Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : open access driverset

Framing Media TEMPO dalam Membentuk Opini Publik terhadap Amran Sulaiman pada Isu ‘Poles-Poles Beras Busuk’ Emil Fatra; Thiara Tri Funny Manguma
Culture education and technology research (Cetera) Vol. 3 No. 2 (2026): Vol. 3 No. 2 2026
Publisher : FKIP - Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ctr.v3i2.241

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Majalah Tempo membingkai isu “poles-poles beras busuk” melalui pemberitaan dan ilustrasi yang dipublikasikannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing Robert N. Entman yang menitikberatkan pada empat elemen utama, yaitu pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi penyelesaian. Data penelitian diperoleh dari 18 item pemberitaan Tempo yang membahas isu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, Tempo secara konsisten menempatkan persoalan beras sebagai isu strategis yang berkaitan dengan tata kelola pangan nasional, pengawasan distribusi, serta perlindungan konsumen. Kedua, Tempo membangun citra kritis terhadap Menteri Pertanian Amran Sulaiman melalui pemilihan diksi, sudut pandang pemberitaan, dan pengaitan dengan relasi kekuasaan yang dianggap memiliki pengaruh dalam pengelolaan sektor pangan. Ketiga, langkah pelaporan balik dan gugatan hukum yang dilakukan Amran Sulaiman terhadap Tempo dibingkai sebagai tindakan yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap kebebasan pers dan ruang kritik publik. Temuan ini menunjukkan bahwa Tempo tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai aktor media yang secara aktif mengonstruksi realitas sosial melalui proses framing terhadap isu pangan dan relasi kekuasaan di Indonesia.
Implementasi Budaya Komunikasi Organisasi Berbasis Kearifan Lokal Pasang Ri Kajang pada Pemerintah Kabupaten Bulukumba Emil Fatra; Thiara Tri Funni Manguma; Rusli
Culture education and technology research (Cetera) Vol. 3 No. 3 (2026): Vol. 3 No. 3 2026
Publisher : FKIP - Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ctr.v3i3.250

Abstract

Pasang Ri Kajang local wisdom serves as the guiding philosophy of life for the Kajang indigenous community (Keammatoaan) and has been adopted by the Government of Bulukumba Regency as the foundation of its organizational communication culture. This study aims to identify the forms of organizational communication culture categorization and examine the implementation of an organizational communication culture based on the local wisdom of Pasang Ri Kajang within the Government of Bulukumba Regency. The study employed a qualitative descriptive method using a communication ethnography approach. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal four main categories of organizational communication culture implemented within the Bulukumba Regency Government. These include the principle of Lambusu na Gattang, which emphasizes honesty, adherence to rules, and discipline; Palampa Paunnu, which promotes openness, particularly in information dissemination and the management of development programs; Assipakatau, which fosters harmony and mutual respect among employees; and Sipatuntung, which encourages mutual support, motivation, and synergy among organizational members. Furthermore, the study found that the implementation of an organizational communication culture based on Pasang Ri Kajang local wisdom is manifested through several practices, including the organization of an annual cultural festival featuring participants dressed in traditional black attire, the application of the Tallasa Kamase-masea principle, which emphasizes simplicity and self-restraint, the Allemo Si Batu principle, which promotes unity and the preservation of cultural values, and the practice of Siri', a cultural value emphasizing shame, self-awareness, and moral responsibility to avoid actions that may harm society.