Muzakki, Muhammad Asgar
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Dating Apps dalam Perspektif Hadis: Kajian Tematik Zina di Era Digital Rozaq, Muhammad Abdur; Muzakki, Muhammad Asgar; ‘Ash, Abil
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23455

Abstract

Technological advancements have influenced human interactions, including partner searches through dating apps. Although dating apps offer certain benefits, they also raise concerns regarding behaviors that verge on zina (adultery), especially within Muslim societies. This study aims to examine the Islamic perspective, particularly through thematic hadith, on the use of dating apps in relation to zina behavior prohibited by the Qur'an and As-Sunnah. The research employs a library research method, gathering data from books, journals, and other relevant literature sources. A thematic-conceptual approach in hadith studies is utilized to analyze various forms of zina and how the use of dating apps can potentially lead to such behaviors. The findings of this study indicate that using dating apps, whether for finding a life partner or for entertainment, can create opportunities for various forms of zina, including zina of the eyes, zina of the tongue, and zina of the heart. However, the use of dating apps can be acceptable in Islam if conducted with good intentions, in accordance with sharia, maintaining ethics, and avoiding actions that approach zina. Therefore, the importance of education and self-awareness in using technology is emphasized, along with the role of the community and scholars in providing guidance aligned with Islamic teachings.Abstrak: Kemajuan teknologi telah mempengaruhi cara manusia berinteraksi, termasuk dalam konteks pencarian pasangan melalui dating apps. Meskipun memiliki manfaat, dating apps juga menimbulkan kekhawatiran terkait risiko perilaku yang mendekati zina, terutama dalam masyarakat Muslim. Studi ini bertujuan untuk mengkaji perspektif Islam, khususnya melalui hadis tematik, terhadap penggunaan dating apps dalam kaitannya dengan perilaku zina yang dilarang oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Penelitian ini menggunakan kajian pustaka (library research) dengan mengumpulkan data dari buku, jurnal, dan sumber literatur lainnya yang relevan. Pendekatan yang digunakan adalah tematik-konseptual dalam kajian hadis, untuk menganalisis berbagai bentuk zina dan bagaimana penggunaan dating apps dapat berpotensi menimbulkan perilaku tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penggunaan dating apps untuk mencari pasangan hidup maupun sekadar hiburan dapat membuka peluang terjadinya berbagai bentuk zina, termasuk zina mata, zina lisan, dan zina hati. Namun, penggunaan dating apps dapat diterima dalam Islam jika dilakukan dengan niat yang baik, sesuai dengan syariat, menjaga etika, dan menghindari hal-hal yang mendekati zina. Oleh karena itu, pentingnya edukasi dan kesadaran diri dalam penggunaan teknologi juga ditekankan, serta peran komunitas dan ulama dalam memberikan panduan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Counter-Narrative of Radical Religious Beliefs of Jihadist Groups: A Study of the Kutb Sittah Hadith Books on Tolerance Auzan, Ahmad Isyraq Jamarul; Ash, Abil; Muzakki, Muhammad Asgar; Sahid, Mualimin Mochammad
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i2.276

