Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

HALAL HARAM DALAM PERSPEKTIF HADIS Ash, Abil
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 3 No. 1 (2022): Al Isnad: Journal of Indonesian Hadith Studies Journal
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.831 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v3i1.123

Abstract

Masalah halal dan haram akan selalu dihadapi oleh kaum muslimin detik demi detik dalam rentang kehidupannya. Sehingga menandakan betapa pentingnya kita mengetahui secara rinci batasan antara halal dan haram. Mengetahui persoalan halal-haram ini kelihatan mudah sepintas, tetapi kemudian menjadi sangat sukar ketika berhadapan dengan kehidupan keseharian, yang kadang menjadi kabur, sulit membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Jika perkara halal dan haram kita tidak jeli dan hati-hati (ihtiyat), bisa jatuh pada hal yang samar-samar (syubhât). Ajaran agama Islam tidak lah seperti kaum ekstrimis kanan, misalnya: Kaum Brahmana Hindu, para rahib Kristen dan beberapa golongan lain yang berprinsip menyiksa diri dan menjauhi hal-hal yang baik dalam masalah makanan atau pakaian yang telah diserahkan Allah kepada hamba-Nya. Dan juga bukan kaum ekstrimis kiri, dapat dijumpai misalnya aliran Masdak yang muncul di Persia. Golongan ini menyerukan kepada kebolehan yang sangat meluas. Kendali manusia dilepaskan, supaya dapat mencapai apa saja yang dikehendaki. Segala-galanya bagi mereka adalah halal. Bangsa Arab di zaman Jahiliah merupakan contoh konkrit, betapa tidak beresnya barometer menentukan halal-haram suatu benda atau perbuatan. Oleh karena itu, membolehkan minuman keras, makan riba, menganiaya perempuan dan sebagainya. Ajaran Islam berdiri antara kaum ekstrimis kanan dan ekstrimis kiri, membawa ajaran yang rahmatan lil alamin yang dibawa oleh sang Nabi penuh kasih sayang dan akhlaknya yang indah serta menawan. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah studi kepustakaan (library research). Sebagai data primer tulisan ini adalah kitab induk hadis. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah Deduktif, Deskriptif dan Analisis
'ADALAH AL-RAWI PERSPEKTIF SUNNI DAN SYI'AH Ash, Abil
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2022): Al Isnad: Journal of Indonesian Hadith Studies Journal
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.18 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v3i2.127

Abstract

Sunni yang beranggapan bahwa semua sahabat itu adil. Sementara kelompok Syi’ah beranggapan sebaliknya, bahwa para sahabat tidak semuanya adil. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian tentang ‘adalah al-sahabat menurut Sunni dan Syi‘ah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan metode komparatif-analitis yaitu penulis memaparkan penjelasan umum tentang kajian ilmu hadis dan analisis terhadap kajian tersebut. Dalam penetapan keadilan para sahabat antara ulama Sunni dan Syi’ah sangat berbeda. Dalam penetapan tentang keadilan sahabat, ulama Sunni berargument bahwa predikat keadilan para sahabat itu bukan berdasarkan hasil ijtihad individu dan penelitian pada pribadi sahabat Nabi Saw, akan tetapi berdasarkan al-Qur’an, hadis, ijma ulama Sunni. Sedangkan ulama Syi’ah berargument seorang sahabat harus memenuhi syarat agar ia bisa dinyatakan sebagai sahabat yang ‘adil, diantaranya; Pertama, kekerabatan dan keturunan suci Nabi Muhammad Saw. Kedua, lebih dahulu menyatakan keimanan. Ketiga, tingkat ketakwaan. Keempat, tingkat keilmuan, khususnya ilmu agama. Kelima, mengakui kekhilafahan atas orang yang ditunjuk oleh Rasulullah Saw. Sebagai pemimpin syar’i pengganti dari Nabi Muhammad Saw. Tanpa disertai dengan rasa benci atau terpaksa. Persoalan keadilan sahabat ini termasuk salah satu hal yang sangat mendasar dalam studi ilmu keIslaman khhususnya ilmu hadis. ia akan berimplikasi kepada diterima atau ditolaknya sebuah hadis yang sekaligus juga sebagai sumber hukum Islam kedua tertinggi di dalam Islam setelah al-Qur’ān
Fenomena Brain Rot Dalam Perspektif Hadis: Analisis Dampaknya Terhadap Moralitas Remaja urwatulwutsqo, halwa; Ghifari, Muhammad; Ash, Abil
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1305

