Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN FARMASI DI APOTEK SIMPANG PURWAKARTA Laela Pazri; Embriana Dinar Pramestyani; Masita Sari Dewi
Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences Vol. 2 No. 1 (2023): Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Medika Suherman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59981/kwtvm250

Abstract

Salah satu Apotek yang berada di Purwakarta adalah Apotek Simpang yang memiliki rata-rata jumlah kunjungan pasien setiap harinya kurang lebih 50 pasien. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian dan mengetahui hubungan antara karakteristik dengan tingkat kepuasan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Model penelitian ini adalah servQual yang terdiri dari lima dimensi. Dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Apotek Simpang Purwakarta menggunakan lima dimensi. Nilai yang paling tinggi adalah parameter empati (emphaty) 92,61%(sangat puas), dan nilai yang paling rendah bukti langsung (tangibles) 86,93%(sangat puas). Untuk hubungan karakteristik dengan tingkat kepuasan tidak ada hubungan karena nilai signifikan > nilai p value.
EDUKASI DAN PENYULUHAN PENYAKIT KRONIS DI DESA PASIR GOMBONG Nuzul Gyanata Adiwisastra; Embriana Dinar Pramestyani; Hilmy, Salma; Marselina; Masita Sari Dewi; La Ode Muhammad Anwar; Zuhrah Giatamah
Jurnal Medika Mengabdi Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Medika Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Medika Suherman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59981/3w370677

Abstract

Penyakit kronik merupakan penyakit dengan durasi yang lama, serta umumnya perkembangannya lambat. Penyakit kronis dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan lansia, dalam hal ini kesehatan jiwa yaitu kecemasan. Kecemasan merupakan suatu perasaan dimana seseorang merasa tidak aman dan terancam atas suatu hal atau keadaan. Penyakit kronis yang mengalami peningkatan yang pertama  yaitu hipertensi naik dari 25,8% menjadi 34,1%, diabetes mellitus naik dari 6,9% menjadi 8,5%, prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10,9% dan penyakit gagal ginjal kronik naik dari 2% menjadi 3,8%. edukasi dan penyuluhan penyakit kronis merupakan salah satu bentuk kegiatan pengabdian masyarakat dalam memberikan edukasi dan memberikan perhatian kepada masyarakat yang berada di Desa Pasir Gombong RT.01/RW.05. Metode pengabdian masyarakat dilakukan dengan interaksi langsung, melalui pemberian kuesioner berisi pertanyaan, materi presentasi dari narasumber, leaflet dan kuesioner lanjutan setelah peserta menerima edukasi mengenai penyakit kronis. Hasil analisa data nilai pre-test (39.6%) dan post-test (83.4%) telah terjadi meningkatan pemahaman Masyarakat terkait edukasi kesehatan penyakit kronik.  
Analisis Dan Pengembangan Strategi Pengawasan Peredaran Kosmetik Oleh BPOM Bogor Esa, Risda Maulida; Embriana Dinar Pramestyani; Salma Hilmy Rusydi Hashim; Ulyati Ulfah
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13568

Abstract

Tingginya minat penggunaan masyarakat terhadap kosmetik mendorong para produsen untuk bersaing dalam menciptakan produk kecantikan dengan berbagai variasi dan keunggulan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengawasan yang selama ini diterapkan Balai POM Bogor dan merumuskan strategi pengembangan berdasarkan faktor internal dan eksternal. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis yang digunakan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk memetakan posisi strategis Balai POM Bogor, serta matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) untuk menentukan prioritas strategi pengembangan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pegawai Balai POM, dan telaah dokumen. Hasil penelitian mendapatkan tiga strategi prioritas berdasarkan analisis QSPM yaitu menambah kompetensi SDM melalui pelatihan, serta meningkatkan fasilitas laboratorium untuk mendukung efektivitas pengawasan kosmetik secara cepat, mendorong pengesahan RUU BPOM terkait penindakan guna memperkuat kepastian hukum dan efektivitas penindakan, melakukan sosialisasi ke sekolah kerja sama dengan influencer lokal untuk kegiatan edukasi penggunaan kosmetik aman yang lebih masif. Kesimpulannya, Balai POM Bogor menerapkan pengawasan berbasis risiko secara menyeluruh. Analisis SWOT menunjukkan posisi Balai POM Bogor berada di kuadran I dengan strategi agresif. Strategi pengembangan yang diusulkan meliputi menambah kompetensi SDM dan fasilitas laboratorium, mendorong pengesahan RUU BPOM, serta memperluas edukasi melalui sekolah dan influencer.
Analisis Dan Pengembangan Strategi Pengawasan Peredaran Kosmetik Oleh BPOM Bogor Risda Maulida Esa; Embriana Dinar Pramestyani; Salma Hilmy Rusydi Hashim; Ulyati Ulfah
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13568