Abstract

Understanding of tolerance in Islam often varies and becomes a subject of different interpretations. This can create the potential for misunderstanding or misuse of tolerance in everyday practice. The purpose of this article is to analyze the understanding of jihadist groups regarding the relevant hadiths in Kutb Sittah that pertain to the concept of tolerance. This article is qualitative, utilizing content analysis to collect, analyze, and interpret textual data related to the research topic, in this case, the concept of tolerance in hadiths. This article asserts that jihadist groups that adopt radical religious beliefs do not reflect the values of tolerance. In contrast, the hadiths in Kutb Sittah emphasize the principles of tolerance in Islam, including ease, non-compulsion in religious beliefs, and the importance of maintaining good relations with fellow human beings. Therefore, these counter-narratives are relevant in combating radical interpretations that do not align with the values of tolerance, as well as social theories of tolerance that strengthen the importance of understanding and applying the concept of tolerance in an increasingly complex and multicultural society. With a deeper understanding of the true meaning of tolerance in Islam, it is hoped that there will be a stronger foundation for promoting harmony among religious communities, respecting diversity, and avoiding religious conflicts. Pemahaman tentang toleransi dalam Islam seringkali dapat bervariasi dan menjadi subjek interpretasi yang berbeda. Hal ini dapat menciptakan potensi untuk pemahaman yang salah atau penyalahgunaan konsep toleransi dalam praktik sehari-hari. Tujuan artikel ini untuk menganalisis pemahaman kelompok jihadis terhadap hadis-hadis dalam Kutb Sittah yang relevan dengan konsep toleransi. Artikel ini bersifat kualitatif dengan menggunakan content analysis, yang bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data teks yang berkaitan dengan topik artikel, dalam hal ini, konsep toleransi dalam hadis. Artikel ini menegaskan bahwa kelompok jihadis yang mengadopsi paham keagamaan radikal tidak mencerminkan nilai-nilai toleransi, sementara hadis-hadis dalam Kutb Sittah menekankan prinsip-prinsip toleransi dalam Islam, yang mencakup kemudahan, ketidakpaksaaan keyakinan agama, dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, sehingga kontra-narasi ini relevan dalam memerangi pemahaman radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai toleransi, serta teori toleransi dalam ilmu sosial yang memperkuat pentingnya memahami dan menerapkan konsep toleransi dalam konteks masyarakat yang semakin kompleks dan multikultural. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang makna sebenarnya dari toleransi dalam Islam, diharapkan dapat menjadi landasan yang lebih kuat untuk mempromosikan kerukunan antarumat beragama, menghormati keberagaman, dan menghindari konflik agama.
Analisis Hadis Prediktif Nabi Muhammad SAW. Tentang Memerangi Yahudi Hakiim, Ath Thaariq Al Furqaanul; Ash, Abil; Muzakki, Muhammad Asgar
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i2.725

Abstract

Penelitian ini membahas hadis prediktif Nabi Muhammad SAW. yang menyebutkan bahwa menjelang kiamat, umat Muslim akan memerangi Yahudi dan menemukan mereka bahkan di balik batu dan pohon. Hadis ini, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan terdapat dalam kitab Bukhari dan Muslim, mengundang berbagai interpretasi dan perdebatan, terutama dalam konteks hubungan Muslim-Yahudi dan situasi geopolitik saat ini. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif dan historis-tekstual untuk mengeksplorasi pemahaman dan implikasi hadis tersebut terhadap hubungan antara umat Muslim dan Yahudi serta persepsi umat Muslim terhadap Yahudi dalam konteks sejarah dan masa depan. Dalam pembahasan, diteliti interaksi Nabi Muhammad SAW. dengan orang-orang Yahudi di Madinah, yang mencakup perjanjian damai dan persaingan politik-ekonomi. Analisis juga mencakup peran Yerusalem dalam agama-agama Samawi dan situasi geopolitik terkini terkait pemusnahan etnis dan konflik Israel-Palestina. Temuan menunjukkan bahwa hadis ini perlu dipahami dalam konteks sejarah dan tidak boleh dijadikan justifikasi untuk konflik kontemporer. Hadis ini lebih menekankan pada perjuangan dan ketahanan umat Islam terhadap musuh-musuhnya dalam skenario akhir zaman, dan pentingnya mengedepankan prinsip keadilan dan perdamaian dalam interaksi antar agama.
Community-based education: The #lesswaste habit formation by the YukNgaji Club as an Environmental Conservation Effort A. Alanazi, Meshal Saleh; Muzakki, Muhammad Asgar; Muslimin, JM; Hidayat, Syahrul Ramadhan; Yusof, Nabila; Nukhba, Ghulam Musthafa
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 12 NO. 1 2025 (In Progress Issue)
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v12i1.45474

