Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

SIFAT ORGANOLEPTIK DODOL TEPUNG BERAS MERAH (Oryza glaberrima) DENGAN PENAMBAHAN ISOLATE SOY PROTEIN Wijayanti, Puji; Murtado, Asep Dodo; suyatno, suyatno
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 11, No 1 (2022): Edible: Jurnal Penelitian Ilmu dan Teknologi Pangan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v11i1.8239

Abstract

Dodol adalah pangan semi basah berbentuk padatan dodol pada umumnya terbuat dari tepung beras ketan, gula, dan santan sehingga dodol memiliki rasa manis, gurih dan  legit. Dodol yang sering ditemui pada umumya adalah dodol yang terbuat dari tepung beras ketan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan isolate soy protein (ISP) pada sifat organoleptik tepung beras merah (Oryza glaberrima). Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan lima perlakuan yaitu D0 (tanpa penambahan ISP), D1 (penambahan 2 g ISP), D2 (penambahan 4 g ISP), D3 (penambahan 6 g ISP), dan D4 (penambahan 8 g ISP) yang dianalisis secara organoleptik diulang sebanyak jumlah panelis. Parameter penelitian ini menggunakan uji hedonik meliputi aroma, rasa, warna dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan paling disukai adalah D0 (dodol tepung beras merah tanpa penambahan ISP ) dengan rata-rata nilai karakteristik warna 4,04, aroma 4,20, rasa 4,12 sedangkan pada tekstur perlakuan paling disukai adalah D4 (dodol tepung beras merah + 8 g isolate soy protein) dengan rata-rata nilai karakteristik 3,72. Respon tingkat kesukaan panelis semakin menurun terhadap warna, aroma dan rasa, seiring dengan semakin banyak ISP yang ditambahkan pada dodol beras merah. sebaliknya, respon tingkat kesukaan panelis semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah ISP yang digunakan.
Hubungan Peran Orang Tua dengan Tingkat Kejadian Perilaku Seksual Beresiko Pada Remaja Putri di SMAN 7 Tambun Selatan Bekasi Tahun 2025 Utami, Ajeng Rahayu; Khairiyah, Rahayu; Wijayanti, Puji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55656

Abstract

Latar Belakang: Perilaku seksual adalah segala tingka laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Perilaku seksual berisiko dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Selain faktor pengetahuan, pengaruh teman sebaya, dan media, peran keluarga, terutama orang tua, memiliki dampak yang sangat signifikan. Kurangnya pengawasan dan pendidikan seks yang tepat dari orang tua membuat remaja lebih rentan terhadap pergaulan bebas. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan tingkat kejadian perilaku seksual beresiko pada remaja putri di SMAN 7 Tambun Selatan Bekasi Tahun 2025. Metode Penelitian: Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, dengan jumlah sampel 30, sampel analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi Square diperoleh nilai p-value = 0,000 artinya p-value < 0,05 maka dapat dinyatakan HO ditolak HI diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan yang sangat nyata antara peran orang tua dengan tingkat kejadian perilaku seksual. Kesimpulan: Terdapat hubungan peran orang tua dengan tingkat kejadian perilaku seksual beresiko pada remaja putri di SMAN 7 Tambun Selatan Bekasi Tahun 2025. Dari hasil penelitian diharapkan orang tua dapat memberikan dukungan yang positif dengan memberikan informasi tentang pendidikan seks secara benar, karena orang tua sangat berperan penting dalam menumbuhkan nilai-nilai positif untuk remaja, dan remaja diharapkan dapat mengontrol perilakunya agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang menyimpang.
Pengaruh Resiliensi Terhadap Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Rs Mekar Sari Tahun 2025 Futriani, Elfira Sri; Salsabilla, Aura Rizka; Wijayanti, Puji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55857

