Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science

Pengukuran Beban Kerja Fisik pada Bagian Mesin Binding Nita Anita; Eri Achiraeniwati; Nur Rahman As'ad
Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.938 KB) | DOI: 10.29313/bcsies.v2i1.1444

Abstract

Abstract. PT. Thursina Mediana Utama is a company engaged in. The book production process at the company has several stages including the pre-printing stage, the printing stage, and the post-printing stage. The post-print stage, especially in the operator of the binding machine work station, there is an excess workload, causing the operator to experience fatigue. The method used for workload measurement is the 10-pulse method, this method is used to assess cardiovascular load. The pulse data is then classified that the workload for both operators is excessive and has a risk of fatigue, and nordic body map to determine complaints and pain levels felt by the operator. The results of this study were 1) The heaviest pain complaints felt by the operator of the binding machine are in the lower back, upper back, shoulders, and, shoulders, and wrists. 2) Based on the classification of workloads with cardiovascular load shows that both operators have excess workload (% CVL > 30%) which is 32.10% and 31.59% which means exceeding the risk limit of fatigue, 3) The recommendation given is the addition of 1 person, and it is expected that the workload of each operator is reduced to 7 boxes, so as to reduce the % CVL below 30% which means the workload received in the inload category. Abstrak. PT.Thursina Mediana Utama merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang percetakan. Proses produksi buku yang dilakukan memiliki beberapa tahapan di antaranya tahap pracetak, tahap cetak, dan pascacetak. Pada tahap pasca cetak khususnya pada operator stasiun kerja mesin binding terdapat beban kerja berlebih, sehingga menyebabkan operator mengalami kelelahan. Metode yang digunakan untuk pengukuran beban kerja yaitu metode 10 denyut, metode ini digunakan untuk menilai cardiovascular load. Data denyut nadi tersebut kemudian diklasifikasikan bahwa beban kerja untuk kedua operator berlebih dan mempunyai resiko kelelahan, dan nordic body map untuk mengetahui keluhan yang dirasakan oleh operator. Hasil dari penelitian ini adalah 1) Keluhan sakit terberat yang dirasakan oleh operator mesin binding terdapat pada punggung bawah, punggung atas, bahu, serta, bahu, serta pergelangan tangan. 2) Berdasarkan klasifikasi beban kerja dengan cardiovascular load menunjukkan bahwa kedua operator memiliki beban kerja yang berlebih (% CVL > 30%) yaitu 32,10% dan 31,59% yang berarti melebihi batas resiko kelelahan, 3) Rekomendasi yang diberikan adalah penambahan tenaga kerja yaitu 1 orang, dan diharapkan beban kerja tiap operator berkurang menjadi 7 kotak, sehingga dapat menurunkan % CVL di bawah 30% yang artinya beban kerja yang diterima dalam kategori inload.
Perancangan Alat Penyaringan Ergonomis Proses Pembuatan Tahu Menggunakan Pendekatan Antropometri Ulandari Ahmad; Eri Achiraeniwati
Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.406 KB) | DOI: 10.29313/bcsies.v2i1.2408

