Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Tabanni Concept of Al-Quran Perspective: In The Study of Ijtimai Interpretation Malyan*, Zulfia; Ghianovan, Jaka; Ash, Abil
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 7, No 3 (2024): July, Educational and Social Issue
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v7i3.39925

Abstract

This article aims to elucidate the issues that arise when individuals undertake the process of child adoption, with reference to the principles delineated in the Qur'an. The practice of treating a non-biological child as one's own is often deemed acceptable, this is evident from the prevalence of adoptive parents who assert their adopted children as their biological offspring. This study employs library research utilizing a thematic exegesis method. The analysis integrates interpretations from the "Al-Munir" exegesis by Wahbah Az-Zuhaili, the Ayat Suci Lenyepaneun exegesis by M. Emon Hasim, and the "Al-Mishbah" exegesis by M. Quraish Shihab on Surah Al-Ahzab verses 4-5. The findings indicate that "Tabanni," which means "considering someone else's child as one's own," clearly does not proscribe the act of adopting a child but rather prohibits the act of claiming an adopted child as a biological one. This injunction also seeks to abolish the pre-Islamic Arabian practice during the Jahiliyah era, wherein adopted children were considered biological. Muslims who adopt children are mandated to care for and love their adopted children as their own, with the stipulation that an adoptive father does not serve as the marriage guardian for his adopted daughter and that adoptive parents and adopted children do not have mutual inheritance rights.
TREND FASHION MUSLIM DALAM HADIS: Pemahaman Hadis tentang Memelihara Jenggot di Era Kekinian Ash, Abil
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 2 No. 2 (2021): Al Isnad: Journal of Indonesian Hadith Studies Journal
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.439 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v2i2.115

Abstract

Hadis hendaknya tidak selalu dipahami dalam bingkai tekstual, namun perlu juga untuk memperhatikan sebuah hadis dalam bingkai sosio-historis dan konteks hadis tersebut. Dalam penulisan jurnal ini ingin menjawab pemahaman sebuah hadis tentang salah satu identitas seorang muslim yang membedakan dengan umat-umat agama lain, yakni memelihara jenggot. Perihal memelihara jenggot dalam sudut konteks kekinian tidaklah menjadi satu-satunya identitas seorang muslim. Sebagaimana pada masa-masa awal Islam, jenggot telah menjadi sebuah trend fashion yang dilaksanakan oleh siapapun tanpa memandang ada unsur nilai teologis atau tidak. Ada beberapa ulama hadis berbeda pandangan untuk memahami hadis tentang memelihara jenggot. Pertama, ulama hadis yang memahami hadis mengenai memelihara jenggot secara tekstual, seperti Nasir al-Din al-Albani, Abu Muhammad bin Hazm, Abd al-Aziz bin Baz. Mereka semua berpandangan bahwa memelihara jenggot merupakan perintah dari Nabi Muhammad saw yang harus dikerjakan dan merupakan bagian dari sunah. Kedua, ulama hadis yang memahami hadis tersebut secara kontekstual, seperti al-Syarbasi, al-Qaradawi, dan Syuhudi Ismail. Ulama hadis tersebut berpandangan memelihara jenggot pada hadis tersebut merupakan bentuk anjuran dan hal ini bukan bagian dari pada perintah atau sunah. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori pemahaman nash/teks double movement dari Fazlur Rahman untuk memahami hadis tentang memelihara jenggot dalam konteks kekinian. Pendekatan sosio-historis pun penulis gunakan untuk menemukan makna konteks ketika hadis tersebut ada atau muncul, kemudian dikorelasikan dengan konteks kekinian
HALAL HARAM DALAM PERSPEKTIF HADIS Ash, Abil
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 3 No. 1 (2022): Al Isnad: Journal of Indonesian Hadith Studies Journal
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.831 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v3i1.123

Abstract

Masalah halal dan haram akan selalu dihadapi oleh kaum muslimin detik demi detik dalam rentang kehidupannya. Sehingga menandakan betapa pentingnya kita mengetahui secara rinci batasan antara halal dan haram. Mengetahui persoalan halal-haram ini kelihatan mudah sepintas, tetapi kemudian menjadi sangat sukar ketika berhadapan dengan kehidupan keseharian, yang kadang menjadi kabur, sulit membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Jika perkara halal dan haram kita tidak jeli dan hati-hati (ihtiyat), bisa jatuh pada hal yang samar-samar (syubhât). Ajaran agama Islam tidak lah seperti kaum ekstrimis kanan, misalnya: Kaum Brahmana Hindu, para rahib Kristen dan beberapa golongan lain yang berprinsip menyiksa diri dan menjauhi hal-hal yang baik dalam masalah makanan atau pakaian yang telah diserahkan Allah kepada hamba-Nya. Dan juga bukan kaum ekstrimis kiri, dapat dijumpai misalnya aliran Masdak yang muncul di Persia. Golongan ini menyerukan kepada kebolehan yang sangat meluas. Kendali manusia dilepaskan, supaya dapat mencapai apa saja yang dikehendaki. Segala-galanya bagi mereka adalah halal. Bangsa Arab di zaman Jahiliah merupakan contoh konkrit, betapa tidak beresnya barometer menentukan halal-haram suatu benda atau perbuatan. Oleh karena itu, membolehkan minuman keras, makan riba, menganiaya perempuan dan sebagainya. Ajaran Islam berdiri antara kaum ekstrimis kanan dan ekstrimis kiri, membawa ajaran yang rahmatan lil alamin yang dibawa oleh sang Nabi penuh kasih sayang dan akhlaknya yang indah serta menawan. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah studi kepustakaan (library research). Sebagai data primer tulisan ini adalah kitab induk hadis. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah Deduktif, Deskriptif dan Analisis
'ADALAH AL-RAWI PERSPEKTIF SUNNI DAN SYI'AH Ash, Abil
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2022): Al Isnad: Journal of Indonesian Hadith Studies Journal
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.18 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v3i2.127

