Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tata Cara Sertifikasi Pemenuhan Aspek Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (SPA CPKB) dalam Mendukung Kemudahan Perizinan Berusaha Bagi Industri Kosmetika di Jawa Barat Salsabila, Annisa Siti; Husni, Patihul
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.51188

Abstract

Industri Kosmetika di Indonesia berkembang dengan sangat pesat karena jumlah peminat produk kosmetika yang terus meningkat setiap tahunnya. Namun, saat ini masih ditemukan produk kosmetika yang tidak teregistrasi di BPOM dan mengandung bahan berbahaya karena banyaknya produsen ilegal. Industri Kosmetika wajib menerapkan Pedoman CPKB untuk menjamin kualitas produknya yang dibuktikan melalui SPA CPKB. Oleh karena itu, artikel ini dibuat untuk meningkatkan pemahaman bagi Industri Kosmetika mengenai persyaratan dan tahapan pengajuan permohonan SPA CPKB kepada BBPOM sehingga akan mempermudah proses perizinan berusaha. Metode yang digunakan yaitu dengan mengumpulkan data serta informasi terkait persyaratan dan tahapan sertifikasi SPA CPKB melalui berbagai sumber termasuk regulasi BPOM. Pengajuan SPA CPKB dilakukan melalui laman OSS-RBA yang sudah terintegrasi dengan e-sertifikasi BPOM. Timeline pengajuan SPA CPKB dapat dilakukan dalam waktu 20 hari kerja serta tidak dikenakan biaya PNBP. SPA CPKB ini berlaku selama lima tahun yang kemudian dapat diperpanjang sebanyak dua kali. Persyaratan yang harus dipenuhi diantaranya memiliki akun OSS-RBA dan e-sertifikasi BPOM, NIB, surat permohonan, surat persetujuan denah bangunan, dokumen penerapan sistem mutu CPKB, surat persetujuan penggunaan fasilitas bersama (apabila diperlukan), serta memiliki penanggung jawab teknis Apoteker atau TTK. Tahapannya dimulai dari persiapan dokumen, pendaftaran akun e-sertifikasi, pengajuan persetujuan denah bangunan, pengajuan permohonan SPA CPKB, pemeriksaan oleh BBPOM, hingga penerbitan SPA CPKB oleh Deputi Bidang Pengawasan OTSKK. Dengan memahami seluruh persyaratan dan tahapan tersebut akan mempermudah Industri Kosmetika untuk melakukan pengajuan permohonan sertifikasi SPA CPKB dalam waktu yang lebih singkat.
Studi In Silico Senyawa dalam Daun Kelor (Moringa oleifera L.) sebagai Inhibitor Protein Kinase C Alpha pada Kanker Payudara Salsabila, Annisa Siti; Safira, Rayhan Zarra; Nugraha, Arif Rizki; Wulandari, Dinda; Qaivani, Ridhatul; Sari, Wuri Ariestika
Indonesian Journal of Biological Pharmacy Vol 3, No 3 (2023): IJBP (Desember)
Publisher : Department of Biological Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijbp.v3i3.46289

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu jenis tumor ganas yang timbul akibat meningkatnya pertumbuhan sel secara abnormal pada epitel duktus maupun lobulus di jaringan payudara. Migrasi sel kanker payudara dapat diinisiasi oleh meningkatnya ekspresi protein kinase C alpha sehingga menginduksi terjadinya potensi invasif sel kanker payudara dan menyebabkan metastasis. Senyawa Fenolik dalam daun kelor (Moringa oleifera) berpotensi untuk menginduksi apoptosis dengan menghambat jalur pensinyalan yang diinisiasi oleh protein kinase C alpha. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui mekanisme inhibisi pada protein kinase alpha dari senyawa yang terkandung di dalam daun kelor (Moringa oleifera) secara in silico menggunakan simulasi penambatan molekuler. Tahapan penelitian terdiri atas preparasi dan optimasi protein kinase C alpha serta senyawa uji, validasi metode dan simulasi penambatan molekuler melalui program AutoDockTools 1.5.6, pemodelan farmakofor melalui program LigandScout, serta prediksi profil farmakokinetika dan ADMET berdasarkan parameter Lipinski’s Rule of Five melalui situs pre-ADMET. Hasil dari simulasi penambatan molekuler tersebut kemudian divisualisasikan melalui program BIOVIA Discovery Studio 2020 Client. Dari hasil simulasi penambatan molekuler diperoleh 3 senyawa yang memiliki nilai binding energy paling rendah dan konstanta inhibisi paling kecil yaitu myricetin (∆G = -8,49  kcal/mol; Ki = 600,42 nM), kuersetin (∆G = -7,94  kcal/mol; Ki = 1,52 uM), dan kaempferol (∆G = -7,75  kcal/mol; Ki = 2,08uM). Namun, hanya kaempferol yang memiliki sifat absorpsi pada usus serta permeabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan myricetin dan kuersetin. Oleh karena itu, pada penelitian ini menunjukkan bahwa senyawa kaempferol berpotensi untuk dijadikan senyawa kandidat sebagai obat antikanker payudara melalui mekanisme inhibisi protein kinase C alpha.
Drug Delivery System in Feline Herdiana, Yedi; Wilar, Gofarana; Sofian, Ferry Ferdiansyah; Pitaloka, Annisa Dyah; Nurhijriah, Yasinta; Safira, Rayhan Zarra; Salsabila, Annisa Siti; Z, Maziyatunisa
Indonesian Journal of Pharmaceutics Vol 4, Issue 3, Sep - November, 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran (Unpad)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/idjp.v4i3.44274

Abstract

The drug delivery system is an attractive field of study since it has several applications in veterinary and human medicine. In the realm of veterinary medicine, the discovery of new routes of administration or new delivery systems to regulate the release of medications is of great importance. Due to the high number of animals and the special issues related to the administration of drugs and their market potential is very large, it is necessary to modify the dosage form to produce an effective and practicable preparation. Cats are the most popular pet in the world, outnumbering dogs by a ratio of three to one. It is vital to understand the prevalent illness patterns and limits of traditional delivery systems to establish appropriate dosage forms for cats. We believe this publication will be of interest to veterinarians and pharmaceutical scientists working in the field.