Abstract

Tingginya minat penggunaan masyarakat terhadap kosmetik mendorong para produsen untuk bersaing dalam menciptakan produk kecantikan dengan berbagai variasi dan keunggulan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengawasan yang selama ini diterapkan Balai POM Bogor dan merumuskan strategi pengembangan berdasarkan faktor internal dan eksternal. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis yang digunakan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk memetakan posisi strategis Balai POM Bogor, serta matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) untuk menentukan prioritas strategi pengembangan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pegawai Balai POM, dan telaah dokumen. Hasil penelitian mendapatkan tiga strategi prioritas berdasarkan analisis QSPM yaitu menambah kompetensi SDM melalui pelatihan, serta meningkatkan fasilitas laboratorium untuk mendukung efektivitas pengawasan kosmetik secara cepat, mendorong pengesahan RUU BPOM terkait penindakan guna memperkuat kepastian hukum dan efektivitas penindakan, melakukan sosialisasi ke sekolah kerja sama dengan influencer lokal untuk kegiatan edukasi penggunaan kosmetik aman yang lebih masif. Kesimpulannya, Balai POM Bogor menerapkan pengawasan berbasis risiko secara menyeluruh. Analisis SWOT menunjukkan posisi Balai POM Bogor berada di kuadran I dengan strategi agresif. Strategi pengembangan yang diusulkan meliputi menambah kompetensi SDM dan fasilitas laboratorium, mendorong pengesahan RUU BPOM, serta memperluas edukasi melalui sekolah dan influencer.
PEMBERIAN SALEP EKSTRAK DAUN PISANG AMBON (Musa paradisiaca var.sapientum) TERHADAP ULKUS TIKUS DIABETIK YANG DIINDUKSI ALOKSAN: Array La Ode Muhammad Anwar; Armi Armi; Marselina Marselina; Masita Sari Dewi; Salma Hilmy Rusydi Hashim; Embriana Dinar Pramestyani; Nuzul Gyanata Adiwisastra; Cyto Yudha Kurniawan; Cindy Junita Romli; Awanda Pramudita Okhanza; Mahesa Mahesa
Midwinerslion : Jurnal Kesehatan STIKes Buleleng Vol 9 No 2 (2024): MIDWINERSLION Jurnal Kesehatan STIKes Buleleng
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/mjksb.v9i2.382

Abstract

Introduction: Diabetes is a chronic condition that occurs when the pancreas does not produce enough insulin or when the body cannot adequately use the insulin it does produce. This increases the sugar in the blood. One of the effects of diabetes is the formation of ulcers. Method: The ointment preparation formulations that have been made are then evaluated, including organoleptics, homogeneity, spreadability, pH, viscosity, and stability. The test animals used were 30 test animals consisting of 5 groups, each group consisting of 5 rats. Group I rats were given a topical preparation of 10% extract ointment. Group II was given a topical preparation of ointment extract with a concentration of 15%. Group III topical preparation of ointment extract with a concentration of 20% Group IV without treatment. Group V, as a positive control, was given betadine ointment. Induction of rats was done by giving alloxan monohydrate intraperitoneally. Results: Ulcer testing on 10% ointment has the best healing rate compared to the control. The 20% ointment took four days to heal the ulcer. The 15% ointment and the control took six days to heal. Conclusion: The 10% ointment formula has the best healing of diabetic ulcers compared to the control given.