Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Motif Batik Gajah Oling Sebagai Identitas Kebudayaan Masyarakat Kabupaten Banyuwangi Ahmad Adam Maulana; Widhyasmaramurti
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.13064

Abstract

Pengakuan batik Indonesia sebagai warisan nonbendawi oleh UNESCO pada 2009, memunculkan beragam motif lokal di Indonesia. Batik Gajah Oling dari kabupaten Banyuwangi adalah salah satunya. Motif ini merupakan motif batik tertua dan terkenal di kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang Motif Batik Gajah Oling sebagai identitas kebudayaan di tengah masyarakat kabupaten Banyuwangi. Motif batik Gajah Oling menjadi identitas kebudayaan kabupaten Banyuwangi dilihat berdasarkan Teori Kearifan Lokal (Meliono, 2011), Teori Ekonomi Ganda (Itagaki, 1968), dan Teori Transmisi kebudayaan (Tilaar, 1999). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan korpus data berupa motif batik Gajah Oling yang dapat ditemui di berbagai sektor kehidupan masyarakat kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan motif batik Gajah Oling merupakan salah satu identitas kebudayaan kabupaten Banyuwangi karena eksistensi motif ini sudah menyatu dengan kearifan lokal masyarakat kabupaten Banyuwangi. Motif batik Gajah Oling ini juga mampu menghasilkan profit ekonomi bagi masyarakat maupun pemerintah daerah. Motif ini juga tidak bersifat eksklusif di kabupaten Banyuwangi saja, akan tetapi sudah dikenal hingga level nasional dan internasional. Pengaplikasian motif batik Gajah Oling dalam unsur kemasyarakatan didukung dengan hasil transmisi kebudayaan yang berawal dari motif kain dan berkembang ke berbagai produk kreatif lainnya sehingga mempertegas argumen penelitian ini bahwa batik tersebut adalah bagian dari penanda identitas masyarakat kabupaten Banyuwangi.
Interpreting the Onomatopoeia in Javanese Language: The Yowis Ben Comic by Bayu Skak Case Nabila Shafa Annisa; Widhyasmaramurti Widhyasmaramurti
Journal of Urban Society's Arts Vol 12, No 2 (2025): October 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v12i2.11212

Abstract

This study analyzes comics as a visual art medium that communicates meaning through the interaction between images and text. The specific form of this interaction can be seen in the use of onomatopoeia. Onomatopoeia in comics uses pictures as representations of sensory experiences to overcome the limitations of word use. Through pictures, onomatopoeia not only means the imitation of sounds, but also creates impressions, such as emotions or attitudes. This study aims to interpret the meaning of onomatopoeia accompanied by images in the comic Yowis Ben: Lika-liku Anak Band (YBLAB) karya Bayu Skak. The research used a descriptive qualitative method with the onomatopoeic categorization theory of Thomas & Clara (2004), and the onomatopoeic continuum theory of Sasamoto (2019). According to Thomas & Clara’s (2004) framework, the findings of this research show that there is one imitation word for animal sounds (Call of Animals), two imitation words for natural sounds (Sounds of Nature), four imitation words for human sounds (Sounds by Human), and six imitation words for various sounds (Miscellaneous Sounds). In addition, based on the continuum theory from Sasamoto (2019), it was found that, images in comics make the word onomatopoeia, which is an imitation of sound, experience a narrowing of meaning by making it more specific through the appearance of the meaning of impressions, the meaning of feelings, the details of events or events, and the intensity of events.
Pendampingan Mitigasi Bencana Kebakaran pada Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Pulau Morotai Antony Yohanes; Widhyasmaramurti
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5016

Abstract

Kabupaten Pulau Morotai memiliki potensi bahaya kebakaran yang dipengaruhi oleh kondisi iklim ekstrem pada musim kemarau serta karakteristik wilayah sebagai bekas kawasan Perang Dunia II. Kondisi tersebut menjadikan anak-anak sekolah dasar sebagai kelompok rentan perlu mendapatkan edukasi mitigasi kebakaran. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dasar siswa sekolah dasar mengenai mitigasi bencana kebakaran. Metode yang digunakan adalah pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang meliputi tahap observasi, refleksi, pelaksanaan aksi, dan evaluasi. Kegiatan dilakukan di beberapa sekolah dasar di Kecamatan Morotai Selatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran awal siswa terhadap bahaya kebakaran, peran petugas pemadam kebakaran, serta langkah dasar pencegahan dan pelaporan kebakaran. Namun, pemahaman siswa masih berada pada tingkat dasar dan belum mencakup kemampuan teknis mitigasi kebakaran secara menyeluruh. Oleh karena itu, kegiatan ini berperan sebagai langkah awal dalam membangun kesadaran kebencanaan kebakaran