Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGARUH PENGHAWAAN DAN PENCAHAYAAN ALAMI PADA BANGUNAN SEMI TERBUKA TERHADAP KENYAMANAN DAN PRODUKTIVITAS Studi Kasus: Kafe Tanatap Ampera, Jakarta Selatan Fenny Kartika Pratiwi; Muhammad Al Farel Maulana Baihaqi; Dedes Nur Gandarum
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v7i2.3182

Abstract

Abstract: The Tanatap Ampera Cafe is a semi-public building that has a function as a functional place for activities such as gathering and working individually or in groups with a presentation of 40% closed space and 60% semi-open space. This building utilizes natural ventilation and natural lighting into a semi-open area. So based on this design, the research aims to analyze the potential of points or areas in buildings that can increase user productivity which is affected by natural ventilation and lighting with the standards and indexes made by ASHRAE with the PMV method, namely Slightly Warm (+1), Neutral 0, Slightly Cool (-1), strong light intensity based on the Indonesian National Standard 03-6575-2011 Light intensity in a cafeteria and work space is 350 Lux, Greenship Rating Tools from the Green Building Council Indonesia (GBCI), which is the minimum standard for small areas natural lighting is 30% of the total area and the color of sunlight is 4000-5000K to affect human productivity. The purpose of this study was to find out the design of the semi-open space at Tanatap Ampera according to standards based on the results of field data collection and respondent data. Writing with a quantitative method using anemometer and spectrometer at 30 location points during the day every one hour, from 09.00 to 16.00. Field data collection results include orientation, temperature, humidity, ASHRAE index classification, light intensity, sunlight color, color rendering level, and the productivity value of the respondents. Based on the results of data analysis, semi-open areas that have natural ventilation and lighting that meet comfort standards and have the potential to increase productivity are located at point no. 9 and 17 from 09.00 to 11.00. While points 1, 2, 3 and 4 can be optimal points if there is a transparent envelope wall of the building that has ventilation openings for cross ventilation, because these areas do not have good ventilation. So that the optimal point will be at points 1, 2, 3, 4, 9, and 17 at 09.00 to 16.00.Keyword: Semi Open Space, Air Conditioning and Natural Lighting Comfort, Human Productivity.Abstrak: Kafe Tanatap Ampera merupakan bangunan semi publik memiliki fungsi sebagai tempat fungsional untuk berkegiatan seperti berkumpul dan bekerja secara individual atau berkelompok dengan presentasi 40% ruang tertutup dan 60% ruang semi terbuka. Bangunan ini memanfaatkan penghawaan alami dan pencahayaan alami kedalam area semi terbuka. Maka berdasarkan desain tersebut, Penelitian bertujuan untuk menganalisa potens titik atau area dalam bangunan yang dapat meningkatkan produktivitas pengguna yang dipengaruhi penghawaan dan pencahayaan alami dengan standar  dan indeks yang buat oleh ASHRAE dengan metode PMV yaitu Slightly Warm (Cukup Hangat  +1 ), Netral 0,  Slightly Cool  (Cukup Sejuk -1),, kuat intensitas cahaya berdasarkan Standar Nasional Indonesia 03-6575-2011 Kuat Cahaya dalam kuang kafetaria atau ruang kerja yaitu 350 Lux, Greenship Rating Tools dari Green Building Council Indonesia (GBCI) yaitu standar minimal untuk area pencahayaan alami adalah 30% dari total area dan warna cahaya matahri 4000-5000K untuk mempengaruhi produktivitas manusia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui desain ruang semi terbuka pada Tanatap Ampera sesuai standar berdasarkan hasil pengambilan data lapangan serta data responden. Penulisan dengan metode kuantitatif menggunakan alat anemometer dan spectrometer pada 30 titik lokasi selama siang hari setiap satu jam yaitu pada pukul 09.00 hingga 16.00. Data hasil pengambilan data lapangan berupa orientasi, suhu, kelembaban, klasifikasi indeks ASHRAE, kuat cahaya, warna cahaya matahari, tingkat renderasi warna, dan nilai produktivitas responden. Berdasarkan hasil Analisa data, area semi terbuka yang memiliki penghawaan dan pencahayaan alami yang sesuai standar kenyamanan dan berpotensi untuk meningkatkan produktivitas terletak pada titik nomot 9 dan 17 di jam 09.00 hingga 11.00. Sementara pada titik nomor 1, 2, 3, dan 4 dapat menjadi titik yang optimal apabila ada dinding selubungan transparan bangunan memiliki bukaan penghawaan untuk ventilasi silang, karena area tersebut tidak memiliki sirkulasi penghawaan yang baik. Sehingga titik yang optimal nantinya menjadi pada titik 1, 2, 3, 4, 9, dan 17 pada pukul 09.00 hingga 16.00.Kata Kunci: Ruang Semi Terbuka, Kenyamanan Penghawaan dan Pencahayaan Alami, Produktivitas Manusia.           
RANCANGAN SPASIAL RUMAH TINGGAL SEBAGAI RESPON TERHADAP TUNTUTAN FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL KELUARGA STUDI KASUS: Komplek Perumahan Depdikbud Cirendeu Tresnowati Soendoro; Dedes Nur Gandarum
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v7i3.3252

