Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

STRATEGI PERANCANGAN VISUAL BRANDING SEBAGAI MEDIA PROMOSI PASAR BEKONANG Nugraha, Andre Eka Setya; Pandanwangi, Brilindra
Sanggitarupa Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/sanggitarupa.v3i1.4849

Abstract

Pasar Bekonang adalah pasar tradisional yang berlokasi di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Pasar Bekonang menjadi pusat roda perekenomian di Desa Bekonang yang mempertemukan antara penjual dengan pembeli. Saat ini Pasar Bekonang belum mempunyai identitas visual yang menjadi ciri khas dari Pasar Bekonang itu sendiri. Proses perancangan visual branding ini bertujuan untuk memberikan identitas visual dan dapat menjadi pembeda dengan kompetitor yang lain. Proses perancangan visual branding ini juga bertujuan sebagai media promosi melalui media sosial Instagram. Manfaat yang didapat dari proses Perancangan Visual Branding adalah memberikan identitas visual pada Pasar Bekonang. Branding dapat memberikan arahan sederhana, sebagai barometer keistimewaan terhadap pasar yang lain, serta berguna menumbuhkan kesan yang baik terhadap khalayak luas guna menentukan minat terhadap Pasar Bekonang. Hasil analisis ini diharapkan mampu menyampaikan pemahaman yang lebih melekat tentang faktor orientasi pasar, faktor inovasi dan faktor kewirausahaan dalam pengaruhnya terhadap keunggulan dalam pengaruhnya terhadap keunggulan dalam meningkatkan kinerja pemasaran dalam kegiatan jual beli di pasar. Metode pengumpulan data pada perancangan ini menggunakan observasi dengan mengamati langsung ke lapangan, wawancara dengan Lurah Pasar Bekonang dan juga para pedagang maupun pembeli, kuesioner melalui Google Form, dan studi pustaka. Sedangkan metode perancangan visual branding menggunakan metode Design Thinking yang terdiri dari define, riset, interpretasi, ideasi, protoype, dan evaluasi. Sedangkan pada media promosi menggunakan AISAS yang terdiri dari attention, interest, search, action, dan share. Hasil perancangan pada Pasar Bekonang ini adalah identitas visual berupa logo, tagline, media promosi Instagram, dan beberapa media pendukung seperti desain stationery, desain media luar ruangan, dan desain merchandise.
Beragam Seni Pertujukkan di Era Jawa Kuno Sadono, Soni; Pandanwangi, Brilindra; Kasputra, Danil
Jurnal Sejarah Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Sejarah Indonesia
Publisher : Perkumpulan Program Studi Sejarah Se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62924/jsi.v8i1.33057

Abstract

This study reviews various forms of performing arts that developed in Java during the classical period or the Hindu-Buddhist period. This study uses historical methods through the stages of heuristics, criticism, interpretation, and historiography to explore and reveal the various performing arts that existed in the Ancient Javanese era. One of the most striking forms of performing arts is Wayang Art, which is divided into Wayang Beber and Wayang Purwa. Wayang Beber is a performance that depicts an epic story by spinning rolls of cloth filled with images, while Wayang Purwa is a performance of wooden or leather puppets that reflect mythological and epic stories. Dance is also an integral part of Ancient Javanese performing culture, with various types of dances reflecting the beauty of movement and expression of Javanese culture. Musical arts, including instruments such as gamelan and other traditional musical instruments, play an important role in accompanying dance and puppet performances. In addition, the art of comedy (classical Javanese) is also an inseparable part of the Ancient Javanese performing arts. This is a form of entertainment that combines comedy, social criticism, and moral messages. Through these various forms of performing arts, Ancient Javanese culture expresses its intellectual wealth and artistic expression, which remain a valuable heritage in Javanese culture to this day. This performing art is not only entertaining but also teaches deep values ​​and history to the next generation, making it an irreplaceable part of Javanese cultural identity.
Video Gagasan Konstruktif “Gameland” sebagai Representasi Masa Depan Kebudayaan Gamelan di Indonesia -, Irma Tri Anggraeni; Pandanwangi, Brilindra; Setiaji, Denis
CITRAWIRA : Journal of Advertising and Visual Communication Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : ISI Press Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/citrawira.v4i1.5097