Abstract

AbstractThis study explores the YukNgaji community’s #LessWaste campaign as a community-driven Islamic ecotheology model. Amid environmental crises requiring sustainable action, the initiative bridges Islamic stewardship (khalifah) and responsibility (amanah) with ecological awareness. Using qualitative methods—virtual ethnography, community-based education theory, and Living Qur’an-Hadith analysis—data were gathered via observations, interviews, and digital content assessment. Results indicate #LessWaste effectively integrates Islamic ecological values through digital activism and offline practices (e.g., waste donation, reusable items). The campaign functions as both an environmental movement and adaptive educational platform, engaging Muslim youth with modern challenges. It highlights hybrid activism’s role in Islamic education, suggesting applicability across diverse Muslim communities. Future studies should test similar frameworks in varied socio-cultural contexts to evaluate sustained behavioral change.AbstrakPenelitian ini mengkaji kampanye #LessWaste komunitas YukNgaji sebagai model ekoteologi Islam berbasis komunitas. Menghadapi krisis lingkungan yang mendesak kebutuhan aksi berkelanjutan, inisiatif ini menghubungkan prinsip stewardship (khalifah) dan tanggung jawab (amanah) dalam Islam dengan kesadaran ekologis. Dengan metode kualitatif—meliputi etnografi virtual, teori pendidikan berbasis komunitas, dan analisis Living Qur’an-Hadith—data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara dengan anggota kunci, dan analisis konten digital. Hasil menunjukkan #LessWaste berhasil mengintegrasikan nilai ekologis Islam melalui aktivisme digital dan praktik offline seperti donasi sampah serta penggunaan barang reusable. Kampanye ini berfungsi ganda sebagai gerakan lingkungan dan platform pendidikan adaptif yang melibatkan generasi muda Muslim dengan isu kontemporer. Temuan menggarisbawahi peran aktivisme hibrid dalam pendidikan Islam serta potensi replikasinya di komunitas Muslim beragam. Studi lanjutan disarankan untuk menguji model serupa dalam konteks sosiokultural berbeda guna menilai dampak jangka panjang pada perubahan perilaku berkelanjutan. How to Cite: Alanazi, M. S. A., Muzakki, M. A., Muslimin, J. M., Hidayat, S. R., Yusof, N. B., & Nukhba, G. M. (2025). Community-based education: The #lesswaste habit formation by the YukNgaji Club as an Environmental Conservation Effort. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(1), 17-38. doi:10.15408/tjems.v12i1.45474.
Community-based education: The #lesswaste habit formation by the YukNgaji Club as an Environmental Conservation Effort A. Alanazi, Meshal Saleh; Muzakki, Muhammad Asgar; Muslimin, JM; Hidayat, Syahrul Ramadhan; Yusof, Nabila; Nukhba, Ghulam Musthafa
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 12 NO. 1 2025
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v12i1.45474

Abstract

AbstractThis study explores the YukNgaji community’s #LessWaste campaign as a community-driven Islamic ecotheology model. Amid environmental crises requiring sustainable action, the initiative bridges Islamic stewardship (khalifah) and responsibility (amanah) with ecological awareness. Using qualitative methods—virtual ethnography, community-based education theory, and Living Qur’an-Hadith analysis—data were gathered via observations, interviews, and digital content assessment. Results indicate #LessWaste effectively integrates Islamic ecological values through digital activism and offline practices (e.g., waste donation, reusable items). The campaign functions as both an environmental movement and adaptive educational platform, engaging Muslim youth with modern challenges. It highlights hybrid activism’s role in Islamic education, suggesting applicability across diverse Muslim communities. Future studies should test similar frameworks in varied socio-cultural contexts to evaluate sustained behavioral change.AbstrakPenelitian ini mengkaji kampanye #LessWaste komunitas YukNgaji sebagai model ekoteologi Islam berbasis komunitas. Menghadapi krisis lingkungan yang mendesak kebutuhan aksi berkelanjutan, inisiatif ini menghubungkan prinsip stewardship (khalifah) dan tanggung jawab (amanah) dalam Islam dengan kesadaran ekologis. Dengan metode kualitatif—meliputi etnografi virtual, teori pendidikan berbasis komunitas, dan analisis Living Qur’an-Hadith—data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara dengan anggota kunci, dan analisis konten digital. Hasil menunjukkan #LessWaste berhasil mengintegrasikan nilai ekologis Islam melalui aktivisme digital dan praktik offline seperti donasi sampah serta penggunaan barang reusable. Kampanye ini berfungsi ganda sebagai gerakan lingkungan dan platform pendidikan adaptif yang melibatkan generasi muda Muslim dengan isu kontemporer. Temuan menggarisbawahi peran aktivisme hibrid dalam pendidikan Islam serta potensi replikasinya di komunitas Muslim beragam. Studi lanjutan disarankan untuk menguji model serupa dalam konteks sosiokultural berbeda guna menilai dampak jangka panjang pada perubahan perilaku berkelanjutan. How to Cite: Alanazi, M. S. A., Muzakki, M. A., Muslimin, J. M., Hidayat, S. R., Yusof, N. B., & Nukhba, G. M. (2025). Community-based education: The #lesswaste habit formation by the YukNgaji Club as an Environmental Conservation Effort. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(1), 17-38. doi:10.15408/tjems.v12i1.45474.
Digisexuality in the Digital Age: A Critical Hadith-Based Analysis of Islamic Sexual Ethics and Contemporary Challenges Damayanti, Diah; Ghifari, Muhammad; Muzakki, Muhammad Asgar
Sinthop: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya Vol. 4 No. 1 (2025): January-June
Publisher : Lembaga Aneuk Muda Peduli Umat, Bekerjasama dengan LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/sinthop.v4.i1.31.92-102