Abstract

Abstract. UKM Tahu Barokah is one of the tofu industries in Merangin Regency, Jambi Province. The traditional tofu-making process has resulted in some workers, especially in the filtering process resulted in quite complex pain. This complaint occurs due to repetitive movements and unnatural posture due to the load being lifted. The filtered in the once filtered process is 15 kg. While the recommended load limit that can be lifted manually by men is 10 Kg (1). Based on the existing problems, this research is a purpose to find out the complaints felt by workers, especially using the Nordic Body Map (NBM) questionnaire, work risk assessment using the Assessment Repetitive Task (ART) method to find out indications of work risks. The results of the Nordic Body Map (NBM) questionnaire on screening workers resulted in a score of 9 on the wrist body segment, a score of 8 on the neck, shoulder, and elbow body segments. Risk assessment using the Assessment Repetitive Task (ART) method, shows that leveling, lifting, and pressing work elements produce low to moderate exposure values. The results of the highest exposure score on the swing work element with an exposure score of 27, which indicate that the work is risky and needs improvement. Based on the existing results, a work facility is designed that can minimize work risks in the screening process. The design is based on the body dimensions of the tofu factory workers, the volume that can be filtered using a design filter is increased by 46.87% compared to manual filtration. The results of the proposed design risk assessment show very significant changes to all elements of the work in the screening process. All elements of the screening process work on the proposal screening tool are in a low category. Abstrak. UKM Tahu Barokah merupakan salah satu industri tahu di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Proses pembuatan tahu dilakukan secara tradisional, mengakibatkan beberapa pekerja terutama pada proses penyaringan mengeluhkan sakit yang cukup kompleks. Keluhan tersebut terjadi karena adanya gerakan berulang dan postur tidak alamiah akibat beban yang diangkat. Beban yang disaring dalam satu kali proses penyaringan sebesar 15 kg. Sedangkan rekomendasi batas beban yang dapat diangkat secara manual oleh laki-laki adalah 10 Kg (1). Berdasarkan permasalahan yang ada maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keluhan yang dirasakan secara spesifik menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM), penilaian risiko kerja menggunakan metode Assessment Repetitive Task (ART). Hasil kuesioner Nordic Body Map (NBM) pada pekerja penyaringan menghasilkan nilai sebesar 9 pada segmen tubuh pergelangan tangan, nilai 8 pada segmen tubuh leher, bahu, dan siku. Penilaian risiko dengan Assessment Repetitive Task (ART) method, menunjukkan bahwa aktivitas elemen kerja meratakan, mengangkat, dan mengepress menghasilkan nilai eksposur rendah hingga sedang. Hasil skor eksposur tertinggi pada elemen kerja mengayunkan dengan skor eksposur 27, yang mengindikasikan bahwa pekerjaan tersebut berisiko dan perlu dilakukannya perbaikan. Berdasarkan hasil yang ada dilakukan perancangan fasilitas kerja yang dapat meminimasi risiko kerja pada proses penyaringan. Volume yang dapat disaring menggunakan alat penyaringan rancangan meningkat sebesar 46,87% dibandingkan penyaringan manual. Hasil penilaian risiko rancangan usulan menunjukan perubahan yang sangat signifikan pada seluruh elemen kerja pada proses penyaringan. Seluruh elemen kerja proses penyaringan pada alat penyaringan usulan berada pada kategori rendah.
Penentuan Jumlah Operator Berdasarkan Waktu Baku pada Proses Produksi Celana Jeans di CV. X Muhamad Izzatur Rahman; Nur Rahman As'ad; Eri Achiraeniwati
Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsies.v3i1.6119

Abstract

Abstract. CV. X is a company that produces jeans. The problem faced by the company is the non-achievement of the product as much as 22% of the target set at 100 pcs of jeans per week including overtime. The operator carries out production activities from the beginning (processing) to the end (finishing) totaling 2 workers. This is due to the limited number of existing operators and the difference in the production process time carried out by the operator. The difference in product completion time is due to the fact that the company does not have a standard time for the production process as well as limited facilities for the company. The purpose of this study is to measure the standard time to become a standard for operators and the company's basis in determining the target and the number of operators needed in the production process. The methods used in this study are measurement of standard time with downtime, calculation of workload and operator needs using Work Load Analysis (WLA). The standard time for producing jeans on operator 1 for 87.07 minutes and operator 2 for 93.13 minutes. WLA values were obtained values of 1.51 (151%) for operator 1 and 1.62 (162%) for operator 2 indicating that the workload received by the operator >100% or overloaded, the result indicates that it is necessary to add an operator. The results of the calculation of additional operators required as many as 1 person by utilizing packaging part operators and adding work facilities in the form of 1 cutting machine, a single needle sewing machine, and an overlock machine. The load obtained after the proposal decreased by close to 100% and the achievement of the target was above 100 pcs per week. Keywords: Workload, Standard Time, Number of Operators Required, Work Load Analysis. Abstrak. CV. X merupakan perusahaan yang memproduksi celana jeans. Permasalahan yang dihadapi perusahaan yaitu ketidaktercapaian produk sebanyak 22% dari target yang ditetapkan sebanyak 100 pcs celana perminggu termasuk dengan overtime. Operator melakukan kegiatan produksi dari awal (pemolaan) sampai akhir (finishing) berjumlah 2 orang tenaga kerja. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah operator yang ada serta perbedaan waktu proses produksi yang dilakukan operator. Perbedaan waktu penyelesaian produk disebabkan karena perusahaan tidak memiliki waktu standar untuk proses produksi serta keterbatasan fasilitas pada perusahaan. Tujuan penelitian ini yaitu mengukur waktu baku untuk menjadi standar bagi operator dan dasar perusahaan dalam menentukan target serta jumlah operator yang dibutuhkan dalam proses produksi. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu pengukuran waktu baku dengan jam henti, perhitungan beban kerja dan kebutuhan operator menggunakan Work Load Analysis (WLA). Waktu baku untuk memproduksi celana jeans pada operator 1 selama 87,07 menit dan operator 2 selama 93,13 menit. Nilai WLA didapatkan nilai 1,51 (151%) untuk operator 1 dan 1,62 (162%) untuk operator 2 yang menunjukkan bahwa beban kerja yang diterima operator >100% atau overload, hasil tersebut menunjukkan bahwa perlu dilakukannya penambahan operator. Hasil perhitungan tambahan operator yang diperlukan sebanyak 1 orang dengan memanfaatkan operator bagian pengemasan serta penambahan fasilitas kerja berupa 1 mesin potong, mesin jahit single needle, dan mesin obras. Beban yang didapat setelah usulan menurun mendekati 100% dan ketercapaian target sudah diatas 100 pcs perminggu. Kata Kunci: Beban Kerja, Waktu Baku, Kebutuhan Jumlah Operator, Work Load Analysis.
Perancangan Fasilitas Kerja Ergonomis Menggunakan Metode OWAS (Ovako Working Posture Analysis System) di Peternakan Ayam Petelur Komara Egg Ciamis: Studi Kasus: Peternakan Ayam Petelur Komara Egg Ciamis Asep Fikri Muhamad Fauzi Rhamdani; A Harits Nu'man; Eri Achiraeniwati
Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsies.v3i1.6317