Abstract

Abstract: The need for houses is essentially a basic human need.The house as a place to live is a means for humans to move comfortably and is an effort to be able to take shelter from natural conditions and the outside environment, which ideally can meet the needs of the daily activities of its residents. According to Budihardjo (1991:56) in the results of the report (Tim HREIS, 2020) it states that a house isn’t a final product, but a process that continues to develop, continuously and in stages according to the needs and desires of its residents. In the end the house, within a certain period of time will experience changes due to the addition of family members and changes in needs. The Cirendeu Depdikbud (Ministry of Education and Culture) Housing Complex is a standard house built by the government, which is then allowed to be owned, so that a residence is possible to become a house owner, in which case the residents may have no connection with the department. The Cirendeu Depdikbud housing complex has reached the age of 44 years. The scope of this study was carried out in the field of architecture which focuses on spatial with a descriptive-analytical method using a qualitative approach, by examining how standard residential houses change in an effort to accommodate the development of residents' needs which reflected through their spatial layout.Keyword: Spatial Transformation, Residential Houses, Occupants NeedsAbstrak: Kebutuhan akan tempat tinggal pada hakikatnya merupakan kebutuhan dasar manusia. Rumah sebagai tempat tinggal merupakan sarana bagi manusia untuk beraktivitas dengan nyaman, dan merupakan upaya untuk dapat berlindung dari kondisi alam serta lingkungan luar dimana idealnya dapat memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari penghuninya. Menurut Budihardjo (1991:56) dalam hasil laporan (Tim HREIS, 2020) menyatakan bahwa rumah bukanlah produk akhir, melainkan proses yang terus berkembang, berkesinambungan, dan bertahap sesuai kebutuhan dan keinginan penghuninya. Rumah dalam jangka waktu tertentu akan mengalami perubahan sehubungan bertambahnya anggota keluarga dan terjadinya perubahan kebutuhan. Komplek Perumahan Depdikbud Cirendeu merupakan rumah standar yang dibangun oleh pemerintah yang kemudian boleh dimiliki, sehingga hunian yang awalnya berstatus sebagai rumah dinas dimungkinkan untuk bisa menjadi rumah dengan status pribadi, dalam hal ini penghuni bisa jadi sudah tidak ada keterkaitan lagi dengan kedinasannya. Komplek Perumahan Depdikbud Cirendeu merupakan permukiman yang telah berusia 44 tahun, secara umum memperlihatkan adanya perubahan arsitektur yang sangat beragam pada tata ruang rumah tinggal. Lingkup kajian ini dilakukan pada bidang arsitektur yang berfokus pada rancangan spasial dengan metode kajian deskriptif-analitis menggunakan pendekatan kualitatif, dengan mengkaji bagaimana rancangan rumah tinggal standar dalam upaya mengakomodasi perkembangan kebutuhan penghuni yang dicerminkan melalui tata ruangnya.Kata Kunci: Transformasi Spasial, Rumah Tinggal, Kebutuhan Penghuni
The Elderly Wayfinding: Wayfinding Lanjut Usia Berbasis Sensorik Pendengaran, Penciuman, dan Kulit di Kota Tua Jakarta Boi Dapot Lumban Raja; Dedes Nur Gandarum
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4271