Abstract

Latar Belakang : Pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis jangka panjang menghadapi berbagai masalah fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi yang dapat menurunkan kualitas hidup. Kondisi tersebut menuntut kemampuan adaptasi yang baik, di mana resiliensi berperan penting dalam membantu pasien bertahan dan menyesuaikan diri terhadap penyakit serta terapi yang dijalani. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh resiliensi terhadap kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Mekar Sari Bekasi tahun 2025. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik deskriptif dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian melibatkan 41 responden pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dan dipilih sesuai kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan adalah Brief Resilience Scale (BRS) untuk mengukur resiliensi dan KDQOL-SF untuk mengukur kualitas hidup. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RS Mekar Sari. Hasil uji Chi-Square memperoleh nilai p = 0,001 (p < 0,05), yang menunjukkan bahwa pasien dengan tingkat resiliensi lebih tinggi cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan pasien dengan resiliensi rendah. Kesimpulan: Resiliensi berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, sehingga penguatan resiliensi perlu menjadi bagian dari intervensi keperawatan sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup pasien secara holistik.
Efektifitas Pemberian Edukasi Tentang Sadari Melalui Video dan Leaflet pada Remaja Putri di SMAN 1 Tarumajaya Futriani, Elfira Sri; Nur, Marrotin; Wijayanti, Puji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55858

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan angka kejadian dan kematian yang tinggi pada perempuan, termasuk di Indonesia. Upaya deteksi dini sangat penting untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat kanker payudara, salah satunya melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Namun, pengetahuan remaja putri mengenai SADARI masih tergolong rendah, terutama terkait waktu dan langkah pelaksanaannya. Hasil studi pendahuluan di SMAN 1 Tarumajaya menunjukkan bahwa sebagian besar siswi belum memahami SADARI secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan kesehatan yang efektif dengan menggunakan media yang menarik dan mudah dipahami, seperti media video dan leaflet. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain Quasi Experimental menggunakan pendekatan Two Group Pretest–Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 44 siswi yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapatkan edukasi menggunakan media video dan kelompok yang mendapatkan edukasi menggunakan media leaflet. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan tentang SADARI. Analisis data dilakukan menggunakan Uji Wilcoxon karena data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan remaja putri setelah diberikan edukasi tentang SADARI baik pada kelompok media video maupun media leaflet. Seluruh responden pada kedua kelompok mengalami peningkatan tingkat pengetahuan ke kategori baik setelah intervensi. Hasil Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) pada kedua kelompok, yang menandakan terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Media video menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan media leaflet dalam meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang SADARI. Pendidikan kesehatan tentang SADARI melalui media video dan leaflet terbukti efektif meningkatkan pengetahuan remaja putri, dengan media video menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pihak sekolah dan tenaga kesehatan disarankan memanfaatkan media video sebagai sarana promosi kesehatan guna meningkatkan kesadaran serta pengetahuan remaja putri mengenai deteksi dini kanker payudara melalui SADARI.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Perubahan Pengetahuan dan Sikap Pada Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi di Sman 83 Jakarta Futriani, Elfira Sri; Anggraini, Sri; Wijayanti, Puji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55859

Abstract

Latar Belakang : Kesehatan reproduksi remaja merupakan aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian serius karena rendahnya pengetahuan dan sikap remaja dapat berdampak pada munculnya perilaku berisiko, seperti penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan. Kurangnya edukasi kesehatan reproduksi yang tepat dan berkelanjutan menjadi salah satu faktor utama permasalahan tersebut. Pendidikan kesehatan diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan serta membentuk sikap positif remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi. Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap perubahan pengetahuan dan sikap pada remaja tentang kesehatan reproduksi. Metode Penelitian : Quasi experiment dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian siswa siswi SMAN 83 Jakarta dengan jumlah sampel sejumlah 87 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Hasil Penelitian : Mayoritas remaja berusia 17-19 tahun (88,5%), jenis kelamin perempuan (70,1%), dan sumber informasi sedang (87,4%). Tingkat pengetahuan remaja sebelum diberikan pendidikan kesehatan sebagian besar baik (80,5%) dan sesudahnya pengetahuan baik (94,3%). Sikap remaja sebelum diberikan pendidikan kesehatan sebagian besar positif (70,1%) dan sesudahnya sikap positif (100%). Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi di SMAN 83 Jakarta dengan nilai p value 0,000. Kesimpulan dan Saran : Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi. Diharapkan tenaga kesehatan dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi kesehatan reproduksi di lingkungan sekolah
The Relationship of Knowledge With Community Stigma Towards Mental Disorders in The Region of Rt 01/Rw 14, Jatibening District, Pondok Gede Bekasi 2025 Futriani, Elfira Sri; Rosalia, Rosalia; Wijayanti, Puji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56086