Abstract

Abstract. Komara Egg Ciamis Farm is a farm engaged in laying hens. Manual material handling work is still occurring in all work on the Komara Egg Ciamis farm. Based on the observations, there are problems experienced by operators who complain of pain in several parts of the body, namely the shoulders, upper back, lower back, buttocks or thighs, and knees. These complaints are felt when doing the work of feeding and collecting eggs. The risk of work being done manually can cause Musculoskeletal Disorders. The purpose of this study was to find out pain complaints, measure work risk and design work facilities in the form of trolleys using anthropometric methods in order to minimize the work risks experienced by livestock operators. The method used to find out operator complaints is using the Nordic Body Map questionnaire and to measure work risk using the Ovako Working Posture Analysis System (OWAS) method. Based on the results of the work risk assessment on the activities of feeding and collecting chicken eggs, the recommendation to minimize this work risk is to design a trolley work facility using the anthropometric method based on the size of the cage, the standard size of the egg crate, and the operator's body dimensions. The data used for the design of the Trolley is data on the population of laying hen farm operators in the Rancah District, Ciamis Regency. This trolley can be used for the work of feeding and taking eggs alternately by disassembling the feed containers that have been designed and the wooden crates that are already available on the farm. The simulation results of using the trolley by the operator show a risk level of 1 which means it is safe or corrective action is not needed. Abstrak. Peternakan Komara Egg Ciamis merupakan suatu peternakan yang bergerak pada bidang peternakan ayam petelur. Pekerjaan secara Manual Material Handling sampai saat ini masih terjadi pada seluruh pekerjaan peternakan Komara Egg Ciamis. Berdasarkan hasil observasi terdapat masalah yang dialami operator yang mengeluhkan rasa sakit pada beberapa bagian tubuh yaitu bahu, punggung atas, punggung bawah, bokong atau paha, dan lutut. Keluhan tersebut dirasakan ketika melakukan pekerjaan pemberian pakan dan pengambilan telur. Risiko pekerjaan yang dilakukan secara manual dapat menyebabkan gangguan Musculoskeletal Disorders. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keluhan rasa sakit, mengukur risiko kerja dan merancang fasilitas kerja berupa troli dengan metode antropometri agar dapat meminimasi risiko kerja yang dialami oleh operator peternakan. Metode yang digunakan untuk mengetahui keluhan operator menggunakan kuesioner Nordic Body Map dan untuk mengukur risiko kerja menggunakan metode Ovako Working Posture Analysis System (OWAS). Berdasarkan hasil penilaian risiko kerja pada aktivitas pemberian pakan dan pengambilan telur ayam, maka rekomendasi untuk meminimasi risiko kerja tersebut adalah perancangan fasilitas kerja troli menggunakan metode antropometri berdasarkan ukuran kandang, ukuran standar peti telur, dan dimensi tubuh operator. Data yang digunakan untuk perancangan Troli yaitu data populasi operator peternakan ayam petelur yang berada di Wilayah Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis. Troli ini dapat digunakan untuk pekerjaan pemberian pakan dan pengambilan telur secara bergantian dengan cara membongkar pasang tempat pakan yang sudah dirancang dan peti kayu yang sudah tersedia di peternakan. Hasil simulasi penggunaan troli oleh operator menunjukkan level risiko 1 yang artinya aman atau tindakan perbaikan tidak diperlukan.
Perancangan Fasilitas Kerja Polishing untuk Mengurangi Gangguan Muskuloskeletal di CV X Muhammad Fikri Boy; Eri Achiraeniwati; Selamat
Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsies.v3i1.6465