Abstract

Sunni yang beranggapan bahwa semua sahabat itu adil. Sementara kelompok Syi’ah beranggapan sebaliknya, bahwa para sahabat tidak semuanya adil. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian tentang ‘adalah al-sahabat menurut Sunni dan Syi‘ah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan metode komparatif-analitis yaitu penulis memaparkan penjelasan umum tentang kajian ilmu hadis dan analisis terhadap kajian tersebut. Dalam penetapan keadilan para sahabat antara ulama Sunni dan Syi’ah sangat berbeda. Dalam penetapan tentang keadilan sahabat, ulama Sunni berargument bahwa predikat keadilan para sahabat itu bukan berdasarkan hasil ijtihad individu dan penelitian pada pribadi sahabat Nabi Saw, akan tetapi berdasarkan al-Qur’an, hadis, ijma ulama Sunni. Sedangkan ulama Syi’ah berargument seorang sahabat harus memenuhi syarat agar ia bisa dinyatakan sebagai sahabat yang ‘adil, diantaranya; Pertama, kekerabatan dan keturunan suci Nabi Muhammad Saw. Kedua, lebih dahulu menyatakan keimanan. Ketiga, tingkat ketakwaan. Keempat, tingkat keilmuan, khususnya ilmu agama. Kelima, mengakui kekhilafahan atas orang yang ditunjuk oleh Rasulullah Saw. Sebagai pemimpin syar’i pengganti dari Nabi Muhammad Saw. Tanpa disertai dengan rasa benci atau terpaksa. Persoalan keadilan sahabat ini termasuk salah satu hal yang sangat mendasar dalam studi ilmu keIslaman khhususnya ilmu hadis. ia akan berimplikasi kepada diterima atau ditolaknya sebuah hadis yang sekaligus juga sebagai sumber hukum Islam kedua tertinggi di dalam Islam setelah al-Qur’ān
Fenomena Brain Rot Dalam Perspektif Hadis: Analisis Dampaknya Terhadap Moralitas Remaja urwatulwutsqo, halwa; Ghifari, Muhammad; Ash, Abil
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1305

Abstract

Istilah brain rot ini biasa digunakan ketika menggambarkan pada penurunannya kondisi fungsi otak yang diakibatkan karena kebiasaan mengkonsumsi konten dalam sosial media yang sifatnya instan dan dangkal.. Kondisi seperti ini jika dibiarkan terus-menerus akan berdampak buruk sehingga mengakibatkan kerusakan otak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelaah fenomena brain rot yang terjadi diera sekarang ini dalam perspektif Nabi Muhammad SAW, dan akan berfokus pada nilai-nilai ajaran Islam terkait pentingnya untuk menjaga kesehatan akal dan menjaga waktu. Adapun metode yang akan digunakan pada artikel ini adalah menggunakan studi kepustakaan dengan pendekatan tematik, yaitu mengumpulkan serta menganasis hadis-hadis yang berkaitan pada kesehatan akal dan waktu. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan umatnya untuk senantiasa menjaga akal dan memanfaatkan waktu dengan baik. Kata Kunci: Brain rot, media sosial, hadis, akal, waktu.
Promoting Wives' Rights From a Hadith Perspective Anggraini, Rizki; ghifari, Muhammad; Ash, Abil
Al-Bukhari : Jurnal Ilmu Hadis Vol 7 No 1 (2024): Al-Bukhari: Jurnal Ilmu Hadis
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/al-bukhari.v7i1.8378

Abstract

In Islam, women have equal rights to those of men, albeit with certain differences in specific contexts. This research explores the impact of hadiths concerning women's rights as wives on the formation of contemporary Muslim identity. Employing a qualitative approach and library research methodology, this study collects and analyzes data from various secondary sources, including journals, tafsir (Quranic exegesis), and relevant hadiths. The analysis reveals several hadiths that has the matan that concerns to the rights of wives. Research findings indicate that these hadiths provide guidelines that support women's empowerment. The study emphasizes the significance of interpreting hadiths contextually to nurture dynamic and responsive female identities capable of addressing contemporary challenges.