Abstract

Background: Mental disorders remain a significant public health problem and are often accompanied by negative stigma within society. Stigma toward People with Mental Disorders (PMD) can hinder recovery processes, limit access to mental health services, and reduce social acceptance. One of the factors influencing stigma is the level of public knowledge regarding mental disorders. A preliminary study conducted in RT 01/RW 14 Jatibening Subdistrict indicated that community knowledge about mental disorders was still limited and negative stereotypes toward PMD were still prevalent. Objective: To determine the relationship between community knowledge and public stigma toward mental disorders in RT 01/RW 14 Jatibening Subdistrict, Pondok Gede – Bekasi in 2025.Methods: This study employed a quantitative research design with a cross-sectional approach. The population consisted of community members in RT 01/RW 14 Jatibening Subdistrict, with a total sample of 62 respondents calculated using the Slovin formula with a 10% margin of error. The sampling technique used was simple random sampling. Data were collected using structured questionnaires measuring knowledge and stigma (adapted from the Community Attitudes toward the Mentally Ill/CAMI scale). Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test at a significance level of α = 0.05 using SPSS version 26.Results: The majority of respondents had a moderate level of knowledge (32 respondents; 51.6%). Most respondents demonstrated a moderate level of stigma (31 respondents; 50.0%). The Chi-Square test showed a p-value of 0.000 (< 0.05), indicating a statistically significant relationship between knowledge level and public stigma toward mental disorders.Conclusion and Recommendations: There is a significant relationship between community knowledge and stigma toward mental disorders. Higher levels of knowledge are associated with lower levels of stigma. It is recommended that local health centers and regional authorities strengthen community-based mental health education programs to improve mental health literacy and reduce stigma toward individuals with mental disorders.
The Relationship Between Academic Burnout And Anxiety Levels Among Students Studying From Home In The Nursing Study Program At The Abdi Nusantara Health College In 2025 Futriani, Elfira Sri; Saogo, Lasma Angelita; Wijayanti, Puji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56088

Abstract

Background: Academic burnout is a condition where a person is emotionally tired, tends to depersonalize, and feels low personal achievement in students due to stress, lecture load or other psychological factors originating from the learning process. This condition reflects three main dimensions, namely emotional exhaustion, cynicism, and decreased personal efficacy, which can have a significant impact on students' academic performance and psychological well-being. Anxiety in students is a natural response to challenging situations, but tends to increase in college environments due to academic and social pressure. The American College Health Association survey shows that 25.9%–31.9% of students experience anxiety and stress. Academic burnout in overseas students causes students not to be optimal in completing academic assignments, the emergence of feelings of laziness, procrastination of assignments, depression, and uncertainty about graduation, including unstable financial and social factors. Research Objective: To determine the relationship between academic burnout and anxiety levels in migrant students at STIKes Abdi Nusantara nursing study program in 202. Research Method This research uses quantitative methods with an analytical observational approach. The research design used is correlational with a cross-sectional approach, where measurements of the independent variable and dependent variable are carried out simultaneously during one observation period. The target population in this study was 59 respondents. Research Results The research results show that the Chi-Square statistical test obtained a value of p.0.001 (p.value < 0.05), so based on the results above it can be interpreted that there is a relationship between academic burnout and the level of anxiety in migrant students at STIKes Abdi Nusantara Nursing Study Program in 2025. Conclusions and Suggestions: There is a significant relationship between academic burnout and the level of anxiety in migrant students of the STIKes Abdi Nusantara Nursing Study Program in 2025. Migrant students are expected to be able to improve their ability to manage academic stress through effective time management, setting learning priorities, and implementing adaptive coping strategies. Considering that the first 3–6 months of the overseas phase is a relatively vulnerable period, students need to be more active in building social support, both with peers and supervisors. Apart from that, maintaining a balance between academic activities and rest time is an important step to prevent an increase in academic burnout and anxiety.