Abstract

Abstract. CV X is engaged in Mold and Die Casting in Bandung Regency. Operators in conducting research complained of pain in several parts of the body, one of the reasons being polishing activities which were carried out manually and repeatedly from rough to extra smooth surfaces, the work facilities provided caused the operator's way of working to become not ergonomic. The purpose of this research is to design ergonomic polishing work facilities so as to minimize the level of complaints and eliminate repetitive activities. The research method was carried out using the Nordic Body Map (NBM) questionnaire to determine the level of complaints and the Assessment Repetitive Task (ART) Tools method for measuring work risk. The results of the Nordic Body Map (NBM) questionnaire on the neck and wrist body segments workers experience very disturbing pain, the upper back body segment with disturbing pain, the elbow body segment experiences quite disturbing pain and on the shoulder and back body segments down experiencing a bit of nagging pain. The results of the work risk analysis on the chamfering and polishing process of the contents of the mold produce low to high exposure values. The highest exposure score results in the process of polishing the contents of the mold, this score indicates that the work is at risk and needs to be repaired immediately. The proposed design of work facilities is in the form of work tables and chairs as well as assistive devices in the form of sanding machines and sanding hoses to reduce repetitive manual activities. The results of the risk assessment for all work elements of the polishing process in the proposed work facility are in the low category. Keywords: Work Risks, Assessment Of Repetitive Tasks (ART) Tools, Nordic Body Map (NBM), Anthropometry, complaints of pain, level of risk and results of the design. Abstrak. CV X bergerak dalam bidang Mold and Die Casting di Kabupaten Bandung. Operator dalam melakukan penelitian mengeluhkan rasa sakit pada beberapa bagian tubuh, salah satu penyebabnya karena kegiatan polishing yang dilakukan secara manual dan berulang dari permukaan kasar hingga ekstra halus, fasilitas kerja yang disediakan menyebabkan cara kerja operator menjadi tidak ergonomis. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang fasilitas kerja polishing ergonomis sehingga meminimalisasi tingkat keluhan dan menghilangkan kegiatan berulang yang. Metode penelitian dilakukan menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) untuk mengetahui tingkat keluhan dan metode Assessment Repetitive Task (ART) Tools untuk pengukuran risiko kerja. Hasil kuesioner Nordic Body Map (NBM) pada segmen tubuh leher dan pergelangan tangan pekerja mengalami rasa sakit sangat menganggu, pada segmen tubuh punggung atas dengan rasa sakit yang menganggu, pada segmen tubuh siku mengalami rasa sakit yang cukup menganggu dan pada segmen tubuh bahu dan punggung bawah mengalami rasa sakit yang sedikit menganggu. Hasil analisis risiko kerja pada proses chamfer dan polishing isi cetakan menghasilkan nilai eksposur rendah hingga tinggi. Hasil skor eksposur tertinggi pada proses polishing isi cetakan, skor tersebut mengindikasikan bahwa pekerjaan tersebut berisiko dan perlu dilakukannya perbaikan segera. Perancangan fasilitas kerja yang diusulkan berupa meja kerja dan kursi serta alat bantu berupa mesin ampelas dan selang ampelas untuk mengurangi kegiatan manual yang dilakukan secara berulang. Hasil penilaian risiko untuk seluruh elemen kerja proses polishing pada usulan fasilitas kerja berada pada kategori rendah. Kata Kunci: Risiko Kerja, Assessment Of Repetitive Tasks (ART) Tools, Nordic Body Map (NBM), Antropometri, keluhan rasa sakit, level risiko dan hasil rancangan.
Perancangan Fasilitas Kerja Ergonomis Menggunakan Metode Antropometri pada Pekerja Pencucian Kedelai untuk Mengurangi Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) di Rumah Tempe Zanada Risana Amaliah; Eri Achiraeniwati
Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsies.v3i1.6501

