Mujoko, Bejo
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Syarat-syarat dan Prosedur dalam al-Jarh wa al-Ta’dil Kurniawan, Irwan; Mujoko, Bejo; Azzami, Abdulloh; Hairullah, Hairullah; Arifin, Tajul
TSAQOFAH Vol 4 No 4 (2024): JULI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/tsaqofah.v4i4.3267

Abstract

The purpose of this article is to explain the terms and procedures of jarh wa ta'dil. a researcher must have in-depth knowledge of the terms and procedures of jarh wa ta'dil, because the science of jarh and ta'dil includes a discussion of a critic's assessment of the good and bad or defects of the hadith narrator. It is important to know the terms and procedures in jarh and ta'dil because they relate to a hadith and its rawi which is one of the conditions for accepting a hadith.
Dedikasi Ulama Hadis Abad Pertama Hijriyah: Upaya Kodifikasi dan Penyebaran oleh Sahabat dan Tabi'in Abdurahim, Mika; Mujoko, Bejo; Azzami, Abdulloh; Kosasih, Engkos; Mighwar, Muhammad Al
Asian Journal of Islamic Studies and Da'wah Vol 2 No 4 (2024): Asian Journal of Islamic Studies and Da'wah
Publisher : Darul Yasin Al Sys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/ajisd.v2i4.3277

Abstract

This study seeks to explore the commitment of hadith scholars to the Companions and influential figures among the tabi'in during the first century of the Islamic calendar through the process of codifying and transmitting hadith. Hadith represents a primary source of Islamic teachings following the Quran, and its codification is crucial for preserving the integrity and authenticity of Islamic doctrines. During the early period of Islam, the Prophet's companions and the tabi'in played pivotal roles in disseminating and safeguarding hadith traditions. This study employs a qualitative approach using a descriptive-historical analysis method, drawing on primary sources such as Ashfahani's Hilyatul Auliya hadith compilation, writings of earlier scholars, and secondary sources including books, scholarly articles, and journals. The findings of the research indicate that the companions of Prophet Muhammad demonstrated significant commitment in memorizing, compiling, and transmitting hadith traditions. They employed diverse strategies to guarantee the precision and trustworthiness of the hadiths they transmitted. Similarly, the leaders among the tabi'in, as the succeeding generation, persisted in this endeavor by stressing the significance of verifying and authenticating hadiths until the compilation of collections of hadith books (tadwin/codification). They developed a more systematic methodology in the codification of hadith, which became the basis for the development of hadith science in subsequent periods. This research provides a deeper understanding of the history of hadith codification and the important role of the companions and tabi'in in this effort, as well as highlighting the importance of the methodology used to maintain the purity of hadith.
ILMU AL-JARH WAAL TA’DĪL: FALSIFIKASI, SEJARAH dan TANTANGAN di ERA KONTEMPORER Mujoko, Bejo; Arifin, Tajul
Jurnal Inen Paer (JIP) Vol. 1 No. 2 (2024): Jurnal Inen Paer Edisi Juni
Publisher : Pusat Studi Kebudayaan Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/jip.v1i2.659

Abstract

al-Jarh wa al-ta‟dil adalah ilmu yang menjelaskan tentang cacat- cacat yang dilekatkatkan kepada perawi serta tentang penta‟dilan-nya keadilan dan kebaikan para perawi) menggunakan kata-kata yang khusus, untuk menerima atau menolak riwayat para perawi tersebut. Ilmu ini tumbuh seiring dengan perkembangan periwayatan dalam Islam dan menjadi salah satu cara untuk mengetahui keshohihan hadis-hadis, dalam kaitan ini adalah dengan mengetahui keadaan rawinya. Di era kontemporer, keberadaan ilmu Jarh wa Ta’dil tidak mustahil digugat relevansinya, sebagai konsekwensi dari terus tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari berbagai kalangan terutama oleh para pengkaji islam baik dari kalangan non muslim maupun dari ilmuwan muslim sendiri. penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan pendekatan kualitatif, yakni sebuah penelitian yang menjadikan buku-buku dan karya tulis ilmiah sebagai bahan kajian utama. salah satu pisau analisis yang digunakan untk melihat apakan Jarh wa Takdil memiliki relevansi di era kontemporer adalah konsep Falsifikasi. sebuah metode uji kesalahan dengan cara mengajukan berbagai pertanyaan mengenai konsep yang diajukan. Dalam penelitian ini, selanjutnya ditemukan bahwa disiplin Jarh wa Ta’dil merupakan disiplin ilmu yang original, ilmiah, dan bermakna (meaningfull).
PEMIKIRAN HADITS HADHRATUSY SYEIKH KH. M. HASYIM ASY’ARI Mujoko, Bejo; Sa’adah, Dadah
Jurnal Inen Paer (JIP) Vol. 2 No. 2 (2025): Jurnal Inen Paer Edisi Juni
Publisher : Pusat Studi Kebudayaan Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/jip.v2i2.969

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Hadhratusy Syeikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam bidang hadits dan kontribusinya terhadap pengembangan pendidikan dan praktik Islam di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali cara pemikiran KH. Hasyim Asy'ari dalam menjembatani ajaran hadits dengan realitas sosial masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran beliau memberikan dampak signifikan dalam mencetak generasi ulama yang tidak hanya menguasai ilmu hadits secara mendalam, tetapi juga mampu mengaplikasikan ajaran tersebut dalam kehidupan sosial. KH. Hasyim Asy'ari menekankan pentingnya maqashid al-syari'ah dan hikmat al-tasyri' dalam penetapan hukum yang bersumber dari hadits, dengan mempertimbangkan konteks sosial dan tujuan yang terkandung di dalamnya. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa hadits bukan hanya sebagai pedoman hukum, tetapi juga sebagai alat untuk menciptakan perubahan sosial yang adil dan bermartabat. Warisan pemikiran beliau terus memberikan inspirasi dan relevansi dalam menghadapi tantangan sosial dan moral di era modern, menjadikan hadits sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tetap memberi kontribusi besar terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia hingga saat ini. Kata Kunci: Pemikiran Hadits, KH. M. Hasyim Asy'ari, Pendidikan Islam, Maqashid al-Syari'ah, Hikmat al-Tasyri', Hukum Islam, Konteks Sosial, Pengembangan Pendidikan