Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pelestarian Tari Borakit dalam Perspektif Tari Pendidikan sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Kabupaten Rokan Hulu Aulya, Vinna; Palindo, Frendy Satria; Rosalina, Venny
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 6 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i6.3970

Abstract

Tari Borakit merupakan salah satu bentuk seni tari tradisional yang berkembang dalam masyarakat Kabupaten Rokan Hulu dan mengandung nilai-nilai historis, filosofis, serta sosial budaya Melayu. Namun, di tengah arus globalisasi dan dominasi budaya populer, keberlangsungan Tari Borakit menghadapi berbagai tantangan, antara lain menurunnya minat generasi muda, terbatasnya regenerasi pelaku seni, serta minimnya dokumentasi dan sistem pembelajaran yang berkelanjutan. Kondisi tersebut menuntut adanya strategi pelestarian yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pelestarian Tari Borakit melalui perspektif tari pendidikan dengan menempatkan pendidikan sebagai sarana utama pewarisan nilai budaya dan keterampilan tari kepada generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi studi pustaka terhadap literatur tari pendidikan dan pelestarian Warisan Budaya Tak Benda, observasi terhadap proses pembelajaran Tari Borakit di lingkungan pendidikan formal dan nonformal, serta wawancara mendalam dengan seniman tari, pendidik seni, dan pengelola sanggar. Data dianalisis secara tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi Tari Borakit dalam pendidikan formal dan nonformal memiliki peran strategis dalam menumbuhkan apresiasi terhadap budaya lokal, membentuk karakter, memperkuat identitas budaya generasi muda, serta mengembangkan kompetensi estetis, afektif, dan psikomotor peserta didik. Pelestarian berbasis tari pendidikan dinilai efektif karena mampu menghubungkan praktik budaya dengan proses pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, tari pendidikan dapat menjadi pendekatan yang relevan dalam menjaga keberlangsungan Tari Borakit sebagai Warisan Budaya Tak Benda di tengah dinamika masyarakat modern.
BENTUK PERTUNJUKAN RANDAI JALIKDALAM UPACARA PERKAWINAN DI KELURAHAN PADANG SARAI KOTO TANGAH Cindy Eka Putri; Rosalina , Venny
Avant-garde: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Pertunjukan Vol. 4 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/myhckm66

Abstract

This study aims to identify and describe the form of the Randai Jalik performance in wedding ceremonies in Padang Sarai Koto Tangah Sub-district. This research is qualitative with a descriptive approach. The research instrument is the researcher themselves, assisted by supporting instruments such as writing tools and a camera. Data was collected through literature studies, observation, interviews and documentation. The steps for analysing the data are data collection, data reduction, data processing and drawing conclusions. The results show that the form of the Randai Jalik performance in wedding ceremonies in Padang Sarai Koto Tangah Sub-district consists of Randai performers, galombang, songs, music, costumes, audience and the performance venue. Randai Jalik features 17 types of movements, namely: Tapuk Sarumpun Sarampak movement, Balabek movement, Mohon Ampun movement, Siku Tigo Duduak movement, Himbauan movement, Patik movement, Anta Japuik Tabao movement, Sipak Belaan Sambutan attack movement, Jago Jalik movement, Tamparan block movement, Sipak Lapeh movement, Tapuak Galembong inside-out movement, Manuai Padi movement, Mananam Padi movement, Siku Tigo Tagak movement, Sipak Kudo movement, and Sambah movement. Randai Jalik is performed by 4 men and 8 women with a duration of approximately 25 minutes. The accompanying music uses traditional instruments, namely, gandang tambua, talempong, pupuik batang padi, and tasa. The costume used is a black silek costume.