Abstract

Gamelan adalah salah satu warisan budaya pertunjukan yang tersebar di Indonesia. Melalui statusnya sebagai sebuah warisan, maka sudah menjadi keharusan untuk mempertahankan gamelan dari masa ke masa. Namun melihat perkembangan zaman yang ada, maka perlu adanya sebuah ide yang menjadi solusi untut mempertahankan serta membuat gamelan lebih muda diakses. Gameland menjadi sebuah gagasan yang mampu menjawab permasalahan tersebut. Gameland terbentuk sebagai ide konstruktif yang bertumbuh. Penggambaran Gameland tersebut tertuang dalam video gagasan konstruktif Gameland yang menghadirkan rangkuman dari realisasi ide konstruktif dalam sebuah video. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bentuk – bentuk representasi masa depan kebudayaan Indonesia dalam video gagasan konstruktif Gameland, menggunakan metode kualitatif dengan dasar teori semiotika Pierce. 
The Performing Arts in Ancient Java: Historical and Archaeological Studies Soni Sadono; Pandanwangi, Brilindra
Berkala Arkeologi Vol. 45 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jba.2025.9048

Abstract

This research was conducted to investigatesthe development of performing arts through historical and archaeological evidence, including inscriptions, temple reliefs, literary texts, and performing arts artifacts. This research aims to explore the cultural significance of the performing arts in ancient Java and how the influence of Hindu-Buddhist culture transformed traditional art forms into more structured and complex ones. This focus emerges from the limited understanding of how performing arts shaped and reinforced social solidarity in Javanese society. This research employs historical methodology with a qualitative descriptive approach. This method includes four main stages: (1) Heuristics collection data from written sources (inscriptions, kakawin, and historical texts) and unwritten sources (artifacts and temple reliefs); (2) Criticism to evaluate the authenticity and credibility of sources through external and internal criticism; (3) Interpretation to analyze the meaning and relationship between historical data; and (4) Historiography to compile a coherent historical story. The results show that the performing arts in ancient Java, such as wayang and gamelan, developed rapidly through the adaptation of Hindu-Buddhist values. Wayang, which was originally a medium for ancestral worship, transformed into a means of entertainment and a medium for delivering Indian epics such as the Mahabharata and Ramayana. Reliefs on temples such as Borobudur and Prambanan illustrate the integral role of dance and music as an important part of the social and religious life of ancient Javanese society. In addition, the art of comedy has also developed as entertainment that conveys moral messages and enlivens the social atmosphere.
Komodifikasi Perempuan Pada Desain Kemasan, Studi Kasus Teh Tubruk Pravitasari, Indriati Suci; Pandanwangi, Brilindra; Laksani, Hening
CITRAWIRA : Journal of Advertising and Visual Communication Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : ISI Press Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/citrawira.v4i2.5663

Abstract

Desain kemasan teh tubruk yang diproduksi di Pekalongan Jawa Tengah dan menjadi sampel serta dianalisis pada penelitian ini menunjukkan fakta bahwa perempuan divisualisasikan dengan cara yang tidak aktif melalui kegiatan sehari-hari yang diperankan oleh perempuan di masa lampau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) Menganalisis efek visual 3 sampel desain kemasan teh tubruk, (2) Menganalisis interpretasi komposisi ruang 3 sampel desain kemasan teh tubruk, dan (3) Menganalisis makna sosial 3 sampel desain kemasan teh tubruk. Metode penelitian yang diterapkan berfokus pada salah satu kategori yaitu site of image itself dari Gillian Rose (2002). Hasil analisis menunjukkan bahwa desain kemasan dari ke-3 sampel teh tubruk yang dianalisis memuat komodifikasi perempuan dalam pemunculan ikon dan penamaannya. Ilustrasi perempuan yang disajikan dalam ke-3 sampel desain kemasan di teh tubruk (teh Cap Kepyur, teh Cap Napen, dan teh Nyapu) mencerminkan ide-ide seputar peran domestik, kemandirian perempuan dalam konteks memasak dan memberi makan keluarga.
IDENTITAS VISUAL DALAM PERANCANGAN MEDIA PROMOSI MUSEUM MELANGE KARANGSAMBUNG, KEBUMEN Nur Hamidatur Rohmah; Pandanwangi, Brilindra
Jurnal Bahasa Rupa Vol. 6 No. 3 (2023): Jurnal Bahasa Rupa Agustus 2023
Publisher : Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31598/bahasarupa.v6i3.1392

Abstract

Museum Melange has an absence of the definitive and representative visual identity as an earth conservation place with a diverse collection of national and international scaled geological heritage sites (Geo sites), which has resulted in the inability to represent its identity that makes it different from other museums. Therefore, it is necessary to design a visual identity in order to build and strengthen the identity of the Melange Karangsambung Museum, Kebumen. In this creation method, it uses the design thinking process which starts with data collection (literature studies, observations, and interviews). This design produces a visual identity that is used in promotional media with the AISAS (Attention, Interest, Search, Action, and, Share) strategy. The promotional medium that this creation uses are Instagram social media and other media such as:  stone samples for educational purpose, wristbands, uniform organizers, stationery items, and merchandise to attract the general public to visit the Melange Museum.