Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Quadruple Helix-Based Early Warning System for Socio-Religious Conflict in East Lombok Wiredarme; Muhammad Suhardi; Abdul Wahab
KASTA : Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 6 No. 3 (2026): August
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kasta.v6i3.2860

Abstract

This study aims to analyze the early warning system for socio-religious conflict in East Lombok Regency, identify barriers to Quadruple Helix collaboration, and formulate a contextual and implementable model for strengthening early conflict detection. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving local government officials, district and village authorities, academics, local media, and religious organization leaders. The data were analyzed using thematic analysis to identify key patterns related to the existing early warning system, collaboration barriers, and the required strengthening model. The findings show that the early warning system for socio-religious conflict in East Lombok has operated through territorial networks, social communication, community reports, the role of religious leaders, and the intelligence network of the National Unity and Politics Agency at the village level. However, the system has not yet been fully institutionalized, as it lacks standardized reporting mechanisms, an integrated database, risk classification, and regular cross-actor analytical forums. The main barriers include structural barriers in the form of institutional fragmentation, cultural barriers related to strong sensitivity toward religious symbols and intergroup prejudice, and coordinative barriers caused by the absence of a permanent collaborative forum. This study recommends a Socio-Religious Early Warning Model based on Quadruple Helix and Social Resilience, integrating the roles of government, academia, media, and civil society through early monitoring, information validation, risk classification, preventive intervention, public communication, evaluation, and social recovery. This model emphasizes that conflict prevention cannot rely solely on a security-based approach, but must connect administrative legality, social legitimacy, academic analysis, public communication, and community participation.
PERLINDUNGAN HAK KONSTITUSIONAL WARGA NEGARA DALAM PENGGUNAAN BIG DATA OLEH PEMERINTAH DAERAH Muhammad Suhardi; Abdul Wahab
IURIS NOTITIA : JURNAL ILMU HUKUM Vol. 1 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Ninety Media Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69916/iuris.v1i2.464

Abstract

Penggunaan big data oleh pemerintah daerah semakin penting dalam mendukung perencanaan pembangunan, penyaluran bantuan sosial, pelayanan publik, dan penyusunan kebijakan daerah berbasis bukti. Meskipun demikian, pemanfaatan data dalam skala besar juga menimbulkan risiko terhadap hak konstitusional warga negara, khususnya hak atas privasi, hak atas perlakuan yang sama, hak atas pelayanan publik yang adil, dan hak untuk bebas dari diskriminasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hak konstitusional warga negara dalam penggunaan big data oleh pemerintah daerah serta merumuskan model tata kelola data yang berorientasi pada prinsip non-diskriminasi, privasi, dan keadilan administratif. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan hak konstitusional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan big data oleh pemerintah daerah tidak cukup dinilai dari aspek efisiensi, integrasi sistem, dan ketepatan sasaran kebijakan, tetapi juga harus dilihat dari kemampuannya melindungi warga dari pelanggaran privasi, diskriminasi berbasis data, dan ketidakadilan administratif. Kebaruan penelitian ini terletak pada penghubungan big data governance dengan perlindungan hak konstitusional warga negara. Penelitian ini menawarkan model rights-based data governance yang mencakup legalitas pemrosesan data, pembatasan tujuan, kualitas data, perlindungan privasi, penilaian dampak diskriminasi, transparansi administratif, hak atas penjelasan, mekanisme koreksi dan keberatan.