Abstract

Abstract. Rumah Tempe Zanada is a company that produces tempeh, with a manufacturing process that is still done manually, such as the soybean washing process. There is a problem experienced by soybean washing workers, namely workers are often absent with an average of once every two weeks, because workers experience fatigue or pain in the limbs. This is because soybean washing workers carry out their activities with a bent posture, neck that bends down and hands that enter into the tank with a height of 90 cm. Therefore, the purpose of this study was to find out the complaints felt by workers specifically, identify work risks and design work facilities in the form of a soybean washing machine using the anthropometric method in order to minimize the work risks experienced by soybean washing workers. The method used is the Nordic Body Map (NBM) questionnaire to determine the level of complaints and the Workplace Ergonomic Risk Assessment (WERA) method for assessing work risk. The results of the NBM questionnaire for soybean washing workers complained of pain in the neck, shoulders, lower back, and wrists. The results of the work risk assessment using the WERA method are at a moderate risk level, meaning that work actions need to be investigated further and improvements are needed. The results of the design of work facilities in the form of a soybean washing device in the form of a tank using a dynamo engine as a driver, soybean stirrer, tank support, and wheels with a locking system. The simulation that was carried out after the design of the soybean washing machine showed a decrease in the risk level to the mild category, which means that work actions are still acceptable. Keywords: Occupational Risk, Workplace Ergonomic Risk Assessment (WERA), Anthropometry, Complaints, Design Results. Abstrak. Rumah Tempe Zanada perusahaan yang memproduksi tempe, dengan proses pembuatan yang masih dilakukan secara manual seperti proses pencucian kedelai. Terdapat masalah yang dialami pekerja pencucian kedelai yaitu pekerja sering absen dengan rata-rata setiap dua minggu sekali, dikarenakan pekerja mengalami kelelahan atau rasa sakit pada anggota tubuh. Hal tersebut disebabkan karena pekerja pencucian kedelai melakukan akivitasnya dengan postur tubuh membungkuk, leher yang menekuk ke bawah dan tangan yang masuk kedalam tangki dengan tinggi 90 cm. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keluhan yang dirasakan pekerja secara spesifik, mengidentifikasi risiko kerja dan merancang fasilitas kerja berupa alat pencucian kedelai dengan metode antropometri agar dapat meminimasi risiko kerja yang dialami oleh pekerja pencucian kedelai. Metode yang digunakan yaitu kuesioner Nordic Body Map (NBM) untuk mengetahui tingkat keluhan dan metode Workplace Ergonomic Risk Assessment (WERA) untuk penilaian risiko kerja. Hasil kuesioner NBM pekeja pencucian kedelai mngeluhkan rasa sakit pada leher, bahu, punggung bawah, serta pergelangan tangan. Hasil penilaian risiko kerja menggunakan metode WERA berada di level risiko sedang artinya tindakan pekerjaan perlu diselidiki lebih lanjut dan diperlukan adanya perbaikan. Hasil perancangan fasilitas kerja berupa alat pencucian kedelai berupa tangki dengan memanfaatkan mesin dinamo sebagai penggerak, pengaduk kedelai, penyangga tangki, serta roda dengan sistem pengunci. Simulasi yang dilakukan setelah dilakukan perancangan alat pencucian kedelai menunjukkan penurunan level risiko dengan kategori ringan yang artinya tindakan pekerjaan masih dapat diterima. Kata Kunci: Risiko Kerja, Workplace Ergonomics Risk Assessment (WERA), Antropometri, Keluhan, Hasil Rancangan.
Perancangan Troli yang Ergonomis pada Proses Penggilingan Padi untuk Meminimasi Risiko Kerja (Studi Kasus: CV Mekar Sari) Aditria Muharram Mutia; Eri Achiraeniwati
Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsies.v3i1.6650

