisi gambar.
PENERAPAN TEKNIK COMPUTER GENERATED IMAGERY (CGI) SEBAGAI PEMBANGUN CERITA PADA MUSIC VIDEO TINKERBELLE BALI Agustina, I Kadek Indra; Yasa, Desak Putu Yogi Antari Tirta; Putra, I Made Denny Chrisna
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 1 (2024): Junal Calaccitra Maret 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan music video Tinkerbelle Bali bertujuan menciptakan karya audio visual menarik dan memberikan manfaat luas. Harapannya, stigma negatif terhadap band metal dapat berkurang, dan Tinkerbelle mendapat dukungan untuk menyampaikan pesan lagu melalui CGI. Berdasarkan riset genre dan lirik lagu, penggunaan CGI membantu membangun cerita dan visual menarik, sambil tetap memperhatikan cerita dan semiotika. Diharapkan karya ini berdampak positif pada berbagai lapisan masyarakat, mendorong Tinkerbelle untuk terus menciptakan karya menarik.
ANALISIS PERAN SUTRADARA DALAM PROSES PRODUKSI FILM DOKUMENTER “GENI” DI PT. NUSA DEWATA KREATIF STUDIO Astawa, Pande Kadek Angga Juli; Puriartha, I Kadek; Yasa, Desak Putu Yogi Antari Tirta
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 1 (2024): Junal Calaccitra Maret 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film dokumenter adalah suatu bentuk karya audio visual yang menggambarkan dan mendokumentasikan realitas. Istilah "dokumenter" pertama kali diperkenalkan dalam ulasan film Moana (1926) karya Robert Flaherty, yang ditulis oleh seorang kritik bernama The Moviegoer alias John Grierson, di New York Sun pada 8 Februari 1926. Di Prancis, istilah "dokumenter" digunakan untuk merujuk pada segala jenis film non-fiksi, termasuk film perjalanan dan film edukatif. Dalam produksi film, peran seorang sutradara sangat sentral. Secara umum, sutradara bertanggung jawab atas pengarahan artistik dan teknis, memberikan instruksi kepada kru produksi, memberikan petunjuk kepada para pemain, mengelola aspek kreatif dari segi naratif dan sinematik, serta menentukan visi keseluruhan film. Film dokumenter yang diproduksi di PT. Nusa Dewata Kreatif Studio fokus pada eksplorasi Ritual Jamasan Api. Secara umum, istilah "Jamasan" atau "siraman" berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada tindakan membersihkan atau memandikan. Salah satu bentuk jamasan adalah dengan menggunakan api, yang dikenal sebagai "TAPA GENI". Film dokumenter ini berfokus pada Ni Putu Ira Karisma Santi, seorang wanita muda dari Bali, yang menjalani Ritual Jamasan Api untuk mengatasi penyakit yang dideritanya. Ritual jamasan api ini memiliki aturan khusus, di mana hanya boleh dilakukan pada malam hari, Prosesi ritual yang dilakukan pada malam hari ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan memiliki makna dan tujuan yang mendalam. Film dokumenter ini menggunakan konsep dokumenter realisme yaitu suatu genre film dokumenter yang menekankan keaslian atau kejadian nyata. Tujuan utamanya adalah untuk menggambarkan keadaan sebagaimana adanya tanpa banyak campur tangan atau manipulasi dari pembuat film. Film dokumenter ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada penonton mengenai ritual ini, yang mungkin belum banyak diketahui oleh banyak orang. Karya film dokumenter ini merupakan bagian dari tugas akhir penulis, dan dapat diverifikasi keasliannya melalui surat pernyataan resmi.
ADAPTASI PSIKOLOGI TOKOH KE DALAM AUDIO VISUAL PADA FILM PENDEK “SATU PERTEMUAN” Widnyana, Pande Kadek Sastra; Yasa, Desak Putu Yogi Antari Tirta; Prabhawita, Gede Basuyoga
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 1 (2024): Junal Calaccitra Maret 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan film pendek “Satu Pertemuan” bertujuan untuk menghasilkan sebuah karya audio visual yang menarik dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Dilema yang hadir pada umur-umur saat memasuki dunia perkulihan membuat remaja mengalami keadaan stres. Pada tren akhir-akhir ini banyak media yang membahas tentang ini yang disebut dengan quarter life crisis. Sehingga hadirnya film pendek ini mampu memberikan gambaran dasar dalam membangun mindset. Dalam film pendek mengdaptasi beberapa teori yang dikemukakan Sigmund Freud. Sigmund Freud yang merupakan seorang tokoh psikologi yang cukup nyentrik dalam teori-teori yang ia kemukakan. Teorinya di aplikasikan dalam audio visual pada film pendek “Satu Pertemuan”. Sehingga mise en scene yang dihadirkan akan mengambarkan keadaan psikologi dari tokoh. Yang dirasakan maupun peristiwa yang sedang dialami oleh tokoh di gambarkan kedalam bentuk audio visual.