Abstract

The rapid advancement of digital technologies has given rise to the phenomenon of digisexuality—sexual preferences and behaviors mediated by digital devices, either as a supplement to or replacement for human relationships. This new reality poses significant challenges to Islamic sexual ethics, especially concerning the preservation of moral values, human dignity, and family stability. This study offers a critical analysis of digisexuality through the lens of hadith literature, employing a qualitative approach rooted in library research. The primary sources include prophetic traditions related to sexual conduct, as well as contemporary literature on human-technology interactions and Muslim scholarly responses to digital sexual issues. The findings reveal that fundamental prophetic teachings—such as the encouragement of marriage, prohibition of celibacy (tabattul), and self-restraint through fasting—remain highly relevant in guiding sexual behavior amid digital realities. Modern scholars increasingly emphasize the maqasid shariah framework, enabling Islamic ethics to be more adaptive in addressing socio-technological transformations. This study recommends enhanced digital literacy education, multidisciplinary collaboration, and renewed engagement with classical sources, ensuring that Islamic sexual ethics can continue to serve as a moral compass in the digital era. These insights offer a foundation for further policy development and empirical research in Islamic ethics and digital society.
NARCISSISTIC PERSONALITY DISORDER (NPD) DALAM RIWAYAT PROFETIK Maemunah, Siti; Muzakki, Muhammad Asgar
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2951

Abstract

Abstract: This article discusses narcissistic behavior in practicing religion as contained in prophetic history. The theme of narcissism amidst the prominence of social media can be said to be always relevant and evergreen, because narcissistic disorders can penetrate all groups. Including people who are labeled pious and diligent in worship. Interestingly, people with NPD even existed in the time of the Prophet, complete with characteristics and indicators of narcissism from modern psychology. Feeling the most right, the most entitled, arrogant, is indeed part of the “adab” chapter which is the main focus of the Islamic taching. So the Prophet taught us a way - or at least one way - to mentally forge a way to ward off the NPD disorder. Through interdisciplinary analysis that combines psychological and historical approaches, this research examines hadiths related to the NPD theme using a thematic-contextual study model. This research aims to contribute to a deeper understanding of narcissistic behavior in a religious context and offers potential solutions to reduce these tendencies.Key Words : Disorder, narcissism, humilityAbstrak Artikel ini membahas tentang perilaku narsistik dalam beragama yang termuat dalam riwayat kenabian. Tema narsisme di tengah prominennya media sosial boleh dibilang selalu relevan dan evergreen, karena gangguan narsistik bisa mempenetrasi semua kalangan. Termasuk orang yang dilabeli saleh dan rajin beribadah sekalipun. Menariknya, pengidap NPD bahkan sudah ada di zaman Nabi lengkap dengan karakteristik dan indikator narsisme dari psikologi modern. Merasa paling benar, paling berhak, angkuh, memang bagian dari bab adab yang menjadi sorotan utama agama Islam. Maka Nabi pun mengajarkan cara –atau sekurang-kurangnya salah satu cara untuk menempa mental guna menepis gangguan NPD tersebut. Melalui analisis interdisipliner yang menggabungkan pendekatan psikologi dan sejarah, penelitian ini meneliti hadis-hadis berkaitan dengan tema NPD dengan model kajian tematik-kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang perilaku narsistik dalam konteks agama dan menawarkan solusi potensial untuk mengurangi kecenderungan tersebut.Kata Kunci : Gangguan, narsisme, kerendahan hati.
Dating Apps dalam Perspektif Hadis: Kajian Tematik Zina di Era Digital Rozaq, Muhammad Abdur; Muzakki, Muhammad Asgar; ‘Ash, Abil
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23455