Abstract

Abstract. CV Mekar Sari is a company engaged in the agricultural sector, which processes unhulled rice from paddy into rice that is ready for consumption. The company is located on Jalan Sukaraja, Sukaraja Village, Kadupandak District, Cianjur Regency. The rice milling process is dominated by manual material handling activities such as lifting, transporting and unloading. The manual material handling activity is carried out without any work facilities provided. The weight of the load that is transported ranges from 50 – 60 kg with a frequency ranging from 20 – 60 times in one working day. Transporting loads of more than 20 kg can result in a risk of injury, namely low back pain and musculoskeletal disorders in operators. Therefore, this study aims to measure work risk and design work facilities in the form of trolleys to minimize the work risk received by operators. The methods used to measure work risk are the nordic body map and the liberty mutual manual material handling table. Through work risk assessment with this method, complaints of pain felt by the operator, recommended weight, and risk index can be obtained through the assessment of the specified variables. It is known that rice mill operators have experienced complaints of pain in the last 12 months in 6 limbs namely neck, shoulders, upper back, elbows, lower back, and knees. Based on the results of the work risk assessment, it can be seen that the recommended load weight is known so that the risk index received by the operator does not exceed the safe limit. The results of the work risk assessment show that all work elements contained in the rice milling process are worth more than 1. This is because the weight of the load being transported exceeds the recommended load limit through the evaluation of the mutual liberty manual material handling table. A risk index with a value of more than 1 indicates that the job poses a risk to the operator. Therefore, it is necessary to make improvements in the form of designing work facilities in the form of trolleys for operators to carry out manual material handling activities. The designed trolley consists of two types, namely hydraulic trolley and push trolley. The design of the hydraulic trolley is based on the body dimensions of the rice mill operator using anthropometric methods. The body dimensions used along with their measurements are elbow height (95 cm), shoulder width (40 cm), 2 x ankle height (25 cm), and hand width (10 cm). Through the design of the trolley that has been made, the frequency of transport and some work elements can be minimized. Lifting and lowering work elements can be minimized by using a hydraulic system as a facility that makes it easier for the operator. In addition, the work element of transporting can be eliminated because with the trolley the operator expends enough energy to push the trolley without supporting it on the shoulder. The use of trolleys can also reduce the frequency of transportation, due to the capacity of the trolley which can load up to two sacks of rice in one transfer. Keywords: Nordic Body Map, Work Risk, Liberty Mutual Manual Material Handling Table, Anthropometry. Abstrak. CV Mekar Sari merupakan perusahaan yang bergerak pada sektor pertanian, yaitu melakukan proses pengolahan gabah dari padi menjadi beras yang siap untuk dikonsumsi. Perusahaan terletak di Jalan Sukaraja, Desa Sukaraja, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur. Proses penggilingan padi didominasi oleh aktivitas manual material handling seperti mengangkat, mengangkut, dan menurunkan. Aktivitas manual material handling tersebut dilakukan tanpa adanya fasilitas kerja yang disediakan. Berat beban yang diangkut berkisar antara 50 – 60 kg dengan frekuensi berkisar antara 20 – 60 kali dalam satu hari kerja. Pengangkutan beban lebih dari 20 kg dapat mengakibatkan risiko cidera yaitu low back pain dan musculoskeletal disorder pada operator. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur risiko kerja dan merancang fasilitas kerja berupa troli untuk meminimasi risiko kerja yang diterima operator. Metode yang digunakan untuk mengukur risiko kerja yaitu nordic body map dan liberty mutual manual material handling table. Melalui penilaian risiko kerja dengan metode tersebut, maka dapat diperoleh keluhan nyeri yang dirasakan operator, berat beban yang direkomendasikan, dan risk index melalui penilaian variabel yang ditentukan. Diketahui bahwa perator penggilingan padi mengalami keluhan nyeri dalam waktu 12 bulan terakhir pada 6 anggota tubuh yaitu leher, bahu, punggung atas, siku, punggung bawah, dan lutut. Berdasarkan hasil penilaian risiko kerja, dapat diketahui berat beban yang direkomendasikan agar risk index yang diterima operator tidak melebihi batas aman. Hasil penilaian risiko kerja menunjukkan bahwa seluruh elemen kerja yang terdapat pada proses penggilingan padi bernilai lebih dari 1. Hal tersebut dikarenakan berat beban yang diangkut melebihi batas beban yang direkomendasikan melalui penilaian liberty mutual manual material handling table. Risk index dengan nilai lebih dari 1 mengindikasikan bahwa pekerjaan tersebut berisiko terhadap operator. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan berupa perancangan fasilitas kerja berupa troli untuk operator dalam melakukan aktivitas manual material handling. Troli yang dirancang terdiri dari dua jenis, yaitu troli hidrolik dan troli dorong. Perancangan troli hidrolik didasarkan pada dimensi tubuh operator penggilingan padi dengan menggunakan metode antropometri. Adapun dimensi tubuh yang digunakan beserta ukurannya yaitu tinggi siku (95 cm), lebar bahu (40 cm), 2 x tinggi mata kaki (25 cm), dan lebar tangan (10 cm). Melalui rancangan troli yang telah dibuat, frekuensi pengangkutan dan beberapa elemen kerja dapat diminimasi. Elemen kerja mengangkat dan menurunkan dapat diminimasi dengan penggunaan sistem hidrolik sebagai fasilitas yang memudahkan operator. Selain itu, elemen kerja mengangkut dapat dihilangkan karena dengan adanya troli tersebut operator cukup mengeluarkan tenaga untuk mendorong troli tanpa menopangnya di atas bahu. Penggunaan troli juga dapat mengurangi frekuensi pengangkutan, dikarenakan kapasitas troli yang dapat memuat hingga dua karung beras dalam satu kali pemindahan. Kata Kunci: Nordic Body Map, Risiko Kerja, Liberty Mutual Manual Material Handling Table, Antropometri.
Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja untuk Mengurangi Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) Pada Usaha Penggilingan Padi di Desa Krangkeng Kabupaten Indramayu Jayanti; Eri Achiraeniwati
Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsies.v3i1.6713