“KUNO KINI” HERMENEUTIC STUDY OF CONCEPTUAL PHOTOGRAPHY BY GUNG AMA Putra, I Putu Dudyk Arya; Yasa, Desak Putu Yogi Antari Tirta
Proceeding Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference Vol. 4 (2024): Proceedings Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/bbwp.v4i1.575

Abstract

I Gusti Agung Wijaya Utama S.Sn or Gung Ama is a photographer who has a distinctive characteristic in his work. Gung Ama's interest in photographic works produced in the 1930s encouraged a deeper exploration of ancient photographic styles. The concept of Kuno Kini was created by Gung Ama by photographing using an Afghan box camera, combining ancient darkroom techniques with experimental touches of modern media. The study of Kuno Kini in this article will refer to hermeneutics, how the interpretation and understanding of texts, history, and culture occur in a dialectical and historical process, refer to hermeneutics from Gadamer who classifies four stages of hermeneutic theory in interpreting or understanding. Gung Ama packages his concern about current problems and pours it into the form of conceptual photographic work Kuno Kini, as a form of criticism and self-reflection that is expressed visually in symbols and signs on his photographic elements.
PENERAPAN STORY TELLING PADA MUSIC VIDEO BAND THE MUNCHEIS Das, I Putu Gede Hari Dhanan Jaya; Puriartha, I Kadek; Tirtayasa, Desak Putu Yogi Antari
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Calaccitra November 2025
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This final project explores the application of storytelling techniques in the production of three music videos (MVs) by the band The Muncheis, namely “It Is What It Is,” “Freedom,” and “Friends.” The primary goal is to communicate the messages of the songs through a narrative and emotional visual approach. The creative process was carried out in three main stages: pre-production, production, and post-production. Pre-production involved lyric analysis, visual concept development, scriptwriting, and assembling the production team. Filming techniques such as handheld shots and warm color composition were used to enhance the emotional connection between the audience and the characters. Post-production processes, including rough cut, fine cut, picture lock, and color grading, were conducted to refine the final output. The results demonstrate that storytelling can enrich the emotional dimension of MVs and help audiences better grasp the intended messages, turning MVs into compelling narrative media beyond music promotion.
PERAN PENATA ARTISTIK DALAM FILM FIKSI DARA DALAM BELENGGU INSTITUT SENI INDONESIA BALI Arinanda Kesuma; Ni Kadek Dwiyani; Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Calaccitra Juli 2026
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The internship program is part of the Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) initiative, which aims to connect academic learning with professional industry practice. The author completed an internship at PT. Boklaa Bali Film, a company engaged in film production and creative media content. The internship focused on the role of the art department in the production of the fictional short film Dara Dalam Belenggu. The internship activities were carried out through observation, interviews, active participation, and direct documentation during the pre-production, production, and post-production stages. Through this process, the author gained knowledge regarding the workflow and responsibilities of the art department, as well as strategies for addressing visual and technical challenges in the field. These challenges included adapting set designs to the narrative concept, selecting appropriate props, and managing color schemes and visual textures to support the emotional atmosphere of each scene. The application of semiotic elements also contributed to strengthening the storytelling and visual meaning of the film. In addition, the internship provided skill development in creating set design sketches, arranging spatial layouts, and collaborating with other departments such as cinematography, lighting, and costume. From a technological perspective, the author learned to use design and visualization software, including SketchUp and Coohom, to support artistic planning and set design development in accordance with the film’s narrative needs. The internship process was analyzed using a descriptive approach to examine the relationship between theoretical knowledge obtained in academic studies and its application in professional practice. The results of this internship enhanced the author’s technical competencies in production design and increased awareness of the importance of interdepartmental collaboration in film production, contributing to better preparation for entering the creative industry.