Abstract

Istilah brain rot ini biasa digunakan ketika menggambarkan pada penurunannya kondisi fungsi otak yang diakibatkan karena kebiasaan mengkonsumsi konten dalam sosial media yang sifatnya instan dan dangkal.. Kondisi seperti ini jika dibiarkan terus-menerus akan berdampak buruk sehingga mengakibatkan kerusakan otak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelaah fenomena brain rot yang terjadi diera sekarang ini dalam perspektif Nabi Muhammad SAW, dan akan berfokus pada nilai-nilai ajaran Islam terkait pentingnya untuk menjaga kesehatan akal dan menjaga waktu. Adapun metode yang akan digunakan pada artikel ini adalah menggunakan studi kepustakaan dengan pendekatan tematik, yaitu mengumpulkan serta menganasis hadis-hadis yang berkaitan pada kesehatan akal dan waktu. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan umatnya untuk senantiasa menjaga akal dan memanfaatkan waktu dengan baik. Kata Kunci: Brain rot, media sosial, hadis, akal, waktu.
Promoting Wives' Rights From a Hadith Perspective Anggraini, Rizki; ghifari, Muhammad; Ash, Abil
Al-Bukhari : Jurnal Ilmu Hadis Vol 7 No 1 (2024): Al-Bukhari: Jurnal Ilmu Hadis
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/al-bukhari.v7i1.8378

Abstract

In Islam, women have equal rights to those of men, albeit with certain differences in specific contexts. This research explores the impact of hadiths concerning women's rights as wives on the formation of contemporary Muslim identity. Employing a qualitative approach and library research methodology, this study collects and analyzes data from various secondary sources, including journals, tafsir (Quranic exegesis), and relevant hadiths. The analysis reveals several hadiths that has the matan that concerns to the rights of wives. Research findings indicate that these hadiths provide guidelines that support women's empowerment. The study emphasizes the significance of interpreting hadiths contextually to nurture dynamic and responsive female identities capable of addressing contemporary challenges.
THE USE OF HUMAN CHIP IMPLANTS FROM THE HADITH PERSPECTIVE Fharadillah, Vira; Ghifari, Muhammad; Ash, Abil
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.32233

Abstract

The advancement of chip implant technology in humans has introduced profound transformations across multiple sectors, particularly in healthcare, security, and digital finance. These microelectronic devices, embedded within the human body, serve various functions ranging from medical monitoring and identification to real-time control of digital systems. In medical contexts, chip implants have demonstrated potential in managing chronic illnesses and streamlining access to patient health records. However, their integration into human life also provokes ethical and theological debates, especially within Islamic discourse. This study explores the Islamic ethical framework—focusing on the hadith of Prophet Muhammad Pbuh. —in evaluating the permissibility of chip implants. Employing a qualitative literature review, this research analyzes classical hadith texts alongside contemporary Islamic scholarship, fatwas, and bioethical debates. The study finds that while chip implants are not directly addressed in hadith, foundational Islamic legal principles such as lā ḍarar wa lāḍirār (no harm and no reciprocating harm), ḥifẓ al-nafs (protection of life), and privacy preservation provide normative guidelines. From this perspective, chip implants for urgent medical purposes are conditionally permissible, whereas their use for luxury, surveillance, or non-essential purposes may contravene Islamic ethical standards. This research contributes to contemporary Islamic bioethics by offering a hadith-based framework for navigating emerging biomedical technologies.[Kemajuan teknologi implan chip pada manusia telah membawa perubahan besar di berbagai bidang, khususnya dalam layanan kesehatan, keamanan, dan transaksi keuangan digital. Perangkat mikroelektronik ini, yang ditanamkan ke dalam tubuh manusia, memiliki berbagai fungsi mulai dari pemantauan medis dan identifikasi hingga pengendalian sistem digital secara real-time. Dalam konteks medis, implan chip menunjukkan potensi dalam menangani penyakit kronis serta mempermudah akses cepat terhadap data kesehatan pasien. Namun, integrasi teknologi ini dalam kehidupan manusia juga menimbulkan perdebatan etis dan teologis, terutama dalam wacana Islam. Studi ini mengkaji kerangka etika Islam—dengan fokus pada hadis Nabi Muhammad Saw. —dalam menilai kebolehan penggunaan implan chip. Dengan menggunakan metode kajian literatur kualitatif, penelitian ini menganalisis teks-teks hadis klasik bersama literatur keislaman kontemporer, fatwa, dan perdebatan bioetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun implan chip tidak secara eksplisit dibahas dalam hadis, prinsip-prinsip dasar hukum Islam seperti lā ḍarar wa lāḍirār (tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain), ḥifẓ al-nafs (perlindungan jiwa), dan perlindungan privasi memberikan pedoman normatif. Dari sudut pandang ini, penggunaan implan chip untuk keperluan medis yang mendesak dapat dibolehkan secara syar’i, sedangkan penggunaannya untuk tujuan non-medis, kemewahan, atau yang berpotensi melanggar privasi dan membahayakan, dinilai bertentangan dengan standar etika Islam. Penelitian ini berkontribusi pada wacana bioetika Islam kontemporer dengan menawarkan kerangka etis berbasis hadis untuk menyikapi kemajuan teknologi biomedis.]