Abstract

Abstract. PB Sumber Rejeki rice mill company produces rice muncul and IR varieties. Process lifting and carrying grain done manually from storage warehouse to machine. Problem with large amount unprocessed grain caused frequency worker turnover 6 times year, change due to transport load 280 sacks/day. Purpose designing work facilities reduce frequency lifting and carrying loads. Nordic body map method for identifying complaints and pain, while manual handling assessment chart tool for determining level work risk. Results of NBM value scale for body parts that experience dominant pain in neck, shoulders, upper back, and lower back. Results MAC tool lifting process and carrying, scores fall into color category red high risk level needs corrective action as soon as possible. Design anthropometric facility form hydraulic trolley to move 3 sacks grain. Handle height 110 cm, length 115.5 cm, width 80 cm. Results estimating level work risk, process lifting and process carrying, score color category amber medium risk level must pay attention to work. Based simulation results, existence trolley facility can reduce level work risk, minimize frequency lifting and carrying. Abstrak. PB Sumber Rejeki perusahaan penggilingan padi yang memproduksi beras jenis muncul dan IR. Proses pengangkatan dan pengangkutan gabah dilakukan dengan cara manual dari gudang penyimpanan ke mesin. Permasalahan banyaknya gabah tidak terproses, disebabkan karena frekuensi pergantian pekerja 6 kali setahun, pergantian dikarenakan beban pengangkutan 280 karung/hari. Tujuan perancangan fasilitas kerja untuk mengurangi frekuensi pengangkatan dan beban angkut. Metode nordic body map untuk identifikasi keluhan dan rasa sakit, sedangkan manual handling assessment chart tool untuk mengetahui tingkat risiko kerja. Hasil skala nilai NBM bagian tubuh yang mengalami sakit dominan leher, bahu, punggung atas, dan bawah mengalami. Hasil MAC tool pada proses pengangkatan dan pengangkutan, skor masuk kategori warna red tingkat risiko tinggi perlu tindakan perbaikan sesegera mungkin. Rancangan fasilitas antropometri berupa troli hidrolik untuk memindahkan 3 karung gabah. Ukuran tinggi pegangan 110 cm, panjang 115,5 cm, lebar 80 cm. Hasil estimasi tingkat risiko kerja, proses pengangkatan dan proses pengangkutan, skor masuk kategori warna amber tingkat risiko menengah harus memperhatikan pekerjaan. Berdasarkan hasil simulasi, adanya fasilitas troli mampu mengurangi tingkat risiko kerja, meminimasi frekuensi pengangkatan dan pengangkutan.
Usulan Penerapan 5S di Home Industry UN Muhammad Ridho Sundoro; Eri Achiraeniwati
Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsies.v3i1.6910