Abstract

Technological advancements have influenced human interactions, including partner searches through dating apps. Although dating apps offer certain benefits, they also raise concerns regarding behaviors that verge on zina (adultery), especially within Muslim societies. This study aims to examine the Islamic perspective, particularly through thematic hadith, on the use of dating apps in relation to zina behavior prohibited by the Qur'an and As-Sunnah. The research employs a library research method, gathering data from books, journals, and other relevant literature sources. A thematic-conceptual approach in hadith studies is utilized to analyze various forms of zina and how the use of dating apps can potentially lead to such behaviors. The findings of this study indicate that using dating apps, whether for finding a life partner or for entertainment, can create opportunities for various forms of zina, including zina of the eyes, zina of the tongue, and zina of the heart. However, the use of dating apps can be acceptable in Islam if conducted with good intentions, in accordance with sharia, maintaining ethics, and avoiding actions that approach zina. Therefore, the importance of education and self-awareness in using technology is emphasized, along with the role of the community and scholars in providing guidance aligned with Islamic teachings.Abstrak: Kemajuan teknologi telah mempengaruhi cara manusia berinteraksi, termasuk dalam konteks pencarian pasangan melalui dating apps. Meskipun memiliki manfaat, dating apps juga menimbulkan kekhawatiran terkait risiko perilaku yang mendekati zina, terutama dalam masyarakat Muslim. Studi ini bertujuan untuk mengkaji perspektif Islam, khususnya melalui hadis tematik, terhadap penggunaan dating apps dalam kaitannya dengan perilaku zina yang dilarang oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Penelitian ini menggunakan kajian pustaka (library research) dengan mengumpulkan data dari buku, jurnal, dan sumber literatur lainnya yang relevan. Pendekatan yang digunakan adalah tematik-konseptual dalam kajian hadis, untuk menganalisis berbagai bentuk zina dan bagaimana penggunaan dating apps dapat berpotensi menimbulkan perilaku tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penggunaan dating apps untuk mencari pasangan hidup maupun sekadar hiburan dapat membuka peluang terjadinya berbagai bentuk zina, termasuk zina mata, zina lisan, dan zina hati. Namun, penggunaan dating apps dapat diterima dalam Islam jika dilakukan dengan niat yang baik, sesuai dengan syariat, menjaga etika, dan menghindari hal-hal yang mendekati zina. Oleh karena itu, pentingnya edukasi dan kesadaran diri dalam penggunaan teknologi juga ditekankan, serta peran komunitas dan ulama dalam memberikan panduan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Operationalizing Hadith in Digital Ta’aruf: A Living Hadith Study of TikTok @taarufmenikah Muzakki, Muhammad Asgar
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the function of hadith in digital ta’aruf practices facilitated by the TikTok account @taarufmenikah. Using a living hadith approach, the research analyzes 36 TikTok posts containing hadith or Qur’anic references and is supported by interviews with practitioners of online and offline ta’aruf conducted through snowball sampling. The findings indicate that the cited texts originate from authoritative sources with acceptable levels of authenticity but are presented in simplified and decontextualized forms adapted to TikTok’s short-video format. In this context, hadith functions as normative legitimization, motivational encouragement, pragmatic guidance, and interpretive simplification, while its authority is shaped less by traditional religious figures and more by platform visibility and repetition, reflecting a form of algorithmic authority. The study concludes that digital ta’aruf reshapes the relationship between religious texts, authority, and user practices, illustrating a contemporary form of living hadith in social media spaces. Penelitian ini mengkaji fungsi hadis dalam praktik ta’aruf digital yang difasilitasi oleh akun TikTok @taarufmenikah. Dengan menggunakan pendekatan living hadis, penelitian ini menganalisis 36 unggahan TikTok yang memuat kutipan hadis atau ayat Al-Qur’an serta didukung oleh wawancara dengan praktisi ta’aruf daring dan luring yang dikumpulkan melalui teknik snowball sampling. Temuan penelitian menunjukkan bahwa teks-teks yang dikutip berasal dari sumber otoritatif dengan tingkat kesahihan yang dapat diterima, namun disajikan dalam bentuk yang disederhanakan dan terlepas dari konteks klasik agar sesuai dengan format video singkat TikTok. Dalam konteks ini, hadis berfungsi sebagai legitimasi normatif, penguatan motivasi, panduan pragmatis, dan penyederhanaan makna, sementara otoritasnya dibentuk tidak lagi oleh figur keagamaan tradisional, melainkan oleh visibilitas dan repetisi platform, yang mencerminkan bentuk algorithmic authority. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik ta’aruf digital membentuk ulang relasi antara teks keagamaan, otoritas, dan praktik pengguna, serta merepresentasikan bentuk living hadis kontemporer di ruang media sosial.