Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Academic Physiotherapy Conference Proceeding

Manajemen Fisioterapi pada Post Partum Sectio Caesarea: A Case Study Chafsoh, Zannuba Alifah; Herawati, Isnaini; Muflihah, Nurul
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Operasi Caesar adalah prosedur pembedahan yang dilakukan untuk memperlancar persalinan bayi melalui sayatan yang dibuat pada perut ibu yang direkomendasikan dalam situasi di mana persalinan normal dapat menimbulkan risiko bagi ibu, bayi, ataupun keduanya. Menurut WHO, pada tahun 2021 operasi Caesar meningkat secara global dan kini mencakup lebih dari 1 dari 5 (21%) seluruh kelahiran. Fisioterapi dapat berperan dalam meningkatkan status fungsional pada kondisi pasca SC dengan mobilisasi. Latihan gerakan dapat mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, menyembuhkan luka, dan kegiatan fungsional yang mandiri Case Presentation: Seorang pasien berusia 26 tahun dengan G1P0A0 usia kandungan 39+1 minggu, pada hari Selasa 16 Januari 2024 pukul 00.00 WIB datang ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta setelah mendapat rujukan dari RS Queen Latifa karena sudah mengalami ketuban pecah sejak Senin sore namun belum terjadi pembukaan, mengalami preeklamsi, dan perut terasa kencang. Di RS Queen Latifa pasien di USG pinggulnya sempit. Kemudian di PKU dilakukan pacu tapi masih pembukaan 2. Setelah itu, dilakukan operasi sesar pada hari Rabu 17 Januari 2024 pukul 7 pagi. Setelah operasi pasien mengeluhkan nyeri di bagian perut dan nyeri semakin terasa saat bergerak. Saat ini pasien mengeluhkan belum mampu duduk karena masih merasakan nyeri Management and Outcome: subjek diberikan latihan breathing exercise setiap 2 jam dengan 8 kali repetisi untuk mengurangi nyeri, ankle pumping dilakukan sebanyak 8 repetisi setiap hari untuk menurunkan oedem pada kedua kaki pasien, pelvic floor exercise dilakukan sebanyak 8 repetisi tiap 2 jam yang bertujuan untuk mencegah terjadinya pelvic floor dysfunction, latihan mobilisasi yang diberikan setiap 3 jam sekali untuk meningkatkan kemampuan fungsional pasien. Setelah diberikan latihan, didapatkan hasil penurunan nyeri gerak dari skor 5 menjadi skor 4, adanya penurunan oedem dari 52 cm menjadi 50 cm pada ankle dextra dan dari 52 cm menjadi 49 cm pada ankle sinistra terdapat peningkatan kemampuan fungsional dari memerlukan bantuan sedang menjadi memerlukan bantuan minimal. Conclusion: pemberian intervensi Fisioterapi berupa breathing exercise, ankle pumping, pelvic floor exercise,dan latihan mobilisasi dapat mengurangi nyeri pasca operasi, mengurangi udem, dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Pasca Histerektomi Pervaginam Prolaps Uteri: Studi Kasus Salsabila, Denada; Fatmarizka, Tiara; Muflihah, Nurul
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Prolaps uterus juga dikenal sebagai prolaps organ panggul (POP) yaitu turunnya rahim dari batas anatomi normalnya ke posisi di dalam atau di luar introitus vagina. POP adalah kondisi umum yang prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia, dengan mempengaruhi sekitar 40% wanita berusia di atas 50 tahun. Gejalanya berupa rasa berat pada vagina, sensasi ada benjolan yang turun ke dalam vagina, dan rasa tidak nyaman/tertekan pada panggul yang sangat mempengaruhi kualitas hidup wanita dengan POP. Pada perawatan operatif atau bedah dapat berupa histerektomi. Perawatan konservatif meliputi pelatihan otot dasar panggul (PFMT), perubahan gaya hidup, dan pengobatan estrogen, semuanya bertujuan untuk mencegah gejala dan memperburuk prolaps uteri. Presentasi Kasus: pasien dengan diagnosa medis post histerektomi pervaginam prolaps uteri mengalami permasalahan berupa nyeri pada bekas luka operasi histetrektomi di vagina, penurunan kekuatan otot dasar panggul, dan penurunan kemampuan fungsional. Manajemen dan Hasil: pasien diberikan intervensi fisioterapi berupa diaphragmatic breathing exercise, active movement exercise, pelvic floor exercise, dan latihan mobilisasi bertahap sebanyak 4 kali dan didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan tekanan darah, penurunan nyeri (diam, tekan, gerak), peningkatan kekuatan otot dasar panggul, dan peningkatan kemampuan fungsional. Diskusi: penurunan tekanan darah dan nyeri terjadi setelah diberikan intervensi fisioterapi berupa diaphragmatic breathing exercise. Selain itu, terjadi juga peningkatan kekuatan otot dasar panggul setelah diberikan intervensi fisioterapi berupa pelvic floor exercise. Peningkatan kekuatan otot juga dapat dipengaruhi oleh nyeri yang mulai berkurang sehingga pasien tidak takut untuk bergerak atau melakukan latihan. Kemampuan fungsional pasien juga mengalami peningkatan setelah diberikan intervensi fisioterapi berupa active movement exercise dan latihan mobilisasi bertahap. Peningkatan ini juga dipengaruhi oleh kondisi umum pasien yang semakin hari semakin membaik, tekanan darah yang mulai terkontrol, dan penurunan nyeri. Kesimpulan: pemberian intervensi fisioterapi berupa diaphragmatic breathing exercise, active movement exercise, pelvic floor exercise, dan latihan mobilisasi bertahap sebanyak 4 kali dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi nyeri (diam, tekan, gerak), meningkatkan kekuatan otot dasar panggul, dan meningkatkan kemampuan fungsional pada kasus pasca histerektomi pervaginam prolaps uteri.