Abstract

Abstract. UN is a small-scale industry, the product produced from these production activities is fermented soybean that called tempe. The process of making tempe is done by boiling, soaking, chopping, washing, leavening, packaging, and fermenting. Therefore, this study proposes the implementation of 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) as a workplace improvement program to create and maintain a work environment and minimize losses resulting from failures and damage, as well as improve quality and safety in the workplace. work. Based on the results of the identification of work attitudes at this time, it is necessary to improve each activity in 5S. In the seiri activity, improvement made by providing a place to eliminate unnecessary items and making a place to store work tools in the form of hooks, for packaging workstation equipment store in the cabinets as well as cleaning equipment cabinets and protective personal equipment. In the seiton activity, improvement made by arranging work equipment and labeling the tool storage. During the seiso activities, improvements made by providing cleaning support equipment, waste water channels, posters to remind the importance of cleanliness, and making lines on the floor as boundaries for cleanliness responsibilities at each work station. Improvements made to seiketsu activities by making work rules and standards operational procedure, and posters to remind 5S/5R. In shitsuke activities, improvements made by creating an evaluation system for the implementation of 5S and regulations that contain the consequences of acts of violation that aim to indiscipline workers. Abstrak. Home industry UN bergerak pada bidang pengolahan makanan, produk yang dihasilkan dari kegiatan produksi tersebut berupa tempe. Proses pembuatan tempe dilakukan dengan melakukan perebusan, perendaman, pencacahan, pencucian, peragian, pengemasan, dan fermentasi Pada saat ini perusahaan memiliki permasalahan yang terdapat dilantai produksi, yaitu kondisi di tempat kerja pada saat ini belum dilakukannya proses pemilahan, penataan, dan pembersihan. Maka dari itu, penelitian ini memberikan usulan penerapan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) sebagai program perbaikan di tempat kerja untuk menciptakan serta memelihara lingkungan kerja dan meminimalisir kerugian yang diakibatkan dari kegagalan dan kerusakan, serta memperbaiki kualitas dan keamanan di tempat kerja. Berdasarkan hasil identifikasi terhadap sikap kerja pada saat ini, maka diperlukan perbaikan untuk setiap aktivitas pada 5S. Pada aktivitas seiri dilakukan perbaikan dengan menyediakan tempat untuk mengeliminasi barang yang tidak diperlukan serta dibuatkan tempat untuk menyimpan alat-alat kerja berupa pengait dan lemari peralatan pengemasan serta lemari peralatan kebersihan dan alat pelindung diri . Pada aktivitas seiton dilakukan perbaikan dengan melakukan penataan terhadap peralatan kerja dan melakukan pelabelan pada tempat penyimpanan alat. Pada aktivitas seiso dilakukan perbaikan dengan menyediakan peralatan penunjang kebersihan, saluran air limbah, poster untuk mengingatkan akan pentingnya kebersihan, dan membuat garis pada lantai sebagai batas tanggung jawab kebersihan pada setiap stasiun kerja. pada aktivtas seiketsu dilakukan perbaikan dengan pembuatan tata tertib kerja dan standar pelaksanaan pekerjaan serta poster untuk mengingatkan terhadap 5S/5R. Pada aktivitas shitsuke perbaikan dilakukan dengan membuat sistem evaluasi penerapan 5S dan peraturan yang memuat konsekuensi dari tindak pelangggaran yang bertujuan untuk menimbulkan sikap disiplin pada pekerja.
Pengukuran Level Resiko pada Stasiun Kerja Pengukuran Menggunakan Kuesioner Nordic Body Map (NBM), dan Ovako Working Posture Analysis System (OWAS) (Studi Kasus: CV X)Pen Muhammad Rizqi Ramadhan; Eri Achiraeniwati; Yanti Sri Rejeki
Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Industrial Engineering Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsies.v3i1.7037

Abstract

Abstract. CV X is a manufacturing company that produces water heaters, temperature controllers and control panels. Musculoskeletal disorders are disorders of the limbs that cause discomfort. The operator takes measurements on the floor during work. This causes the operator's working position with the back bent, legs folded and neck bent. The research method used is a quantitative method. The level of worker complaints is known by distributing the nordic body map (NBM) questionnaire, while to determine work risk the Ovako working posture analysis system (OWAS) method is used with the help of ergofellow software. The purpose of this study was to identify operator discomfort and work risk measurement at the measurement work station. The results of the questionnaire showed that the total pain assessment obtained at the work station measurement obtained the highest score. Based on the risk assessment using the OWAS method, measurement workers are at risk levels 3 and 4. This risk level indicates that the work posture of measurement workers needs to be corrected immediately because the work being done is too risky. The simulation results after designing work facilities, the results of the risk assessment get a score of 1, which means that the activities carried out by the operator when using the measurement table do not require corrective action. Keywords: Nordic Body Map (NBM), Ovako Working Analysis System (OWAS), Anthropometry. Abstrak. CV X adalah perusahaan manufaktur yang memproduksi pemanas air, pengatur suhu, dan panel kontrol. Musculoskeletal disorders merupakan gangguan pada anggota tubuh yang menyebabkan ketidaknyamanan. Operator melakukan pengukuran diatas lantai selama bekerja. Hal ini menyebabkan posisi kerja operator dengan punggung membungkuk, kaki melipat dan leher menekuk. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Tingkat keluhan pekerja diketahui dengan menyebarkan kuesioner nordic body map (NBM), sedangkan untuk menentukan risiko kerja digunakan metode ovako working posture analysis system (OWAS) dengan bantuan software ergofellow. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi ketidaknyamanan operator dan pengukuran risiko kerja di stasiun kerja pengukuran Hasil kuisioner menunjukkan bahwa penilaian nyeri total didapatkan pengukuran stasiun kerja memperoleh nilai tertinggi. Berdasarkan penilaian risiko dengan metode OWAS, pekerja pengukuran berada pada tingkat risiko 3 dan 4. Level risiko ini menunjukan bahwa postur kerja pada pekerja pengukuran perlu dilakukan perbaikan segera karena pekerjaan yang dilakukan terlalu berisiko. Hasil simulasi setelah dilakukan perancangan fasilitas kerja, hasil penilaian risiko mendapatkan skor 1 yang artinya kegiatan yang dilakukan oleh operator pada saat menggunakan tabel pengukuran tidak diperlukan tindakan perbaikan. Kata Kunci: Nordic Body Map (NBM), Ovako Working Analysis System (OWAS), Antropometri.