Abstract

Abstract: One of the actions in the program is the National Programs for Age-Friendly Cities and Communities (AFCC) is to support all elderly people enjoying independence and good health. To enhance independence, an elderly-friendly environment needs to pay attention to the elderly-friendly wayfinding aspect to help the process of achieving and moving activities independently. However, elderly wayfinding have not been studied in a lot. The wayfinding process is influenced by the individual's sensory abilities and the condition of the physical setting (environment). The physical condition of the elderly continues to decline with increasing age. The research question from the problem above is what is the role of physical settings on sensory in elderly wayfinding. The purpose of this study is to obtain a picture of the influence of physical settings on the sensory abilities of the elderly in wayfinding patterns particularly responded by kinesthesia and haptic sensory. The method in this study aims to obtain a picture of the physical environment responded by kinesthesia and haptic sensory that is friendly to the elderly in supporting independence. The research method used in this study is a quantitative method. This method uses a study approach to the Jakarta History Museum and Fatahillah Park Kota Tua in the old city area of Jakarta. The research method is carried out by observing the relationship between sensory abilities in a particular setting in the wayfinding process. Keywords:  Wayfinding, Elderly, Physical Setting, Sensory Abstrak: Salah satu tindakan dalam program tersebut adalah National Programs for Age-Friendly Cities and Communities (AFCC) untuk mendukung semua orang lanjut usia menikmati kemandirian dan kesehatan yang baik. Untuk meningkatkan kemandirian, lingkungan yang ramah lansia perlu memperhatikan aspek wayfinding ramah lansia untuk membantu proses mencapai dan memindahkan aktivitas secara mandiri. Namun, wayfinding lansia belum banyak dipelajari. Proses wayfinding dipengaruhi oleh kemampuan sensorik individu dan kondisi setting fisik (lingkungan). Kondisi fisik lansia terus menurun seiring bertambahnya usia. Pertanyaan penelitian dari masalah di atas adalah apa peran setting fisik terhadap sensorik dalam wayfinding lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh setting fisik terhadap kemampuan sensorik lansia dalam pola wayfinding khususnya yang direspon oleh kinestesi dan sensorik haptik. Metode dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang lingkungan fisik yang direspon oleh kinestesi dan sensorik haptik yang ramah terhadap lansia dalam mendukung kemandirian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Metode ini menggunakan pendekatan studi kasus di Museum Sejarah Jakarta dan Taman Fatahillah Kota Tua di kawasan kota tua Jakarta. Metode penelitian dilakukan dengan mengamati hubungan antara kemampuan sensorik pada suatu setting tertentu dalam proses pencarian jalan. Kata Kunci: Pencarian Jalan, Lansia, Setting Fisik, Sensorik
Pendekatan Participatory Planning pada Perencanaan Ruang Belajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Julindiani Iskandar; Dedes Nur Gandarum
Abdimas Pedagogi: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um050v2i32019p155-163

Abstract

Perencanaan ruang belajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ananda yang terletak di pemukiman padat penduduk dan padat bangunan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat dilakukan karena kurangnya pengetahuan dan biaya untuk membangun dan melakukan perawatan. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan tambahan, pendampingan serta percontohan tentang fasilitas lingkungan belajar yang sehat. Penyuluhan, pendampingan serta percontohan yang dilakukan bersifat bottom up melalui pendekatan partisipatory planning. Hal ini dilakukan agar perencanaan, perancangan, dan perawatan fasilitas lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat, dapat diterima oleh masyarakat, serta menjadi media pembelajaran masyarakat atau transfer of knowledge terkait perencanaan, perancangan, dan perawatan fasilitas lingkungan, khususnya fasilitas PAUD. Selain itu dengan pendekatan partisipatif ini diharapkan timbul rasa kepemilikan yang kuat (sense of belonging) yang akan menjadi modal dasar bagi pemeliharaan dan pengembangan fasilitas publik secara swadaya dan berkelanjutan.