Effektivitas Pelvic Floor Exercise pada Kasus post Sectio Caesarea: A Case Report Rizwana, Fifi Nursyifa; Wijianto, W; Muflihah, Nurul
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Peran fisioterapi dalam mengatasi kelemahan otot panggul pada ibu post sectio caesarea yaitu secara manual, menggunakan pelatihan fungsi gerak tubuh. Dengan menggunakan metode menggunakan intervensi fisioterapi yang dapat menunjukkan program latihan pada ibu post partum, hal itu mampu dilakukan dengan mandiri sebagai tujuan mengurangi rasa nyeri, meningkatkan pemulihan dan meningkatkan kekuatan otot panggul pasca melahirkan.Case Presentation: Seorang ibu berusia 30 tahun telah melakukan operasi section caesarea datang ke fisioterapi dengan keluhan pasien merasakan nyeri, mengalami kelemahan kekuatan otot panggul dan penurunan kemampuan fungsional.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan yaitu Pelvic floor exercise, latihan mengontraksikan perineum atau seperti menahan buang air kecil (BAK) dengan menahan selama 15 detik atau semampunya pasien menahan, lalu dirileksasikan selama 5 detik, dengan dosis 8 repetisi dalam 2 set per sesi terapi. Pengukuran dilakukan dengan beberapa parameter, yaitu tingkat nyeri dengan Numeric Rating Scale (NRS), kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing (MMT), serta kemampaun fungsional menggunakan Kenny Selfcare Index. Hasil penelitian menunjukkan penurunan nyeri yang signifikan, peningkatan kekuatan otot dari MMT 2 hingga MMT 3, dan peningkatan kemampuan fungsional aktivitas sehari-hari.Discussion: Peningkatan aktivitas fungsional pada pasien terjadi karena adanya penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot, dan peningkatan kemampuan fungsional sehingga dapat dikatakan bahwa Exercise Fisioterapi berupa pelvic floor dapat meningkatkan aktivitas fungsional pasien akibat problematika yang ada.Conclussion: latihan pelvic floor memberikan dampak positif pada pemulihan pasien pasca operasi sectio caesarea dengan kondisi kelemahan pada otot panggul.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus pasca Laparotomi Debulking Histerektomi Total Salpingooforektomi Bilateral Limfadenektomi Pelvic Kanan: Studi Kasus Maharani, Klarisa Salsa Bila; Maghfiroh, Rinna Ainul; Muflihah, Nurul
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Neoplasma ovarium kistik merupakan salah satu tumor ginekologis yang sering memerlukan tindakan pembedahan mayor seperti laparotomi debulking dan histerektomi total. Prosedur ini berdampak besar pada sistem muskuloskeletal dan fungsi dasar tubuh, termasuk nyeri, gangguan pernapasan, serta penurunan kemampuan fungsional.Case Presentation: Pasien perempuan usia 39 tahun didiagnosis dengan neoplasma ovarium kistik susp. maligna dan menjalani prosedur pembedahan berupa laparotomi debulking, histerektomi total, salpingooforektomi bilateral, omentektomi, dan limfadenektomi pelvic kanan. Pasien mengalami keluhan nyeri hebat pascaoperasi, keterbatasan mobilisasi, gangguan pernapasan, serta belum mampu buang angin.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi dilakukan sejak pre-operasi hingga tiga hari pascaoperasi, terdiri dari deep breathing exercise, general active exercise, abdominal strengthening, pelvic floor exercise, mobilisasi bertahap, dan edukasi postur. Evaluasi menunjukkan penurunan nyeri (NRS diam dari 6 ke 0), peningkatan kekuatan otot abdomen (MMT dari 1 ke 3), perbaikan kontrol pernapasan (Borg Scale dari 3 ke 0.5), serta peningkatan skor Kenny Self Care Index pada kemampuan fungsional dasar pasienDiscussion: Intervensi fisioterapi yang diberikan terbukti efektif dalam menurunkan nyeri dan sesak napas, serta meningkatkan kekuatan otot dan kapasitas fungsional. Latihan seperti abdominal strengthening dan pelvic floor exercise mendukung stabilisasi core dan kontrol kandung kemih. Mobilisasi dini mempercepat pemulihan, dan edukasi postur membantu mencegah komplikasi gerak dan nyeri.Conclusion: Fisioterapi pascaoperasi mayor ginekologis yang diberikan secara bertahap dan komprehensif berperan penting dalam mempercepat pemulihan fisik, mengurangi keluhan, dan meningkatkan kemandirian aktivitas pasien.